
"Apa yang biasanya dilakukan suami istri saat malam pertama ya?" gumam Alva, naluri prianya bergejolak.
"Sherly," panggil Alva saat dia sudah siap di atas ranjang.
"Hmmm," sahut Sherly seraya melepas sanggulnya.
"Kok hmmm," protes Alva.
"Iya Mas, bentar nih, aku lagi melepas sanggulku, susah banget nih!" Sherly menarik sanggulnya namun tetap melekat.
Alva penasaran dengan yang dilakukan istrinya, dia menuruni ranjang dan menghampiri Sherly di depan meja rias.
"Biar mas bantu," Alva mengamati sanggul yang masih melekat itu, ternyata ada beberapa penjepit yang masih belum di lepas. Dengan lihai, tangan Alva bergerilya menarik penjepit itu. Tiga penjepit itu sudah berhasil ia ambil, dengan perlahan dia melepas sanggulnya.
"Aw, sakit Mas, pelan-pelan!"
"Iya, nih mas juga sudah pelan banget melepasnya."
Akhirnya sanggul pun terlepas.
Sherly mengurai rambutnya yang panjang. Menambah daya tarik tersendiri bagi Alva. Dan langsung saja Alva menarik tangan Sherly hingga jatuh dalam pelukannya.
"Mas, aw," pekik Sherly.
Alva menatap wajah Sherly yang terlihat bersinar mengalahkan cahaya rembulan malam ini. Dia sudah tak sabar lagi ingin mencicipi yang kedua kali.
"Aku belum melihat pandawa." ujar Sherly ditengah keromantisan yang Alva ciptakan.
"Jangan khawatir, sudah ada pelayan yang meladeni mereka." ujar Alva seraya membelai pipinya yang merona.
"Bukannya mereka sudah pulang?" Sherly mengernyitkan dahi.
"Aku menyuruh mereka semua untuk menginap semalam."
"Aku belum mencium pipi mereka." alasan Sherly lagi agar bisa lolos dari dekapan Alva.
"Sebagai gantinya, cium pipiku saja!" Alva mendekatkan pipinya.
"Apaan sih Mas, bikin malu aku saja." Sherly menepuk dada bidang Alva.
"Dengan suami sendiri ngapain malu,"
"Krucuk -krucuk," Sherly sontak menutup perutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Bunyi apa tadi?" Alva mendengar cukup jelas suara itu, seraya mencari sumber suara.
"Mungkin suara tikus," tukas Sherly, dia sangat malu tatkala perutnya berbunyi minta diisi.
"Jangan ngacau kamu, di sini nggak ada tikus!" Alva menatap lekat Sherly yang memegangi perutnya.
Dan benar saja, perutnya berbunyi lagi.
"Kamu lapar?" Alva tersenyum mendapati wajah istrinya yang memerah menahan malu. Sherly hanya mengangguk pelan.
Alva mengambil ponselnya di atas nakas.
"Bawakan makan malam untuk nyonya!" perintah Alva pada salah satu pelayan. Dia mematikan ponselnya.
"Kenapa repot-repot diantar segala makanannya, aku kan bisa berjalan sendiri ke dapur!" omel Sherly.
"Hei, kamu seorang nyonya sekarang, dan itu tugas mereka, buat apa menggaji mereka kalau tak disuruh-suruh." Alva tak kalah mengomel.
"Aiss, Mas jangan begitu, mereka juga punya perasaan!" Sherly menasehati.
Di tengah perdebatan mereka, terdengar suara pintu diketuk. Alva segera membuka pintu.
Pelayan wanita datang mengantar makanan. Alva tak henti -hentinya bersin. Setelah menaruh makanan, pelayan itu segera pergi dari kamar Alva.
"Mas sakit?" tanya Sherly heran. Dia sejauh ini belum tahu kalau Alvarendra alergi terhadap wanita juga.
Alva menggeleng, "Mungkin cuaca sedang dingin, membuat hidungku terasa gatal." terangnya berbohong seraya menggosok hidung dengan punggung tangan.
"Ayo, cepat makan, keburu dingin nanti!" perintah Alva mengalihkan pembicaraan. Sherly segera mencuci tangan lalu mulai menikmati makan malamnya.
__ADS_1
"Mas nggak makan?" tanyanya serambi menyodorkan sendok untuk menyuapi Alva.
"Sudah tadi," tolak Alva dengan melambaikan tangan.
Selesai makan Sherly menuju kamar mandi.
"Apa yang harus aku lakukan? Mas Alva sepertinya ingin minta jatahnya malam ini, tapi aku belum siap," Sherly enggan keluar dari kamar mandi.
"Sherly, kamu sedang apa di kamar mandi, lama banget?" teriak Alva.
"Iya Mas, bentar lagi aku keluar!" sahut Sherly.
Dengan langkah malu, Sherly perlahan menuju ranjang, naik dan berbaring di samping Alva dalam posisi berhadapan.
"Aku senang dengan status kita sekarang." Alva mengarahkan agar Sherly duduk di depan pangkuannya. Sherly bangun dan mengikuti arahan Alva.
"Aku juga Mas, semua ini aku lakukan demi kebahagian pandawa."
"Jika sejak dulu aku tahu kamu hamil, tentu kita sudah lama menikah."
"Lalu bagaimana nasib pacar Mas, jika kita menikah di awal dulu?"
"Pletak ...!"
"Aw, sakit Mas, sudah jadi istri saja masih suka disentil." Sherly menggerutu sambil mengusap dahinya.
"Jangan sebut orang lain saat aku sedang membicarakan tentang kita!" Alva mencium pucuk kepala Sherly lama, lama, lama sekali. Sherly merem melek dibuatnya.
"Andai aku menemukanmu lebih cepat sehingga aku bisa mencintaimu lebih lama." batin Alva.
"Kamu sudah ngantuk?" Alva mulai dengan aksi pertamanya, Alva membelai rambut istrinya sesekali mengendus aroma shampo yang masih wangi.
Sherly hanya mengangguk.
"Kalau begitu tidurlah, tengah malam nanti ada kejutan untukmu!" ujarnya sambil menampilkan senyum nakal.
"Jangan - jangan, mas Alva akan melakukan itu di tengah malam. Bagaimana ini?" batinnya gusar, dia membenahi posisi tidurnya.
"Kejutan apa Mas?"
.
Dan benar, tengah malam Alva membisikkan kata -kata cinta yang mampu membuat hati istrinya berdesir.
Sherly dan Alva sudah merasakan kenikmatan di atas ranjang, tak terasa hingga pagi pun tiba, kini mereka segera bangun dan bergegas mandi.
"Sherly," sapa Alva yang kini sudah rapi dengan setelan kemeja.
"Hmm," sahut Sherly yang masih sibuk dengan rambutnya.
"Sini aku bantu," Alva merebut hair dryer dari tangan Sherly, dia mencoba mengeringkan rambut istrinya yang masih basah itu.
"Aku bisa sendiri Mas," Sherly sendiri hendak merebutnya tapi tak sampai.
"Sudah, biarkan aku mencobanya." Alva bersikukuh, mengeringkan rambut istrinya sampai benar-benar kering.
Kini mereka berdua telah rapi dan siap untuk pergi ke kantor, menuruni tangga menuju meja makan.
"Selamat pagi Ayah, Ibu!" sapa para pandawa kompak.
"Pagi pandawa kecilku!" sahut Sherly dan Alva tak kalah kompaknya.
Kini keluarga besar Andreas sedang menikmati sarapan.
"Ayah akan antar kalian ke sekolah, bersiaplah 10 menit lagi!" perintah Alva pada pandawa. Mereka berlima saling pandang, dan bingung untuk menyampaikan pada ayahnya kalau mereka bukan seorang siswa tapi sudah mahasiswa.
"Mereka sudah kuliah." ujar Sherly dengan gamblangnya, yang membuat ayah dan anak di depannya tersedak.
"Mas nggak apa-apa, nih minum dulu!" Sherly menyodorkan segelas air putih untuk Alva. Sedangkan Andreas mengambil sendiri gelasnya.
"Apa, kuliah?" tanya ayah dan anak bersamaan.
"Bagaimana bisa, bocah bayi kamu daftarkan kuliah?" protes Alva tak setuju dengan kenyataan kalau pandawa sudah kuliah.
__ADS_1
"Itu, mereka sendiri yang meminta." sangkal Sherly tak mau disalahkan.
"Ya tetap saja kamu sebagai orang tuanya yang keliru. Seharusnya di usia mereka, masih duduk di bangku taman kanak-kanak." terang Alva.
Perdebatan pun terjadi lagi. Andreas lebih memilih meninggalkan meja makan setelah selesai sarapan, dia tak ingin ikut campur urusan keluarga Alva.
"Ayah, jangan marahi ibu!" Abi berdiri dan mendekati Alva, " Baiklah Ayah, kami akan menurut perkataan Ayah." sambung Abi lagi.
"Lalu bagaimana dengan praktik ku, Ibu, jika aku sekolah di TK?" protes Ethan yang uji cobanya tinggal beberapa langkah lagi.
"Ayah punya kenalan di sebuah rumah sakit, mungkin dia bisa membantu untuk menyelesaikan percobaanmu itu." ujar Alva, Ethan menurut saja.
Tak lama kemudian, ponsel Ethan berbunyi. Ternyata dari dokter Sonia. Dia mengabarkan kalau hasil tes DNA sudah keluar.
"Ayah, Ibu, ada yang ingin aku sampaikan pada kalian." ujar Ethan dengan memasang wajah antara sedih dan senang.
"Tapi, kalian berdua janji dulu. Jangan marah!" Ethan menyodorkan jari kelingkingnya yang mungil.
Alva dan Sherly saling pandang, mereka mengerutkan dahi tak mengerti. Menurut saja dengan ajakan Ethan. Setelah janji jari kelingking usai, Ethan mulai bercerita tentang tes DNA.
"Tes DNA?" kompak sahutan Alva dan Sherly.
"Bagaimana bisa kamu melakukan itu Ethan?" Sherly tak percaya sampai sejauh ini usaha mereka untuk mencari sang ayah.
"Kami sudah lama merencanakan ini semua Bu, sebelum Ibu bertemu dengan ayah." Abi ikut menimpali.
"Kalian ..." Alva menganga.
"Dan bahkan kami sudah menyebar video Ethan waktu itu, tapi Ayah tak merespon." Boman ikut andil dalam penjelasan saudara-saudaranya.
"Lalu bagaimana Ethan bisa mengambil sampel untuk tes DNA?" Alva masih tak percaya dengan keahlian mereka.
"Aku Ayah, yang mengambil sampel itu." terang Dave yang juga tak mau tinggal diam.
"Dave," Sherly semakin pusing dengan ulah pandawa.
"Bagaimana caranya, katakan pada Ayah!" Alva semakin tertarik dengan kegeniusan mereka.
"Saat aku dan paman Ello kesini. Aku sengaja menceburkan diri ke kolam waktu itu. Aku tak tahu kalau ayah tak bisa berenang, dan ada kesempatan aku mengambil beberapa helai rambut milik Ayah." terang Dave panjang lebar.
Alva dibuatnya tak percaya.
"Sherly, ayo ikut aku menemui dokter Sonia. Dan kamu Ethan, ikut ayah juga. Kalian tunggu di rumah saja!" Alva menunjuk A, B, C dan D.
Satu jam kemudian, Alva sudah tiba di rumah sakit.
"Dokter Sonia," panggil Alva saat sudah tiba di ruangannya.
"Alvarendra," seru Sonia senang, tapi seketika melihat Sherly yang baru masuk ruangannya, wajahnya menjadi muram.
"Pagi Dokter Sonia!" sapa Ethan ramah. Sonia membungkukkan badan sambil menyapanya juga.
"Ethan bilang, tes DNA aku dan dia sudah keluar. Aku ingin melihatnya sendiri." ujar Alva sambil bersin-bersin.
Sherly berfikir cuaca di pagi hari membuat dia alerginya kambuh.
"Benar, silahkan duduk dulu. Aku ambilkan hasilnya." Sonia menarik laci meja kerjanya dan mengeluarkan map coklat.
"Ini," Sonia menyerahkan pada Alvarendra dengan tampilan senyum menyeringai.
Alva dengan cepat membuka hasil tes DNA itu. Dia membacanya langsung pada poin hasil. Dan ternyata hasilnya negatif, tak ada kecocokan gen.
"Hasilnya, tidak cocok!" tangan Alva bergetar cukup hebat, dia tak percaya jika pandawa bukan anaknya. Pasalnya, dia sudah sangat senang dengan kehadiran pandawa dalam hidupnya. Bagaimana bisa hasil tes DNA ini tidak cocok?
"Dokter Sonia pasti bohong!" umpat Ethan yang mulai nangis.
"Ethan, Sayang, udah jangan nangis, cup cup cup!" Sherly berhambur memeluk Ethan yang masih shock dengan hasil tes.
"Ibu, aku yakin Tuan Alvarendra Rizki adalah ayahku." Ethan membenamkan wajahnya di dada ibunya. Tangisannya pilu.
Sonia tersenyum menang, selangkah lagi dia bisa menggagalkan hubungan Sherly dan Alva.
"Apa dia ibunya ?" tanya Sonia sambil menunjuk Sherly yang masih memeluk Ethan.
__ADS_1
"Ya benar, dia sekarang sudah menjadi istriku." sahut Alva mantap dengan tetap menatap lembaran kertas itu.
"I-istri, kamu sudah menikah!" pekik Sonia tak percaya dan terduduk lemas.