
Seperti biasa, kegiatan di pagi hari setelah selesai sarapan, pandawa pergi ke sekolah dan Sherly tidak pergi ke kantor karena atasannya yang tidak lain suaminya sendiri tidak ada di sana. Jadi dia lebih memilih untuk menjenguk Kenzi di rumah sakit.
Pukul 10.00 di rumah sakit.
"Kak Kenzi, kamu bisa mendengar suara ku kan?" Sherly meraih tangan Kenzi dan menggenggamnya. Berharap ada perubahan padanya.
Kenzi membuka matanya tapi pandangannya terlihat kosong.
"Apa yang kamu lakukan di sini!" bentak pak Tomi ketika memergoki Sherly duduk di samping ranjang pasien.
"Maaf Om, kedatangan saya kemari hanya untuk menjenguk kak Kenzi, tidak ada maksud lain." terang Sherly yang segera berdiri dan mengangguk hormat.
"Alasan, cepat tinggalkan tempat ini!" usir pak Tomi.
"Tapi Om, sungguh tak ada niat lain selain menjenguk kak Kenzi." Sherly sedikit ngotot juga.
"Sudah, cepat sana pergi!" bentak pak Tomi seraya menudingkan jarinya ke arah pintu keluar.
Saat Sherly hendak melangkahkan kaki pergi, tiba-tiba Kenzi bersuara.
"Tunggu!" ucap Kenzi lirih namun bisa terdengar oleh Sherly dan Tomi.
Pak Tomi tak percaya, putrinya akhirnya mulai berbicara untuk pertama kali.
"Kenzi, kamu sudah mau bicara?" Tomi merasa sangat bersyukur.
Pak Tomi meminta agar Sherly duduk kembali.
"Aku akan panggilkan dokter, kamu jaga Kenzi sebentar!" titahnya pada Sherly. Sherly hanya mengangguk.
"Kenzi, apa yang bisa aku lakukan ?" Sherly mencoba menawarkan bantuan.
"Antonio yang telah menghamili aku. Tapi dia tak mau bertanggung jawab. Bahkan dia mau mencelakakan aku," terang Kenzi terdengar pilu. Dia mengusap lembut perutnya yang rata.
Sherly membuka lebar-lebar pendengarannya, dia hampir tak percaya dengan kejahatan yang dilakukan kakak iparnya.
"Apa! Kak Antonio yang melakukan semua itu padamu?" Membelalakkan matanya.
Kenzi hanya mengangguk.
"Tenang Kak Kenzi, aku akan membantu kamu, aku pasti kan kak Antonio akan segera menikahi kamu." Sherly menggenggam erat tangan Kenzi.
"Rahasia kan ini dari papa, aku tak mau dia tahu, aku yakin Antonio akan habis oleh papaku. Dan aku tak mau anakku tak punya ayah nantinya." ujar Kenzi. Sherly mengangguk paham.
Pak Tomi datang dengan seorang dokter. Dokter tersebut segera memeriksa kesehatan Sherly. Mengecek tekanan darah dan detak jantung.
Dokter bilang, jika stamina Kenzi membaik dia boleh pulang besok.
"Kenzi, papa mau bertanya padamu, siapa ayah dari janin yang ada di perut kamu?" tanya pak Tomi setelah dokter itu pergi. Tomi berharap bisa menghajar pria yang telah menodai putri satu - satunya itu.
Kenzi kembali diam, seolah dia tak mau membahasnya. Melihat ekspresi Kenzi yang masih enggan bercerita, pak Tomi tak memaksakan kehendaknya untuk bertanya lagi.
Saat Sherly akan pulang, pak Tomi mencegatnya di luar pintu.
"Apa saja yang Kenzi katakan pada kamu?" tanya pak Tomi.
"Tidak ada Om, kami hanya bercerita masa lalu dia dengan suamiku," ujar Sherly berbohong.
"Kalau ada sesuatu yang menyangkut kehamilan Kenzi, segera beritahu aku." Sherly mengangguk paham, pak Tomi segera masuk lagi kedalam ruangan, karena waktunya makan siang. Dia sangat senang karena bisa menyuapi putri besarnya itu. Sementara ibu Kenzi masih berada di luar negeri. Mengurusi restorannya. Ibu Kenzi bernama Santi, dia seorang koki yang sangat hebat.
Sherly segera mengambil ponselnya, dia mengabari berita ini pada Alva.
__ADS_1
"Aku sudah menduga nya, kak Antonio sudah kelewatan. Ini tak bisa dibiarkan, Sherly, aku mohon padamu agar merahasiakan ini dulu dari papa. Aku tak mau terjadi apa-apa dengan papa selama aku tak ada di rumah." ujar Alva dari seberang sana.
"Iya Mas,"
"Dan juga kamu harus ekstra hati-hati, kalau saja kak Antonio menggoda kamu." terdengar was - was.
"Baik, Mas Alva nggak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diriku dengan baik."
"Iya, Sayang, aku rindu kamu."
"Aku juga Mas Alva, aku sangat, sangat, sangat merindukan kamu banget!"
"I love you,"
"I love you too,"
"Muah,"
"Muuuah, "
"Buruan, ditutup!"
"Mas Alva saja yang duluan menutup panggilan!"
"Sampai ketemu lagi!"
"Iya, sampai ketemu lagi!" setelah ponselnya mati, Sherly segera memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya dan segera pulang. Selama perjalanan dia hanya senyum -senyum sendiri mengingat kebersamaannya saat Alva masih di rumah.
.
"Sherly!" sapa Antonio saat Sherly tengah menyiapkan makan siang untuk pandawa.
"Iya Kak," sahut Sherly seraya menoleh ke arahnya.
"Ini capcay kesukaan Charles. Kak Antonio tumben pulang cepat?" tanyanya sekedar.
"Iya, karena seseorang yang aku cari tak ada di sana," sahut Antonio mulai menggoda.
"Benarkah, mungkin seseorang yang Kakak cari sedang sibuk," sambung Sherly tak merespon lebih dalam.
"Sepertinya enak, aku mau dong mencobanya!" Antonio menyodorkan piringnya dan menunjuk capcay.
Sebenarnya Sherly enggan sekali meladeni Antonio, tapi demi menutupi rencananya untuk mengelabuhi si jahat Antonio, Sherly bersikap biasa saja.
Sherly mengambil capcay secukupnya dan meletakkan di atas piring milik Antonio.
"Ini Kak!"
"Terima kasih, wah ternyata seperti ini ya rasanya kalau sudah menikah!" ujar Antonio.
"Apaan sih, buaya darat ini, kalau saja aku punya tongkat sihir udah aku sulap kamu jadi buaya beneran." gerutu Sherly dalam hati.
"Makanya Kakak segera menikah," celetuk Sherly.
"Wah, sayangnya seseorang yang ingin aku nikahi udah nikah duluan!" sahut Antonio seraya menyindir Sherly.
"Kan masih ada wanita lain, contohnya kak Kenzi. Ya, kurasa Kak Antonio cocok sama kak Kenzi." tukas Sherly seraya mencoba menyudutkannya.
"Kamu kenal Kenzi?"
"Tentu saja aku mengenalnya, mas Alva juga pernah menceritakan tentang dia, dia mantan nya mas Alva kan?"
__ADS_1
"Kamu nggak cemburu, Alva menceritakan tentang Kenzi padamu?"
"Ya enggak lah, kita kan sudah menikah jadi tak perlu main rahasia -rahasia an. Kak Antonio nikah saja sama kak Kenzi!" celetuk nya lagi.
"Apaan sih kamu!"
Pandawa tahu kalau pamannya sedang mendekati ibu mereka.
Ethan berjalan merangkak dan bersembunyi di bawah meja. Saat Antonio akan mengambil sendok, Ethan segera menuang saos sambal pada makanannya.
Antonio yang sejak tadi memperhatikan Sherly menata piring, tak sadar dengan apa yang Ethan tuang dalam piringnya.
Antonio mulai menyendok capcay dan memasukkan ke dalam mulutnya.
"Huhah, huhah! Air, air!" Antonio menyemburkan makanan dari mulutnya seraya menjulurkan lidahnya.
"Kenapa Kak?" Sherly menyodorkan segelas air.
Antonio segera meneguknya hingga habis.
"Pedas, siapa yang menaruh sambal di sini?" tanya Antonio dengan ekspresi geramnya.
Sherly hanya mengangkat bahunya.
Antonio segera beranjak dari kursi tak jadi melanjutkan makannya.
"Aku ke kamar dulu," pamit Antonio.
Lagi, Sherly hanya mengangguk.
"Bruak!!"
Antonio jatuh tersungkur.
Sherly menahan tawanya melihat kejadian itu.
"Kenapa lagi Kak?" tanyanya pura-pura perduli.
"Sial, siapa yang mengikat tali sepatu ku!" umpat Antonio seraya membetulkan tali sepatunya.
Sepertinya dia tahu, ulah siapa ini. Antonio sekilas melihat salah satu dari pandawa melintas.
"Anak kecil itu ... awas saja kalian, tunggu pembalasanku !" geram Antonio dalam hati.
Antonio segera bangkit menuju pintu kamarnya. Saat akan memegang handel pintu dia melihat pecahan uang 75 ribu yang lagi ngetren saat ini.
"Wah, kebetulan, bisa buat beli bakso!" gumamnya seraya melirik kanan kiri kalau ada orang di sekitar situ.
Antonio mengendap perlahan ingin mengambil uang itu. Saat dia akan berhasil mengambilnya, uang itu bergerak menjauh. Antonio tanpa berpikir panjang mengikuti arah ke mana uang itu pergi.
Antonio menggapai uang itu dan ...
"Bruak!"
Antonio terbentur pintu tepat di dahinya. Seketika itu uang masuk ke dalam kamar kosong yang ada di sebelah kamarnya.
"Aneh, perasaan tadi ada uang pecahan 75 ribu deh!" gerutu Antonio seraya mengusap dahinya.
"Jangan - jangan, ada hantu!" Antonio sedikit berlari karena takut dan masuk ke kamarnya. Terdengar suara pintu kamar ditutup dengan keras.
Pandawa yang berada di kamar kosong itu cekikikan menahan tawa.
__ADS_1
"Kita berhasil mengerjai paman Antonio," ucap Abi.
Semua pandawa saling adu tos.