Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Alva Juga Kangen Pandawa


__ADS_3

Alva seharian ini sibuk di lapangan, dia menyurvei sendiri daerah yang akan dipakai untuk mendirikan bangunan. Tanpa pengawal, dia sendirian di pulau terbesar di Indonesia itu. Sedikit - sedikit dia menyemprotkan cairan antibakteri pada sesuatu yang akan ia pegang. Tak cukup itu, setelah tangannya memegang sesuatu dia menyemprotkan handsanitize pada kedua telapak tangannya. Pokoknya dia super bersih.


Jam makan siang pun tiba, sejumlah pekerja sedang beristirahat begitu pula dengan Alvarendra. Alva lebih memilih beristirahat di hotel meski jarak yang ia tempuh cukup jauh, sekitar 45 menit. Saat di tengah perjalanan menuju mobilnya, Alva tak sengaja menginjak sebuah boneka barbie hingga patah kedua kakinya.


"Huwa ... huwa ...!" terdengar tangisan seorang gadis kecil.


"Maaf, aku tidak sengaja menginjak mainan kamu!" ujar Alva yang masih berdiri menatap gadis kecil di bawahnya.


Gadis kecil berusia 4 tahun itu tetap menangis, sampai - sampai ibunya datang tergopoh. Mereka berdua termasuk warga setempat.


"Haciu, haciu, haciu!" Alva tak henti - hentinya bersin kala kedatangan seorang wanita yang tidak lain ibu dari gadis kecil itu.


"Apa yang Tuan lakukan pada anakku?" bentak wanita itu seraya mengusap kepala gadis kecil.


"Aku tidak melakukan apa - apa! Haciu!" ucap Alva sedikit kikuk menghadapi ibu muda itu.


"Bohong, buktinya Tuan telah membuat putriku menangis!"


"Sungguh, aku tak berbuat kasar padanya, kalau kamu tak percaya, tanyakan saja pada anakmu! Haciu!" Alva sedikit jengkel juga.


"Apa yang orang ini lakukan padamu, sehingga membuat kamu menangis?"


"Orang ini merusak boneka aku, Ibu," ungkap gadis kecil itu seraya mengucek kedua matanya.


Wanita itu mengambil boneka yang berada di bawah kaki Alva. Alva sedikit mundur ke belakang.


"Aku akan menggantinya yang baru," ujar Alva mencoba menghibur gadis kecil.


"Aku mau boneka ku yang itu!" rengeknya sambil menunjuk pada boneka yang di bawa ibunya.


"Tuan sudah melihat sendiri kan, kalau putriku tetap mau boneka ini."


"Boneka itu sudah rusak, aku akan membeli kan yang baru! Haciu!" Alva mencoba membrowsing di internet lokasi di mana toko yang menjual boneka barbie seperti itu. Namun, sinyalnya error, Alva tak bisa mengandalkan ponselnya.


Gadis itu semakin kencang menangis, Alva jadi teringat dengan pandawa yang ada di Jakarta. Alva membayangkan jika pandawa di sana menangis pasti Sherly sangat kewalahan menenangkan mereka. Merasa tak tega, akhirnya Alva menawarkan jasa untuk mengantar gadis kecil itu memilih sendiri boneka yang lain, tentu bersama ibunya sebagai penunjuk jalan.


"Tolong, antarkan aku ke toko tempat dimana boneka itu dibeli! Haciu!" ujar Alva sopan.


Tanpa berpikir panjang akhirnya ibu itu setuju dan gadis kecil pun diam.


Terdengar hembusan nafas dari rongga hidung milik Alva, dia benar - benar sangat lelah, ditambah cuaca saat ini sangat panas. Rasanya ingin sekali dia berendam.


Sesampainya di toko, gadis kecil itu terlihat berbinar kedua bola matanya, wajahnya berseri - seri. Dia bingung mau memilih boneka yang mana, rasanya ingin sekali memiliki semua yang ada di toko. Ibunya pun juga ikut bingung memilih boneka untuk putri satu - satunya itu.


"Bagaimana, sudah dapat boneka yang kamu suka?" tanya Alva membuyarkan lamunan gadis kecil.


"Aku bingung, semuanya cantik, ada barbie bersayap, ada barbie berekor ... " gadis itu terlihat menghitung dengan jarinya.


"Kalau begitu, ambil semuanya saja!" ujar Alva seraya mengeluarkan kartu ATM nya.

__ADS_1


"Tapi Tuan ... " wanita itu terlihat sangat kaget dicampur senang.


"Hore! Aku punya boneka barbie banyak!" serunya seraya berjingkrak.


Di mata Alva, gadis kecil itu sungguh lucu, dia ingin segera cepat pulang agar bisa mencetak generasi perempuan bersama istrinya.


Selesai memborong satu karung boneka barbie yang diangkut dengan truk mini, Alva mengantar ibu dan anak itu ke rumahnya.


Mereka berdua tinggal tidak jauh dari daerah yang akan didirikan sebuah bank.


Sepulangnya Alva dari sana, dia menjadi perbincangan di daerah sekitar. Seorang pria kaya tengah membelikan boneka barbie satu toko pada seorang anak yatim.


Ya, gadis kecil itu sudah lama ditinggal pergi ayahnya karena sakit stroke. Sejak dia bayi, ibunya lah yang merawat dia tanpa seorang ayah.


Alva menjadi terkenal dalam satu jam saja.


Kini dia tengah beristirahat di hotel, saat jaringan sinyal bagus dia melihat belasan kali panggilan masuk dari Sherly. Alva segera menghubungi Sherly balik dengan video call an.


"Hallo Mas Alva!" sahut Sherly dari seberang.


"Sayang, bagaimana kabar kamu? Maaf, jaringan di sini sangat buruk, jadi aku tak tahu kalau kamu tadi menghubungiku."


"Ayah!" seru pandawa kompak, terlebih Boman yang paling merindukan ayahnya.


"Hai Abi, Boman, Charles, Dave dan Ethan, bagaimana kabar kalian?" tanya Alva seraya mengusap matanya yang sedikit berair. Dia juga sangat merindukan kelima putra nya.


"Bagaimana dengan kabar Ayah?" Boman mendahului bicara.


"Kabar ayah baik, kalian sedang apa? Kok pipi kalian putih - putih?" tanya Alva seraya mengusap wajah pandawa di layar ponselnya.


"Kami bikin kue, Ayah!" sahut Abi tak mau kalah.


"Kue, bagi dong ...!" ujar Alva sedikit terkekeh melihat ulah pandawa yang saling berdesakan.


"Boleh, Ayah cepat pulang ya!" ujar Charles.


"Iya, doakan urusan ayah cepat selesai, dan segera pulang!"


Dave memperhatikan kue yang sudah jadi.


"Enak sekali, kue apa itu?"


"Kue putu ayu, Ayah!" sahut Dave bersemangat seraya menggigit kue tersebut, tampak mulut nya belepotan membuat Alva tertawa.


"Ayah, aku kangen kamu!" Ethan merebut hp yang dipegang ibunya. Dia mendekatkan wajahnya, sehingga tampak mulutnya juga. Mulutnya monyong mencium layar hp.


"Ayah juga kangen kamu, muaaah ...!" Alva sendiri ikut terbawa suasana, dia mencium layar ponselnya.


"Mas sedang apa?" tanya Sherly, kini hp nya berpindah tangan padanya.

__ADS_1


"Mas lagi beristirahat di hotel."


"Sudah mandi?"


"Belum, baru pulang dari daerah yang akan didirikan bangunan bank."


"Oh, kalau begitu Mas Alva pasti capek, Mas Alva istirahat saja dulu. Toh, udah sore, waktunya pandawa juga mau mandi."


"Aku kangen sama kamu, Sayang!"


"Iya, makanya Mas Alva cepetan pulang!"


"Pasti sayang, kalau mas pulang cepet, jatah mas dikasih dobel kan?"


"Apaan sih Mas, malu didengar pandawa. Ya sudah, sana istirahat!"


"Oke, muah!" Alva segera mengakhiri panggilannya dan memejamkan mata sebentar.


Antonio bersembunyi di balik tembok seraya mendengar obrolan mereka. Dia terlihat tak senang dengan kebahagian yang Alva terima.


.


"Sherly, kamu mau kemana pagi ini? Kok udah rapi banget, mau ke kantor ya?" tanya Antonio saat berpapasan di ruang tamu.


"Selama mas Alva enggak ada di kantor, aku ikut cuti Kak. Pagi ini aku mau menghadiri rapat wali murid pandawa." terang Sherly seraya menunggu pandawa turun dari lantai atas.


"Oh, mau aku antar sekalian berangkat ke kantor?" tawar Antonio.


"Enggak Kak, aku bawa mobil sendiri!" tolak Sherly.


Tak lama kemudian pandawa turun.


"Pagi Pandawa!" sapa Antonio dengan memaksakan senyum.


"Pagi Paman Antonio!" sahut pandawa kompak.


Selesai berpamitan dengan kakek Andreas di teras depan, pandawa segera mengikuti ibunya masuk ke dalam mobil.


.


"Pagi ini, kamu copet wanita yang sudah aku kirim fotonya ke nomor kamu, kalau bisa culik anak - anaknya!" ujar Antonio pada seorang pria berbadan kekar lagi sangar.


"Baik Bos!" sahut pria berbadan kekar itu.


"Dan jangan sakiti wanita itu, awas jika lecet sedikit saja kamu akan tahu akibatnya!" ancam Antonio.


"Siap Bos!"


"Dan ini upah kamu." Antonio memberikan amplop cokelat.

__ADS_1


__ADS_2