Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Alva Sembuh


__ADS_3

Segera Alva meneguk minuman itu sampai habis.


"Bagaimana perasaan Ayah?" tanya Ethan yang penasaran dengan hasilnya.


Alva terdiam seolah mencari adakah yang lain dari dirinya, "Ayah tak merasakan apa pun."


Ethan mendengus, "Yah, seharusnya ramuan itu langsung bereaksi."


Alva tersenyum menghargai usaha si bungsu, mengusap kepalanya dan berkata, "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sudah malam, sebaiknya kalian semua gosok gigi dan segera tidur!"


"Baik Ayah." sahut Ethan sedikit kecewa dengan risetnya.


Alva pergi dari kamar pandawa.


Dave mendekati adiknya dan menghibur nya. "Sudahlah Dik, jangan bersedih begitu, masih ada hari esok. Kita akan coba lagi ya,"


"Ya, itu benar. Reaksi obat ada yang tidak secara langsung bekerja, mungkin besok hasilnya bisa terlihat." ujar Abi. Pandawa yang lain juga ikut menghibur.


Setelah merasa terhibur, Ethan segera tidur, sebelumnya cuci tangan dan gosok gigi.


Alva kembali menaiki ranjang. Sherly membalikkan tubuh setelah merasa ada yang memeluknya dari belakang.


"Ada apa Mas?" tanya Sherly.


"Ethan memintaku untuk meminum ramuan."


"Ramuan? Ramuan apa, Mas?" Sherly terlihat penasaran.


"Pandawa bilang, Ethan membuat riset tentang cara menghilangkan alergiku terhadap wanita. Mereka semua kasihan melihatku jika terus bersin-bersin. Aku berharap risetnya berhasil agar aku bisa memeluk duo baby ."


Mendengar itu Sherly tercengang, "Mereka hebat. Aku yakin dengan Mas meminum ramuan itu pasti alergi Mas sembuh."


"Semoga saja, ayo tidur, aku udah ngantuk banget!"


"Tapi, jika alergi kamu sembuh, awas saja ya jika nempel-nempel sama wanita lain!" ancam Sherly.


"Enggak kok, enggak bakal, kan aku udah punya 3 wanita di hatiku. Mana mungkin aku seperti itu."


Sherly mengangguk dan mulai memejamkan mata. Mereka berdua tertidur sambil berpelukan.


Di tengah malam, Salwa menangis cukup keras. Tapi Sherly tak mendengar, Alva merasa kasihan melihat Sherly yang kelelahan. Ia pun berinisiatif untuk menenangkan Salwa. Alva turun perlahan dari atas ranjang mendekati box milik Salwa.

__ADS_1


Anehnya saat Alva mendekati box bayi, ia tak merasa risih dan dengan leluasa bisa menggendong Salwa.


Alva merasakan popok bayi yang basah. Ia segera menganti yang baru dan mulai menimang-nimang Salwa. Seketika itu Salwa terpejam.


Beberapa detik setelah itu, Khalwa menangis, tangisannya hampir memekakkan telinga. Sherly terbangun dan menyaksikan Salwa dalam gendongan Alva.


Sherly bangkit untuk mengambil Khalwa dalam box. Berbicara dengan pelan. "Mas, Salwa ...."


"Iya, tadi popoknya basah dan aku sudah mengganti dengan yang baru. Dia udah merem lagi nih," Alva memperlihatkan wajah Salwa.


Bukan itu yang Sherly maksud kan, "Alergi kamu sudah sembuh Mas!" pekiknya bahagia.


Alva sendiri baru menyadarinya, "Benar Sayang, aku baru tersadar jika bukan kamu yang memberitahu ku, aku mana tahu," Alva senang nya bukan main. Merasa alerginya menghilang, ia sontak mencium pipi gembul milik Salwa.


Dengan tingkah Alva yang sedikit agresif, Salwa pun melengkingkan tangisannya karena terusik.


Alvarendra mencoba menimang namun hasilnya nihil. Salwa tetap menangis.


"Coba Mas, biar aku susui!" Sherly mengarah kan Alva agar membawa Salwa mendekat.


Sherly dengan bantuan Alva, menyusui dua bayinya sekaligus.


Salwa menyusu dengan rakus. Sedangkan Khalwa sudah mulai tertidur sekarang. Alva membungkukkan badan untuk mengambil Khalwa dan memindahkan ke box bayi.


Setelah kedua bayi tertidur, Sherly menyusul Alva ke atas ranjang, "Mas," bisiknya lembut.


Alva mengerjap, "Apa Sayang?"


"Usaha Ethan sudah berhasil. Kamu harus memberikan dia hadiah. Tidak hanya Ethan saja, yang lain juga." usul Sherly yang teringat sudah lama tak memberikan hadiah para pandawa.


"Kamu benar Sayang, kira-kira hadiah yang cocok untuk mereka apa ya,"


"Nah, itu PR kamu!" setelah mengatakan itu, Sherly terpejam.


Melihat itu, Alva cemberut. "Loh, Yang, aku kok ditinggal merem sih!"


Kemudian Alva menyusul tidur.


Keesokan paginya.


Alva sudah bertekat untuk memandikan Salwa dan Khalwa. Dia meminta baby sister untuk menyiapkan semua keperluan bayi.

__ADS_1


Saat memerintah, dua karyawan itu saling lempar pandang dan berpikir, apakah yang mereka temui pagi ini adalah kembaran Alvarendra?


Semua perlengkapan bayi untuk mandi sudah siap. Alva dengan memakai kaos oblong dan celana pendek sudah siap untuk bersenang-senang.


Pandawa juga ikut melihat ayah nya memandikan bayi.


"Apa ayah baik -baik saja?" selidik Ethan yang merasa penasaran.


Alva menoleh dan tersenyum. Kemudian dia berbisik, "Usaha kamu berhasil!"


Seketika itu juga Ethan berteriak hingga membuat pandawa yang lain menoleh.


"Ada apa Dik?" tanya Charles.


"Usahaku berhasil. Lihat, ayah sudah tidak alergi lagi!"


Pandawa berjingkrak kegirangan sambil membuat lingkaran.


Sherly yang baru keluar dari kamar mandi merasa senang dengan ulah pandawa.


"Kalian memang hebat!" Sherly mengacungkan dua jempol nya dan merentangkan kedua tangan untuk menyambut pandawa.


Pandawa berlari dan memeluk ibunya.


"Terima kasih, kalian sudah membantu kami!" ujar Sherly sambil memeluk pandawa.


"Ibu tidak perlu sungkan."


"Kami melakukan ini juga demi kebahagian kalian."


"Ayah sudah sembuh dan kami senang melihatnya."


Sherly mencium pipi pandawa satu per satu, "Wangi bedak kalian sama dengan punya adik kembar."


"Iya, tadi kami mengambil bedak adik, tapi sedikit."


Mendengar tuturan pandawa Sherly tersenyum.


Alva sudah selesai memandikan Salwa. Giliran saatnya untuk mengenakan popok dan baju bayi. Alva seakan sudah lihai saja.


Para baby sister bertepuk tangan atas usaha Alva yang gemilang ini, "Tuan Alvarendra hebat!"

__ADS_1


Alva tersenyum yang membuat keduanya hampir klepek-klepek.


Selesai mendandani Salwa, giliran Khalwa mandi. Khalwa dengan ciri khasnya yang senang dengan air membuat Alva lebih mudah ketimbang memandikan Salwa tadi yang ada drama nangis-nangis.


__ADS_2