Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Alva vs Sherly


__ADS_3

Pukul 13.00


Sherly baru mandi dan berganti pakaian. Baginya tidak ingin ribet, maka baju yang ia pilih adalah setelan jumpsuit. Dia memilih untuk menampilkan oversized, guna memperoleh kesan loose yang sangat nyaman.


Sangking sibuknya mengurus pandawa, dia hanya mampu memasak nasi saja. Untungnya lobster yang dibeli Alva cukup untuk lauk seisi rumah. Sherly menyiapkan piring sejumlah orang yang ada di rumah, tak termasuk pengawal Alva. Lobster bakar ia letakkan di tengah-tengah meja.


"Pandawa, ayo makan!" dulu Sherly memanggil mereka hanya menyingkat nama depan saja, kini ia rubah dengan sebutan pandawa. Tak lupa juga dia menawarkan makan siang pada Alva.


Pandawa kecil berhambur menuju meja makan.


"Hore, ada ikan gosong!" seru Ethan yang membuat penghuni meja makan tertawa.


Alva yang sedari tadi sudah duduk memperhatikan aksi pandawa, tak henti-hentinya bersyukur di dalam hati. Dia sangat bersyukur, karena siang ini bisa berkumpul dengan pandawa. Fakta langka yang jarang terjadi.


"Ini lobster bakar, Nak!" seru Alva sambil mengusap kepala Ethan dengan gemas.


"Aku boleh tidak, disuapi lagi?" tanya Boman malu-malu.


"Tentu saja boleh!" seru Alva dengan senangnya.


"Aku juga mau!" seru Abi, Charles dan Ethan kompak bersama.


"Kalian kan bisa makan sendiri?" Sherly merasa kikuk juga makan semeja dengan Alva, ditambah jika harus melihat dia menyuapi pandawa. Ia merasa posisinya tergeser di hati pandawa.


"Tidak apa-apa, Sherly, biarkan aku menyuapi mereka."


"Baiklah," Sherly pasrah.


"Ada tehnik sendiri untuk mendapatkan daging secara maksimal." terang Alva yang langsung mengambil daging lobster.


"Pertama, ayah akan pisahkan ekor dari badan lobster. Pegang ekor mengarah ke badan, tarik dan pelintir menjauh. Belah memanjang ekor." dia mengambil pisau.


"Ambil daging ekor menggunakan perpu kecil." Alva meraih garpu.


"Usahakan mengambil daging ekor dalam satu tarikan. Lepas juga ekor yang bentuknya seperti kipas ini agar mendapatkan daging di baliknya." Karena keberuntungan Alva, dia menemukan deretan telur lobster di sepanjang ujung cangkang.


Para pandawa dibuatnya takjub.


"Langkah kedua, ayah akan menghancurkan cakar lobster." Alva meraih pisau besar. Pandawa sesekali menganga dibuatnya.


"Tarik dan pelintir cakar dari tubuh lobster. Tarik lagi cakar yang bentuknya seperti jempol, patahkan." sampai terdengar bunyi 'klek'.


"Pecahkan cangkang cakar, tarik dagingnya menggunakan garpu kecil." selesai Alva menunjukkan kebolehannya.


Para pandawa sontak bertepuk tangan.


"Wah, ayah kita hebat!" seru Ethan yang langsung mendapat anggukan dari saudaranya yang lain.


"Ibu, aku masih kenyang, aku kan baru saja makan." Dave turun dari kursi nya sambil mengusap perutnya yang buncit.


Sherly terkekeh dibuatnya, "Ya sudah kamu main saja dulu sambil menunggu yang lain makan." tutur Sherly yang langsung mendapat anggukan dari Dave.


.


Kini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga, duduk di atas karpet membentuk lingkaran. Sambil pandawa memainkan mainan barunya.


"Ayah menginap saja di rumah ibu," tukas Boman membuat Sherly terhenyak kaget. Apa jadinya nanti jika dia serumah dengan si tuan bersih.


"Hah, tidak bisa!" pekik Sherly yang nampak gusar seraya melambaikan tangan tak setuju dengan usulan Boman.


"Ada apa dengan ibumu, egois sekali, ayah kan juga pingin tidur bareng kalian," celetuk Alva sambil mengerutkan hidung.


"Tidak boleh, pokoknya tidak boleh, titik." Sherly tetap ngotot.

__ADS_1


"Tuh, ibu kalian tak mengizinkan ayah untuk menginap semalam di sini!" katanya sambil menunjuk dengan dagu.


"Mengapa Ibu?" tanya Ethan yang berharap bisa tidur sambil di peluk sang ayah.


"Kalian masih terlalu dini untuk mengerti urusan dewasa." ujar Sherly, lalu berdiri.


Alva yang sedari tadi tak luput memandang Sherly juga ikut berdiri.


"Bisa kita bicara berdua saja?" Alva menunjukkan dua jarinya. Sherly mengangguk dan berjalan menuju halaman belakang. Alva tanpa diminta pun langsung mengikutinya.


"Izinkan aku untuk semalam tidur bersama mereka." pinta Alva penuh harapan.


"Enggak boleh!" Sherly menggelengkan kepala cepat.


"Beri aku satu alasan agar aku bisa menyakinkan kamu."


"Tidak ada alasan apapun, Presdir. Ku mohon jangan paksa aku!" Sherly mengatupkan kedua telapak tangannya memohon dengan sangat.


"Baiklah, aku hargai keputusanmu." Alva tampak kecewa. Sebenarnya ia juga tahu, karena dia dan Sherly belum sah menjadi suami istri, jadi patut lah Sherly bersikap demikian untuk menghindari fitnah.


"Terima kasih Presdir, tampaknya hari sudah mulai gelap." Sherly menunjuk jam di dinding.


Alva paham maksud Sherly.


"Aku akan pamit dulu pada pandawa. Aku titip mereka, setelah aku nanti memenangkan kompetisi renang, aku akan membawa mereka." Alva membalikkan badan menuju ke ruang tamu. Alva memerintahkan para pengawalnya untuk memantau rumah Sherly dari jauh. Berjaga-jaga saja kalau terjadi sesuatu pada pandawa beserta ibunya.


"Anak-anak, sepertinya ayah harus pulang ke rumah ayah sendiri." Alva duduk di tengah-tengah pandawa.


"Kenapa secepat itu ayah meninggalkan kami?" protes Abi yang masih ingin main bersamanya.


"Ayah juga punya seorang ayah di rumah, beliau sendirian, nanti kalau beliau mencari ayah dan ternyata ayah tak ada di rumah bagaimana, kasihan kan beliau?" Alva mengusap lembut kepala Abi.


"Ayah juga punya seorang ayah, itu artinya, dia kakek kami." Charles terlihat sangat senang, dia berjingkrak -jingkrak sambil salto juga.


"Iya Ayah," sahut Charles lalu duduk kembali dengan sopan.


"Aku akan sangat merindukan kalian." Alva mulai berdiri diikuti para pandawa.


"Kami juga ayah," sahut pandawa kompak.


Alva mulai berpamitan pada mereka. Satu persatu dia mencium pipi mereka, kanan dan kiri. Dia menyempatkan menggendong juga walau sebentar.


Para pandawa menggekor Alva dari belakang. Alva bersama pengawal memasuki mobil.


"Da-dah Ayah, sampai ketemu lagi, aku akan sangat merindukan mu!" Dave melambaikan tangan, diikuti pandawa yang lain.


"Aku juga akan merindukan kalian." Alva melambaikan tangan. Perlahan namun pasti, mobilnya kini sudah menghilang dari pandangan para pandawa. Sherly sejak tadi menyaksikan mereka, menjadi kasihan juga. Dia segera mengalihkan perhatian agar pandawa tak larut dalam kesedihan.


"Anak-anak sebentar lagi gelap. Ayo, ibu seka tubuh kalian lalu ganti baju!" Sherly menggiring mereka menuju kamar masing-masing.


.


Sony sudah hampir jamuran menunggu Alva di tepi kolam.


"Sony maafkan aku. Aku hampir saja lupa dengan latihan ku." ujarnya yang baru datang seraya segera melepas pakaiannya.


"Iya Tuan." Sony tak marah sedikitpun.


Alva kini mengikuti prosedur sebelum renang yakni melakukan pemanasan dengan baik.


Dia menunjukan perubahan yang sangat cepat. Dia berhasil menguasai tehnik dasar berenang, mengapung saja itu sudah hal yang bagus.


Alva berlatih sore hari sepulang kerja, dan pagi hari sebelum berangkat kerja.

__ADS_1


Usaha nya tak ia sia-sia kan, dia tak mengenal rasa letih, meski berbagai halangan ia tempuh. Seperti alergi gatal-gatalnya kambuh setelah berenang, kadang juga malam harinya merasa kedinginan.


Hari yang ditunggu pun tiba, Alva melawan Sherly.


Kini mereka berdua berada di belakang Hotel Lotus, ya kompetisi ini Sherly yang meminta untuk dilakukan di sana.


Alva sudah lengkap dengan peralatan renangnya. Baju renang, kacamata renang, dan topi renang sudah siap melekat di badan.


Thomas yang akan menjadi juri perlombaan mereka berdua. Awalnya Thomas juga kaget mendengar kalau tuannya itu tengah memperebutkan bocah yang memiliki wajah mirip dengannya. Thomas juga tak percaya, kalau tuannya itu langsung menyakini kalau mereka berlima adalah putranya.


Sherly sedikit merasa gusar, pasalnya hari ini dia merasakan tak enak di bagian perut dan panggulnya.


"Aku tak boleh kalah, jika aku menang, presdir Alva akan gagal mendapatkan pandawa. Secara resmi mereka milikku. Dan jika presdir Alva si tuan bersih itu yang menang, aku akan hidup sendirian tanpa pandawa lagi." gumamnya dalam hati.


Alva dan Sherly berdiri sejajar di atas kolam. Menunggu aba-aba dari Thomas, Alva melakukan pemanasan sebentar seperti yang ia lakukan saat latihan.


"Kamu terlihat antusias sekali," sindir Sherly.


"Oh, tentu saja, aku sudah latihan renang semaksimal mungkin. Jadi, aku yakin akan menjadi pemenangnya." sahut Alva penuh penekanan pada ucapannya yang terakhir.


"Kita lihat saja nanti." Sherly mengerucutkan bibirnya.


"Pletak,"


"Aduh sakit!" seru Sherly sambil mengusap kasar dahinya yang tertutup topi renang.


"Aku sudah lama tak menyentil dahimu yang menggoda itu." Alva terkekeh sendiri melihat ulahnya yang baru saja ia lakukan.


"Dasar, tukang sentil! Awas saja nanti!" Sherly menjulurkan lidahnya, saat Alva mulai membalasnya, Thomas sudah bersuara.


"Kita akan segera memulai pertandingan ini." ujar Thomas layaknya seorang wasit beneran.


Sherly dan Alva menghentikan aksi mereka yang kekanak-kanakan dan memperhatikan Thomas.


"Pemenang dari kompetisi ini adalah dia yang tercepat menyentuh dinding tepi kolam pada putaran kedua. Gaya yang digunakan bebas, terserah kalian." Thomas mulai meniup peluit.


Alva dan Sherly menyiapkan diri. Peluit pun berhasil ditiup. Mereka berdua reflek menceburkan diri ke dalam kolam. Sherly menggunakan gaya punggung yang menjadi andalannya. Sementara Alva menggunakan gaya dada.


Sherly dengan cepat melesat di putaran pertama, jarak satu meter dari nya Alva meluncur dengan sangat cepat juga.


"Aku tak menyangka si tuan bersih pandai berenang juga." batin Sherly yang melihat Alva tepat di belakangnya.


"Aku harus lebih cepat darinya." batin Alva yang mulai menambah kecepatannya.


Di putaran pertama Sherly menjadi pemimpin.


Alva dengan penuh semangat melebihi semangatnya para pahlawan 45 mempercepat lajunya dengan gaya dada atau gaya katak.


Dia juga masuk sebagai kategori pahlawan, yakni pahlawan yang memperjuangkan haknya untuk mendapatkan posisi sebagai ayah di kehidupan pandawa.


Dan benar saja, di putaran kedua Sherly dan Alva posisinya sejajar.


Siapakah pemenangnya?


Bersambung...


Dukung selalu Pandawa Kecilku, author hanya seorang pemula takkan berhasil tanpa adanya dukungan dari kalian.


Dukung terus dengan memberi like, vote, favorit dan jangan lupa komennya.


Semoga terhibur dan terima kasih.


😘😘😘😘😘😘😘❣️😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2