Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Hantu?


__ADS_3

"Mati atau pergi ke mana?" tanya Thomas lembut dan dia duduk dengan kedua lututnya agar sejajar dengan Ethan. Lalu memegang kedua pundaknya.


"Aku tidak tahu." sahut Ethan singkat seraya mengusap kedua matanya yang sembab.


Alva terenyuh dengan tangisan Ethan.


"Baik, Dokter kecil, bersedia kah kamu memeriksa ku?" terdengar helaan nafas dari Alva, sebisa mungkin dia menenangkan Ethan. Meski ini pertama baginya, tapi dia berhasil membuat Ethan berhenti untuk menangis.


Thomas segera berdiri setelah Ethan tenang. Melihat perlakuan Alva seperti seorang ayah yang menenangkan anaknya yang sedang rewel, Thomas hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Sonia hanya tersenyum kecut.


Selesai mendapatkan pemeriksaan dari Ethan, Alva seketika sembuh dari gatal -gatalnya. Ethan hanya mengoleskan gel yang ia racik sendiri, gel itu terbuat dari serbuk daun sirih. Setelah mengucapkan terima kasih Alva dan Thomas pergi meninggal rumah sakit dan mempercepat perjalanannya menuju Bank Core.


Dilain sisi, Sherly bingung dengan pekerjaannya sebagai interpreter. Bagaimana tidak, bosnya sedang tak berada di ruangannya.


Terdengar helaan nafas yang kasar dari Sherly. Dia tak habis fikir, ruangan bosnya sangat, sangat, dan sangat bersih sekali. Baru kali pertama dia bisa mengamati lekat ruangan itu. Padahal sudah satu minggu dia bekerja di sana.


"Bersih sekali," gumamnya mengagumi kebersihan ruangan Alva seraya berkeliling matanya dan pandangannya tertuju pada sebuah foto di atas meja. Sherly mengamati foto dengan gambar wajah Alvarendra waktu kecil.


"Sangat mirip," ujarnya lalu segera meletakkan kembali pigura yang ada di tangannya saat Lia masuk.


Lia mengajak Sherly untuk sarapan.


"Mumpung masih sepi, yuk makan pagi!" ajak Lia.


"Ke kantin?" tanya Sherly yang mendapatkan anggukan dari Lia.


"Aku dah bawa bekal nih, percuma dong kalau aku ke kantin."


"Zaman begini masih bawa bekal, kayak anak TK kamu!" ledek Lia.


"Biarin... apa-apa pada mahal, aku harus hemat."


"Ya sudah, aku ke kantin dulu." Lia meninggalkan Sherly.


Teringat dengan kotak biru yang ada di dalam tasnya, Sherly segera mengeluarkan kotak bekalnya. Dia duduk di kursi lain yang ada di ruangan Alva.


Sangking lahapnya menikmati sarapannya, dia tak sadar telah dipelototi pemilik ruangan itu.


"Ehem," suara Alva dibuat sedemikian rupa agar dia sadar siapa yang datang. Sherly tak menggubrisnya lantaran dia terlena dengan bekalnya. Alva mengulangi dehem nya dengan mengencangkan suaranya. Sontak Sherly kaget dan menyemburkan nasi goreng yang ada di mulutnya sehingga mengenai wajah Alva.


"Presdir...!" Sherly membelalakkan matanya, "Mati aku!"


"Kamu! Is, menjijikkan!" Alva mengusap wajahnya kasar dengan ekspresi jijik.


Sherly meletakkan bekalnya dan segera berdiri mengambil tisu yang ada di meja milik Alva.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak menyadari kalau kamu sudah ada sejak tadi." Sherly membantu Alva membersihkan sisa nasi yang menempel di pipinya.


"Kamu pikir ruangan ini kantin? Makan seenaknya saja!" bentak Alva seraya mencekal tangan Sherly. Sherly merem melek mendengar suara Alva yang menggelegar.


"Aku kan sudah minta maaf!" balas Sherly tak mau disalahkan. Dia mencoba menarik tangannya namun sia-sia, kalah kuat dengan Alva.


"Enak saja, lantas dengan meminta maaf urusan ini selesai? Tidak semudah itu!" Alva menatap tajam.


"Lepaskan tanganku!"ronta Sherly.


"No no no," Alva menggoyangkan jari telunjuknya.


"Lepaskan! Kalau presdir tidak melepaskan tanganku aku teriak sekarang!" ancam Sherly.


"Teriak saja, ruangan ini didesain agar tidak terdengar dari luar." sahut Alva menang.


"Bohong, mana ada desain ruangan model itu?" Sherly tak habis pikir.


"Coba saja!" Alva menyunggingkan senyum mengejek.


"Tolong! Tolong aku! Aku mau diperkosa!" teriak Sherly. Alva membulatkan lebar -lebar kedua bola matanya dan rasanya ingin menyobek mulut kotornya.


"Cewek ini, bisa -bisanya dia memfitnahku," batin Alva sambil *******-***** kepalan tangannya.


"Tuh kan, benar kan yang aku bilang tadi." ujar Alva merasa menang lagi.


"Tolong...! Ada manusia purba mau makan aku, tolong...!" teriak Sherly asal. Alva menutup kedua kupingnya, otomatis tangan Sherly terlepas.


"Diam!" bentak Alva.


"Tadi kamu menyuruhku berteriak, sekarang malah disuruh diam, bentar lagi kamu mau menyuruhku apa? Atau mungkin aku bakal kamu suruh lari -lari kayak anak SMP gara -gara telat datang?" sindir Sherly.


"Is, cerewet banget nih cewek!" rutuk Alva.


"Biarin, cerewet tanda waras!" tukas Sherly seraya menjulurkan lidahnya yang runcing.


"Jadi kamu kira aku tak waras?" Alva menyentil dahi Sherly sampai terdengar bunyi 'tak '.


"Aduh sakit!" Sherly mengusap dahinya kasar.


"Cepat bereskan ruanganku!" perintah Alva dan membalikkan badannya menuju kursi kebesarannya.


"Kalau aku tak mau? Kan ada office boy, kenapa bukan dia saja yang membersihkan?" omel Sherly.


Alva membalikkan tubuhnya, "Oo, kamu kira gratis mengundang dia, oke, aku panggil OB ke sini atau gaji kamu aku potong sebagai imbalannya!" ancam Alva seraya mengangkat ponselnya yang membuat Sherly mengubah kalimatnya.

__ADS_1


"Jangan Presdir! Baik, biarkan aku yang akan membersihkan ruanganmu!" Sherly berbalik menuju pintu untuk keluar mencari alat pel.


"Hahaha, rasain kamu!" tawa Alva jahat.


"Hm, baru kali ini aku bisa bercanda dengan wanita seumur hidupku. Aku sangat nyaman bila berada di dekatnya." ucap Alva sambil senyum -senyum sendiri.


Sementara Sherly mencari OB untuk meminjam alat pel nya. Setelah mendapatkan apa yang dia cari dia segera menuju ruangan presdir Alva.


Ceklek..


Sherly membuka pintu, tak didapati Alva berada di ruangannya.


"Kemana perginya? Cepet banget menghilang, seperti hantu saja."


"Kamu bilang apa? Hantu?" pekik Alva tak terima dengan tuduhan yang sama sekali tak enak didengar.


"Presdir, kamu mengagetkan aku lagi." Sherly mengalihkan pembicaraan sambil cengengesan.


"Kamu! Tak satu pun kalimat yang bagus tentangku dari mulutmu! Gaji bulan ini aku potong!" Alva tersulut emosi.


"Jangan Presdir! Please, kita damai ya?" Sherly mengulurkan tangan.


Alva tertegun dan menatap tangan Sherly yang mengajak untuk berjabatan.


Alva sedikit ragu dengan sikapnya, "Bahkan sedikit pun aku sama sekali tak bisa marah, ada saja usaha nya yang meluluhkan niatku." batin nya.


"Damai?" tanya Alva sebelum menerima uluran tangannya.


Sherly mengangguk.


"Tidak, bersihkan ruangan ini sampai bersih! Titik." Ucap Alva lalu bergegas meninggalkan ruangannya.


"Dasar cowok nyebelin!" umpat Sherly sambil menghentakkan kedua kakinya.


Alvarendra menuju ruangan Wendy.


"Alva," Wendy kaget dengan kedatangan Alvarendra ke ruangannya.


"Wendy, aku yakin kamu pasti bertanya bagaimana aku bisa keluar?" Alva langsung duduk di depannya. Ya seperti biasa menyemprotkan antiseptik dulu sebelum duduk.


Wendy terlihat mengulum ludahnya. Jakunnya naik turun. Keringatnya pun mulai mengucur.


"Kamu, bukan seperti Wendy yang ku kenal dulu! Aku tahu kamu tidak sendiri merencanakan ini semua! Katakan siapa yang telah bersekongkol denganmu?" Alva membungkukkan badannya sambil tangannya menarik kerah Wendy.


"Alva, maafkan aku. Aku khilaf, aku tahu ini salah. Tolong maafkan aku!" Wendy mengiba.

__ADS_1


"Siapa dalangnya?" Bentak Alva.


__ADS_2