
Imel mengendarai mobilnya, melajukan dengan kencang. Sampailah dia di sebuah bangunan tua, dia segera mematikan mesin mobil dan memasuki bangunan itu.
Tampak bangunan kuno dengan banyak ukiran di setiap sudutnya. Catnya yang memudar dan beberapa lampu gantung menunjukkan betapa tua nya rumah itu.
Dengan sedikit langkah jijik, Imel memaksakan masuk.
Dilihatnya empat pria sedang duduk melingkari sebuah meja.
"Ada tugas lagi untuk kalian!" perintah Imel seraya menyodorkan foto kepada empat pria yang sedang berjudi.
Empat pria yang bertubuh kekar lagi sangar itu memperhatikan foto tersebut dengan seksama.
"Siapa dia Bos, wajahnya sangat mirip dengan wanita yang waktu itu Edo culik?" tanya salah satu dari mereka yang bernama Baron.
"Ya benar, dia adik tiriku." sahut Imel seraya menyodorkan amplop cokelat.
"Bos ingin kami apakan dia?" tanyanya lagi seraya menerima amplop cokelat, dia segera melempar amplop itu ke temannya yang lain. Si penerima segera menghitung berapa lembar isi nya.
"Aku ingin dia segera lenyap dari muka bumi ini!"
"Tenang saja Bos, ini perkara gampang!" ujar Baron sambil menyentikkan jari.
"Bagaimana dengan upah kalian, cukup?"
"Cukup Bos," sahut pria lain yang bernama Robin.
"Kapan kami bergerak?" tanya Baron seraya berdiri.
"Lebih cepat lebih baik." ujar Imel dan segera meninggalkan rumah tua itu.
"Wah, kita bisa foya-foya dengan uang ini!"
.
Pandawa tengah mengikuti pelajaran dengan santai. Pelajarannya yang mereka ikuti hanya bernyanyi dan bermain, jujur mereka sangat bosan.
Sepulang dari sekolah, Abi meminta si sopir untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit. Awalnya si sopir menolak, karena gertakan Charles akhirnya si sopir bersedia.
"Paman sopir, perhatikan ini!" Charles mengambil sendok yang ada pada kotak bekalnya tadi. Dia menggenggam erat sendok itu hingga tak karuan bentuknya.
"Ba-baik Tuan muda, saya antar kalian ke rumah sakit." sahut si sopir dengan gemetaran, bahkan menelan ludah saja kesulitan karena sangking takutnya. Pandawa cekikikan melihat ekspresinya.
Sesampainya di rumah sakit, Ethan segera turun dari mobil. Dia segera menemui dokter Sonia di ruangannya.
"Siang Dokter!" sapa Ethan seramah mungkin, padahal dia masih kecewa dengan sikap dokter Sonia pada waktu itu.
"Siang, kamu, Ethan!" serunya tak menyadari kalau pasiennya kali ini si dokter cilik.
Ethan memasang senyum, meski terpaksa.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Sonia sudah menduga maksud kedatangannya, hanya saja dia sedikit basa-basi.
"Aku ingin tes DNA antara aku dan ayah Alva diulang!" pinta Ethan.
"Tanpa kamu minta pun akan sama hasilnya," ujar Sonia kemudian.
"Sama, maksud Dokter aku memang benar-benar bukan anak kandung ayah Alva?" Ethan mulai sesenggukan.
Sonia merasa iba juga melihat dokter kecil mulai menangis. Dengan kesadaran hatinya, dia menarik laci meja, mengambil sebuah map cokelat.
"Ini, bacalah dan jangan menangis lagi!" Sonia menyerahkan map tersebut.
"Apa ini?" Ethan mengusap matanya.
__ADS_1
"Lihat saja!"
Ethan perlahan membuka map tersebut. Alangkah terkejutnya dia.
"Ini ...!"
.
Sesampainya di rumah, pandawa segera berganti pakaian. Kali ini cukup berbeda dengan hari biasanya. Mereka mengenakan kaos yang ada nama mereka.
"Ini baju baru?" tanya Abi seraya membaca namanya yang tertera di bagian punggung.
"Iya, sengaja kakek memesannya, kalian suka?" ujar Andreas yang tiba-tiba saja sudah berada di kamar pandawa.
"Suka Kek!" seru pandawa seraya berhamburan ke arah Andreas.
"Terima kasih, atas hadiah ini!" seru Boman seraya mengecup pipi kendur Andreas.
"Charles akan memakainya setiap hari!" ujar Charles yang juga ikut mencium pipi Andreas.
"Sebagai rasa terima kasih ku, izinkan aku untuk melukis wajah Kakek!" ujar Dave.
"Kamu bisa melukis?" tanyanya tak percaya.
"Ayah Alva belum pernah bercerita pada Kakek?" Andreas hanya menggeleng saja. Dave menepuk jidatnya.
"Aku kasih Kakek peluk saja." Ethan langsung memeluk Andreas. Begitu pula Andreas membalas pelukan Ethan.
Andreas begitu bahagia dengan kelima cucunya. Sudah 7 tahun lamanya dia menjadi duda, dan selama itu pula dia tak pernah sebahagia ini.
Pukul 15.00
"Pandawa!" seru Alva seraya mengedarkan pandang mencari mereka.
"Kalian mengagetkan ayah," Alva mengusap kasar kepala pandawa.
"Maaf Ayah, kami sengaja!" ujar Abi menahan tawa.
"Wah, baju baru ya!" Alva memperhatikan kaos mereka.
"Iya Ayah, kakek yang membelikannya untuk kami." ujar Boman.
"Hm, kakek kalian berarti sangat sayang sama kalian, bilang apa kalau sudah diberi?" tanya Alva mengetes kepribadian mereka.
"Kami sudah mengucapkan terima kasih kok!" ujar Charles.
"Ayah, ternyata Ayah belum pernah bercerita kepada kakek ya tentang lukisan yang waktu itu Dave berikan?" Dave memeluk kaki Alva.
Tampak Alva mengernyitkan dahi, "Maaf ya Ayah lupa,"
Dave mengisyaratkan pada ayahnya agar merendah, setelah Alva membungkukkan badan Dave berbisik, "Tenang saja Ayah, aku bakal melukis wajah kakek juga."
"Bagus itu!" seru Alva.
"Tapi Ayah jangan bilang -bilang pada kakek ya," ujar Dave.
"Oke," Alva melingkarkan dua jarinya.
"Ayah, bolehkah aku berbicara?" ujar Ethan yang sejak tadi berada di bawah Alva. Alva duduk bertumpu pada lutut.
"Ayah perhatikan wajah kamu serius sekali. Katakan saja Ethan, tentang apa kira-kira!"
"Ini tentang tes DNA kita, Ayah!"
__ADS_1
"Ethan, ayah sudah tak ingin membahas itu lagi. Sudah berkali -kali ayah katakan pada kalian, sampai kapanpun bahkan sampai maut memisahkan nyawa ayah, kalian pandawa kecilku adalah anak-anak ayah." terang Alva seraya memegang kedua pundak Ethan.
"Aku juga nggak mau berpisah lagi denganmu Ayah, Ayah adalah idolaku. Tapi aku harus mengatakan ini, Ayah." Ethan mendekatkan bibirnya yang mungil ke telinga Alva. Tampak Alva bersiap mendengarkan.
"Tes DNA kita cocok." bisik Ethan.
"Sudah ayah duga itu,"
Akhirnya Ethan bercerita saat sepulang sekolah tadi dia menemui dokter Sonia, dan dia diberi map cokelat yang ternyata isinya hasil tes DNA yang asli. Sonia juga sudah meminta maaf dan takkan mengulangi perbuatannya lagi.
"Loh, Ayah kok pulang sendiri? Mana ibu?" tanya Abi yang teringat dengan Sherly seraya mencarinya di balik Alva.
"Bukannya ibu sudah pulang sejak tadi siang?" Alva melihat arlojinya.
Pandawa kompak menggeleng.
"Kemana perginya?" Alva segera berdiri sambil merogoh ponsel di saku jasnya. Mencari kontak Sherly dan segera menghubunginya. Tak satu pun sahutan dari nomor istrinya.
Alva tampak khawatir.
.
Sherly kini sedang menuju ke rumah Anita. Dia membawakan ibu tirinya sekotak cup cake, kue kesukaannya.
Saat Sherly mengetuk pintu, tampak dari balik pintu wanita tua tengah berjalan ke arahnya.
"Non Sherly!" seru bi Kah seraya memeluknya dengan erat.
"Bibi, aku kangen banget!" Sherly membalas pelukannya.
"Ya Allah, Non, apa bibi sedang bermimpi? Sudah lama sekali bibi tak bertemu lagi dengan Non Sherly, bibi kangen banget Non!" bi Kah tak henti-hentinya mencium kening Sherly. Dia begitu bahagia mendapati majikan dulunya pulang.
"Bagaimana kabar Bibi?" Sherly menatap wajahnya dengan sendu. Ingin sekali dia membawa wanita itu keluar dari rumah Anita. Sekilas dia teringat dengan perlakuan ibu tirinya terhadap dia dan bi Kah dulu.
"Alhamdulillah baik Non, dan bagaimana dengan kabar Non Sherly sendiri?"
"Alhamdulillah, aku baik Bi, dimana ibu dan kak Imel? Aku membawakan kue kesukaannya." ujar Sherly seraya celingukan ke arah dalam.
"Siapa Bi?" teriak suara wanita dari arah dalam rumah. Wanita itu berjalan mendekati bi Kah.
"Ada tamu, kenapa bibi tak menyuruhnya masuk ke da ...." Anita menatap tajam sosok tamu tersebut.
"Sherly! Berani juga kamu datang ke rumahku!" bentaknya kasar.
"Mama, bagaimana kabar Mama? Setahuku, ini juga masih rumahku." ujar Sherly dengan santainya.
Mendengar perkataan Sherly, Anita tampak khawatir jika Sherly menginginkan tinggal kembali di rumah ini.
"Baik, seperti yang sedang kamu lihat." sahut Anita sinis.
"Oh, iya Ma, aku membawakan kue kesukaan Mama," Sherly memberikan kotak kue.
Anita menatapnya tak suka, dia menerima kue itu dan melemparkan ke lantai dengan kasar.
"Aku tak butuh kue ini, pergi kamu dari rumahku!" usir Anita.
Sherly dengan tenang dan menahan emosinya tatkala melihat kue itu hancur berserakan di lantai.
"Aku bisa saja mengusir kalian dari rumah papaku, tapi aku tak berniat seperti itu. Kedatanganku ke sini hanya ingin membawa bi Kah pergi dari sini!"
Anita tampak geram tak suka.
"Tidak, aku tak mengizinkan bi Kah keluar dari rumah ini!"
__ADS_1