Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Pandawa Sakit


__ADS_3

"Kak Abi, kenapa ayah tak pernah main ke sini?" tanya Boman sedikit gelisah, dia rindu berat dengan ayahnya.


"Kamu kangen ya Dik?" tanya Abi seraya menghentikan belajarnya. Boman sejak tadi berada di kamar Abi sambil membawa mainan barunya.


Boman hanya mengangguk melas.


"Kamu minta izin sama ibu saja, pasti ibu mengizinkan."


"Aku takut membuat ibu marah, Kak." Boman turun dari ranjang Abi dan keluar pergi menuju kamarnya.


"Kasihan kamu, bagaimana ya agar ayah bisa main ke sini," gumamnya,"aha, aku punya ide!" Abi segera merapikan peralatan belajarnya dan segera keluar kamar.


Agar tak ketahuan oleh ibunya malam-malam keluar kamar, Abi berjalan dengan mengendap -endap memasuki kamar adiknya satu per satu. Dia mengajak saudaranya untuk mengadakan rapat dadakan.


Kini mereka tengah berkumpul di kamar si bungsu.


"Adik-adik, apa di antara kalian ada yang kangen dengan ayah?" tanya Abi memulai rapatnya.


"Aku Kak!" seru adik-adiknya kompak seraya mengangkat jari telunjuknya.


"Ssttt ....! Jangan keras -keras, nanti ibu bangun!" Abi sedikit berbisik, mereka mengangguk kompak.


"Apa dari kalian punya ide, agar ayah bisa ke sini?" Abi melontarkan pertanyaan seraya menatap satu per satu wajah adiknya yang kini terlihat berseri-seri.


"Kita ajak saja dia untuk makan malam bersama," usul Charles.


"Itu ibu pasti tidak setuju, yang lain?" Abi menggelengkan kepalanya.


"Kita bilang saja sama ibu kalau ada barang ayah yang tertinggal di rumah, dengan begitu ayah pasti ke sini deh!" ujar Dave.


"Itu kurang menarik," sangkal Abi.


"Kita pura-pura sakit saja," tukas Ethan, semua saudaranya menatap tajam padanya.


"Adik, sehat itu mahal harganya, kok kamu malah minta kita pura-pura sakit, kalau kita sakit beneran, bagaimana?" timpal Boman yang tak sependapat dengan usul si bungsu.


"Itu ide yang bagus, Ethan benar Boman, dengan begitu ibu pasti mengizinkan ayah untuk pergi ke sini menjenguk kita." Abi menyetujui ide si bungsu.


"Lalu bagaimana caranya?"


"Sini Kak!" Ethan membisikkan idenya, mereka membentuk lingkaran sambil berangkulan.


"Wah, ide kamu luar biasa, Dik!" seru Abi.


Selesai mengadakan rapat dadakan mereka segera tidur, karena besok adalah hari yang mereka nanti. Pandawa lima akan melaksanakan aksinya.


Keesokan harinya.


"Abi, badan kamu panas banget Nak!" Sherly panik ketika melihat si sulung tengah berbaring di kamarnya. Dahi Abi tak henti -hentinya diraba.


Sherly bergegas menuju kotak obat untuk mengambil termometer. Segera dia meletakkan di ketiak Abi.


"Hah, 40 derajat Celcius!" pekik Sherly tak percaya dengan hasil yang ia lihat pada termometer.


"Ibu akan menghubungi dokter agar segera ke mari, biar Boman yang menunggu kamu, ibu ke kamar sebentar ya Nak!" Sherly begitu panik, selesai mengusap pucuk kepala Abi, dia menuju kamar Boman untuk minta tolong agar menjaga Abi sebentar.


Sherly menarik selimut milik Boman.


"Boman, ibu minta tolong bisa! Kak Abi sedang demam, ibu ingin menghubungi dokter, bisakah kamu menjaganya sebentar?"


"Bisa, Bu!" sahut Boman terdengar merintih.


"Kamu kenapa Nak!" Sherly sontak meletakkan punggung tangannya pada dahi Boman.


"Kamu juga demam!" pekik Sherly, dia segera mengambil termometer di kamar Abi.


"Abi, sebentar sayang ya, ibu mau mengecek suhu Boman, ternyata dia juga demam." ujar Sherly yang hanya mendapat anggukan dari Abi.


Sherly kembali menuju kamar Boman dan segera meletakkan termometer pada ketiaknya.


"Hah, 39,5 derajat Celcius!" pekik Sherly, dia semakin panik. Meninggalkan kamar Boman menuju kamarnya untuk mengambil ponsel.


Mencari nama dokter di daftar kontak, namun satu pun tak ada.

__ADS_1


"Apa anak kembar sakitnya kompak juga ya," gumamnya seraya menuju kamar Charles.


Didapati Charles tengah meringkuk, Sherly menempelkan punggung tangannya ke dahi Charles. Benar saja, dia ikut demam. Mengetahui kondisi ketiga putranya demam, dia semakin panik.


"Semoga ini tidak terjadi pada Dave!" Sherly menuju kamar Dave.


"Dave, syukurlah kamu tidak ikut demam kan?" tanyanya saat melihat Dave baru saja bangun.


"Aku kedinginan Bu," ujar Dave sambil menggigil.


Sherly segera memeriksa dahinya, ternyata juga sama. Dia mengambil jaket yang ada di gantungan lemari, mengenakan pada si kecil Dave.


"Nah, sekarang kamu berbaringlah, ibu akan menyelimuti kamu!" Sherly menarik selimut dan menutupi tubuh Dave.


Kini terakhir, Sherly menuju kamar Ethan.


"Pasti Ethan juga demam," pikir nya seraya membuka pintu kamar.


"Kosong, ke mana perginya dia?" Sherly mengedarkan pandang ke seluruh isi kamar.


"Ibu," seru Ethan yang baru saja selesai mandi.


Sherly membalikkan badannya.


"Ethan Sayang," Sherly sontak memeriksa dahi si bungsu.


"Kamu nggak demam?" Sherly salah menduga.


Ethan hanya menggeleng.


"Ada apa Bu?" tanyanya polos, padahal ini semua adalah idenya. Semoga saja berhasil.


"Semua kakakmu, demam!" seru Sherly.


"Demam Bu, kok bisa, padahal kemarin mereka baik -baik saja!" Ethan bersandiwara ikut panik.


"Ibu juga nggak tahu, nah karena hanya kamu yang tak sakit sekarang bantu ibu untuk membuatkan bubur untuk mereka.


"Siap Bu!" sahut Ethan semangat 45.


"Abi, sarapan dulu Nak, setelah itu minum obat!" Sherly membangunkan Abi yang sejak tadi memejamkan mata.


Abi segera membuka matanya dengan ekspresi selayaknya orang sakit.


"Apa itu Bu?" tunjuk Abi pada sesuatu yang ada di mangkuk.


"Ini bubur nasi Sayang, nah, ibu suapi kamu ya," Sherly mengambil mangkuk yang ada di meja.


"Tapi Abi kan bukan dedek bayi, Bu?" Abi berusaha menolak disuapi.


"Kan kamu sedang sakit, ayo makan!" Sherly menyodorkan sendok di dekat bibirnya.


Melihat ibunya yang perhatian berlebihan, Abi sedikit merasa bersalah telah merencanakan ini semua. Tapi ini semua demi saudaranya.


Abi membuka lebar -lebar mulutnya dan segera melahap bubur itu.


Setelah sarapan milik Abi habis, Sherly menuju kamar Boman.


"Aku nggak mau makan bubur itu!" rengek Boman.


"Sayang, kan kamu lagi demam, anak-anak kalau demam baiknya makan-makanan yang lembek seperti bubur nasi ini," terang Sherly penuh kesabaran.


"Boman nggak mau makan!" dengan cepat dia menutup mulutnya dengan tangannya yang mungil.


"Kamu mau sarapan pakai apa? Sebelum minum obat, perut kamu harus diisi dulu!"


Boman tetap menggeleng. Sherly membujuk dengan berbagai menu lainnya, namun hasilnya pun sama.


Sherly menyerah dan berbalik ingin menuju kamar Charles, saat beranjak dari kursi, Boman menghentikan langkahnya.


"Bu," panggil Boman dengan tatapan lesu.


"Iya Sayang," sahut Sherly berharap anaknya mau sarapan.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu ayah Bu, aku kangen ayah, aku ingin dipeluk nya juga Bu." ujar Boman dengan polosnya.


Sherly dengan keras melarangnya, tanpa melihat lagi wajah Boman, dia segera keluar.


"Ada apa dengan Boman, memangnya dengan dia memeluk presdir tukang menyentil itu, bisa membuatnya kenyang?" Sherly melirik jam di dinding.


"Ya Tuhan, aku hampir telat, bagaimana ini?" dia segera membuka pintu kamar Charles.


"Charles Sayang, nih ibu bawakan kamu bubur nasi. Ayo sarapan, setelah itu minum obat!" Sherly mendudukkan Charles yang terlihat sangat lemas.


"Bu, apa ibu marah jika aku sakit?" terlontar pertanyaan yang tak terduga dari mulut kecil Charles.


Sherly cepat menggelengkan kepala.


"Tidak Nak," Sherly menyodorkan sendok, Charles dengan cepat melahapnya.


"Tapi, Ibu kok menangis?" Charles mengamati wajah ibunya.


Sherly segera mengusap matanya yang berkaca -kaca.


"Eh, ini ibu sedang kelilipan, jadi ya terasa kayak akan nangis." bohong Sherly.


Sarapan milik Charles sudah habis dan dia sudah diberikan parasetamol sirup, Sherly menuju kamar Dave.


"Ibu," seru Dave riang ketika ibunya datang.


"Pagi Dave, nih, ibu bawakan sarapan bubur nasi buat kamu!" Sherly memperlihatkan mangkuk berisi bubur.


Dave menggeleng, sambil menutup mulutnya.


"Kenapa Dave?" Sherly mengerutkan dahinya.


"Aku mau makan sama yang ayah makan di pantai kemarin." tutur Dave polos.


"Hah, lobster bakar?" Sherly mengingat saat pergi ke pantai Anyer. Alvarendra membelikan pandawa lobster bakar.


"Pagi-pagi begini belum matang makanan seperti itu." ujar Sherly mengelabuhi agar tak merengek.


"Pokok nya Dave mau makan lobster bakar!" rengeknya sambil mengerucutkan mulutnya. Persis kebiasaan Sherly saat bersama Alva.


"Aduh, bagaimana ini!" Sherly bergegas keluar kamar Dave.


Dia tengah pusing sendiri meladeni pandawa, kecuali Ethan. Sherly menuju kamar Ethan.


"Ethan, ayo kita sarapan!" ajak Sherly seraya menggandeng tangannya.


"Aneh, kok tangannya terasa demam," batin Sherly seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Ethan.


"Ya Tuhan, Ethan kamu juga ikut demam!" pekik Sherly tak percaya seraya menangkup kedua pipinya.


Sherly kembali mengajak Ethan menuju kamarnya.


"Kamu makan di sini saja ya, sebentar ibu ambilkan bubur nasi dan obatnya dulu." Sherly bergegas menuju dapur dan tak lama kembali membawa semangkuk bubur.


"Aakk," Sherly menyuapi Ethan. Ethan melahapnya dengan cepat sampai habis tak bersisa.


"Ibu, nanti aku mau disuapi sama ayah juga!" pinta Ethan dengan polosnya.


Jleb....


Terasa permintaan Ethan menusuk palung hatinya.


Bagaimana bisa dia memenuhi permintaan pandawa, secara dia sendiri tengah berada dalam relung masa taruhan.


Sherly pagi ini sangat sibuk mengurus pandawa lima, mulai menyuapi mereka, menyeka dan mengganti baju mereka, serta membujuk Boman dan Dave sarapan. Akhirnya dia memutuskan untuk bolos kerja. Sengaja dia tak memberi tahu kondisinya sekarang pada Alva.


"Bagaimana ini, sudah pukul 09.00. Boman dan Dave belum makan sedikit pun. Bagaimana obatnya bisa bekerja kalau mereka berdua tak makan dulu?" Sherly mengambil kunci mobil di laci kamar, dia bermaksud mencari lobster bakar di restoran terdekat.


Hampir satu jam dia berputar -putar di kota, dan dia juga sudah mencari di internet. Namun tak ada restoran yang siap saji menyediakan lobster bakar untuk saat ini.


"Aduh, ada-ada saja permintaan Dave!" Sherly mengusap kasar wajahnya.


Ratusan panggilan masuk dan pesan singkat dari atasannya terlihat jelas di layar ponselnya.

__ADS_1


"Pasti si tukang sentil itu sedang mencariku, bagaimana ini?" terdengar kasar hembusan nafasnya.


__ADS_2