Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Alva Pergi


__ADS_3

Semua pengawal yang ada di rumah Syarif Lyon segera mendatangi suara teriakan majikannya.


"Ada apa Tuan?" tanya salah satu anak buahnya yang datang dengan tergopoh-gopoh.


"Malam ini kita pergi ke rumah Anita, wanita itu sudah berani menghinaku!" ujar Syarif geram. Syarif memperlihatkan lukisan yang ada di dekatnya. Semua pengawal ingin tertawa rasanya, tapi takut dosa. Mereka menahan tawanya. Bagaimana tidak, lukisan itu serupa dengan gorila namun wajahnya wajah manusia. Yang tidak lain adalah wajah Syarif Lyon.


Syarif sangat murka, dia tak hanya ingin menuntut Anita tapi juga akan menjebloskan dia ke penjara atas tuduhan pencemaran nama baik.


.


Pandawa dengan bantuan bi Kah mengamankan lukisan Syarif Lyon di sebuah gudang. Bi Kah sendiri tertawa terpingkal -pingkal saat pandawa menyampaikan ide nya.


Pukul 19.00


Sherly dan Alva sudah membawa pandawa pulang ke rumah. Kini mereka tengah berada di ruang keluarga setelah makan malam. Andreas baru saja keluar dari kamar dan bergabung dengan pandawa.


"Oh, iya, ibu mau tanya pada kalian," ujar Sherly seraya meregangkan otot-ototnya.


"Tanya saja Bu," sahut Ethan seraya memainkan mobil-mobilan.


"Tadi saat kita pulang dari rumah oma Anita, kok wajahnya terlihat bahagia sekali. Emang kalian kasih kejutan apa sama oma?" tanya Sherly mengingat kejadian saat pulang tadi, Anita pertama kali memeluknya erat sekali yang tidak pernah ia dapatkan dari seorang ibu tiri.


"Ada deh, nanti Ibu tahu sendiri," sahut Dave yang tak mau menceritakannya.


"Kok gitu, ayah juga mau dengar loh ..." ujar Alva.


"Ah Ayah, mau tahu saja atau mau tahu banget ...!" ujar Charles.


"Eh, memang ada ya pertanyaan model itu?" imbuh Andreas yang sejak tadi memperhatikan arah pembicaraan mereka.


"Ada Kek, kalau mau tahu saja, jawabnya rahasia. Kalau mau tahu banget, rahasia juga!" sela Boman.


"Wah, semua jawabannya, rahasia!" Sherly terkekeh mendengar celoteh mereka. Begitu pula Alva dan Andreas.


"Ibu, apa Ibu sayang sama oma Anita?" seloroh pertanyaan muncul dari mulut kecil Abi.


Sherly merasa kikuk saat akan menjawabnya. Begitu pula Alva dan Andreas, mereka berdua merasa aneh, mengapa Abigail menanyakan hal itu?


"Ibu tak perlu menjawabnya sekarang, tanpa Ibu mengatakannya, aku sudah tahu jawaban Ibu saat ini." Abi berlalu meninggalkan semua orang yang ada di sana. Tampaknya setelah mendengar kisah tentang ibunya dari bi Kah, Abi selalu kepikiran untuk mengembalikan hak ibunya. Dia menuju kamarnya.


"Ada apa dengan abang kalian?" tanya Sherly seraya menatap para pandawa yang lain.


Pandawa hanya mengangkat bahunya tak mengerti juga. Mereka segera membereskan mainan dan menyusul si abang menuju kamar.


"Pa, ada yang ingin Alva katakan." ujar Alva seraya menoleh ke arah Sherly. Sherly hanya mengangguk pelan.


"Iya, katakan Alva!" Andreas membenahi posisi duduknya.


"Ini mengenai Kenzi, Pa." Alva sedikit ragu juga ketika menyampaikan kenyataan ini, namun dia harus mengatakannya.


"Kenzi? Ada apa dengannya, bukankah kalian sudah putus?" tegas Andreas.


"Kami memang sudah putus dan tidak ada hubungan apa-apa lagi. Yang ingin aku sampaikan ke Papa, adalah ... Kenzi hamil, Pa." akhirnya berita itu terdengar juga oleh Andreas.


"Hamil? Kamu yang melakukannya?" tuduh Andreas dan sedikit emosi.


"Ya enggak lah Pa, mana mungkin Alva melakukan itu, Papa tahu sendiri kan kalau aku dengan Kenzi dulu pacaran hanya jarak jauh. Dan lagi pula dengan wanita lain aku selalu alergi, kecuali sama Sherly." terang Alva seraya memainkan alisnya tatkala melirik Sherly. Sherly hanya melengos saja.


"Lantas, itu perbuatan siapa?" Andreas tak jadi memarahi Alva.


"Entahlah Pa, yang ku tahu Kenzi hanya dekat dengan kak Antonio." ujar Alva.


"Antonio? Ku rasa Kenzi bukan tipe nya," tukas Andreas.


"Aku tak mau berburuk sangka dulu padanya, meski kak Antonio tak menyukai aku." ujar Alva seraya menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


"Baiklah, papa akan bertanya langsung padanya nanti." ujar Andreas


Tak lama kemudian, Antonio baru pulang dan berjalan melewati mereka.


"Alva, bisa kita bicara sebentar." ucap Antonio yang berkesan agar Alva mengikutinya.


"Kenapa tak bicara di sini saja?" pinta Andreas.


"Tidak Pa, ini urusan pekerjaan, jadi lebih formal saja bila kita berdua.


"Baik Kak," Alva segera berdiri dan mengekor Antonio.


Andreas ingin bertanya mengenai Kenzi, apa benar dia telah menghamili Kenzi ? Tapi tatkala melihat urusan pekerjaan Alva, Andreas mengurungkan niatnya.


Saat mereka hanya berdua saja di ruang kerja milik Antonio.


"Alva, perusahaan Echelon meminta agar kamu sebagai pemimpin perusahaan untuk turun langsung dalam pendirian cabang Bank Core di pulau Kalimantan." terang Antonio seraya menyodorkan berkas. Alva menerimanya.


"Baik, kapan aku berangkat?" sahut Alva seraya membaca berkas tersebut.


"Kamu harus sudah ada di sana sebelum matahari terbit, apa kamu bisa?" tanya Antonio seperti nada mengejek.


"Terdengar mendadak sekali," Alva menaruh curiga pada perusahaan Echelon.


"Ya, sebelum kamu meninggalkan kantor sore tadi, aku mendapati salah seorang suruhan perusahaan Echelon memberikan berkas itu. Aku dengar mereka sedang mengejar target pembangunan yang harus selesai dalam lima bulan kedepan." terang Antonio panjang lebar.


"Kakak tidak usah cemas, aku akan segera berangkat malam ini juga." Alva segera meninggalkan ruangan Antonio menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Alvarendra mendapati istrinya tengah duduk di tepi ranjang.


"Mas Alva, apa yang Mas bawa itu?" tanya Sherly seraya menatap map yang ada di tangan suaminya.


"Ini berkas pembangunan cabang perusahaan Bank Core. Aku mendirikan cabang di pulau Kalimantan." sahut Alva seraya duduk di samping istrinya.


"Lalu ...?" Sherly mengernyitkan dahinya.


"Mas Alva akan pergi?" Sherly seperti tak rela ditinggal.


"Ya begitulah," Alva juga terasa berat meninggalkan Sherly.


"Aku ikut ..."


"Sayang, lalu bagaimana dengan pandawa? Ini bukan jalan-jalan! Nanti kamu mas ajak keliling dunia ya setelah urusan ini selesai." bujuk Alva tatkala melihat ekspresi sang istri hendak menangis.


"Mas janji?" Sherly mengerucutkan bibirnya.


"Iya, mas janji. Lagian kita kan belum pernah bulan madu. Kita akan ajak pandawa juga nanti." Alva mencubit kedua pipinya yang bagi dia sangat menggemaskan.


Kini Sherly tak terlihat sedih lagi. Alva sudah memesan tiket pesawat, tiga jam lagi dia harus berangkat. Sherly membantu menyiapkan keperluan Alva dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.


"Ayah, jangan lama-lama di sana ya?" rengek Ethan.


"Ayah, aku akan sangat merindukan Ayah." ucap Dave.


"Andai aku boleh ikut, aku akan menjaga Ayah di sana, kalau ada seseorang yang akan menganggu Ayah. Aku akan menghajar orang itu." ujar Charles.


"Setiap hari, aku akan menelepon Ayah." ujar Boman.


"Ayah, cepat pulang ya!" rengek Abi.


"Pandawa, ayah akan pergi hanya 3 hari, pasti ayah segera pulang. Jaga ibu kalian untuk ayah ya!" ucap Alva seraya menunjukkan tiga jarinya.


"Iya Ayah!" sahut pandawa kompak.


Alva memeluk pandawa secara bergantian dan mencium pipi mereka.

__ADS_1


"Sayang, jaga dirimu dan pandawa dengan baik. Aku akan menepati janjiku." Alva mencium kening Sherly begitu lama.


Suara deheman Andreas mengharuskan dia menyudahinya.


"Pa, Alva berangkat!"


"Ya, hati-hati di jalan!"


Alva segera menaiki mobilnya, sopir dan tiga pengawalnya mengantar dia ke bandara.


.


"Anita, keluar kamu!" teriak Syarif seraya menggedor pintu cukup keras.


Seorang pembantu menghampirinya.


"Tuan Syarif!" pekik bi Kah.


"Mana majikanmu!" bentaknya membuat jantung bi Kah berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Ada Tuan, silahkan masuk, saya panggilkan nyonya Anita segera!" ujar bi Kah seraya sedikit berlari menaiki tangga.


Syarif Lyon beserta anak buahnya menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian, Anita turun.


"Tuan Syarif, kehormatan bagiku Anda bisa berkunjung ke rumahku!" seru Anita kegirangan.


"Siapa yang berkunjung! Aku tak sedang main-main, Anita!" bentaknya dengan suara menggelegar.


Anita pun paniknya bukan main.


"Apa yang terjadi Tuan Syarif ?" Anita mencoba menenangkan tamunya.


Syarif memberikan kode pada anak buahnya untuk membawa masuk lukisannya.


"Apa maksudmu mengirim lukisan ini padaku!" Syarif menunjuk lukisan itu.


Bukan main malu bercampur takutnya Anita, bisa-bisanya dia mempermainkan raja hutan.


"Si-siapa itu?" Anita terlihat bergetar tubuhnya bahkan dia hampir tak mampu berdiri tegak.


"Kamu masih bertanya siapa yang ada di lukisan ini? Jelaskan padaku, apa maksud kamu mengirim lukisan ini padaku!" bentak Syarif membuat Anita bergidik.


"Bukan aku yang mengirim lukisan itu, yang aku kirim adalah wajah Tuan Syarif." Anita mencoba menerangkan.


"Aku tidak percaya semua kata yang keluar dari mulut kamu lagi. Pengawal, seret dia ke kantor polisi!" teriak Syarif pada anak buahnya.


"Ampun Tuan Syarif, apa salah aku?" Anita mengiba.


"Banyak, selain hari ini adalah jatuh tempo pelunasan hutang kamu dan kamu telah mencemarkan nama bahkan menghina wajahku! Untuk menebus kesalahan kamu, kamu harus mendekam di penjara!" Syarif berlalu meninggalkan Anita yang tengah ditarik paksa oleh anak buahnya.


.


Keesokan paginya, Sherly sudah bangun dan ia tak mendapati suaminya di ranjang.


"Oh, aku lupa kalau sejak semalam aku sudah tak tidur dengan mas Alva." gumam Sherly seraya menguncir rambut panjangnya.


Dia berjalan keluar kamar menuju halaman depan sekedar untuk menghirup udara segar.


"Bunga mawar?" Sherly memungut setangkai mawar merah seraya membaca namanya yang tertera di situ.


"Dari siapa ya?"


Bersambung ...


Terima kasih sudah menjadi pembaca setia Pandawa Kecilku.

__ADS_1


Jangan lupa dukung selalu author tercinta kalian ini dengan memberi like, vote dan jangan lupa komennya.


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😁


__ADS_2