Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Akhir


__ADS_3

"Suka belum tentu cinta, itu hanya sekedar ***** kamu belaka." Alva terdengar dingin, meski kini ia baru sadar kalau kakaknya menyukai Sherly.


"Terserah apa yang kamu katakan, aku tak perduli dengan orang - orang yang menghancurkan impianku, yakni menjadi pemimpin di perusahaan Bank Core dan memiliki kamu, Sherly." ujar Antonio seraya melirik Sherly.


"Seharusnya Kak Antonio tidak bicara begitu, kita keluarga dan sepatutnya keluarga saling mengasihi dan menjaga. Bukannya saling bermusuhan seperti ini. Setelah aku tahu semuanya, Kak Antonio tidak patut untuk dipanggil kakak. Aku benci kamu!" ujar Sherly membuat Antonio terkekeh.


Kenzi sendiri merasa sesak di dada, dia terlanjur menyerahkan keperawanan nya pada seseorang yang salah, seseorang yang hanya memanfaatkan dirinya. Kini ia pasrah dan tak berharap lagi pada janji - janji palsu si buaya darat itu.


Andreas sendiri merasa pusing juga, kenapa dulu dia salah mendidik putra sulungnya itu, mungkin karena dia terlalu memanjakan Antonio sehingga besarnya sikap nya angkuh dan ingin menang sendiri.


Wendy sudah tidak sabar menunggu kedatangan polisi. Dia sangat bersemangat untuk menyampaikan semua kejahatan yang telah Antonio lakukan baik terhadap dirinya maupun Alva.


"Paman, aku bisa saja mematahkan tulang - tulang Paman seperti ini, " Charles mengambil kursi dan memperlihatkan padanya, sampai terdengar bunyi 'kratak', kursi itu patah dan berserakan di atas lantai.


Antonio dan yang lainnya tercengang saat melihat aksi Charles.


"Tapi tidak aku lakukan, mungkin Tuhan akan memberikan balasan yang setimpal untuk Paman Antonio." sambung Charles.


Setelah semua permasalahan mencapai titik akhir, dan Antonio mengakui semua kejahatannya, semua orang meninggalkan Antonio dan beralih mengikuti Andreas menuju kebun jeruk. Hanya menempuh dengan berjalan kaki saja yang membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit.


Sementara si sisi lain, pak Tomi mendengar kabar kalau Antonio berada di dalam gudang, dia segera melesat ke sana untuk memberi pelajaran sebelum dibawa oleh polisi.


Dan benar saja, pak Tomi masuk secara bebas di kediaman Alva. Sekuriti tahu kalau pak Tomi dan pak Andreas berteman baik, jadi dia mempersilahkan masuk.


Pak Tomi dengan tubuhnya yang gempal mempercepat langkahnya menuju gudang. Tak ada orang yang tahu kalau dia berada di sana sekarang.


"Bruak!" pintu gudang terbuka lebar, cahaya matahari terlihat silau sehingga Antonio menyipitkan kedua matanya tatkala melihat siapa lagi yang datang.


"Antonio, brengsek kamu!" umpat pak Tomi seraya melayangkan tinju ke wajah Antonio. Antonio terjatuh dengan posisi tangan masih terikat.


"Om Tomi,"


"Bisa - bisanya kamu melecehkan putri ku satu - satunya!" Melayangkan tinju lagi hingga membuat bibir serta hidungnya berdarah. Antonio merasa remuk di area wajah.


Tomi menarik kerah bajunya, lalu menghajar lagi dengan serangan yang membabi buta.


Tali di pergelangan tangannya pun terlepas, kesempatan itu ia gunakan untuk lari.


"Polisi sebentar lagi datang, aku tak mau membusuk di penjara, aku harus kabur dari sini." gumamnya seraya berlari keluar gudang.


Tomi ngos - ngosan tapi ia bukan tipe pria yang lemah, dia segera mengumpulkan sisa tenaganya untuk mengejar Antonio.


"Umurku sudah tak semuda dulu lagi, sebentar bergerak saja aku sudah lelah. Tapi aku takkan membiarkan dia lolos." Mengejar Antonio.


.


"Sherly, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Alva saat sudah sampai di kebun jeruk.


"Tentang apa Mas?" Sherly sedikit kikuk dengan tatapan Alva yang dingin.


"Selama aku pergi, apa saja yang kamu lakukan dengan kakakku?" tanyanya menginterogasi. Sherly sedikit kaget juga, bukankah semalam Alva sudah diberi jatah, mengapa mendadak sikapnya begitu dingin.


"Apa maksud Mas Alva, aku dan dia tak melakukan apa - apa," sahut Sherly seraya mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Bohong, Ethan bilang kamu pernah berdekatan dengannya! Cih, murahan sekali kamu, baru aku tinggal tiga hari saja kelakuan kamu memalukan. Bagaimana jadinya jika kamu aku tinggal sebulan." umpat Alva tampak terbakar api cemburu.


"Itu tidak benar Mas Alva," Sherly semakin bingung untuk menjelaskannya.


"Bi Tinuk, ya dia juga ada di sana. Dengan anak kecil saja Mas Alva jangan mudah terkecoh, Mas bisa menanyakan pada bi Tinuk apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh Mas, aku tak pernah mengkhianati cinta kita. Aku berani bersumpah apa pun itu." ujar Sherly bersungut - sungut.


Alva terkekeh melihat wajah istrinya yang ketakutan. Sherly semakin bingung apa maksudnya semua ini.


"Kok Mas Alva malah tertawa?" pekik Sherly seraya berkacak pinggang, mulutnya ia manyunkan.


"Sayang, lihat ekspresi wajah kamu!" Alva menahan tawanya.


"Aku hanya mengerjai kamu saja, dan aku juga tak bermaksud mengataimu. Maaf," Alva sebisa mungkin menghentikan tawanya.


Sherly memanyunkan bibirnya lagi, kesal bercampur lega. Ia pikir suaminya tadi marah beneran. Dia memalingkan wajah dan melangkah menjauh. Alva sedikit berlari mengejarnya.


Sementara Wendy dan Kenzi tengah berbincang seputar mengenai kabar dan hal ringan lainnya.


"Jadi, sekarang kamu sedang hamil?" tanya Wendy memberanikan diri setelah beberapa menit terdiam.


"Ya, terlihat menjijikkan kah?" sahut Kenzi malu.


"Tidak juga, dulu istriku juga pernah hamil, karena sibuk shopping dan kegiatan yang tak begitu penting hingga membuat kandungannya keguguran. Dokter bilang, istriku terlalu capek dan kurang memperhatikan kandungannya." terang Wendy membuat Kenzi harus menatapnya iba.


"Berapa usia kehamilan istrimu waktu itu?"


"Sekitar 4 bulan, dan aku sangat menyesali perbuatan istriku yang tak memperdulikan kehamilannya waktu itu."


"Itu tidak mungkin, aku sudah mengurus surat perceraian untuknya."


"Kenapa bercerai?"


"Dia hendak mencelakakan Sherly,"


"Sherly wanita yang memang patut untuk dilindungi, entah mengapa beberapa orang termasuk aku pernah ingin menghancurkan kebahagiaannya."


"Aku pun sama, dulu aku juga pernah ingin merusak kebahagiaannya, setelah aku tahu dia adalah adik istriku, aku merasa menjadi seorang kakak yang harus melindungi dia."


Kenzi dan Wendy berbincang cukup lama, entah mengapa tiba - tiba hati Kenzi berdesir hebat tatkala keduanya bertemu pandang.


Pandawa tengah bercanda dengan kakeknya. Andreas memetik satu buah jeruk yang ranum dan mengupasnya.


"Siapa yang mau makan buah jeruk?"


"Aku!" sahut pandawa kompak seraya mengacungkan jari.


Andreas membagi sama rata buah jeruk itu.


"Aku mau lagi," ujar Ethan malu - malu.


"Baik, kita petik lagi buah jeruk yang banyak. Apa kalian bersedia berlomba dengan kakek?"


"Ya, kami bersedia!" sahut pandawa kompak.

__ADS_1


Mereka mendapat masing - masing satu kantong keresek dari Andreas.


"Siapa yang bisa memetik buah jeruk paling banyak, kakek akan memberi hadiah." ujar Andreas.


Kebetulan pohon jeruk miliknya memiliki ukuran yang tidak terlalu tinggi, sehingga anak - anak pun bisa menggapainya.


Sementara pak Tomi dan Antonio masih dengan aksi kejar - kejaran. Sampailah mereka di kebun jeruk. Melihat Ethan sendirian tengah menggapai tangkai jeruk, ia segera menyambarnya.


"Kyaaa ...!" jeritan Ethan memecah keheningan. Semua jeruk yang telah terkumpul berserakan.


Alva dan yang lain segera berlari ke arah sumber suara.


Antonio mengarahkan satu tangan kanannya tepat di pita suara milik Ethan.


"Ayah, Ibu, tolong aku ...." suara Ethan parau.


"Lepaskan putraku, dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita!" bentak Alvarendra, tangannya mengepal, dia tak terima jika Antonio melukai si bungsu.


"Kak, ku mohon lepaskan Ethan!" Sherly mulai berurai air mata seraya mengatupkan dua tangannya.


"Aku akan melepaskannya, jika Sherly menghapus rekaman semalam." ujar Antonio.


Ethan kesakitan di area leher.


Alva dan yang lain, benar - benar merasakan takut melihat rintihan Ethan.


Sherly memandang ke arah Alva, "Baiklah, ini, kakak bisa menghapusnya sendiri!" Sherly menyerahkan ponselnya setelah mendapat anggukan dari Alva.


Antonio tersenyum kecut, dengan cepat dia merebut ponsel milik Sherly.


Belum sampai Antonio menekan tombol hapus, Charles berhasil memukul mundur badan Antonio. Tangannya terlepas. Ethan terbatuk - batuk.


"Sialan, tikus kecil! Semua urusanku berantakan gara - gara kamu. Rasakan ini!" Antonio dengan cepat mengambil kayu yang tergeletak di dekatnya. Dia melayangkan kayu itu ke arah Charles.


"Kratak!!" kayu itu hancur lebur dalam sekejab karena terkena tendangan Charles. Dengan gerakan cepat, dia pun bisa melumpuhkan Antonio.


"Paman, mungkin maaf saja tidak cukup untuk Paman, sebaiknya serahkan diri Paman pada polisi." ujar Charles, bersamaan dengan itu polisi datang. Antonio berhasil diamankan.


Sherly memungut ponselnya dan menyerahkan pada polisi sebagai barang bukti.


"Dorr!!" suara tembakan membuat Antonio terkulai lemas tak berdaya.


Semua orang mengarahkan pandangannya pada si penembak.


Bersambung ...


Maaf, akhir - akhir ini author telat update karena masih mengejar target buat setor tembakau.


Tetap semangat author tercinta kalian ini ya, dengan memberi like, hadiah , vote dan jangan lupa komennya.


Terima kasih.


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😉

__ADS_1


__ADS_2