
Alvarendra sedang membersihkan dirinya. Dia berendam dalam bathub berbentuk kotak persegi yang terletak di samping jendela kamar tidur. Dengan dinding, lantai dan bak mandi berbahan marmer yang serasi. Lampu gantung berbentuk bola dunia menawarkan kesan dramatis dan kamar mandi glamor.
Dia sudah menghabiskan satu botol sampo untuk membersihkan rambutnya. Tak hanya itu, Alvarendra juga telah menuang 5 bungkus botol sabun cair antibakteri pada bak mandinya. Itulah Alva si tuan bersih. Sehari saja untuk mandi dia selalu mengganti handuknya dengan yang baru.
Sudah 2 jam lamanya dia berada di kamar mandi. Setelah dirasa cukup, dia keluar dengan sensasi harum yang mengalahkan wangi nya bunga mawar.
"Ada apa dengan wajahmu, Nak?" tegur Andreas kala melihat wajah Alva sedikit memar.
"Ini cuman kepentok pintu," sahut Alva bohong.
"Masa kepentok sampai serius begitu?" Andreas hampir tak percaya.
"Iya Pa, Alva tadi melamun saat berjalan, jadinya tak menyadari kalau di depan ada pintu." terangnya.
"Sudah kamu obati?"
"Sudah Pa, dan memar nya tak terasa sakit lagi."
Kemudian bik Tinuk datang.
"Wangi sekali Tuan, Tuan mau pergi kencan ya?" tukas bik Tinuk sambil mempersiapkan makan malam.
" Apakah Kenzi sudah pulang?" tanya Andreas penasaran tatkala mencium bau Alva yang sejak tadi harumnya membahana.
"Aku wangi karena baru selesai mandi." sahut Alvarendra datar. Tak ingin membahas perkara tubuhnya yang terkena air comberan.
Untungnya saat Alvarendra pulang tadi, papanya dan bik Tinuk sedang tak ada di rumah.
"Aku kira kamu mau kencan?" tukas Andreas.
"Kencan dengan hantu?" sahut Alva bercanda.
"Ya kali aja hantu nya ada yang cantik," Andreas menimpali.
"Is, Papa, mau anaknya jadian sama hantu?"
"Ha ha ha, kalau hantu nya suka sama kamu, kamu ambil saja. Kenzi biar buat Papa."
"Papa!" Alva mengerutkan dahinya heran dengan gurauan papanya.
"Papa bercanda, siapa juga yang mengharapkan wanita lain di hati papa, tidak ada Alva. Tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisi Marta, ibumu di hati papa. Papa sangat mencintai dia. Dia telah pergi meninggalkan papa selamanya, ingin rasanya papa menyusul mamamu." Andreas mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah Pa, jika Papa bersedih terus mama tak kan bisa tenang di alam sana. Ikhlaskan Pa," Alva beranjak dari kursinya mendekati papanya dan mengusap bahu pria berkumis tipis itu.
Selesai makan malam, Andreas segera menuju kamarnya dimana tempat itu pernah menjadi saksi bisu kisah cinta mereka. Nampak Andreas menarik laci lemari dan mengambil pigura dengan gambar wanita blesteran Indo Jerman. Sesekali dia mencium foto itu, tak terasa air matanya pun menetes.
Sedangkan Alva juga menuju kamarnya, dia berhenti menatap lukisan yang dulu diberikan Dave secara percuma. Lukisan Marta, ibunya.
"Mama, aku berjanji pada diriku sendiri, akan segera membawa pulang putra kesayanganmu. Dan menjadikan keluarga kita utuh kembali."
Dia tak segera tidur melainkan menuju balkon kamarnya. Matanya memandang ke atas, ribuan bintang bertaburan di langit. Bulan sabit mempercantik indahnya malam itu.
__ADS_1
Terbesit dalam ingatannya tentang 3 bocah yang ia temui, bahkan mereka berwajah sama. Pertama Dave yang ahli melukis, kedua Ethan si dokter kecil dan yang terakhir Charles si bocah karate. Setelah menimang pemikirannya, Alva teringat dengan Thomas. Dia segera menghubungi asisten pribadinya itu.
"Thomas, kirim segera foto anak yang wajahnya sangat mirip denganku!" ucap Alva setelah sambungan terhubung. Dia segera mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban langsung dari Thomas.
5 menit kemudian, dari layar ponsel Alva terpampang wajah bocah yang sangat mirip dengan wajahnya di waktu kecil. Kelima bocah itu kembar.
"Mereka ada lima, siapa ayah mereka? Dan siapa pula ibunya? Aku harus mencari lebih dulu informasi ini. Sudah tiga kali aku menjumpai bocah laki-laki yang ada di ponsel ini."
"Bagaimana bisa wajah mereka sangat mirip denganku? Atau mereka telah melakukan operasi plastik? Itu hal yang mustahil, bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu." Alva menggelengkan kepala, menghilangkan pemikiran yang ngawur itu.
"Sherly, ya bagaimana dengan dia, setelah berhubungan badan 6 tahun lalu apa dia hamil? Akh, itu juga tidak mungkin. Dia pasti mencariku dan minta pertanggung jawabanku ketika dia hamil. Nyatanya, setelah bertemu dia acuh tak menanyakan masalah itu. Apa dia tak mengingatku?"
"Apa Sherly sudah mengetahui berita tentang kemiripan ku dengan anak itu? Mengapa aku baru menyadarinya, padahal dulu berita kemiripan mereka sempat viral? "
Alva saat itu begitu acuh dengan gosip murahan tentang dia memiliki anak dari hubungan gelap. Namun setelah Alva bertemu sendiri dengan anak fotocopi dari dirinya, dia baru menyadarinya dan ingin membuktikan sendiri apakah mereka anaknya atau bukan.
Alva yang sangat mahir dalam IT pun sudah menghapus video atau pun gosip tentang kemiripan dia dengan Ethan dulu. Melalui laptop pribadinya yang mampu menembus jaringan komunikasi Internasional. Sehingga berita itu tak dapat tersebar lagi.
Keesokan harinya.
Alva berangkat lebih pagi dari jam biasanya. Dia meminta sopir pribadinya untuk mengantarnya sebelum pukul 07.00.
Sesampainya di perusahaan, Alva mempercepat langkahnya menuju ruangannya. Tampak beberapa karyawan kaget dengan kedatangan Alva yang jarang mereka temui di pagi ini.
Karyawan wanita semua berdiri menghadap hormat kedatangan Alva.
"Mengapa presdir sudah datang?" bisik salah satu karyawan.
"Haciu .... Haciu ...." Alva mulai bersin ketika melewati beberapa karyawan wanita.
"Awas, presdir mau lewat, jaga jarak kalian!" perintah Thomas yang juga hampir bersamaan berangkatnya.
Saat di ruangan Alva.
"Thomas, ceritakan padaku bagaimana bisa kamu mempunyai foto 5 anak kembar yang mana mereka wajahnya sangat mirip denganku. Seolah aku lah ayah mereka." Alva duduk di kursi hitamnya berhadapan dengan Thomas. Thomas sedikit pusing juga meladeni Alva, dulu saja merasa acuh, nah sekarang malah ingin tahu.
"Ada apa sebenarnya Tuan? Mengapa Tuan Alva ingin tahu siapa mereka semua?" tanya Thomas seraya was -was takut kalau presdir berteriak tak suka dengan pertanyaannya.
"Katakan saja," sahut Alva datar tak sesuai dengan gambaran Thomas di benaknya.
"Saya mengambil foto mereka saat berada di mall." terang Thomas seraya mengelus dada, "Huf, ku kira tuan Alva akan marah tadi?" batin Thomas sambil mengelus dada dan menghela nafas.
"Mall mana?"
"Mall Rejeki Muda," sahut Thomas cepat.
"Dan kamu tahu orang tua bocah kembar itu?" tanya Alva lagi.
"Tidak begitu jelas Tuan, waktu itu banyak pengunjung jadi, saya kurang tahu."
"Aku baru menyadari kemiripan mereka, setelah aku bertemu secara langsung tanpa sengaja dengan mereka. Aku sedikit yakin kalau mereka adalah anakku."
__ADS_1
"Benarkah Tuan, jadi selama ini Tuan sudah pernah tidur seranjang dengan perempuan?"
Alva hanya mengangguk pelan. Thomas sendiri merasa kaget dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Terus, siapa ibu mereka?" Thomas merasa penasaran dengan siapa bosnya ini berhubungan, padahal dia alergi pada wanita.
"Aku sendiri juga belum tahu, aku bingung dengan perkara ini. Hanya ada satu wanita yang selama ini tidak membuatku alergi lagi." terang Alva.
"Siapa Tuan?"
.
"Anak-anak! Ibu berangkat kerja dulu ya!" Pamit Sherly pada pandawa.
"Iya Bu, hati-hati di jalan." sahut mereka kompak.
Setelah Sherly hilang dari pandangan mereka. Dan sebelum mereka berangkat kuliah, mereka mengadakan rapat kecil.
"Bagaimana adik-adik, kita sudah hampir dua bulan berada di Indonesia tapi belum berhasil membuat ayah dan ibu bersama." Abigail memulai rapatnya.
"Kemarin sore aku sudah bertemu dengan dia." terang Charles.
"Kenapa kamu tak cerita semalam?" imbuh Boman, ekspresinya terlihat kesal dan iri lantaran hanya dia yang belum pernah bertemu secara langsung dengan pria yang wajahnya mirip dengannya.
"Aku lupa Kak, maaf." sesal Charles.
"Sudahlah Boman, ceritakan Charles bagaimana kamu bisa bertemu dengan dia." Abigail menatap Boman lalu beralih menatap Charles.
"Kemarin waktu aku akan pulang, aku menjumpai para preman sedang menghajar seorang pria. Aku menolong dia." terang Charles singkat.
"Dia kalah?" tanya Dave tak percaya jika pria yang ia akui sebagai ayahnya ternyata seorang pria yang lemah.
"Ya, bahkan para preman menghajarnya hingga wajahnya penuh luka."
"Terus keahlian Kak Charles dapat dari mana, pria itu lemah tak sekuat Kak Charles." tukas Ethan.
"Iya juga ya, kita akan tahu setelah tes DNA itu keluar. Mendekatlah adik-adik, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kalian semua." pinta Abigail, dia membisikkan idenya.
"Aku setuju..." sahut pandawa yang lain.
"Tapi Kak, aku tak mau memiliki ayah yang lemah seperti dia." Ethan menyampaikan pendapatnya.
"Kenapa Ethan?"
"Kalau dia lemah, siapa nanti yang akan menjaga ibu? Aku ingin ayahku sekuat Kak Charles."
Pandawa yang lain saling melempar pandang.
Bersambung....
Teman-teman reader semuanya, jangan lupa kasih like dan komen kalian ya. Aku author pemula tak kan berhasil tanpa adanya dukungan dari kalian semua. Terima kasih....😘😘😘😘
__ADS_1