Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Keharmonisan Sebuah Keluarga


__ADS_3

"Cabut saja pisaunya!" tukas Sherly yang sudah tak sanggup lagi melihat rintihan Wendy.


"Kalau dicabut, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi, jangan lakukan apa pun karena sebelum dicabut harus diperiksa, jangan lakukan hal yang kita tidak paham," kata Alva menegaskan.


"Kalau pisaunya masih menancap, itu bisa membantu untuk menekan perdarahan. Kalau seandainya dilepas, takutnya perdarahan malah memancar karena sudah tidak ada yang menahan lagi, " terang Ethan tampak serius menghadapi situasi sulit seperti ini. Darah begitu banyak yang sudah keluar, Ethan bergidik melihatnya.


"Ibu mohon Nak, lakukan apa pun untuk menyelematkan nyawanya!" suara Sherly terdengar parau.


Alva melirik istrinya, rasa cemburu mulai menyergap hatinya.


"Seharusnya disaat suasana semacam ini aku lebih memfokuskan mantan sahabatku ini yang telah menyelamatkan nyawaku ketimbang perasaanku."


"Aku tak boleh egois. Mungkin Sherly ada alasan lain bagaimana dia bisa berfoto dengannya. Situasi seperti ini belum tepat untuk membahas masalah itu."


Ethan segera mengecek sekitar perut, mengecek pernafasan dan bentuk luka.


"Karena luka tusukan diakibatkan jarak terlalu dekat mungkin membuat ususnya ikut robek." terka Ethan sambil membebat area perut dan mengamati pisau. Terdengar erangan dari Wendy yang menahan sakit.


"Aku tak mau ambil resiko sendiri Ayah, bawa paman ini ke rumah sakit!" ujar Ethan yang mendadak lemas.


Tanpa sepengetahuan yang lain Abi sudah lebih dulu menghubungi pihak medis. Ia tahu adik bungsunya masih sedikit trauma dengan darah.


"Itu ambulan datang!" seru Abi seraya menunjuk sebuah kendaraan berwarna putih. Alva dan Sherly menoleh ke arah datangnya sirine ambulan.


Bersamaan dengan itu pula, mobil polisi juga datang.


Polisi segera meringkus Baron beserta anak buahnya, mereka juga meminta keterangan pada Alva dan keluarganya. Sementara itu tim medis mengangkut tubuh Wendy di atas brankar dan membawa masuk ke dalam mobil ambulan. Wendy segera dilarikan ke rumah sakit.


"Mas Alva, biar aku yang menemani Kak Wendy di dalam ambulan sana. Aku takut bila terjadi sesuatu padanya. Aku titip pandawa padamu Mas." ujar Sherly, belum sempat Alva berucap Sherly sudah beranjak.


"Sherly," suara Alva tertahan.


Kini Wendy sudah berada di rumah sakit. Dia harus menjalani operasi.


Sherly tampak gugup setengah mati.


"Ku mohon Ya Tuhan, selamatkan kak Wendy. Aku tahu sebenernya dia orang baik. Tanpa dia, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku dan mas Alva." Sherly duduk di deretan kursi tunggu.


Alva beserta pandawa menyusul Sherly ke rumah sakit.


"Bagaimana Sherly, apa ada berita tentang Wendy?" tanya Alva yang datang dengan tergopoh.


"Mas Alva, aku takut Mas!" Sherly berada dalam pelukan suaminya, dia masih terisak.


"Tenang, ada mas di sini. Kita pasrahkan semuanya pada Tuhan." Alva mengusap punggungnya, menenangkan hati istrinya yang masih shock.


Sherly melepaskan pelukan Alva, "Kak Wendy tengah di operasi." sambungnya lagi yang tadi sempat tertahan.


"Semoga operasinya berjalan lancar!" Alva mengusap kedua tangannya ke wajah.


"Aamiin," Sherly mengikuti gerakan Alva.


"Bagaimana dengan penjahat yang mau membunuhku, Mas?" tanya Sherly kemudian dengan harapan mereka mendapatkan ganjaran yang setimpal.


"Kamu jangan khawatir Sayang, mereka sudah diamankan." sahut Alva sambil tersenyum tipis.


"Aku ingin mereka membusuk di dalam penjara sana, Mas. Apa motif mereka yang ingin sekali membunuhku?" Sherly tak habis pikir sudah kedua kalinya dia diserang.


"Polisi masih menginterogasi mereka, kita tunggu saja kabar dari polisi." ujar Alva seraya menggiring Sherly agar duduk bersama pandawa.

__ADS_1


"Ibu tidak usah panik, aku yakin paman baik pasti tertolong." hibur Abi.


Sherly hanya menampilkan senyum di sela-sela isaknya.


"Ayah, aku haus," rengek Boman seraya meraba lehernya.


"Aku lapar ... " imbuh Dave.


"He'em, perutku sudah berbunyi sejak tadi." Ethan mengelus perutnya.


Alva berjongkok sehingga sejajar dengan pandawa.


"Kalian sejak tadi belum makan," Alva memandang satu per satu wajah pandawa, mereka terlihat sangat lelah dan lesu.


Alva melihat arlojinya, sebentar lagi menunjukkan waktunya makan malam.


"Ayo, ayah ajak kalian cari makan dan


minum!" Alva mengisyaratkan agar pandawa berdiri.


"Ke mana ?" Charles tampak kegirangan ketimbang saudaranya yang lain.


"Kita ke restoran terdekat sini saja ya?"


"Baik Ayah, aku setuju saja!" ujar Pandawa kompak.


"Ayo Ibu ... " Ethan menggandeng tangan Sherly.


"E, i-ibu, ibu di sini saja." Sherly tampak bingung menyahuti ajakan Ethan.


Alva menyadari kecemasan Sherly, dia maju mendekati istrinya itu seraya menepuk pundaknya, "Sayang, kamu juga harus memperhatikan dirimu sendiri. Aku yakin, Wendy pasti bisa melewati masa kritisnya. Sambil menunggu berita dari dokter kita ajak pandawa makan di restoran. Ayo!" tangan Alva mulai berpindah, menggandeng tangannya.


Terdengar hembusan kasar dari nafasnya, akhirnya dia mengangguk pelan, "Ayo, kita makan!"


"Hore ... !" seru pandawa seraya membuat lingkaran bergandengan tangan. Sungguh menggemaskan memiliki putra kembar lima sekaligus.


Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit hingga sampai di gerbang.


Sepanjang jalan mencari restoran, Alva menggendong pandawa di punggungnya secara bergantian.


"Bagaimana enak tidak gendongan ayah ?" tanya Alva pada si bungsu yang ternyata mendapat giliran pertama.


"Enak Ayah, Ethan suka. Andai sejak bayi dulu Ethan digendong Ayah." tukas Ethan yang tanpa sengaja menusuk hati Alva.


Alva tampak terdiam.


"Maaf Ayah, Ethan tidak bermaksud untuk bicara lancang."


"Tidak Nak, maafkan ayah juga. Karena tak menyadari kedatangan kalian ke dunia." tutur Alva yang membuat Sherly bersimpati padanya.


"Mas maafkan aku juga, tak menceritakan siapa ayah mereka. Karena aku jujur tak tahu siapa kamu?" ujar Sherly.


Alva hanya mengangguk ringan. Tibalah giliran Dave, Alva duduk berjongkok agar Ethan lebih mudah untuk turun. Sekarang Dave naik.


"Ayah, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Apa?"


"Malam itu seperti apa?"

__ADS_1


"Gelap!" sahut Alva asal.


"Hai, Dave, ayah tak bisa melihat!" tukas Alva seraya menghentikan langkahnya, ia berdiri mematung. Tiba-tiba Dave menutup kedua matanya.


"Tenang Ayah, ada aku yang akan menjadi penunjuk jalan mu. Aku hanya ingin mengetes kehebatan Ayah saja!" Dave sedikit usil ternyata.


"Baiklah, ayah akan mencoba berjalan dengan mata tertutup. Ayah pasti menang, takkan ada ayah di dunia ini yang sehebat ayah." ujar Alva dengan bangga.


"Ya seperti inilah, Ayah, aku dan saudaraku tanpa Ayah dulu. Gelap dan hanya bisa membayangkan sosok Ayah seperti apa. " terang Dave yang membuat Alva menjadi manusia yang penuh kesalahan.


"Maafkan ayah," hanya itu yang Alva mampu ucapkan.


"Bukan sepenuhnya salah Ayah, takdir lah yang mempersatukan kita."


Kini giliran Charles, dia dengan gerakan salto nya melompat ke arah Alva. Dengan sigap Alva menangkap tubuhnya yang mungil.


"Mampukah Ayah melemparkan aku ke udara?" Charles meminta hal yang aneh.


"Kenapa?"


"Karena aku ingin terbang Ayah, meski aku tak memiliki sayap aku harap bisa melihat dunia dari atas." ujar Charles.


Tanpa banyak bicara Alva memegang kedua ketiak Charles dan bersiap melempar dia ke udara.


"Satu, dua, tiga !" yeah Charles terlempar ke udara.


"Aku lebih tinggi dari kalian!" teriaknya riang.


Sherly hanya bisa terkekeh dengan ulah pandawa yang selalu bisa menghiburnya.


"Nah, sekarang kita sampai deh di restoran yang kita cari!" Alva menurunkan perlahan Charles.


Mereka masuk ke dalam restoran itu. Mencari meja yang sekiranya nyaman bagi mereka.


Pelayan wanita datang menanyakan pesanan. Alva tampak bersin-bersin ketika menyahut pertanyaan pelayan.


"Ini aneh, sejak pertama kali bertemu, Ayah selalu bersin-bersin setiap kali ada seorang perempuan yang ada di dekatnya." batin Ethan seraya mengingat pertemuan dengan Alva saat bersama dokter Sonia dulu.


"Ethan, kamu pesan apa Nak?" Sherly membuyarkan lamunannya.


"A-aku ikut sama kakak-kakakku saja." ujar Ethan kemudian.


Mereka menikmati makan malam bersama dengan keharmonisan sebuah keluarga yang pandawa inginkan sejak dulu.


Catatan dari Abigail : Surga yang nyata saat ini yang bisa kita rasakan adalah kebersamaan kita yang dipenuhi kehangatan dari keluarga kita.


Catatan dari Boman : Kenangan yang kita buat bersama keluarga adalah segalanya.


Catatan dari Charles : Seperti oksigen, walaupun nggak terlihat, keluarga ada di sekitarmu, ada di setiap tarikan napasmu, ada di dalam darahmu.


Catatan dari Dave : Keluarga memang lebih baik saat berkumpul. Tapi walaupun tidak berkumpul, keluarga tetap keluarga.


Catatan dari Ethan : Ketika kamu menyukai apa yang kamu miliki, kamu memiliki semua yang kamu butuhkan.


"Alergi Mas Alfa kambuh lagi?" tanya Sherly tampak khawatir, setahunya Alva hanya alergi dingin.


"Sudah tidak apa-apa, hanya bersin biasa." sahut Alva menutupi kebenarannya.


Di tengah menikmati makan malam, pandangan Abi tertuju pada restoran di seberang jalan.

__ADS_1


"Restoran magic, bukankah itu nama restoran yang paman Antonio katakan dulu?" batin Abi seraya ingin mencari tahu kebenarannya.


__ADS_2