
Setelah terjadi perdebatan singkat, Sherly lebih memilih untuk mengalah, bukan berarti dia kalah. Hanya saja dia memikirkan cara yang lebih halus untuk bisa memberi pelajaran pada ibu tirinya.
Anita berhasil mengusir Sherly. Anita memaksa bi Kah agar masuk dan segera menutup pintu.
"Bi, jangan harap kamu bisa pergi dari rumah ini! Ingat hutang kamu yang segunung untuk pengobatan suami kamu dulu." Anita mengingatkan peristiwa 5 tahun lalu.
Bi Kah semenjak kepergian Sherly ke luar negeri dulu, hidupnya semakin mengenaskan. Kenapa tidak, karena dia harus segera mendapatkan biaya untuk pengobatan suaminya yang sakit jantung. Mendengar istrinya yang memiliki hutang puluhan juta untuk pengobatannya, akhirnya meninggal karena serangan jantung. Bi Kah hidup sebatang kara, dia tak memiliki anak bahkan saudara.
Untuk mengambil keuntungan dari kesedihan bi Kah, Anita memberikan penawaran sebuah perjanjian yang menyiksa batinnya. Dia harus menjadi pembantu seumur hidupnya, tanpa mendapatkan gaji sepeser pun.
Anita kini sedang menyalakan televisi untuk menghilangkan rasa kesalnya terhadap kedatangan Sherly tadi. Dan kebetulan sekali yang sedang ia tonton adalah tayangan selebritis. Tangannya menggapai toples yang ada di meja sampingnya. Memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
"Itu Sherly!" pekiknya tak percaya membuat dia tersedak hingga terbatuk.
"Tidak mungkin dia menikah dengan seorang CEO, ini pasti berita bohong!" Anita bergumam tak percaya.
Saat itu juga Imel pulang, dia melenggang begitu saja melewati Anita.
"Mel-Mel!" panggil Anita seraya melambaikan tangan dan menepuk sofa agar Imel duduk di sana.
Imel menghentikan langkahnya, dengan enggan dia membalik tubuhnya.
"Apa Ma, aku capek mau istirahat!" sahut Imel seraya dengan paksa duduk disamping Anita.
"Lihat tuh ...!" Anita menunjuk ke layar televisi, mata Imel mengikuti pergerakan tangan ibunya.
Betapa kagetnya dia mendapati gambar wajah Sherly memenuhi layar televisi.
"Sherly sudah menikah! Dan suaminya adalah mantan bosnya Wendy!" pekik Sherly.
"Apa!" Anita membulatkan matanya lebar-lebar.
"Jadi, kamu kenal dengan suaminya si Sherly!"
Imel bercerita sedikit tentang Alvarendra Rizki, Anita nampak manggut-manggut. Mendengar suami Sherly seorang yang kaya raya membuat Anita semakin iri dengan status Sherly.
Anita juga bercerita tentang kedatangan Sherly barusan.
"Sherly baru saja dari sini, Ma! Pantes saja dia berani sekali, secara dia punya kekuatan baru untuk melawan kita dengan statusnya sebagai seorang nyonya Alva." ujar Imel juga menaruh iri dengan ketenaran adiknya.
"Mau apa dia ke sini selain pamer?"
"Dia ingin membawa bi Kah pergi dari sini." terang Anita.
"Terus Mama mengizinkan?"
"Tentu tidak!"
"Ini tidak bisa dibiarkan Ma, kita harus menyerang balik Sherly. Dia sudah berani mengusik kehidupan kita, aku juga harus membalas sakit hatiku. Wendy menyukai Sherly Ma!" tutur Imel seraya berpikir.
"Keterlaluan Sherly itu!" timpal Anita yang ikut berpikir juga.
Dalam benak Anita, dia ingin Imel bercerai dengan Wendy dan menyuruh Imel untuk mendekati Alva, agar kekayaan jatuh padanya.
Dalam benak Imel, ingin menyerang balik dengan cara melaporkan Sherly yang telah berani berhubungan gelap dengan suaminya.
Imel segera masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Anita mencari cara agar Imel bisa berpisah dengan Wendy yang miskin itu.
__ADS_1
Imel menyebarkan gosip lewat media elektronik kalau Sherly sudah menikah tapi menghianati pernikahannya dengan berselingkuh dengan suami kakaknya.
.
Sherly segera pulang. Dia mengendarai taksi menuju rumah Alva.
Di tengah jalan mobil taksi di kejar oleh sekelompok penjahat. Sherly menyadarinya ketika dia melihat kaca spion mobil, tampak dua pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan.
"Pak, sepertinya motor di belakang kita sedang mengikuti mobil Bapak. Bisa percepat mobilnya Pak?" Sherly juga tampak khawatir, dia meraih ponselnya ingin menghubungi Alva. Namun, naas ponselnya mati. Si sopir mengangguk paham.
"Sial, baterainya habis!" keluh Sherly seraya berdoa dalam hati.
Tak berapa lama kemudian mobil taksi yang Sherly tumpangi berhasil dihentikan oleh penjahat.
Sherly yang masih berada di dalam mobil berteriak minta tolong. Meski jalanan ramai, tapi tak satu pun mendengar teriakan Sherly.
.
Alva menghubungi Thomas untuk menanyakan keberadaan Sherly.
"Maaf Tuan Alva, sejak waktu makan siang tadi nyonya Sherly sudah tidak ada di kantor." terang Thomas.
Alva beralih menghubungi Antonio.
"Aku sejak pagi tadi berada di lapangan, aku belum bertemu dengan Sherly sampai sekarang." terang Antonio.
Alva nampak mondar-mandir khawatir dengan keberadaan Sherly sekarang.
Alva mendengar nama Sherly Salma disebut disebuah acara televisi.
Kebetulan pandawa sedang bermain di dekat televisi dan mereka berlima juga mendengar hal itu.
"Itu tidak benar Ayah, berita di televisi itu pasti bohong. Ibuku seorang wanita yang baik. Tidak mungkin berbuat seperti itu." terang Abi yang mampu menangkap ekspresi wajah ayahnya.
Boman segera berlari menuju kamarnya. Dia mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Dia menyalakan laptopnya dan segera mencari sumber berita tersebut.
"Apa Ayah sudah menemukan kabar tentang ibu dimana dia sekarang?" tanya Charles cemas.
"Belum." sahut Alva singkat, dia masih terpaku mendengar berita tentang keburukan Sherly di tayangan televisi.
"Apa maksud semua ini? Sherly, kamu sungguh tega mengkhianatiku. Apa motifmu dengan mendekati musuhku?" Alva terduduk lemas, dia tak memikirkan lagi phobianya. Biasanya setiap kali akan duduk, Alva sering menyemprotkan antiseptik pada tempat tersebut.
"Ayah, ayo kita cari ibu!" rengek Dave sambil membuyarkan lamunan Alva.
"Iya, Sayang, kita akan cari ibu." Alva meraih ponselnya untuk menghubungi pengawal.
"Cepat, temukan istriku sekarang juga!" Alva penuh emosi bercampur kecewa.
"Aku ikut mencari ibu!" rengek Ethan.
"Baik, kalian semua segera masuk ke mobil!" perintah Alva, "Di mana Boman?" Alva merasa jumlah mereka belum pas.
"Kak Boman tadi, lari ke kamar." ujar Ethan.
Alva berpikir kalau Boman terpukul dengan kabar ini. Dia segera menuju kamar untuk melihat keadaan putra keduanya. Pandawa mengikuti ayahnya berlari.
"Boman!" panggil Alva saat berada di kamarnya.
__ADS_1
Alva mendapati Boman tengah mengutak-atik laptopnya yang membuat Alva berjalan ke arahnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Boman?" Alva belum tahu kalau dia mahir dalam IT juga.
"Lihat Ayah!" Boman menunjuk layar laptopnya.
Alva mengarahkan pandangannya.
"Aku mencoba mencari tahu siapa yang menyebarkan foto ibu, dan ternyata wanita ini yang melakukan itu." Boman mengarahkan kursor pada wajah Imel dan memperbesar agar tampak jelas.
"Imel, dia adalah istri pria yang ada di foto bersama ibumu." Alva mendekatkan posisinya agar sejajar dengan Boman.
"Biar ayah hapus berita itu, sebelum merajalela." ujar Alva antusias.
"Aku juga bisa, Ayah!" seru Boman dengan sekali tombol bahkan lebih cepat bekerjanya ketimbang Alva.
"Kamu bisa, bahkan kamu melakukan itu lebih cepat dari pada ayah." Alva tampak kagum dengan kegeniusan Boman.
"Sekarang kita cari posisi ibu." ujarnya lagi yang membuat Alva terperangah lagi dengan kebolehan Boman.
"Ayo cepat Dik, perasaanku tak enak." ujar Abi yang tampak khawatir.
Dengan cepat Boman mencari keberadaan Sherly melalui anting -anting milik ibunya.
"Ketemu," seru Boman seraya menunjukkan titik merah di layar laptopnya.
"Ayah akan menghubungi pengawal dulu." Alva meraih ponselnya lagi dan mengabari pengawalnya untuk terlebih dulu menyusuri lokasi X.
Sementara Alva beserta pandawa menuju mobil, segera melajukan mobilnya pergi ke sana juga.
.
Sherly sudah mulai pucat pasi menahan rasa takutnya.
Penjahat berjumlah empat itu turun dari motor dan berjalan menuju taksi yang Sherly tumpangi.
"Cepat keluar kamu!" bentak pria bertubuh kekar, dia pemimpin penjahat bernama Baron. Dia menggedor kaca kemudi.
Dengan rasa takut pak sopir keluar. Baron mengambil alih kemudi dan segera menyalakan mesin mobil.
Sherly berteriak histeris.
"Mau apa kalian, pergi dari sini!" bentaknya dengan ekspresi ketakutan yang sangat.
Baron tertawa lepas. Satu pria ikut masuk lewat pintu penumpang. Dengan gerakan cepat, pria itu mengeluarkan senjata tajam dan mengarahkan ke leher Sherly. Sherly menjerit ketakutan.
"Diam kamu!" bentak pria itu yang bernama Robin.
Sherly mencari akal. Dia menginjak kaki Robin dengan cukup keras membuat yang punya kaki meraung kesakitan. Secara tangannya yang memegang pisau mulai kendur Sherly mengigit tangannya juga.
Kesempatan itu ia gunakan untuk kabur. Membuka pintu mobil dan hendak berlari.
Namun dua pria lagi berada di luar, berhasil mencekal lengan Sherly.
"Lepaskan aku, tolong ...!" teriak Sherly.
"Lepaskan dia!" teriak seseorang dari arah belakang.
__ADS_1