Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Cemburu


__ADS_3

Dua hari kemudian, kucing yang terlindas mobil milik Alvarendra kini sudah bisa berlarian ke sana kemari. Pandawa sepulang sekolah selalu mengajak bermain si abu-abu, warna rambut kucing tersebut.


Sedangkan Kenzi sudah sadar tapi belum bicara sepatah kata pun. Dia mengalami depresi berat. Papanya sampai tak tega mendapati putri satu-satunya seperti itu. Pak Tomi mencoba mencari informasi siapa yang telah menghamili putrinya dan membuatnya seperti itu.


Di lain sisi, Wendy sudah boleh keluar dari rumah sakit. Tapi dia harus mendapatkan pengawalan ekstra kalau saja Antonio mengetahui kalau dia masih hidup.


Wendy kini tinggal di sebuah hotel milik Alva dengan penjagaan yang ketat. Wendy juga sudah menceritakan semua kejadian yang menyangkut Antonio pada Alvarendra.


"Sungguh keterlaluan kak Antonio, setega itukah dia pada adiknya sendiri. Wendy, maaf kan atas sikapku yang dulu. Aku terlalu cepat mengambil keputusan untuk memecatmu." ujar Alvarendra saat menjemputnya di rumah sakit.


Wendy hanya tersenyum, kini beban pikirannya sedikit berkurang.


"Oh iya Alva, bagaimana dengan pelaku yang menusukku waktu itu?" tanya Wendy.


"Penjahat itu ternyata tidak bekerja sendiri. Mereka disuruh oleh seseorang." terang Alva yang masih terasa berat ingin menyampaikannya pada Wendy.


"Seseorang, siapa?" Wendy menautkan alisnya penasaran.


"Aku tidak yakin akan menyampaikan ini."


"Katakan saja Alva, siapa seseorang yang merencanakan pembunuhan terhadap Sherly?" desak Wendy.


"Dia adalah Imel." sahut Alva singkat.


"Imel? Jahat sekali dia, aku tak habis fikir dulu bisa menikahi wanita seperti itu. Lalu ...."


"Dia sudah menerima balasan yang setimpal. Dia dipenjara."


"Baguslah,"


"Mungkin dia melakukan ini, karena cemburu yang terlalu berlebihan. Tolong sampaikan pada Sherly untuk memaafkan sikap Imel terhadapnya." ujar Wendy. Alva hanya mengangguk dengan seulas senyum.


"Aku akan segera pergi, untuk urusan kak Antonio biar aku selesaikan sendiri. Terima kasih atas semua informasinya." Alva hendak meninggalkan kamar Wendy.


"Tunggu Alvarendra!" panggil Wendy membuat Alvarendra membalikkan badannya.


"Iya, ada yang bisa aku lakukan?" tanya Alvarendra, mendadak tubuhnya terdorong sehingga membuat dia mundur sedikit.


Sebuah pelukan mendarat padanya.


"Alva, terima kasih atas kepercayaan yang kamu berikan lagi padaku. Aku sudah banyak melakukan kesalahan padamu. Maafkan aku sekali lagi." Wendy mengeratkan pelukannya.


"Hei, lepaskan! Jika ada yang melihat kita, aku dikira gay nanti!" Alva menepuk pundak Wendy. Wendy segera melonggarkan pelukannya.


"Kamu tidak usah khawatirkan soal itu. Aku memakluminya, siapa pun di posisi kamu, pasti juga akan melakukan hal yang sama." Alva segera pergi dari sana.


Wendy sebelumnya adalah sahabat Alva, hanya saja dia terjerumus pada jebakan Antonio karena sebuah ancaman. Antonio mengancam Wendy akan mencelakakan semua keluarganya jika dia tak mau bekerja sama.


Tapi Alvarendra belum tahu kalau kakak nya itu sudah jatuh hati pada istrinya.


Pukul 11.00 di perusahaan Bank Core.


"Sherly, bisakah kamu membantuku untuk membawakan ini?" pinta Antonio saat membawa setumpuk map dan lembaran kertas.


"Iya Kak, bisa, mau diletakkan di mana?" sahut Sherly tanpa menaruh curiga.


"Kamu bawa ke ruanganku, aku akan mengambil stempel dulu di ruangan Alva!" ujar Antonio seraya memberikan setumpuk map, Sherly menerimanya.


Antonio berjalan terlebih dulu menuju ruangan Alva. Sesampainya di sana, dia tak mendapati adiknya. Biasanya Alva menaruh stempel di laci meja nya. Antonio menarik laci dan mulai mencari stempel. Setelah ketemu dia bergegas menuju ruangan pribadinya.


Sherly tengah merapikan meja milik Antonio dan hendak berlalu dari sana.

__ADS_1


"Tunggu Sherly, bisakah aku meminta tolong lagi padamu?"


"Iya, Kak, katakan saja!" sahut Sherly seraya membalikkan badan tak jadi pergi.


"Kamu bisa kan memilah berkas ini, sehingga aku lebih cepat untuk memberikan stempel."


"Bisa Kak!" sahut Sherly yang segera melakukan perintah Antonio.


Antonio tak jemu-jemu memandangi Sherly yang tengah bekerja.


"Sudah Kak!" Sherly membuyarkan lamunannya.


"Oh, iya kalau begitu terima kasih. Sebagai rasa terima kasihku, aku akan mentraktir makan siang nanti di kantin." tawar Antonio.


"Itu tidak perlu Kak, aku sudah ada janji dengan presdir Alva untuk makan siang bersama kliennya." Sherly segera bergegas pergi meninggalkan ruangan Antonio.


Alvarendra melihat Sherly saat keluar dari ruangan Antonio.


Dia tampak merah wajahnya.


"Sherly!" teriaknya seraya menarik kuat tangan dan membawanya masuk secara kasar ke dalam ruangan pribadinya.


Semua karyawan saling pandang menatap presdir Alva yang tengah menarik tangan Sherly.


Alva segera menutup pintu.


"Apa yang kamu lakukan di dalam sana, hah!" bentak Alva membuat Sherly bergidik.


"Presdir, jangan salah sangka dulu! Tadi kak Antonio sedang memintaku untuk membawakan barang miliknya." terang Sherly jujur.


Antonio sengaja melakukan itu agar Alva cemburu.


"Lantas kamu mau?"


"Jangan mendekat!" Alva menunjukkan telapak tangannya.


"Presdir, apa salahku?"


"Jika kamu tak bisa menjaga jarak dengan dia, lebih baik kamu berhenti bekerja. Aku akan mencari seorang interpreter lain."


Sherly dengan cepat memeluk Alva.


"Mas, biarkan aku selalu berada di dekatmu. Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan ini lagi. Aku tidak tahu kalau hal ini bisa membuat kamu marah. Aku tak ingin hubungan kita menjadi renggang." Sherly mendongak menatap wajah Alva yang masih mematung.


"Aku tahu Mas Alva cemburu kan?" seloroh pertanyaan Sherly membuat Alva berdecak.


"Siapa bilang?" Alva menyembunyikan kebenarannya.


"Meski Mas Alva tak mengatakannya, dengan melihat sikap Mas seperti itu, sudah jelas kalau Mas Alva lagi cemburu."


Alvarendra segera membenarkan jas nya.


"Sebentar lagi waktu makan siang, klien dari perusahaan Echelon sudah dalam perjalanan ke sini." ujar Alvarendra mengalihkan pembicaraan.


"Mas Alva sudah tak cemburu lagi kan?"


Alvarendra tak menyahut, dia lebih memilih pergi ke kursi kebesarannya sambil memainkan ponselnya.


Sherly tak tinggal diam. Dia juga tak mau kalah. Dia mengeluarkan ponselnya. Tertawa kadang senyum -senyum sendiri sambil melihat layar ponselnya.


Melihat hal itu membuat Alva penasaran. Dia merebut ponselnya. Dan melihat sendiri hal apa yang membuat Sherly tertawa.

__ADS_1


"Lucu banget, kapan kamu mengambil foto mereka?" Alva akhirnya sudah tak sedingin tadi setelah melihat foto pandawa.


"Itu saat pandawa masih berusia satu tahun." sahut Sherly yang segera berdiri dari hadapan Alva dan berpindah di samping Alva seraya memperlihatkan foto pandawa yang lain.


"Mereka sangat menggemaskan dan lucu sekali. Aku akan mencetak semua foto ini dan memindahkan pada album foto."


"Nggak perlu Mas, cukup lihat di hp saja!"


"Enggak, aku akan tetap mencetaknya sebelum hp kamu kena virus dari kakakku!" celetuk Alva seraya memindah semua foto milik pandawa ke ponselnya.


Dalam galeri Sherly, penuh dengan kenangan masa kecil pandawa. Ada yang saat pandawa belajar berjalan, makan sendiri dan bahkan saat menangis. Semua itu menarik bagi Alva karena dia tak merasakan saat pandawa masih kecil.


.


Alva dan Sherly sudah sampai di sebuah restoran bersama kliennya. Klien dari perusahaan Echelon itu seorang wanita.


Alva tak henti-hentinya bersin sehingga membuat kliennya merasa risih.


Sherly bingung sendiri dengan sikap Alva. Lalu dia teringat Alva pernah mengatakan kalau dia alergi wanita. Sherly berdiri dan meminta dengan santun untuk bertukar posisi tempat duduk. Dengan begitu alergi Alva tak kambuh lagi.


Selesai meeting di restoran, klien tersebut pulang.


Saat Sherly hendak berdiri, tangannya tertahan sehingga membuat dia duduk kembali.


"Sherly, maafkan atas sikapku tadi."


Sherly tersenyum tipis.


"Iya Mas, aku sudah melupakan itu kok, jadi Mas Alva tidak usah risau lagi."


"Aku hanya saja tak ingin kehilangan kamu."


"Iya Mas, aku juga tak ingin rumah tangga kita hancur hanya karena masalah sepele. Aku dan pandawa sudah cukup menderita karena tidak adanya sosok ayah dalam kehidupan kami. Jadi aku harap kedepannya, Mas Alva bisa membedakan mana urusan pekerjaan dan urusan pribadi."


"Apa yang terjadi nanti jika aku berhenti dari pekerjaan ini? Sudah jelas tadi Mas Alva tak berhenti bersin-bersin di depan klien."


"Itu memang sudah jadi resiko aku. Dan ingat Sherly, ini bukan hal sepele. Kak Antonio bukan sekedar saudaraku, tapi dia adalah musuhku dalam selimut. Camkan ucapanku, hati-hati dengannya." Alva menceritakan semua yang dikatakan Wendy.


"Sungguh keterlaluan, dia tega sekali. Kita serumah dengan dia," Sherly terlihat cemas.


"Aku juga khawatir kalau kak Antonio menyakiti pandawa juga."


"Mas Alva, kalau urusan itu tak perlu khawatir, pandawa kecilku sangat hebat terutama Charles, dia akan menjaga saudaranya dengan keahlian bela diri yang ia miliki."


"Mas juga sudah melihat sendiri kemampuannya. Saat aku di serang musuh yang ternyata juga suruhan kak Antonio."


"Sebenarnya Mas Alva salah apa sih, kok kak Antonio sangat benci sama Mas Alva,"


Alva mulai bercerita, dulu saat ibundanya, Marta masih hidup, dia selalu menunjukkan perhatiannya hanya pada Alva. Terlebih saat Alva pernah hampir tenggelam di kolam karena terpeleset, Marta rela berenang untuk menolong Alva. Padahal kondisinya sedang sakit parah.


Di tengah -tengah obrolan mereka, mendadak ponsel Sherly berdering.


"Hallo, ya Ma, ada apa? Baiklah!" Sherly segera menutup ponselnya.


"Ada apa Sayang?" tanya Alva.


Bersambung ....


Maafkan saiya yang telat up date. Terima kasih sudah selalu setia dengan Pandawa Kecilku.


Dukung selalu Pandawa Kecilku dengan memberi like, vote dan jangan lupa komennya.

__ADS_1


😘😘😘😘😘😘😘😁


__ADS_2