
"Udah, sini!" Alva menepuk kasur agar Sherly duduk di sampingnya.
Sherly mengikuti arahan suaminya.
"Ayo, kita bikin adik buat pandawa!" desak Alva seraya menyipitkan mata.
"Eits, tunggu! Aku mau nanya sesuatu nih," Sherly menunjukkan telapak tangan tatkala Alva mau menciumnya.
"Apa Sayang?"
"Mas kok bisa alergi sama wanita, gimana ceritanya ya ...."
"Itu, aku sendiri juga nggak tahu. Sejak lulus SD aku sering bersin - bersin terhadap semua teman cewek di kelas, apalagi sama bundaku, wah parah deh pokoknya." singkat Alva.
"Kok sama aku enggak?"
"Mungkin itu karena Tuhan telah mengirim kamu sebagai penawar dalam hidupku." Alva menangkup wajah Sherly, membuat dia mendongak ke arahnya.
"Spesial dong ...." terukir jelas senyuman di wajahnya. Alva hanya membalas dengan senyumannya.
Dan seketika itu juga Alva menerima jatahnya lagi.
Keesokan paginya selesai mandi dan keramas Alva sudah siap dengan setelan kemeja bernuansa hitam, ia hendak keluar kamar dan berjalan melewati meja rias.
Ia baru sadar kalau terdapat setangkai mawar merah yang telah layu di meja rias.
"Hm, bunga ini bukannya pemberian dari ku sebelum aku pergi. Mengapa dia tak membuangnya saja. Mengotori pemandangan saja." gumam nya seraya mengambil bunga yang telah layu itu.
Alva mengambil dengan dua jari bunga layu itu dan membawanya keluar kamar. Saat itu juga Sherly mau masuk untuk mengambil dompetnya yang tertinggal.
"Loh Mas Alva, mau bawa bunga mawar itu kemana? Sini, kembalikan padaku!" pinta Sherly seraya mengulurkan tangannya.
"Sudah layu, aku mau membuangnya." sahut Alva enteng seraya menghindari tangan Sherly.
"Jangan Mas!" pekik Sherly.
"Untuk apa, aku akan membeli kan yang baru untuk kamu nanti." ujar Alva.
"Aku sangat menyukai itu, biar pun sudah layu aku akan tetap menyimpannya. Bahkan aku akan memajang dengan melaminatingnya dan memberikan bingkai."
"Sampai segitunya, "
"Ya iyalah, ini kan pemberian Mas Alva, jadi biarkan aku menjadikan ini sebagai kenang - kenangan." Sherli bersikukuh.
"Ya sudah, nih!" Alva memberikan bunga layu itu. Sherly menerimanya dengan senang hati.
"Apa pandawa sudah keluar dari kamar?"
"Iya Mas, mereka sudah ada di bawah sedang menunggu kamu untuk sarapan. Aku ke kamar dulu buat ambil dompet." Sherly bergegas masuk ke dalam kamar.
Terbesit dalam benak Alva yang akhirnya mengurungkan dia menemui pandawa dan kembali mengikuti Sherly masuk ke kamar.
__ADS_1
"Mas kok kembali lagi, ada yang tertinggal juga ya ...." terka Sherly."
"Iya,"
"Apaan Mas, biar aku bantu untuk mengambilkannya."
"Hati kamu yang tertinggal." sarkas Alva, tampak sudut bibirnya muncul.
"Apaan sih, pagi - pagi sudah ngegombal." Sherly terlihat malu.
"Beneran, bentar deh kamu tunggu di sini!" Alva menahan pergerakan Sherly, dia berjalan menuju lemari pakaiannya dan menarik laci.
"Ini untuk kamu," Alva kembali dengan membawa tujuh tiket dan beberapa kartu ATM.
"Wow, London, Mas Alva mau mengajak aku pergi ke luar negeri?" teriaknya kegirangan setelah menerima semua tiket itu.
Alva mengangguk dengan seulas senyum.
"Tapi Mas, buat apa kartu ATM ini?" Alva menunjuk 4 kartu.
"Pletak,"
"Aduh, sakit!" keluhnya seraya mengusap dahinya.
"Ya buat kamu lah, sebagai hutang aku atas kesalahanku lima tahun lalu serta ganti rugi atas emas batang kamu yang telah kamu jual." terang Alva.
"Mas kok bilang begitu sih, kita kan sudah jadi sepasang suami istri, jadi nggak perlu pakai acara ganti rugi segala." Sherli cemberut seraya menarik tangan Alva dan memberikan kartu itu.
"Bukan begitu juga, sudah kewajiban seorang suami untuk menafkahi istrinya, kamu terima saja ya! Kalau sewaktu - waktu kamu butuh, kamu tinggal menggesek kartu ini!" Alva mengembalikan kartu itu ke tangan Sherly.
"Ya simpan saja, buat kebutuhan pandawa."
"Baiklah, aku menerima ini demi pandawa, bukan untuk diriku sendiri."
"Terserah kamu, yang terpenting dan yang paling utama, akhir pekan kita akan bulan madu, kamu setuju?"
"Setuju banget Mas,"
"Ayo kita sarapan!" ajak Alva seraya menarik tangannya.
"Aku simpan dulu ini," Sherly menuju lemarinya.
Setelah itu mereka berdua keluar kamar menuruni tangga bergabung bersama pandawa. Pandawa sudah rapi dengan seragam TK nya.
"Pagi Ayah, pagi Ibu!" sapa pandawa kompak.
"Pagi pandawa kecilku!" sahut Sherly dan Alva tak kalah kompaknya.
"Mana kakek kalian, kok belum ke sini?" tanya Alva seraya melihat jam tangannya.
"Tadi kakek meminta kita untuk sarapan dulu, kakek sedang pergi ke makam." terang Abigail.
"Oh, ya sudah, kita sarapan dulu, lalu ayah akan mengantar kalian pergi ke sekolah."
__ADS_1
"Hore!!" seru pandawa kompak seraya mengangkat sendok. Mereka terlihat bahagia sekali.
.
Akhir pekan pun tiba, pagi hari keluarga Alva sudah berada di London. Mereka bertujuh menghirup udara segar di pantai. Ya, salah satu tempat favorit pandawa.
Di sana pandawa berenang, bermain bola dan kejar - kejaran. Sementara Alva dan Sherly masih sibuk dengan pekerjaan mereka menyiapkan sarapan.
"Sayang, mana sendokku?" sela Sherly kala Alva sibuk menata makanan di atas tikar.
"Kita kongsilah, nanti aku suapi kamu." ujar Alva tak menghiraukan istri nya yang sejak tadi mencari sendok untuknya. Karena yang ia pegang hanya 6 sendok.
"Baiklah," ujar Sherly pasrah.
Alva melirik istrinya, rambutnya berantakan dan beberapa terurai hingga menutupi mata. Alva segera bangkit dan menuju istri nya.
Dengan cepat dia menarik tali rambut milik istri nya yang sudah longgar.
"Mas ... "
"Aku benahi rambut kamu!" Alva menguncir rambutnya. Terlihat leher istrinya yang jenjang itu dengan kulit putih nan mulus. Alva perlahan menarik tubuh istrinya dari belakang.
"Aww!" pekik Sherly.
"Izin kan sebentar kita seperti ini," bisik Alva sesekali dia menyantap leher nan jenjang itu.
"Geli Mas, malu di lihat banyak orang!" tegur Sherly membuat Alva terkekeh.
Alva membenarkan posisi duduknya, hingga mereka berdua berhadapan.
"Terima kasih sayang, kamu sudah menjadi bagian dalam hidupku. Entah apa jadinya jika aku tak berjumpa dengan kamu. Mungkin selama hidup aku akan terus bersin - bersin bila harus berdampingan dengan wanita lain. Sungguh, baru aku sadari setelah aku bertemu dengan kamu dan pandawa, hidupku lebih berwarna."
"Mas Alva tak perlu khawatir, sampai maut memisahkan kita. Aku tetap ada di samping kamu untuk menjaga kamu dari wanita - wanita yang bikin kamu alergi."
"Sekali lagi, terima kasih!" Alva mengecup dahinya serta memeluknya erat sekali.
"Cie - cie," terdengar suara meledek mereka.
Dengan cepat Alva melepas pelukannya.
"Anak - anak!" pekik Sherly sangking malunya.
"Ayah dan Ibu melupakan kami ya?" tukas Ethan.
"Ya enggak lah," sahut Alva yang merentangkan kedua tangannya untuk memeluk mereka bersama.
.
Beberapa minggu kemudian, akhirnya Sherly hamil. Setelah diperiksakan ke dokter kandungan, diketahui dia hamil 2 anak kembar. Alva terlihat sangat bahagia melebihi istri nya yang sedang hamil. Ia berharap memiliki gadis kecil yang akan menghiasi rumah tangganya.
TAMAT.
Sekian cerita dari saya. Apabila ada ungkapan kata yang menyinggung para reader semuanya maafkan saya. Terima kasih sudah mendukung author sampai saat ini. Semoga terhibur dan sekali lagi terima kasih sudah membaca dari awal sampai akhir, semoga terhibur.
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘