Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Halal


__ADS_3

Dokter Sonia terlihat sangat sibuk, sampai-sampai kedatangan Bima tak ia sadari.


"Dokter Sonia, apakah kamu masih sibuk?" tanyanya sembari berjalan mendekat.


Sonia dengan cepat memasukan selembar kertas ke dalam map coklat, dan menyimpannya di dalam laci.


"E-enggak," sahutnya sedikit gugup.


"Ayo kita istirahat!" ajak dokter Bima.


Sonia mengangguk dan meninggalkan ruangan menuju kantin.


"Kamu sudah dengar, kabar tentang Alvarendra Rizki yang akan menikahi seorang ibu dari lima anak?" tanya Bima memulai obrolan di kantin, sambil menunggu pesanan mereka.


"Ya," sahut Sonia singkat, rasanya jengah sekali mendengar ocehan Bima.


"Dari mana kamu tahu kalau Alva akan menikah?" tanya Sonia yang akhirnya penasaran juga.


"Tentu saja aku tahu, secara aku dokter pribadi keluarganya." sahut Bima.


.


"Bibi, masih ingat aku?" Dave mengamati bik Tinuk yang sedang menyapu.


"Tentu, ingatan bibi masih bagus, Tuan muda Dave," dia menghentikan menyapunya, "yang waktu itu kesini ngantar lukisan kan?" sambung bi Tinuk lagi.


"Aku mau kue yang waktu itu." rengeknya.


"Sekarang? Wah, bibi nggak ada bahan adonan untuk membuat kuenya." ujar Bi Tinuk melanjutkan menyapu.


"Aku mau kue bronis, buatan bibi enak." ujar Dave lagi.


Karena Dave terus merengek, bi Tinuk akhirnya nyerah juga.


"Ia sebentar, bibi belanja dulu ." Dia meletakkan sapu lalu pergi ke toko untuk membeli bahan kue.


Alva masih belum keluar dari kamar mandi. Pagi ini, dia sudah menghabiskan 3 botol sabun cair antibakteri untuk berendam.


Sementara Sherly tengah sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan. Dia tak mau terlihat kuno di depan keluarga Alva. Padahal Alva sendiri tak pernah menyinggung masalah penampilan.


Andreas masih sibuk membolak-balik koran di teras depan. Sesekali dia menyeruput kopi panasnya.


Karena Sherly dan pandawa akan selamanya tinggal di rumah Andreas, Alva telah menyewa 5 pelayan wanita untuk meladeni semua kebutuhan para pandawa. Pelayan berjumlah 5 itu bekerja mulai pukul 06.00 sampai 18.00. Mereka diperbolehkan menginap juga jika mau.


"Pandawa ...!" seru Alva mencari keberadaan 5 putranya.


Mereka berhambur menuju sumber suara. Abi berlari keluar dari kamarnya. Boman mematikan laptop nya. Charles yang sedang latihan salto di halaman belakang pun segera memenuhi panggilan ayahnya. Dave yang menunggu kepulangan bi Tinuk di balik pintu juga segera menuju sumber suara. Ethan berjalan perlahan, dia baru saja selesai mandi.


Alva menunggu pandawa di ruang makan.


"Selamat pagi Ayah!" sapa pandawa kompak.


"Selamat pagi, pandawa kecilku, ayo kita sarapan! Setelah itu ayah mau berbicara serius dengan kalian." ujarnya sambil menatap wajah mereka satu per satu.


"Baik Ayah," sahut mereka berlima kompak.


"Di mana ibu kalian?" tanya Alva mencari keberadaan sosok Sherly.


"Ibu masih di kamarnya." sahut Abi.


Alva beranjak dari kursi menuju kamar Sherly.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu kamar Sherly, Alva mengetuk pintu.


"Masuk," sahut Sherly dari balik kamar.


"Sherly, apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya heran seraya mengedarkan pandangan melihat semua baju berantakan di atas lantai.


"Presdir, a-aku sedang memilih baju untuk aku kenakan." sahut Sherly gugup seraya memungut semua pakaiannya yang berserakan di lantai.


"Sherly -Sherly, kamu berdandan seperti apa pun akan selalu cantik. Sudahlah, kamu tak usah menghiraukan penampilanmu." Alva mencekal tangan Sherly untuk tidak memungut semua bajunya.


"Ta-tapi, nanti ...." Sherly memandang lekat wajah Alva yang berseri dan wangi, bau khas orang selesai mandi.


"Ayo kita sarapan, pandawa sudah menunggu kita di bawah!"


"Bajuku," Sherly melihat semua baju-bajunya.


"Biarkan pelayan nanti yang merapikan semua, ayo!" Alva membantu Sherly berdiri. Mereka menuruni tangga.


Andreas menatap kedatangan bi Tinuk.


"Dari mana Bi?" cegahnya saat bi Tinuk melewati Andreas.


"Ini Tuan, saya baru belanja kebutuhan untuk membuat adonan kue." terangnya.


"Kue, siapa yang ulang tahun?"


"Tidak ada Tuan, Tuan muda Dave yang mau makan kue."


"Oo, kenapa tak beli saja tadi sekalian?"


"Tuan muda Dave mau nya kue buatan saya Tuan." Bi Tinuk berlalu mendahului Tuannya yang sedang melipat koran.


Andreas kini menuju meja makan. Dia berpapasan dengan Alva dan Sherly yang baru turun.


"Pa-pagi Pa," sapa Sherly sedikit gugup.


"Pagi, ayo kita sarapan!" ajak Andreas.


Mereka menikmati sarapan dengan menu nasi, sup dan telur orak-arik serta pizza mie.


"Aku mau pizza mie," Abi memecah keheningan. Sherly jadi was-was kalau papanya Alva marah karena Abi tak berperilaku sopan saat berada di meja makan.


"Ambillah Nak," Andreas mendekatkan piring ke Abi, karena dia tak bisa menjangkaunya. Abi senang dengan sikap ramah kakeknya.


"Aku juga mau," seru pandawa yang lain.


"Biar aku saja Pa, yang meladeni mereka." pinta Sherly dengan berdiri.


"Tidak usah, kamu lanjutkan sarapan kamu. Ini mudah dan papa senang melakukan ini." sahut Andreas, dia mengambil pizza mie dan meletakkan di piring para pandawa. Sherly duduk kembali.


"Terima kasih, Kakek," ucap mereka bersamaan. Andreas mengangguk seraya tersenyum senang melihat kelima cucunya bersikap demikian.


"Kalian sangat lucu dan menggemaskan, tapi kakek belum hafal betul nama kalian." ujarnya.


"Sama Pa, aku sendiri juga sedang tahap menghafal wajah mereka." Alva menunjuk sambil menyebut nama para pandawa. Terlihat Andreas manggut-manggut mengerti.


Selesai sarapan, Alva memulai pembicaraan yang sempat tertunda semalam.


"Papa, Alva ingin memberitahukan sesuatu." Dia meraih tangan Sherly dan menggenggamnya erat. Sherly sendiri malunya bukan kepalang.


Andreas mempersilahkan Alva untuk menyampaikan maksudnya.

__ADS_1


"Malam nanti, Alva dan Sherly akan segera menikah." terang Alva membuat para pandawa saling pandang dengan senyuman yang sangat manis.


"Hore Ayah dan Ibu akan menikah!" para pandawa turun dari kursi membuat lingkaran, mereka bergandengan tangan sambil bersorak ria.


Andreas benar -benar terhibur dengan kelucuan yang pandawa ciptakan.


"Kalian ingin mengadakan resepsi pernikahan seperti apa?" tanya Andreas yang kini kembali fokus pada perkataan Alva.


"Tidak perlu acara mewah Pa, cukup ijab qobul saja." terang Alva.


"Mengapa, bukankah itu hal yang wajar mengadakan acara resepsi pernikahan?"


"Kami tidak ingin berita ini diliput oleh wartawan, biarkan mereka mendapatkan kejutan yang besar dari pernikahan ku nanti."


"Oo, kamu suka sekali membuat kejutan. Terserah kamu saja, baiknya seperti apa." Andreas menampilkan senyum bahagia melihat putra bungsunya melepas masa lajangnya.


"Lalu bagaimana dengan pihak keluargamu, Sherly?" tanya Andreas yang membuat dia terpukul.


"A-aku sudah tak memiliki keluarga lagi, kedua orang tuaku sudah lama meninggal. Kecuali ibu dan kakak tiriku." terang Sherly yang tanpa sadar sudah basah pipinya.


"Oh, maafkan papa Sherly, papa tak bermaksud menyinggung mu." Andreas merasa iba dengan keadaan calon menantunya itu.


Alva menenangkan hati Sherly, "Sudahlah, kamu jangan bersedih di hari kebahagiaan kita dan pandawa." Alva mengusap lembut pipinya, menyeka sisa air mata.


"Ibu jangan bersedih," ucap pandawa kompak.


"Tidak Nak, ibu tidak bersedih," Sherly menghapus air matanya dan mencoba senyum kembali.


.


Alva sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari cincin kawin, baju pengantin, mahar, dan penghulu. Sengaja dia tak mengabarkan acara pernikahan ini pada publik, karena jujur saja Alva sangat tak menyukai kerumunan. Sejak kemarin Alva mencoba menghubungi Antonio bermaksud mengabari tentang acara pernikahan yang mendadak. Tapi tak bisa, karena saluran diluar jangkauan.


Pukul 19.00


Sherly sudah siap dengan gaun pengantinnya, dia terlihat sangat cantik dan anggun. Terlebih lagi Alva, dia juga terlihat sangat tampan.


Di acara sakral itu, ada orang kepercayaan Alva, yakni Thomas, yang akan menjadi saksi.


Penghulu pun sudah siap, dia duduk bersila untuk menunggu pembelai pria datang.


Alva berjalan tegap menggandeng Sherly. Pasangan yang sangat romantis dengan nuansa putih-putih. Pandawa mengekor di belakang sang pengantin, seragam dengan jas kecil berwarna putih pula.


.


.


.


"Sah?" ujar penghulu yang mendapat sahutan 'sah' dari semua orang yang ada di sana.


Semua penghuni di rumah Andreas bertepuk tangan sangat meriah saat Alva menyematkan cincin di jari manis Sherly.


"Selamat ya Non, sekarang sudah resmi jadi istri tuan Alva." bi Tinuk mengucapkan selamat.


Begitu pula para pelayan dan pengawal yang ada di sana, semuanya memberikan ucapan selamat pada sang pengantin.


Alva sontak menggendong Sherly menaiki tangga, para pelayan dengan sigap menutup mata para pandawa.


"Sherly, sekarang aku dan kamu sudah halal." ujarnya membuat dada Sherly berdentum sangat keras.


"I-ya Presdir," tangannya sontak bergelanyut di leher suaminya.

__ADS_1


"Masa istri sendiri manggil suaminya begitu," ujar Alva yang bikin Sherly merem melek dibuatnya.


"I-iya Mas," sahutnya lagi, Alva yang mendengar panggilannya dirubah, membuat dia membumbung tinggi ke awan, padahal kakinya masih berpijak di lantai.


__ADS_2