
"Kalian beraninya sama perempuan, banci tahu!" teriak seorang pria berkacamata.
"Ikut campur urusan orang, cari mati juga kamu!" bentak si Baron yang baru saja keluar dari mobil.
"Kak Wendy!" seru Sherly yang kini ketakutannya sedikit memudar. Dia tak menyangka kalau Wendy lah penyelamatnya kali ini.
"Sherly, kamu nggak diapa-apain kan sama mereka?" tanya Wendy tampak cemas seraya menunjuk ke arah empat pria sangar di depannya.
"Untung saja Kak Wendy datang, aku tak tahu nasibku seperti apa, mereka semua mau mencoba membunuhku, Kak," terang Sherly yang masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman penjahat.
"Apa salah wanita itu, sehingga kalian berniat mau membunuhnya?" tanya Wendy yang tampak geram.
"Itu bukan urusan kamu!" bentak Baron seraya menunjuk nya, "Cepat bereskan dia!" perintah Baron pada anak buahnya.
"Baik Bos," sahut ketiga pria yang lain. Sherly berpindah ke tangan Baron.
Wendy dan ketiga anak buah Baron saling baku hantam. Kerap kali Wendy terkena pukulan mendarat di perut dan punggungnya. Nampak miris juga siapa pun yang melihatnya. Wendy dengan sekuat tenaga melawan musuhnya, namun beberapa kali musuhnya dapat menghindar. Karena kalah tanding akhirnya Wendy pun tumbang. Kacamata yang ia kenakan terjatuh dan pecah. Terlihat wajahnya berdarah.
"Kak Wendy ...!!" teriak Sherly histeris tatkala mendapati wajah Wendy sudah berlumuran darah. Pandangan Wendy tampak kabur dan perlahan dia memejamkan mata.
"Tidak ...." Sherly mulai berurai air mata. Dia shock mendapati pemandangan seperti itu.
"Ini salahku, jika saja kamu tak menolongku, sudah pasti kamu akan selamat." Sherly meratapi kesalahannya.
"Bos, sepertinya dia pingsan, apa perlu kita lenyapkan juga nyawa pria ini?" tanya Robin seraya menginjakkan kakinya di punggung Wendy.
"Jangan, ku mohon jangan lakukan itu!" Sherly mengatupkan kedua tangan sambil terus terisak.
"Sepertinya kamu sangat mencemaskan pria ini," tukas Baron, "bagaimana kalau mereka berdua kita bunuh sekalian!" sambungnya.
Seketika itu juga sebuah mobil ferrari datang. Enam penumpangnya segera turun. Mobil lain juga datang, mereka pengawal Alva.
"Lepaskan istriku!" teriak Alva dengan amarahnya yang meledak -ledak. Matanya tertuju pada sosok pria yang tergeletak lemas, "Wendy ada di sini juga?" gumamnya lirih.
"Mas Alva, mereka mau membunuhku Mas!" teriak Sherly.
Baron menutup mulutnya dengan tangannya yang kekar.
"Diam kamu, berisik!" omel Baron.
"Lepaskan ibuku, Paman!" bentak si jagoan kecil, Charles.
"Hah, itu kan bocah yang waktu itu menyerang kita dan Edo?" bisik Robin pada ketiga temannya.
"Alah, sama bocah balita saja takut!" dengus Baron yang belum mengetahui kemampuan Charles.
"Serang mereka ... !" perintah Baron.
Semua penjahat itu berlari ke arah Alva dan pengawalnya.
Alva dan pengawalnya tetap berdiri menghadapi ketiga pria tersebut.
"Kalian cepat masuk ke mobil!" perintah Charles pada keempat saudaranya, mereka segera mengikuti perkataannya Charles.
Alva mengerahkan pengawalnya untuk bertarung terlebih dulu. Baku hantam pun terjadi lagi.
Semua pengawal Alva keok.
__ADS_1
"Dasar tidak becus!" gerutu Alva.
"Ayah, kita lawan mereka bersama." ujar Charles, kali ini lawan Charles cukup seimbang juga.
"Ayo!" Alva dan Charles memasang kuda-kuda, seketika musuh mendekat, dia bersiap melayangkan tinju dan mengarahkan pada perut lawan. Pria bertubuh kekar akhirnya tumbang namun bisa bangkit lagi.
"Mereka terlalu sulit untuk ayah kalahkan." bisik Alva.
"Tenang Ayah, ada aku di sini!" Charles menenangkan kekhawatiran pria besar di sampingnya.
Terdengar hembusan kasar keluar dari Alva. Dia tengah mengatur nafasnya yang naik -turun.
"Mas Alva, Charles, hati -hati!" teriak Sherly.
Charles kini mengepalkan tinju, dia berlari sambil mengarahkan pukulan ke arah lawan, dan tepat mengenai sasarannya.
Robin terpental sekitar lima puluh meter jauhnya. Dia meringis kesakitan seraya mengusap kasar pantatnya.
Dua penjahat lainnya saling pandang.
"Kalian juga akan bernasib sama dengan dia!" bentak Charles.
Charles melayangkan tinju ke perut mereka, dan benar saja mereka berdua terpental cukup jauh.
Kini semua musuh tumbang, tinggal Baron. Dia mendorong Sherly hingga tersungkur ke tanah.
"Aw," pekiknya seraya mengusap sikutnya yang tergores.
"Hai Bocah, hadapi aku!" tantang Baron seraya berjalan ke arahnya.
"Jangan panggil aku dengan bocah, Paman, namaku Charles!" Dia bersiap untuk bertanding lagi.
Charles hanya mengangguk paham.
Alva segera mendatangi Sherly, "Kamu nggak apa-apa?"
"Iya Mas, aku baik-baik saja, tapi kak Wendy?" Sherly mengarahkan matanya pada Wendy yang masih tergeletak.
"Ada hubungan apa kamu dengan dia?" tanya Alva, dia sudah tak mampu membendung lagi rasa kecewanya.
"Aku dan kak Wendy tak ada hubungan apa -apa Mas, kenapa Mas Alva bertanya demikian. Kak Wendy justru mempertaruhkan nyawanya untuk menyelematkan aku. Mas Alva malah menuduh yang bukan-bukan." Sherly tampak tak suka dengan sikap Alva.
"Kamu dan dia selingkuh?" tanya Alva to the point.
"Astaghfirullah, enggak Mas! Aku berani bersumpah, aku dan kak Wendy tak ada hubungan apa pun!" Sherly tampak berkaca-kaca matanya.
"Lalu apa ini?" Alva memperlihatkan foto dia dan Wendy.
"I-itu ..." Sherly kaget juga, bagaimana suaminya bisa tahu tentang foto itu?
"Kamu jahat Sherly, kamu menodai pernikahan kita dengan cara berselingkuh dengan pria yang sudah beristri." tuduh Alva.
"Aku nggak selingkuh Mas!" ujar Sherly bersungut -sungut.
"Ini buktinya, kamu masih mau menyangkal?"
"Aku bisa jelaskan semua ini, Mas!"
__ADS_1
Alva tak ingin mendengar lagi ucapan Sherly, dia memalingkan muka muak melihatnya.
Sementara Charles tengah melawan Baron. Robin tersadar dari pingsannya. Tanpa sepengetahuan mereka, dia berjalan sempoyongan menuju Alva. Mengeluarkan sebilah pisau dan hendak menusuk Alva dari belakang.
"Awas, aw ...!" pisau itu berhasil menusuk perut.
Alva dan Sherly menoleh ke belakang.
"Wendy," Alva tak habis pikir, pria yang selama ini menjadi musuhnya menyelamatkan nyawanya.
"Kak Wendy!" Sherly berteriak histeris.
Wendy jatuh tersungkur dengan perut masih menancap pisau.
Alva dengan sekali tendangan, berhasil merobohkan Robin.
Charles melayangkan pukulan tepat dibagian perut.
Baron merintih kesakitan dan akhirnya tumbang juga.
Boman yang sejak tadi berada di dalam mobil segera menghubungi polisi.
"Bertahanlah Wendy!" Alva meraih tubuh Wendy yang terlentang itu. Meninggikan posisi kepala, pahanya sebagai bantalan.
"Kak Wendy ...!" pekik Sherly. Pandawa mendatangi mereka.
"Alva, ma-maafkan aku," suara Wendy terdengar parau.
"Kenapa kamu melakukan ini semua?" Alva sedikit merasa bersalah.
"Alva, a-aku baru saja mendengar kabar yang menyangkut istrimu dan aku. Jangan salahkan Sherly! Di-dia wanitamu yang baik. Jaga dia untukku." Wendy mulai mengerang menahan sakit.
Sebelum pulang dari cafe tempat ia bekerja. Wendy sempat melihat acara televisi, mengenai kabar pernikahan Alva dan Sherly. Tak berselang lama kemudian, muncul lagi berita mengenai foto antara dia dan Sherly.
"Kak Wendy, maafkan aku juga, gara-gara aku kamu jadi begini." Sherly takut terjadi sesuatu dengan kakak iparnya ini.
"Jangan banyak bicara, ayo aku bawa kamu ke rumah sakit!" Alva hendak membopongnya.
"Tahan Ayah, paman ini mengeluarkan banyak darah. Aku khawatir, paman ini tak tertolong." ujar Ethan yang sejak tadi berada di samping mereka.
"Siapa dia?" Wendy perlahan membuka matanya yang redup, ingin melihat sosok pemilik suara kecil.
"Dia putraku." sahut Sherly singkat.
"Kalian berdua sudah memiliki anak?"
"Sudah jangan banyak bicara, kamu terlalu cerewet sekali, entah sehat atau sakit, sama saja!" dengus Alva.
"Lalu, kita harus bagaimana Ethan?" Alva menatap putra bungsunya.
Tanpa banyak bicara, dengan peralatan seadanya Ethan mulai mengobati luka Wendy.
Apakah usaha Ethan akan berhasil, Wendy sudah banyak kehilangan darah.
Bersambung....
Terima kasih sudah mampir ke karya author. 😘😘😘
__ADS_1
Tetap selalu dukung Pandawa Kecilku, jangan lupa like and komennya agar author semangat nulisnya.