
"Mama meminta aku untuk mengantar Pandawa ke rumahnya." sahut Sherly seraya terbesit dalam ingatannya kala salah satu dari pandawa ingin lebih sering pergi ke rumah oma barunya.
"Mereka kerasan ya?" terka Alva.
"Iya Mas, Dave bilang ingin memberi kejutan pada omanya. Aku sendiri juga nggak menyangka kalau mama Anita bisa berubah secepat itu sikapnya." Sherly masih mengingat perlakuan kasar Anita enam tahun lalu.
"Emangnya mama tiri kamu jahat,"
"Ya begitulah Mas, aku sih belum percaya seratus persen juga dengan sikapnya. Cuman aku penasaran aja dengan kehidupannya setelah tahu kalau aku udah menikah dengan seorang presdir yang lagi naik daun. Mama Anita kan materialistis banget."
"Jadi, kamu mau menikah denganku karena aku terkenal, begitu?" Alva mengerucutkan mulutnya seraya penuh selidik.
"Ya enggak lah Mas, aku nerima kamu apa adanya kok, buktinya meski Mas tukang bersin-bersin, aku tetep mau," ledek Sherly.
"Pletak ...!"
"Aduh, sakit Mas!" Sherly mengusap dahinya kasar.
"Enak saja kamu mengatai aku tukang bersin-bersin, gitu juga aku tampan kali ...." Alva mendengus kesal.
"Iya tampan, dilihat dari ujung sedotan." Sherly segera berlalu dari restoran itu.
"Eiss, ketampananku tak diakui, tunggu pembalasanku nanti malam." Alva segera mengejar Sherly menuju parkiran mobil.
Pukul 13.00
Pandawa sudah berada di rumah Anita. Anita meminta Dave sang pelukis profesional itu untuk melukis lagi. Kali ini hasil lukisan Dave akan ia jual pada salah satu konglomerat yang terkenal di daerah itu.
Anita terjebak hutang akibat kalah judi semalam. Jadi dia meminjam uang hingga ratusan juta pada konglomerat tersebut.
"Oma ingin aku melukis apa?" tanya Dave seraya mengeluarkan peralatan melukis dari dalam tasnya.
"Aku ingin kamu melukis orang ini!" Anita menunjukkan sebuah foto pria paruh baya yang tidak lain adalah foto si konglomerat itu. Anita menawarkan pada pria konglomerat sebuah lukisan untuk dirinya, jadi dia saat bertransaksi sambil meminta fotonya. Dan kebetulan sekali pria itu ingin dilukis wajahnya.
Dave mulai dengan pekerjaannya.
Sementara Abi dan Ethan tengah sibuk bermain puzzle, Boman tengah sibuk membenahi mobil mainannya yang rusak, sedangkan Charles lagi asyik main game.
Anita menunggu Dave yang sedang melukis hingga tertidur, ia tak tahu kalau Dave memberikan kejutan padanya.
Awalnya Abi merasa curiga, mengapa omanya meminta Dave untuk melukis foto seorang pria? Boman menerima perintah dari sang abang untuk menyelidiki siapa pria itu. Charles mengambil foto yang ada di dekat Dave dan memberikan pada Boman. Ethan ternyata yang sudah membuat Anita tertidur dengan memberikan ramuan di minumannya tanpa sepengetahuan Anita tadi. Pandawa tak ingin Anita melihat bagaimana Dave melukis.
Boman segera menyalakan laptop yang selalu ia bawa kemana pun dia pergi. Mencari informasi siapa pria dalam foto tersebut. Tak butuh waktu lama, Boman sudah mendapatkan data lengkap pria itu. Dia adalah pria berusia 57 tahun, bernama Syarif Lyon, pengusaha sukses yang memiliki tambang batu bara. Syarif tinggal tidak jauh dari rumah Anita. Boman juga melacak semua kekayaan Syarif, sampailah pada pinjaman kepada siapa saja ia berikan. Salah satunya pada Anita.
"Ternyata oma terjerat hutang dengan pria ini." jelas Boman seraya mematikan laptopnya.
"Lantas untuk apa oma ingin Dave melukis wajah pria itu?" Charles menyudahi bermainnya dan merapikan kembali.
"Oma ingin melunasi hutang dengan menjual lukisan ini pada pria itu." terka Abi seraya memegang dagunya.
"Jadi, oma memanfaatkan kak Dave?" imbuh Ethan.
"Jangan khawatir Dik, kakak kamu ini tidak mudah diremehkan. Kamu lihat saja nanti!" ujar Dave yang baru saja menyelesaikan dua lukisan sekaligus. Sengaja lukisan yang satunya ia sembunyikan agar saat Anita bangun nanti tak mengetahuinya.
"Kita sudah menebak di awal bukan, sikap oma seperti apa?" Abi menepuk pundak Ethan.
"Gila harta," ya itulah salah satu kalimat yang terlontar begitu saja dari mulut Ethan.
__ADS_1
"Tapi, aku sudah terlanjur senang dengan keberadaan oma saat ini. Kita sudah lama tak merasakan kehangatan sebuah keluarga yang lengkap." ujar Charles yang tampak kecewa.
"Adik, bersabarlah, aku sangat yakin kalau oma ini memang tidak menyanyangi kita secara ikhlas. Kalaupun dia sayang, bukan seperti ini caranya. Kita akan mendapatkan kehangatan keluarga hanya pada orang tua kita, yang benar-benar tulus menyanyangi kita." tutur Abi.
"Aku setuju Kak, dengan asumsimu. Dari awal aku melihat tampang oma bukanlah tipe orang yang penyayang. Dia sengaja memasang wajah suka saat pertama melihat kita." tukas Boman yang mendukung pendapat Abi.
"Semoga rencana kita bisa membuat oma jera, ibu selama ini juga tak pernah menceritakan tentang oma bukan? Itu artinya ibu juga tak menyukai oma, entah rahasia apa yang ibu simpan." ujar Dave.
"Kalian bisa tanya langsung pada pembantu di rumah ini. Dia pasti tahu segalanya." ujar Ethan yang membuat semua kakaknya menoleh padanya.
"Kamu benar, Dik!" seru Abi.
"Lihat, itu pembantu di rumah ini!" tunjuk Boman dengan riang.
Pandawa segera berlari ke arah bi Kah yang sedang mengepel.
"Awas, lantainya masih basah!" teriak bi Kah saat pandawa kecil berlari ke arahnya.
Ethan hampir terpeleset, dengan sigap Charles melompat untuk menahan Ethan agar tidak jatuh.
Terdengar hembusan kasar dari nafas Ethan.
"Untung ada Kakak, kalau tidak aku sudah jatuh." Ethan mengusap dadanya.
Charles hanya tersenyum seraya melepaskan tangannya.
"Bibi, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Abi sopan.
"Soal apa ya Tuan muda?"
"Ini tentang ibu kami." sahut Boman.
"Bibi tenang saja, oma sedang bermimpi bahkan ledakan bom saja takkan berhasil membangunkannya." ujar Ethan sambil cekikikan sendiri.
Akhirnya bi Kah menceritakan semuanya tentang keburukan Anita dan kemalangan Sherly.
Pandawa menganga tak percaya, dengan semua yang mereka dengar.
Hampir tiga jam Anita tertidur. Pandawa sudah selesai dengan urusannya.
"Dave," panggil Anita meski dia belum hafal tapi dia tahu betul dari penampilan Dave yang selalu mengenakan topi di atasnya.
"Iya Oma, mari aku perlihatkan lukisanku!" Dave menggandeng Anita.
"Wow, bagus sekali, mirip dengan aslinya!" ujar Anita dengan mata yang berbinar -binar.
Anita segera mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang, dia meminta orang suruhannya untuk membungkus lukisan dan mengirimkan pada tuan Syarif Lyon. Karena ukuran lukisan itu sangat besar, jadi akan di angkut dengan truk mini.
Tak butuh waktu lama, orang suruhan Anita yang berjumlah dua orang datang. Mereka segera membungkus lukisan tersebut.
Pandawa sudah mempersiapkan ini dengan rapi. Mereka juga membungkus lukisan yang kedua.
Dua orang suruhan Anita mengangkat lukisan yang besar itu menuju kendaraan yang ada di luar.
Lukisan itu sudah berada di atas truk mini.
"Mana kuncinya?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Bukannya masih menancap di dalam?" sahut yang lain.
"Aku sudah melihatnya, tapi tak ada di sana."
"Atau mungkin kamu membawanya masuk ke dalam tadi?"
"Ah, apa iya, coba aku lihat ke dalam." salah satu dari mereka masuk ke dalam rumah untuk menanyakan keberadaan kunci.
Sementara seorang lagi tengah memegangi lukisan, karena cuaca panas dia duduk membelakangi truk seraya mengibaskan tangannya.
"Gerah banget," keluhnya.
"Ini Paman, ada minuman dingin," Boman menyodorkan segelas air untuk mengelabui orang itu.
"Wah, kebetulan sekali, saya haus!" serunya seraya menerima minuman itu. Dengan segera air itu habis.
"Wah, segarnya!" orang itu mengusap bekas minumannya di bibir.
Tak lama kemudian, dia terasa ingin ke toilet.
"Aduh, perutku, toilet mana toilet?" orang itu menahan perutnya dengan gelagat khas kebelet pipis.
Boman cekikikan sendiri, "ada di samping rumah Paman!" seraya menunjukkan jarinya.
Orang itu lari terbirit -birit mencari toilet.
Charles dengan kemampuannya yang tiada tara telah berhasil mengganti lukisan tadi dengan yang lain.
.
Tuan Syarif Lyon tengah memberikan makan ikan di kolam.
Seorang pembantu menghampirinya.
"Tuan Syarif ada kiriman barang untuk Tuan," ujarnya sopan.
"Dari siapa?"
"Dari nyonya Anita, Tuan."
"Ooo, bawa kemari segera. Dia menjanjikan lukisan wajahku untuk menebus hutangnya." ujar Syarif tak sabar ingin melihat lukisan dirinya.
Dua orang suruhan Anita membawa lukisan itu tepat dihadapan Syarif.
Setelah kedua orang suruhan Anita pergi, Syarif segera membuka pembungkus lukisan itu.
"Kurang ajar kamu Anita, berani sekali kamu menghinaku!" umpat Syarif tatkala melihat lukisan itu.
Bersambung ....
Terima kasih ...
sudah setia dengan Pandawa Kecilku,
Jangan lupa untuk selalu dukung Pandawa Kecilku dengan memberi like, vote dan jangan lupa komennya.
Jaga selalu kesehatan kalian...
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘😘😘😁