
Sherly kini sudah pulang dengan tangan kosong. Dia segera mengecek keadaan satu per satu putranya.
Mulai dari kondisi Ethan. Keadaannya sudah agak mendingan karena sudah minum obat.
Kini menuju kamar Dave, dia masih tertidur pulas. Sherly cukup khawatir juga karena Dave menolak untuk makan pagi.
Sherly menuju kamar Charles, didapati dia sudah mulai bermain dengan mainan robot-robotan. Itu artinya obatnya bereaksi dengan cepat.
Saat masuk ke dalam kamar Boman, Sherly dibuatnya panik. Boman tengah muntah-muntah.
"Boman, kamu kenapa Nak!" Sherly memijat tengkuknya dan mengolesi minyak kayu putih di perut dan pelipisnya.
"Aku tak boleh egois," Sherly mengambil ponsel di tas kecilnya dan mencari kontak nama Alva.
Giliran dia yang mengangkat telepon. Alva sekali pun tak menyahut. Dia mencoba lagi menghubungi Alva.
"Ih, kok jadi dia yang sewot, nggak tahu apa aku lagi panik!" Sherly ngedumel sambil pergi lagi keluar mengendarai mobilnya.
Kini Sherly sudah berada di depan kantornya.
"Nona Sherly," sapa Thomas ketika berpapasan saat keluar kantor.
"Pak Thomas, apa presdir Alva ada di dalam?" tanya Sherly sopan dan sedikit ragu untuk mencarinya.
"Tuan Alva sedang ada meeting, kenapa Nona baru datang dan tak berpakaian resmi?" Thomas sedikit heran dengan penampilan Sherly yang masih mengenakan setelan baju tidur.
Sherly sendiri baru menyadari kalau pakaiannya tak pantas di pakai saat memasuki kantor, dia sejak pagi tadi tak memperhatikan penampilannya karena sibuk mengurus pandawa. Sampai makan pun dia tak sempat. Untungnya suasana kantor tampak sepi. Karena jam waktunya istirahat.
"A-aku lupa belum mengganti baju," sahut Sherly seraya melihat dirinya sendiri.
"Mungkin ada yang bisa saya bantu?" tawar Thomas.
"Tidak ada, aku akan menunggu presdir Alva keluar dari ruangan meeting." tolak Sherly seraya memikirkan pandawa yang masih berbaring sakit.
"Kalau begitu saya permisi dulu," Thomas pergi meninggal Sherly menuju parkiran.
Sherly menunggu Alva sambil berjalan mondar-mandir, sesekali duduk, lalu berdiri lagi. Hampir satu jam lamanya dia menunggu Alva, namun tak kunjung keluar juga.
"Bagaimana ini, apa sebaiknya aku masuk ke dalam saja ya, tapi penampilanku ...." Sherly mengurungkan niatnya.
Saat akan pergi meninggalkan kantor, suara laki -laki menghentikan langkahnya.
"Sherly," panggil pria itu membuat Sherly menoleh.
"Kak Antonio," seru Sherly ketahuan tak masuk kerja.
"Apa yang kamu lakukan di luar sini?" tanyanya penuh selidik terlebih melihat pakaiannya sangat mencolok.
"A-aku sedang menunggu presdir Alva, pagi tadi aku bolos kerja dan sekarang aku ada perlu dengannya." terang Sherly yang membuat Antonio semakin penasaran.
"Sangat penting kah?" selidik Antonio.
"Penting sekali ini menyangkut kehidupanku, bisa kah Kak Antonio menolongku untuk menyampaikan ini pada dia, aku juga sudah menghubungi ponselnya tapi tak diangkat. Aku tidak mungkin masuk ke dalam dengan penampilanku yang seperti ini." terang Sherly mengiba.
"Menyangkut kehidupan dia? Apa maksud perkataannya?" batin Antonio.
"Coba aku hubungi dia," Antonio mengambil ponsel di saku celananya dan mencari kontak Alva.
"Aku tunggu di luar kantor, cepatlah ke sini!" ujar Antonio setelah sambungan terhubung.
"Aku sudah menyuruhnya ke sini, kamu tunggu saja sebentar." ujar Antonio sambil berbincang sedikit seputar kehidupan Sherly. Sherly tampak ragu juga dengan kakaknya Alva, dia terlihat baik tapi belum tentu dapat dipercaya. Karena saat kejadian kemarin, sikap nya seperti cuek tak membantu adiknya sedikit pun.
Tak lama kemudian Alva datang dan melihat mereka berdua tengah asyik mengobrol. Alva sedikit cemburu.
"Ada apa Kak?" tanya Alva ketus.
"Sherly bilang kamu sulit dihubungi, jangan jadi pengecut kamu, cepat selesaikan urusan kalian!" tukas Antonio lalu pergi meninggalkan mereka berdua menuju parkiran. Rasa penasarannya ia urungkan karena ada urusan yang mendesak.
"Presdir," panggil Sherly ragu-ragu.
"Apa," sahut Alva sinis.
"Pasti presdir marah karena aku bolos kerja ditambah aku tak mengangkat telepon darimu."
"Itu kamu sudah tahu," Alva membalikkan badan memunggungi Sherly dan hendak pergi.
"Presdir, kamu tak bertanya mengapa aku pagi tadi tak masuk kerja?" tanya Sherly meski Alva membelakanginya.
"Iya tadi, tapi sekarang sudah tak ingin bertanya." sahut Alva ketus.
"Ku mohon Presdir, jangan marah!" Sherly berjalan menghadang Alva yang ingin pergi.
__ADS_1
Alva sejujurnya sangat marah dan cemburu, tapi ia terlalu naif untuk mengakuinya. Dia tak berani menatap mata wanita yang kini berhasil membuat hatinya selalu berdesir jika bertemu. Memilih lebih melihat ke arah lain.
"Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu," tutur Sherly yang terasa berat untuk mengatakannya. Alva masih terdiam bak patung.
"Pandawa sakit." akhirnya kalimat itu lolos juga dari mulutnya.
"Apa, kenapa kamu tak mengatakannya dari awal!" Alva mengguncangkan tubuh Sherly, begitu bencinya kah dia sampai telat mengabarkan kondisi pandawa.
"A-aku terlalu gengsi untuk mengatakannya." jujur Sherly.
Alva mengerutkan dahi meminta penjelasan lebih.
"Mereka mencarimu, terutama Boman. Dia belum makan sejak pagi tadi." terang Sherly.
"Ya Tuhan, ibu macam apa kamu! Mereka masih kecil, setidaknya kamu sedikit mengalah padanya. Ayo, nggak usah gengsi gede-gedean, kita ke rumahmu sekarang!" Alva menarik tangan Sherly menuju parkiran.
Sesampai di parkiran, Alva membuka pintu mobilnya untuk mempersilahkan Sherly masuk dulu.
"Aku bawa mobil sendiri." terang Sherly.
"Baik, aku akan mengikutimu dari belakang. Kamu duluan!" perintah Alva yang segera masuk ke bagian kemudi.
"E, tunggu!" Sherly mencegah Alva agar tak masuk dulu. Dia mendekati Alva.
"Cepat katakan, jangan bertele-tele!"
"Dave ingin makan lobster bakar yang waktu itu kamu beli di pantai Anyer." ujar Sherly malu-malu.
"Aduh, aku malu banget mengatakannya. Kalau bukan pandawa yang minta, tentu aku tak seberani ini!" dumelnya dalam hati.
"Hanya itu?"
Sherly dengan cepat mengangguk.
"Kamu segeralah pulang, aku akan menyusulmu!" Alva merogoh ponsel di saku jasnya.
Sherly sudah pergi melajukan mobilnya pulang.
Kini Sherly masuk ke dalam kamar satu per satu pandawa untuk mengecek kondisi mereka.
Ternyata semua putranya sedang tidur.
Tiga puluh menit kemudian, Sherly dikejutkan oleh suara bel rumahnya.
"Presdir," seru Sherly ternyata tamunya adalah idola para pandawa.
"Boleh aku masuk?" pinta Alva yang sudah tahu pasti jawabannya, sengaja saja dia menggodanya.
Sherly mengangguk.
"Ini bingkisan untuk mereka, dan ini lobster nya, kamu siapkan peralatan makan, aku akan menemui mereka dulu." ujar Alva seraya menenteng 5 tas keresek besar.
Sherly membulatkan lebar-lebar kedua kelopak matanya.
"Presdir kok cepet dapat lobster nya, padahal pagi tadi aku hampir satu jam muter-muter ke kota tak satu pun restoran yang menjualnya." ujar Sherly heran.
"Kan aku genius, tentu saja aku mudah mendapatkannya." Alva memuji diri sendiri.
"Genius dari Hongkong!" Sherly mengerucutkan bibirnya.
"Aku lahap bibirmu, kalau kamu menggoda ku lagi." Alva semakin gemas menatap Sherly.
"Hus, jangan sembarangan, kita belum halal!" Sherly mulai larut dengan godaan Alva.
"Eh, barusan ngomong apa aku. Bukan begitu, maksudku aku, ah, sudahlah! Ayo aku antar ke kamar pandawa!" Sherly gelagapan dengan omongannya sendiri. Alva semakin bersemangat mendapatkan hati ibunya pandawa. Dia sebenarnya tahu, kalau Sherly memiliki rasa terhadapnya. Hanya saja kurang pembuktian.
Para pengawal ikut masuk ke dalam rumah, masing-masing dari mereka membawa tas keresek berukuran besar.
"Aku taruh dulu bungkusan ini ke dapur." ujar Sherly, lobster bakar itu ia taruh di atas piring yang berukuran besar sesuai dengan ukuran lobster.
Selesai dari dapur Sherly menunjukkan kamar si sulung, Abi.
"Ceklek ...." suara pintu terbuka, dan benar saja, Abigail langsung melompat kearah Alva. Dengan sigap Alva menangkap si sulung.
"Bagaimana kabarmu, em, siapa namamu?" tanya Alva mencoba mengingat namanya.
"Abi, Abigail Ayah," sahut Abi dengan wajah cerianya, rasa sakitnya sudah tak terasa lagi.
Alva menggendong Abi menuju ruang tamu dan menurunkan di atas kursi.
"Ayah bawa hadiah untuk kamu," Alva memberikan kode pada pengawalnya untuk mendekatkan barang yang ia beli tadi.
__ADS_1
Abi segera membuka isi dari bingkisan itu.
"Wow, keren, mobil remot dan robot transformer." Abi mulai memainkan mainan barunya. Tak hanya itu, ada mainan kecil lainnya di dalam tas keresek yang belum Abi lihat.
"Abi, ayah ingin melihat saudaramu yang lain dulu, kamu lanjutkan main sendiri ya." Alva berdiri dan mengikuti Sherly menuju kamar Boman. Setelah menunjukkan kamar Boman, dia menuju dapur untuk membuatkan bubur nasi yang baru.
"Ayah," seru Boman saat Alva membuka pintu. Wajahnya dua kali lipat bahagia. Alva langsung memeluk tubuh yang menggemaskan itu.
"Hai, Nak!" seru Alva setelah melepaskan pelukannya, dia mencoba menerka nama putra keduanya.
"Tebak ayah, siapa aku?" tanya Boman.
Alva memejamkan matanya seraya berfikir.
"Kamu pasti Boman," sahutnya setelah membuka mata.
"Seribu buat Ayah," Boman senang karena ayahnya sudah hafal.
"Bagaimana kamu bisa sakit?" tanya Alva membuka obrolannya.
"Sstt, jangan keras-keras nanti ibu dengar!" Boman sedikit berbisik.
"Kenapa?" Alva juga ikut berbisik.
"Ini adalah rencana kami, agar Ayah bisa main ke sini." tutur Boman dengan polosnya.
"Benarkah, jadi kalian pura-pura sakit !" Alva meninggikan suaranya.
"Ayah ... ssttttt ...!" Boman meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Alva mengikuti Boman.
Ia tak habis fikir ide nya memang genius.
Sherly masuk sambil membawa nampan berisi bubur.
"Nah, Boman makan dulu ya, setelah makanan habis segera minum obat." tutur Sherly.
Alva mulai menyuapi Boman, sebelumnya dia menyemprotkan kedua telapak tangannya dengan handsanitize. Boman menerima suapan demi suapan, sampai tak bersisa. Ini adalah kali pertama hal yang Alvarendra Rizki lakukan. Tak lupa juga pengawal memberikan hadiah untuk Boman, hadiah itu sama isinya dengan milik Abi dan yang lainnnya.
Alva menggendong Boman mengajaknya duduk bersama Abi.
Selesai dari kamar Boman, kini Alva menuju kamar Charles.
"Charles, ayah datang!" seru Alva tatkala membuka pintu.
"Ayah," seru Charles seraya menerima pelukan hangat dari Alva.
"Apa kamu merindukan ayah?" tanyanya seraya melepas pelukannya dan beralih menggendongnya.
"Aku sangat, sangat, sangat merindukan ayah!" sahut Charles.
Pengawal memberikan tas keresek pada Charles, dia senangnya bukan main.
"Yuk kita main di luar!" Alva juga membawa dia menuju ruang tamu.
Selesai dari kamar Charles, Alva menuju kamar Dave.
"Kejutan," seru Alva yang masuk ke kamar Dave beriringan dengan Sherly yang membawa nampan berisi lobster bakar dan nasi.
"Hore, ayah datang!" seru Dave sambil berjingkrak.
"Dave, ayah bawahan lobster bakar untukmu, ayo makan! Setelah makanan kamu habis, nanti ayah beri kamu hadiah itu." Alva menunjuk pada pengawalnya yang menenteng tas keresek besar.
"Hore, Ibu cepat suapi aku, aku sangat lapar." pinta Dave yang sudah membuka lebar mulutnya. Sherly tertawa senang melihat putranya sudah kembali sehat, dengan sigap Sherly menyuapi Dave.
Alva menuju kamar terakhir, yakni milik Ethan.
"Ethan, ayah datang," ujar Alva seraya membuka pintu. Dia mengedarkan pandangan mencari sosok makhluk kecil. Tapi yang dicarinya tak ada.
"Duar!!" Ethan mengagetkan Alva dari balik pintu. Sebenarnya Alva tahu itu, tapi ia ikuti saja permainan si bungsu.
"Akhh, kamu mengagetkanku!" seru Alva sambil mengelus dadanya. Ethan tertawa cekikikan.
Alva menggendong Ethan menuju ruang tamu.
"Ayah, terima kasih sudah menjenguk kami!" ujar Abi mewakili saudaranya.
"Itu tak seberapa ." Alva mengangguk.
Betapa terharunya Alva mendapati pemandangan seperti ini. Mereka tengah bermain bersama.
"Kalian suka?"
__ADS_1
"Suka sekali , Ayah," sahut mereka kompak.
"Tunggu ayahmu ini resmi menjadi ayah kalian." batin Alva.