Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Pembalasan yang Setimpal


__ADS_3

Pak Tomi melesat dengan cepat mengendarai mobil menuju rumah Alva seorang diri dengan penuh amarah yang menggebu - gebu.


Sherly, Kenzi dan pandawa menyusul nya. Karenanya suasana sudah gelap gulita, Sherly mengendarai mobilnya cukup pelan yang pada akhirnya Sherly tak berhasil mengejar Tomi.


Pak Tomi lebih dulu tiba di rumah Alva, dia segera masuk meski sejumlah pengawal yang Alva perintahkan untuk berjaga mencegatnya. Satu persatu pengawal yang berjaga tumbang dengan sekali tendang. Pak Tomi terlanjur emosi dan sulit sekali dikendalikan. Dia berjumpa Alva di ruang tamu. Alva tengah duduk santai.


"Mana kakak kamu yang brengsek itu!" bentak pak Tomi dengan nafas yang tersenggal - senggal dan dengan tubuh yang basah berbalut keringat. Kepalan tangannya bergetar.


"Tenang Om, silahkan duduk dulu!" ujar Alva mencoba menenangkan suasana hatinya yang kalut.


"Jangan coba - coba kamu melindunginya, cepat panggil dia kemari!" bentak pak Tomi.


"Dia tak sedang berada di rumah," Alva berdiri.


"Bohong, panggil dia ke sini atau aku akan mengobrak - abrik rumah kamu!" pak Tomi tak percaya, ia ngotot sekali sehingga urat - uratnya terlihat di lehernya seraya mengedarkan pandangan.


"Kita bisa selesaikan masalah ini secara kekeluargaan, misal dengan menikahkan mereka berdua." Alva mencoba menawarkan solusi, "dari pada Om harus membunuhnya,"


"Cih, aku tak sudi punya menantu seperti dia!"


"Kasihan anak yang berada di dalam kandungan Kenzi, Om. Om Tomi jangan egois, pikirkan kebahagian Kenzi dan anaknya kelak."


"Putriku bisa mencari pria lain selain si brengsek Antonio. Dan anaknya tak butuh sosok ayah seperti dia. Aku akan mencarikan ayah sekaligus suami untuk Kenzi, yang benar - benar tulus mencintai putriku."


"Itu pandangan Om belum tentu sama dengan Kenzi. Mereka melakukan itu atas dasar suka sama suka."


"Kalau dia suka dengan putriku, mengapa memfitnahnya?"


Mereka berdebat tak ada henti sampai Sherly dan yang lain datang.


"Papa, sudah, hentikan! Aku tak mau Papa mengotori tangan Papa dengan perbuatan keji. Apa bedanya Papa dengan Antonio jika Papa sampai membunuhnya. Sudahlah, ini sudah terlanjur terjadi. Sherly akan membantuku membujuk Antonio agar dia segera menikahiku." Kenzi datang seraya meraih tangannya.


"Aku tak sudi kamu menikah dengannya. Dia tak pantas untuk kamu. Untuk saat ini dia bersyukur tak aku temukan, tunggu suatu waktu nanti jika aku bertemu dengan dia, tiada maaf baginya!" pak Tomi menepis tangan Kenzi dan segera berlalu dari ruangan itu.


Kenzi meneriaki papanya, namun yang diteriaki tak menggubris.


Sementara Alva dan Sherly bertemu pandang


"Sherly," Alva menghampiri istri tercintanya.


"Mas Alva," Sherly merentangkan tangannya menyambut suami tercintanya.


"Kamu nggak apa - apa kan?"


"Iya, Mas Alvarendra Rizki, aku sehat dan tak kurang sedikit pun." sahut Sherly, mereka berdua saling berpelukan mesra.

__ADS_1


Kenzi yang melihat itu merasa iri dan ada sedikit rasa penyesalan karena dulu pernah menelantarkan Alvarendra.


Pandawa segera menutup mata dengan cepat. Ethan membuka sedikit celah jarinya, dengan cepat sang abang yang berdiri dekat dengannya memberikan isyarat agar tak melihat itu. Mereka menahan tawa.


Alva bersama yang lain menuju gudang. Tampak Antonio masih tidur tertunduk di sana.


"Abi, bisakah kamu membantu ayah?" Abi mengangguk.


"Baik, coba kita bertanya sedikit pada paman kamu ini." Alva mengusap kedua telapak tangannya melakukan pemanasan.


"Apa kak Antonio yang telah menghamili Kenzi?" ujar Alva.


"Ya," sahut Antonio.


"Lantas, siapa yang telah membuat dia celaka di jalan?"


"Aku," sahut Antonio lagi. Kenzi membelalakkan kedua matanya tak percaya.


Berbagai pertanyaan telah Alva lontarkan, sementara Sherly sudah membuat rekaman video sebagai bukti atas kejahatannya.


.


Keesokan paginya, kebetulan hari Minggu, Andreas pulang dari kota almarhumah istrinya dilahirkan. Dia tiba setelah subuh tadi. Setelah itu dia beristirahat sebentar di kamarnya. Mumpung hari libur, dia berencana mengajak kelima cucu kembarnya jalan - jalan ke kebun jeruk miliknya yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sudah hampir dua jam dia berada di teras depan, sejak itu pula dia tak mendapati anak sulungnya. Sengaja Alva tak memberi tahu kejadian semalam.


Alva, Sherly dan juga pandawa menuruni tangga. Mereka berencana untuk mengerjai Antonio yang semalaman berada di dalam gudang.


"Pa, ada sesuatu yang harus aku sampaikan."


"Tentang apa? Em, tunggu, aku belum mencium kalian berlima! Kemarilah!" Andreas melambaikan tangan. Pandawa tersenyum seraya berjalan ke arahnya.


"Hm, harum, bedak bayi kalian awet juga baunya!" ujar Andreas tatkala mencium kedua pipi pandawa yang gembul itu.


Pandawa menahan tawa akibat geli saat pipinya dicium oleh kakek, kumis kakeknya yang memutih itu menggelitik mereka.


Alva dan Sherly saling menatap. Bagi Alvarendra, inilah kebahagian yang sesungguhnya.


"Pa, sebenarnya Alva ingin menceritakan tentang kelicikan kak Antonio selama ini." sambung Alva seraya duduk di samping Andreas.


"Maksud kamu?"


"Jujur Pa, di awal sebenarnya aku sudah berusaha agar kak Antonio bisa menjadi bagian keluarga kita, keluarga yang baik. Tapi tidak setelah apa yang ia lakukan pada kelima putra kembarku dan Sherly." Alva mulai menceritakan semua hal mengenai Antonio dari usahanya yang membuat Alva pernah dipenjara sampai usahanya mencelakai pandawa.


Andreas mendengar semua penuturan Alva dari a sampai z.


"Antonio, sifat itu sangat buruk bagi keluarga Andreas. Kurang apa aku selama ini padanya?"

__ADS_1


"Sekarang, dimana dia, biar aku berikan pelajaran yang setimpal untuknya." Berdiri tegak sambil mengepalkan tangan.


"Kak Antonio sedang ada di gudang sekarang, Abigail yang membuat dia tertidur di sana dan mengakui semua kesalahannya. Aku juga sudah mengikat tangannya agar tak bisa kabur. Sebentar lagi polisi akan datang untuk menjemputnya." terang Alva yang juga ikut berdiri.


"Abigail? Bagaimana bisa ?" Andreas terkekeh.


"Iya, Kakek tak percaya dengan apa yang telah aku lakukan? Kakek mau mencobanya?" Abi mengulum senyum.


"Tidak - tidak, kakek percaya, kakek hanya bercanda, ayo kita ke gudang sekarang!"


Pandawa berjalan mendahului mereka, pandawa berjajar bergandengan tangan seraya bernyanyi riang.


Kemudian Andreas menyusul mereka. Disusul Alva dan Sherly, dua pasangan ini berjalan seraya bergandengan tangan.


"Mas Alva yakin, akan melakukan ini semua?"


"Sebaiknya begitu Sayang, aku tak mau lagi dia semakin merajalela melakukan kejahatan. Paling tidak nanti bisa memberikan pelajaran padanya." Alva sudah merencanakan sesuatu untuk membuktikan kebusukan kakaknya.


Sesampainya di gudang.


"Alva, cepat bebaskan aku dari sini!" teriak Antonio.


"Antonio!" Andreas melayangkan tamparan keras pada pipi kanannya.


"Papa,"


"Anak kurang diuntung!" Andreas mulai memakinya.


"Mulai detik ini juga, kamu aku coret dari daftar keluarga Andreas!"


"Tapi Pa, aku bisa menjelaskan ini semua." Antonio ingin menyangkal tapi setelah Sherly menunjukkan rekamannya semalam, Antonio tak bisa berkutik, dia diam seribu bahasa.


Tak lama kemudian, Wendy dan Kenzi datang bersamaan.


"Wendy, kamu masih hidup?" Antonio membulatkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.


"Ya Kak, aku masih hidup. Aku akan menjadi saksi atas kelicikan kamu." Wendy menatap tajam ke arahnya.


"Antonio, kamu sungguh tega, kamu mau mencelakai aku dan calon bayi kita!" ujar Kenzi seraya mengusap perutnya yang datar.


"Setelah ini, aku berharap Kak Antonio segera menikahi kak Kenzi," ujar Sherly seraya menggenggam tangan Kenzi.


"Cih, aku tak sudi menikahi dia!" bentak Antonio kasar. Andreas ingin sekali menamparnya lagi.


"Kenapa Kak?" tanya Sherly geram.

__ADS_1


"Karena aku hanya menyukai kamu," terang Antonio yang membuat semua orang yang ada di gudang kaget.


__ADS_2