
"Si-siapa di sana?" gumam Wendy lirih. Matanya tampak kabur.
"Apakah dia malaikat maut yang mau menjemputku?"
"Aku belum mau mati. Ada suatu hal yang harus aku lakukan. Ku mohon, jangan cabut nyawaku dulu."
Wendy dalam diam merasa gelisah. Bayangan putih bak malaikat pun segera pergi.
Seorang pengawal tanpa sengaja masuk untuk melihat keadaan Wendy. Dia kaget melihat alat bantu pernafasan terlepas. Dan dengan segera menghubungi dokter jaga.
.
Pagi ini Wendy sudah sadar, hanya saja dia sedikit trauma atas kejadian semalam.
Alva dan Sherly sudah tiba di rumah sakit.
"Kak Wendy, kamu sudah sadar?" kekhawatiran Sherly sudah berkurang semenjak dia melihat sendiri kondisi iparnya.
Wendy hanya mengangguk, kondisinya masih terlihat lemah.
"Wendy, syukurlah kamu tidak apa-apa! Pengawal bilang, kamu hampir sekarat semalam. Bisakah kamu menjelaskan apa yang terjadi padamu semalam?" Alva juga tampak khawatir dengan pria yang sudah menolong nyawanya itu.
Wendy dengan sedikit tenaga mencoba berbicara.
"Kak Antonio ... " suara Wendy terdengar samar-samar dan lirih.
"Kak Antonio?" Alva membaca gerak bibir Wendy, "Kamu perlu bicara dengannya? Akan aku panggilkan dia!" Alva hendak beranjak, tapi tertahan oleh tangan Sherly.
"Jangan gegabah Mas! Lihat, kak Wendy tak merespon!" ujar Sherly seraya memperhatikan Wendy secara seksama.
"Benar begitu?" Alva menautkan kedua alisnya, lalu dia lebih mendekatkan tubuhnya.
"Wendy, em, coba kita saling berkomunikasi. Anggukan kepalamu jika benar dan diam saja jika itu salah atau ragu-ragu. Kamu paham?" tanya Alva.
Wendy mengangguk pelan.
"Em, coba kita mulai dari kak Antonio. Tadi kamu menyebut nama kak Antonio?"
Wendy mengangguk pelan.
"Apa kamu ingin menemuinya?"
Wendy diam saja, itu tandanya tidak.
Alva memegang dagunya seraya berpikir.
"Mungkin kak Wendy ingin mengatakan kalau kak Antonio ada kaitannya dengan kejadian semalam." ujar Sherly, seketika itu juga Wendy mengangguk, itu artinya benar.
Alva memutar otaknya lebih keras lagi.
"Jangan bilang kalau kak Antonio yang melakukan itu!"
Wendy hanya diam.
"Mas Alva, sepertinya dugaanmu salah. Kak Antonio lah yang melakukan itu." ujar Sherly.
Wendy mengangguk pelan.
"Tidak mungkin kak Antonio senekat itu. Apa modus dia ingin mencelakai Wendy. Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?"
Wendy mengangguk lagi.
__ADS_1
Alva kagetnya bukan main. Dia mundur selangkah.
"Kak Antonio, ada rahasia besar apa pada dirimu? Masih ada rasa benci kah kamu padaku, sampai -sampai kamu ingin mencelakai orang yang ada di sekitar ku?"
Terdengar hembusan nafasnya yang kasar. Mendadak ide brilian nya muncul.
"Sherly, Wendy, dengarkan perkataan ku. Dari semua dugaan yang ada, sasaran kak Antonio adalah Wendy. Berarti semalam dia datang ke sini untuk mencoba mencelakai Wendy. Sebaiknya kita rahasia kan masalah keselamatan Wendy." terang Alva, wajahnya tampak serius.
"Maksud Mas Alva bagaimana, merahasiakan seperti apa?" Sherly belum paham arah pemikiran Alva.
"Sayang," Alva meraih tangan Sherly dan keduanya sangat dekat sehingga membuat dahi mereka saling menempel.
"Kita rahasia kan tentang kondisi Wendy sekarang. Dan kita umumkan kalau Wendy sudah tiada."
Sherly menepis tangannya.
"Mas Alva tega!"
"Dengar dulu penjelasanku," Alva menarik nafasnya panjang dan menghembuskan pelan.
"Wendy dalam bahaya. Kak Antonio sengaja ingin melenyapkan Wendy. Entah apa itu alasannya aku belum tahu. Kita akan mengetahui itu dikemudian hari. Seiring dengan berjalannya waktu, aku akan mencari informasi dari Wendy setelah dia pulih nanti." terang Alva panjang lebar.
Sherly tampak berpikir.
"Pletak ...!"
Sangking gemasnya, Alva menyentil dahi istrinya.
"Aw, sakit Mas!" Sherly mengusap kasar dahinya.
"Itu agar otak kamu encer." sahut Alva sambil terkekeh.
"Ih apaan sih Mas, air kali ya encer." Dengus Sherly kesal mendapat ledekan suaminya.
Selesai mengurus ini Alva dan Sherly segera menuju kantor untuk mengabarkan hal ini. Agar terlihat lebih nyata, Sherly juga menampakkan tangisan palsu.
.
Berita kematian Wendy pun akhirnya tersebar dan sampailah di telinga Imel.
Imel yang berada di dalam penjara tak terima dengan berita kematian suaminya.
Dia menangis meraung -raung meratapi kepergian suaminya.
"Ini semua karena Sherly, tunggu pembalasanku Sherly!" dia berteriak seraya memegang jeruji besi.
Sementara Anita mendatangi tempat pemakaman palsu. Dia terisak seraya menampilkan tangisan palsu. Justru ini yang ia inginkan, melihat Wendy lenyap tanpa mengotori tangannya sendiri.
Anita sesekali memperhatikan Alva dan Sherly.
"Pemuda yang tampan dan kaya. Sangat cocok dengan Imel. Beda dengan si cupu itu," Anita ngedumel dalam hati, mengagumi sosok Alva.
Anita memperhatikan lima anak yang berada di sekitar Alva dan Sherly.
"Siapa mereka, anak kembar lima!" pekiknya tak percaya.
"Presdir Alva, siapa mereka, mengapa wajah mereka sangat mirip dengan Anda?" Anita menghampiri mereka dan bertanya perihal pandawa.
"Dia putra kami." Alva meraih tangan Sherly seraya menggenggamnya erat.
"Putra! Jadi, Sherly waktu itu hamil anak presdir Alva! Oh my god, aku tak percaya ini! Berarti mereka berlima adalah cucu-cucuku." Anita tampak girang dengan muka yang berseri -seri.
__ADS_1
"Cucu? Sejak kapan Mama mengakui pandawa sebagai cucu? Bukankah Mama pernah mengatakan kalau lebih menyukai mereka tak ada di dunia ini, karena mereka tak punya ayah." ujar Sherly mengingatkan perkataan Anita tempo dulu.
"Em, Sherly, mama khilaf Nak! Kamu jangan ambil hati perkataan mama dulu ya. Jika dari dulu mama tahu kalau ayah dari mereka adalah presdir Alva, sudah tentu kamu tidak mama suruh pergi." ujar Anita seraya mengiba.
Sherly berdecak seraya melipat kedua tangannya di dada.
"Sayang, sebaiknya kamu jangan bersikap seperti itu pada ibumu," Alva mencoba membela Anita.
"Tapi Mas, dia ..."
"Walaupun begitu dia tetap ibumu, haciu!" nasihat Alva.
"Ibu, siapa nenek ini?" tanya Abi seraya menarik ujung baju Sherly. Pandawa yang lain menaruh heran dengan kedatangan Anita.
"Panggil aku dengan sebutan oma, ya aku adalah oma kalian. Kalian cucu-cucu oma." Anita membungkukkan badan seraya menepuk dadanya dan mentowel salah satu pipi pandawa.
"Oma?" Dave tampak berpikir, karena lukisan wanita tua yang ia lukis dulu juga seorang oma. Berarti dia memiliki dua oma.
"Aku adalah ibu dari ibu kalian." Anita mulai mengakui Sherly anaknya.
"Mama, benarkah yang Mama katakan?" terlihat senyuman kecil menghiasi bibirnya. Selama ini baru pertama kali ia mendengar Anita menyebut dirinya sebagai anaknya.
Anita mengangguk seraya merentangkan tangan. Sherly menyambutnya. Mereka saling berpelukan.
"Cih, dasar cupu, siapa juga yang menganggap kamu anak! Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Imel." batinnya kecut seraya memainkan bola matanya.
"Hore, kita punya oma!" seru pandawa. Mereka bergandengan tangan membentuk lingkaran seraya bersorak ria.
"Aku harus bisa memanfaatkan keadaan ini." batin Anita seraya melepaskan pelukannya.
"Oh Sherly, kini mama hidup sebatang kara. Mama takut hidup sendiri." terang Anita.
"Kan ada bi Kah," Sherly mengingatkan.
"Sial padahal niatku agar mereka memberiku sejumlah uang sebagai tanda belasungkawa." Anita dalam benaknya hanya ada uang, uang dan uang.
"Iya, ya, tapi masih tetap terasa sepi. Apa kamu dan presdir Alva tak berniat untuk tinggal bersamaku?"
Sherly menggeleng cepat.
"Pandawa akan sering ke rumah Oma, jadi Oma tak usah bersedih." hibur Abigail.
"Benarkah, baiklah kalau begitu." Anita tersenyum puas.
.
Antonio merasa menang sekarang. Satu penghalang telah berhasil ia tumbang kan.
"Selamat jalan Wendy, selamat beristirahat!"
Antonio tengah meninggalkan pemakaman itu, mendadak ponselnya berdering.
"Hallo," sahutnya setelah sambungan terangkat.
"Hallo, Antonio, kita perlu bicara!" ujar suara dari arah seberang.
"Katakan sekarang, aku sedang sibuk!" Antonio terdengar tak suka dengan suara seseorang dari arah seberang.
"Aku hamil."
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih kakak reader atas kebersamaan kalian sampai episode ini. Tunggu selalu ya kisah pandawa kecilku. Jangan lupa untuk tetap dukung selalu author tercinta kalian ini. 😘😘😘😘😘😘