
Kini Alva dan Sherly tengah memasuki mall.
"Sayang, buruan!" desak Alva yang menunggu Sherly agar segera menyusul nya.
"Ia Mas, sabar dong," ujar Sherly terdengar kesal seraya berjalan secepat mungkin.
Alva menggandeng Sherly hingga sampai pada jejeran baju dengan aneka model.
"Bagaimana dengan yang ini?"
"Yang ini?"
"Ini?"
"Semuanya cocok untukmu, Sayang, tapi sepertinya yang ini nggak cocok deh sama kamu." ujar Alva seraya mengambil baju daster bermotif pelangi.
"Tapi aku suka motifnya Mas," rengek Sherly berharap bisa membeli baju itu.
"Ya sudah, kalau kamu suka, ambillah!" ujar Alva yang akhirnya mengalah untuk berdebat dengan bumil.
Sherly tak henti - hentinya mencoba model baju dan pada ujungnya dia memborong selusin baju beraneka model, yang paling banyak adalah daster.
"Sayang, lihat baju bayi di sana!" tunjuk Sherly seraya menggandeng Alvarendra menuju deretan baju anak.
"Pelan - pelan Sayang, jaga bayi kita!" pekik Alva histeris seraya mengikuti langkah istri nya.
Sherly kini tengah memilih baju cewek sekitar berusia 2- 3 tahunan.
"Itu buat anak kita? Kegedean Sayang, mending yang ini, kelihatan masih imut," protes Alva seraya menunjuk baju bayi dan menempelkan di dada.
"Bukan, ini untuk baby nya kak Kenzi," ujar Sherly yang membuat Alva berpikir.
"Kan bayi nya baru berusia 3 bulan," protes Alva lagi.
"Iya Mas, pastinya baju bayi punya dia sudah banyak. Lagian baby Kanza pasti cepet gede." kata Sherly seraya melipat lima baju setel baju anak.
"Terus, buat anak kita mana?" lagi Alva memprotes setiap apa yang istrinya pilih.
"Mas Alva ku sayang, yang gantengnya tiada tara, kan kandunganku belum gede amat. Ntar aja setelah 8 bulan kita belanja lagi," ujar Sherly memberi pengertian suaminya.
"Kenapa begitu? Nggak sekalian kita belanja nya," Alva mengerutkan dahi tak mengerti dengan maksud istrinya.
"Mas Alva nurut aja deh sama aku, aku lebih berpengalaman tentang ini." ujar Sherly berharap suaminya paham tentang ini.
"Iya, ya, mas ngalah deh, udah belum shopping nya?"
"Sudah Mas, ayo kita pulang! Besok antar aku ke rumah kak Kenzi ya!"
"Oke Sayang, tapi jangan lupa upahnya juga!"
"Upah apaan Mas?" tanya Sherly dengan polosnya.
__ADS_1
Dengan berbisik Alva mendekatkan diri.
"Jatah,"
"Eis, Mas Alva ini, perut buncit begini masih saja minta jatah, tahan dong sampai dedeknya lahir,"
"Hah!" Alva melongo seraya menatap punggung istri nya yang lebih dulu menenteng belanjaan menuju kasir.
.
Minggu di pagi hari, Alva sudah siap untuk mengantar Sherly.
"Ayah dan Ibu mau kemana?" tanya Ethan yang menghentikan mainannya.
"Kami mau menjenguk baby Kanza." sahut Sherly.
"Aku ikut dong, Ibu!" celetuk Dave.
"Kalian di rumah saja, di sana nggak ada mainan, kalian pasti bosan." ujar Alva mencoba mencegah pandawa ikut.
"Aku pingin ikut," rengek Ethan.
Abigail yang baru selesai mandi menghampiri kedua adiknya.
"Ethan dan Dave di rumah saja, abang Abi punya game baru nih!" seru Abigail seraya menggandeng kedua adiknya.
"Kenapa nggak kita ajak sekalian sih mereka, kasihan kan pengen ikut," ujar Sherly seraya cemberut.
"Tapi aku enggak tega lihat Ethan tadi,"
"Sudah, saudaranya kan nggak pada kemana- mana, jadi dia pasti lebih senang di rumah."
"Ya udah, ayo berangkat!" ajak Sherly kemudian yang sudah mulai tenang.
Alva segera membukakan pintu mobil untuk Sherly. Kali ini Alva yang menyetir.
Satu jam perjalanan pun berlalu, mereka berdua tiba di rumah baru milik Kenzi.
"Pagi Kak Kenzi!" sapa Sherly ketika sudah turun dari mobil.
"Hati -hati, Sayang !" Alva selalu memperhatikan setiap langkah istrinya. Namun Sherly tak menggubris kepedulian Alva yang terlalu berlebihan. Sherly melenggang begitu saja melewati suaminya.
"Pagi, Sherly, Alva!" ujar Kenzi yang lagi meninabobokan baby Kanza di teras depan.
Kenzi berdiri untuk menyambut kedatangan Sherly dan Alva.
"Ayo masuk!" ajak Kenzi seraya mendorong kereta bayi masuk Ke dalam. Kenzi berjalan lebih dulu lalu diikuti Alva dan Sherly.
Ketika di ruang tamu.
Kenzi duduk bersebelahan dengan Alva. Alva pun sontak bersin -bersin tanpa henti.
__ADS_1
"Sudah menikah, tetap saja bersin-bersin," kata Kenzi tatkala memperhatikan Alva.
"Iya nih, aku juga heran Kak!" timpal Sherly.
"Sayang, aku tukar tempat duduknya!" pinta Alva yang segera berdiri dan berpindah posisi.
"Nih buat baby Kanza," ujar Sherly seraya menyodorkan paper bag pada Kenzi.
Kenzi menerimanya dengan sedikit sungkan.
"Kok repot segala Sherly, kamu tidak perlu melakukan ini," ujar Kenzi.
"Ah, nggak juga Kak, santai saja, gimana baby Kanza, masih demam kah?" tanya Sherly seraya mengamati wajah imut Kanza yang sudah tertidur lelap.
"Tadi pagi terakhir minum obat, sepertinya demamnya sudah turun." terang Kenzi seraya menyentuh dahi Kanza.
"Eum, di mana Wendi?" celetuk Alva yang ternyata sejak tadi dicuekin.
"Masih mandi, bentar lagi juga ke sini."
Tak lama kemudian, Wendi datang dengan ciri khas orang selesai mandi.
"Hei, Alva, Sherly, sudah lama kah kalian berdua di sini?" tanya Wendi yang segera nimbrung.
"Nggak Kak, kami baru saja sampai kok." sahut Sherly.
"Cieh, mentang -mentang pengantin baru, minta nya di tengok, kapan kalian berdua ke rumahku?" tegur Alva yang merasa dia diabaikan sejak satu bulan yang lalu menikahi Kenzi.
Wendi menggaruk kepala. Memang benar. Sejak awal menikah hingga kini dia belum sama sekali mengajak Kenzi keluar rumah.
"Eh iya nih, Alva maaf banget, rencana nya sih kemarin ya Kenzi, kita mau keluar rumah, eh baby Kanza rewel melulu karena demam, dan untungnya setelah kita bawa ke dokter, baby Kanza sudah mulai anteng lagi." terang Wendi. Kenzi pun mengangguk membenarkan pernyataan suaminya.
Meski Kanza bukan anak kandungnya, tapi Wendi menerima dia layaknya darah dagingnya sendiri. Wendi bahkan mulai berani memandikan baby Kanza saat awal lahir an dulu. Jadi setelah Kenzi selesai nifas, Wendi langsung menikahinya. Membantu Kenzi merawat dan membesarkan baby Kanza.
"Oh gitu, baiklah minggu depan ajak baby Kanza ke rumah, pandawa tadi sempet merengek juga ingin ikut. Tapi aku melarangnya, khawatir nya mereka nanti malah bikin ribut." terang Alva.
Mereka berempat berbincang - bincang sampai tak terasa hari sudah sore.
Sherly dan Alva pamit undur diri.
Ketika di tengah jalan.
"Mas Alva, hentikan mobilnya!" ujar Sherly sambil memeluk lengan Alva. Alva pun kaget karena Sherly mendadak minta berhenti.
"Kenapa Sayang?" tanya Alva tampak khawatir yang melihat Sherly mengusap perutnya.
"Aku kebelet pipis." sahut Sherly datar.
"Astaghfirullah, kamu bikin aku jantungan saja, aku kira kamu mau lahir an!" ujar Alva yang segera menepikan mobilnya.
Hallo reader semuanya, saya datang lagi. Jangan lupa mampir juga ke karyaku Suami Bulukku Mendadak Tajir.
__ADS_1