
"Ibu," panggil Abigail setelah jaraknya begitu dekat.
Wanita yang sedang berjemur itu membuka kacamatanya.
"Iya Sayang, apa kamu mau makan siang sekarang?" tanya Sherly, dia tak tahu kalau Alva sedang berada tepat dibelakangnya.
Abigail menggelengkan kepala.
"Lantas, kamu mau minta apa?" Abigail tak menyahut, "Ya sudah sana bermain dengan adik-adikmu," ujar Sherly seraya mengenakan kacamatanya kembali.
Abi berlari menuju saudaranya yang lain.
"Adik-adik, lihatlah pria yang bersama dengan ibu sekarang!" perintah Abigail pada adik-adiknya.
Boman, Charles, Dave dan Ethan bersamaan membuka kacamatanya, mereka kompak menoleh ke arah di mana Sherly berjemur.
"Ayah," seru mereka berempat.
Mereka segera keluar dari timbunan pasir.
"Sssttt ..., kita jangan berisik dulu, biarkan ayah dan ibu berbicara!" tahan Abigail memperingatkan mereka. Mereka pun patuh dengan perkataan sang abang.
"Sherly," panggil Alvarendra membuat dia sontak berdiri.
"Presdir, bagaimana bisa kamu berada di sini?" tanya Sherly dengan wajah kaget, dia melepas kacamatanya dan menggosok kedua matanya, kalau saja ini mimpi.
"Pletak ..."
"Berani sekali kamu tak jujur padaku!" Jari Alva berhasil menyentil dahi yang mulus itu.
"Aduh, sakit Presdir!" gerutu Sherly seraya mengusap kasar dahinya.
"Tentang apa? Bukankah ini hari libur, aku ingin bersenang -senang dengan pandawa kecilku." Sherly tak sadar dengan apa yang baru saja ia katakan, sontak menutup mulutnya sambil membulatkan lebar -lebar kedua bola matanya.
"Nah, ketahuan kan?" Alva menyunggingkan senyum.
"Tidak, tidak maksudku ..." Sherly bingung untuk menyangkal.
Alva menoleh ke arah pandawa seraya melambaikan tangan. Dia tak menghiraukan Sherly yang sibuk dengan pikirannya. Para pandawa berlarian menuju Alva.
"Ayah!" seru mereka bersamaan.
Alva merentangkan tangan menyambut pandawa.
"Kemarilah bocah kecil kembar lima!" ujar Alva.
Sherly membelalakkan matanya hampir mau lepas saja.
"Presdir, bagaimana bisa mereka memanggilmu dengan sebutan 'ayah'?"
Alva masih juga tak menggubrisnya. Dia tengah menikmati pelukan hangat dari para pandawa.
"Haciu, haciu, haciu," suara bersin Alva ketika berpelukan dengan keempat putranya yang baru saja keluar dari timbunan pasir. Alva berjalan mundur secara perlahan.
"Maaf, ayah kalian tidak suka dengan sesuatu yang kotor." terangnya membuat para pandawa menatapnya heran.
"Presdir, aku belum selesai bicara tadi." Sherly menatap Alva. Alva mengibaskan pasir yang melekat di kaosnya. Dirasa sudah bersih dia memperhatikan Sherly.
"Mereka berlima anakku kan?"
Deg.
"Me-mereka ... "
"Kamu semalam main pergi saja tanpa berpamitan padaku. Padahal kamu berhutang penjelasan padaku."
"Penjelasan apa?" Sherly jadi bingung sendiri, niat hati ingin membalas sakit hatinya namun semua sirna begitu saja.
"Peristiwa 6 tahun yang lalu, kita telah melakukan itu. Dan kamu pasti hamil anakku. Saat kamu keluar dari kamar terkutuk itu, aku melihat sendiri bercak darah di seprei, siapa lagi kalau bukan milikmu." terang Alva mengingat masa lalu.
Sherly masih terdiam dengan berbagai sangkaan.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu tak perlu berbohong lagi."
"Sebentar Presdir, lalu bagaimana kamu bisa tahu kalau aku sedang berada di sini?" tanya Sherly yang masih penasaran dengan kedatangannya.
"Aku kan genius, tentu saja aku tahu." ujar Alva sombong.
"Genius dilihat dari mana? Dari ujung sedotan?"
"Pletak ...!" lagi Alva menyentil dahinya, pandawa kecil cekikikan melihat aksi ayahnya.
"Presdir, sakit tahu!" Sherly mengelus bekas sentilan, seraya bersungut -sungut ingin memakinya. Dirasa sikapnya tak pantas dilihat pandawa, Sherly mengurungkan niatnya.
"Ayo ikut aku!" Alva begitu saja menarik tangannya. Sherly sebisa mungkin menepisnya namun sia-sia, tenaganya kalah banding.
"Kalian berlima tunggu di sini, ayah ingin meminjam ibu kalian 5 menit saja." terang Alva pada Pandawa agar mereka tak menaruh prasangka buruk padanya.
"Lepaskan tanganku, lepas ...!" Sherly berusaha melepaskan tangannya.
"Sudah diam dan ikut aku!"
"Dasar tukang pemaksa!" umpat Sherly yang akhirnya menurut saja.
Kini mereka hanya berdua. Alva merogoh saku mengambil ponselnya. Dia menghubungi para pengawalnya untuk menghentikan pencarian pandawa. Lalu memasukkan kembali ponselnya.
"Sherly, jawab aku dengan jujur!" Alva menatap tajam kedua matanya.
"Tergantung,"
"Apa maksud kamu dengan kata tergantung ?"
"Ya tergantung dari pertanyaan kamu," Sherly memainkan bola matanya ke sembarang arah, sudah terasa pedas rasanya. Bisa saja segera turun hujan di tempat itu, sebisa mungkin ia menahannya. Dia tahu arah pembicaraan yang bakal ia dengar
"Mereka berlima benar kan anak ku?" Alva kini perasaannya harap-harap cemas, dia meraih kedua tangan wanita yang sudah tak membuatnya alergi.
"Ku mohon katakan padaku kalau mereka adalah darah dagingku!" Sherly masih tetap diam mendengarnya.
"Terus apa yang akan kamu perbuat setelah tahu jika mereka anak kamu?" Sherly bukannya menjawab dia balik bertanya.
"Aku akan membawa mereka." sahut Alva mantap.
"Tidak, kamu tak boleh membawa mereka begitu saja!" Sherly menarik tangannya dari dekapan Alva.
"Sudah 6 tahun aku merawat mereka dan kini dengan mudahnya kamu memintanya. Aku tak suka dengan caramu yang suka memaksakan kehendak sendiri." Sherly tak kuat lagi membendung air matanya.
"Tunggu, aku belum selesai!" Alva menjadi miris melihatnya menangis, dia mencoba menghapus air mata itu, tapi lagi, Sherly menepisnya kasar. Alva menyadari sikap ibu dari anak-anaknya itu, memang dialah yang keliru caranya untuk bisa mendapatkan mereka.
"Beri kesempatan padaku untuk bertanggung jawab atas semua yang telah kamu alami. Kamu sudah mengandung dan membesarkan mereka. Itu bukan hal yang mudah."
"Tentu sudah banyak biaya yang kamu keluarkan untuk mereka." pemikiran Alva searah dengannya, awalnya Sherly akan menuntut ini itu, tapi terkesan matre dia pun diam saja tak mengungkitnya.
"Kamu tahu Presdir, sakit batinku, aku sakit, mereka di luar sana mencemooh ku, menghina ku dan bahkan karena aku hamil aku di usir keluargaku. "
"Tak sampai di situ, hingga aku melahirkan mereka di luar negeri untuk bisa melupakan kejadian waktu itu. Hampir setiap malam aku berdoa agar selalu kuat menjalani hidup, membesarkan mereka dengan kemampuan ku sendiri."
"Dan setelah aku kembali, kamu dengan mudahnya meminta mereka. Oo, aku tahu sekarang kamu ingin hidup dengan mereka tentu bersama dengan kekasihmu semalam kan, iya kan?"
Akhirnya keluh kesahnya bisa lolos dari mulutnya. Sherly mengusap kasar air mata di pipinya. Sementara Alva mendengarkan dengan setia semua perkataan tanpa menyelanya.
"Kekasih mana yang kamu maksud?" tanya Alva mencoba menyelidik apakah Sherly cemburu? Dan jika Sherly cemburu itu hal bagus yang Alva harapkan. Berarti tak hanya dia yang punya rasa, Sherly juga.
Sherly tak mampu berkata lagi, dia masih sesenggukan.
"Kenzi Adefa maksud kamu? Aku sudah memutuskan hubungan dengan dia." terang Alva membuat Sherly kaget. Bukannya senang dia malah marah.
"Sungguh keterlaluan kamu Presdir, kamu hobi sekali menyakiti perasaan wanita."
"Seharusnya kamu bersyukur aku bisa berpisah dengannya."
"Ini adalah contoh yang buruk, bagaimana setelah kamu putus dengan kekasihmu, dia malah menuduhku aku yang merebut kamu dari dirinya." Sherly kini mulai reda tangisannya.
"Pletak ..."
__ADS_1
"Aduh, sakit!" Sherly mengusap dahinya.
"Itu agar otak kamu sadar," sahut Alva tanpa rasa bersalah selalu menjadikan dahinya sebagai sasaran.
"Kita kembali ke pokok pembicaraan, beri aku kesempatan untuk semua yang telah kamu alami!"
"Tidak semudah itu Presdir, baik aku akan memberikan kamu kesempatan dengan satu syarat!" Sherly menunjukkan jari telunjuknya tepat di depan wajahnya.
Alva tersenyum lebar, apa pun akan dia lakukan untuk mendapatkan kelima bocah kecil itu.
"Kita taruhan!" Sherly mengatakannya dengan tegas. Dia rela memberikan pandawa pada ayah biologisnya.
"Taruhan, aku tak salah mendengarnya?"
"Katakan saja, apa pun akan aku berikan padamu, emas, berlian, rumah mewah atau istana sekali pun."
"Aku bukan wanita materialistis." Sherly mendengus kesal.
"Aku tantang Presdir untuk berlomba renang denganku!" Sherly tahu kalau Alva tak bisa berenang.
Alva membelalakkan kedua matanya.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, berenang bukanlah hal yang mudah aku lakukan." Alva mulai bergetar tubuhnya, dia jujur sangat takut dengan apa pun yang berkaitan dengan renang.
"Be-berenang?" Alva kikuk untuk berkata lagi.
"Apa Presdir takut? Ya sudah kalau begitu, aku menang secara sepihak sekarang!" Sherly membalikkan badannya dan mulai melangkah meninggalkan Alva yang tampak seperti patung.
Sherly menuju ke pandawa yang sedari tadi menunggunya.
"Tunggu!" teriak Alva lalu berjalan mendekati Sherly.
Sherly membalikkan badannya. Dengan ekspresi santai Sherly siap menerima kekalahan pria yang 9 tahun lebih tua darinya.
"Aku terima tantangan mu." terang Alva tanpa terlihat keraguan lagi.
Sherly hanya mampu menatapnya, dia sendiri gelagapan dibuatnya.
"Kamu serius Presdir?" tanya Sherly tak percaya.
"Seribu rius malahan. Kapan kita akan bertanding? Aku siap meladenimu!" Alva tak terlihat seperti tadi yang kikuk, dia malah terlihat santai tanpa beban pikiran.
"Bagus kalau begitu, satu minggu dari sekarang." usul Sherly yang langsung mendapat anggukan dari Alvarendra.
"Kamu pasti kalah presdir, aku tahu kamu tak bisa secepat kilat mempelajari tehnik berenang yang bahkan sama sekali tak bisa kamu lakukan." batin Sherly.
Alva menghampiri pandawa.
"Kalian semua, bersediakah untuk tinggal bersamaku?" tanya Alva sambil menatap mereka satu per satu.
"Ya Tuhan, wajah mereka sangat menggemaskan, nyesel aku baru tahu kehadiran makhluk Tuhan yang begitu sempurna ini. Mereka terlihat sama, bahkan aku tak bisa membedakan anak mana yang sudah aku temui beberapa hari lalu." Alva mencubit gemas pipi mereka.
"Apakah kami akan tinggal bersama-sama?" tanya Abi.
"Tentu," sahut Alva sembari tersenyum.
"Hore, kita sekarang punya ayah!" seru pandawa. Mereka berlima bergandengan tangan membentuk lingkaran seraya bersorak ria.
"Apa kita juga tinggal bersama ibu?" Ethan berjalan mendekati Alva. Alva membungkukkan badan mendekatkan wajahnya.
"Tentu saja, ayah kalian sedang mempersiapkan kejutan untuk ibu kalian." bisik Alva dengan senyuman penuh kemenangan.
Boman mendekatkan dirinya. Alva kini beralih duduk dengan lutut sebagai tumpuan.
"Ayah, boleh aku memanggil begitu?"
"Tentu Nak! Siapa namamu? Maaf hafalan ayah mengenai wajah kalian belum begitu baik. Tapi jangan khawatir, ayah akan menghafal nama dan wajah kalian satu persatu."
"Aku Boman," Boman langsung memeluk tubuh Alva, dan semakin mengeratkan pelukannya. Dia tak mempedulikan ayahnya yang kini bersin -bersin.
Alva melepaskan pelukan Boman dan sontak berdiri.
__ADS_1
"Kalian cepatlah mandi, hari sudah siang. Kita akan segera makan siang." Sherly mendekati mereka, sesekali juga memperhatikan Alva yang masih bersin-bersin. Sesekali dia merasa kasihan dengan keadaan Alva.