Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Rencana Balas Dendam


__ADS_3

Pagi ini semua orang yang ada di kediaman Andreas tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Andreas tengah merawat tanaman bunga milik mendiang istrinya dulu. Dia menyiram semua bunga yang ada di sana. Sengaja dia melakukan itu sendiri, sekedar melonggarkan otot dan persendian. Meski ada tukang kebun yang bisa ia suruh, tapi dia lebih memilih untuk melakukannya sendiri.


Antonio masih berkutat dengan berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Dia tengah menempel perangko dan menyetempel berkas yang akan ia kumpulkan.


Alva masih enggan untuk bangun. Meski Sherly sejak subuh tadi sudah membangunkannya. Sherly mendekati Alva yang ternyata masih memejamkan mata.


"Mas, bangun, sudah pagi!" Sherly mentowel-towel pipinya. Yang dibangunkan hanya menggeliat saja.


"Ayo Mas, bangun! Ih, Mas Alva kok jadi pemalas begini." Gerutunya.


Alva dengan cepat menarik tubuh istrinya hingga berada dalam pelukannya.


"Aw, Mas Alva, lepaskan!"


"Aku akan bangun setelah aku minta jatahku." bisiknya menggoda di telinga Sherly.


Seketika Sherly membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Jatah Mas, hanya ada di malam hari." sahut Sherly dengan segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang putih mulus.


Alva malah semakin geregetan, dia memaksakan cium di wajah istrinya, Sherly semakin geli dibuatnya.


"Sudah Mas, ih geli ...!" pekiknya seraya mendorong tubuh Alva. Tubuh yang kekar itu akhirnya berhasil menguasai tubuh istrinya. Alva sudah tak tahan lagi.


"Mas minta jatah yang semalam." ujar Alva terdengar perintah bukan permintaan. Semalam Alva terlalu kenyang hingga akhirnya dia lupa tak minta jatah.


"Tapi Mas, ini udah siang lo ..." Sherly mencoba menahannya.


"Nggak apa -apa, bentar saja ya!" ujarnya lagi seraya mengusap lembut rambut Sherly yang hitam legam.


"Iya deh," sahutnya malu-malu mau.


Sementara di kamar pandawa yang gedenya selapangan itu tengah terjadi kejar-kejaran antara pelayan dan pandawa.


"Tuan muda Ethan, ayo mandi!" teriak pelayan.


"Nanti," tolak Ethan seraya berlari muter-muter.


"Tuan muda Dave, ayo saya olesi minyak kayu putih dulu perutnya!" pinta pelayan seraya menyodorkan sekotak peralatan seperti bedak, sisir, parfum dan sebagainya.


"Bentar aku masih mau mainan ini!" sahut Dave sambil memainkan helikopter mini. Dia masih mengenakan handuk yang melilit di pinggang mungilnya.


"Tuan muda Charles, sini saya sisir dulu rambutnya!" ujar pelayan rada takut terkena pukulan Charles.


"Aku masih mau latihan dulu!" tolak Charles seraya melakukan salto depan dan belakang.


"Tuan muda Boman, apa ini juga dimasukkan ke dalam tas?" tanya pelayan seraya menunjukkan laptop miliknya.


"Iya, itu barang berhargaku!" sahut Boman sambil masih mengutak-atik mainan barunya.


"Tuan muda Abi, kamu terlihat ganteng dan imut sekali!" puji pelayan tak jemu -jemu memandangnya, pelayan itu menyisir rambut dan menyemprotkan parfum pada tubuhnya.


"Tentu saja, sekarang aku sudah rapi, adik-adik cepatlah!" pinta Abi tatkala melihat tingkah adiknya yang belum siap untuk berangkat sekolah.


Entah mengapa setiap yang memerintah si abang pasti dilakukan. Boman, Charles, Dave dan Ethan kini sudah rapi sejak seperempat jam yang lalu. Mereka sudah siap, hanya tinggal untuk sarapan saja.


"Pandawa, kalian keren banget pakai seragam itu. Kenapa nggak dari dulu saja, kalian memakainya," ujar Sherly yang kini memilih tempat duduk paling ujung. Meja makan itu berbentuk persegi panjang, sengaja Sherly duduk di sana untuk menjaga jarak dengan Toni sesuai anjuran Alva.


Alva yang baru menuruni tangga segera duduk di dekat Sherly.


Tak begitu lama, Andreas dan Antonio keluar hampir bersamaan menuju meja makan.

__ADS_1


"Kalian mau berangkat sekolah?" sapa Andreas seraya menamatkan wajah mereka satu persatu. Dengan penampilan seperti ini, jelas pandawa sulit dibedakan karena wajah mereka satu.


"Iya Kakek," sahut pandawa kompak.


"Wah, senangnya masuk sekolah!" seru Antonio seraya menarik kursi.


"Sebenarnya kami sudah pernah kuliah Paman, hanya saja kami disuruh Ayah Alva untuk mengulang dari tingkat dasar." jujur Charles seraya menampilkan senyum yang dipaksakan.


"Kuliah?" tanya Antonio terhenyak kaget. Semua pandawa hanya tersenyum saja menanggapi respon pamannya.


Mereka tak banyak bicara dalam suasana sarapan itu. Setelah selesai, Andreas kembali berkebun, Antonio segera meluncurkan mobilnya menuju lapangan, Sherly dan Alva kini satu mobil menuju kantor, pandawa berangkat sekolah diantar sopir dengan mengendarai mobil yang lain.


Sesampainya di sekolah.


Sebelum ke kantor, Alva dan Sherly menyempatkan untuk mengantar pandawa di hari pertama mereka sekolah di Taman Kanak-Kanak Tunas Bangsa.


"Ayah dan Ibu tidak perlu repot-repot mengantar kami. Kami bisa jaga diri kok." ujar Abi yang baru turun dari mobil dan diikuti saudaranya yang lain.


Sherly dan Alva berdiri dengan saling pandang. Tampak berpikir dengan respon si abang.


"Abi, ayah dan ibu akan mengantar kalian sampai di depan pintu kelas." ujar Alva seraya menggiring mereka masuk ke lingkungan sekolah. Pandawa berjalan berjajar sehingga menampilkan kesan yang memukau. Para wali murid yang lain saling berbisik tatkala menyaksikan pandawa yang melintasi mereka.


Alva bertemu dengan gurunya di waktu kecil. Semua guru kagum dengan ketampanan pandawa. Selesai mengantar pandawa, Alva dan Sherly bergegas menuju kantor.


Sesampainya di kantor.


"Nyonya Sherly, ini ada bingkisan untuk Anda," ujar Lia seraya menyerahkan bingkisan bewarna ping.


"Dari siapa?" gumamnya.


"Tadi sebelum Anda datang, seorang kurir menitipkan pada saya."


"Ya sudah kalau begitu, terima kasih Lia." Sherly segera memasukkan bingkisan kecil itu ke dalam tasnya. Dia khawatir kalau Alva akan curiga, sebelum dia tahu apa dulu isi bingkisan tersebut.


"Presdir, jadwal kita pagi ini adalah pertemuan dari perusahaan Echelon, mereka menawarkan kerjasama." terang Sherly seraya membaca notebook miliknya yang baru saja ia keluarkan.


"Ya, siapkan berkas untukku!" Alva segera berdiri dari kursi kebesarannya mendekati Sherly yang tengah sibuk mencatat.


Muah...


Ciuman hangat mendarat di pipinya.


"Presdir Alva, ingat ini kantor, jaga sikapmu!" bisik Sherly seraya mengusap kasar pipinya.


"Kamu terlalu menggemaskan," bisik Alva dan segera berlalu meninggalkan ruangan, Sherly segera menyiapkan berkas setelah itu mengikuti jejak Alva.


Sherly kini pulang lebih awal, sementara Alva masih ada meeting.


Dia teringat bingkisan berwarna ping tadi. Dengan cepat Sherly mengeluarkan bingkisan itu.


"Selai kacang?" Sherly tahu siapa pengirimnya, menebak seseorang itu membuat dia teringat dengan ponselnya, membuka galeri dan mencari sesuatu di sana. Setelah ketemu apa yang dicari, dia pergi ke sebuah percetakan. Mencetak beberapa lembar foto berukuran 5 R.


.


Ting Tong....


"Iya sebentar!" teriak Imel dari dalam rumah. Dia segera membuka pintu, mencari sosok tamunya.


"Aneh, nggak ada siapa -siapa di luar." Imel hendak membalikkan tubuhnya, langkahnya terhenti ketika dia melihat sebuah amplop cokelat tergeletak di bawah kakinya.


"Apa ini?" dia membungkukkan badan memungut benda itu.

__ADS_1


"Siapa pengirimnya?" Imel celingukan mencari sosok namun yang dicari tak ada. Imel segera masuk untuk mengetahui isi amplop tersebut.


"Ini!" kagetnya bukan main setelah mengetahui 3 lembar foto. Darahnya terasa mendidih.


Imel memasukkan kembali foto itu ke dalam amplop coklat. Dia meraih tas kecil, tak lupa pula memasukkan benda yang baru saja ia temukan tadi. Dia segera mengendarai mobilnya dan berhenti di sebuah cafe.


Masuk dan mencari seseorang.


"Wendy, aku ingin bicara sekarang!" teriak Imel emosi seraya mencekal lengan pria yang tengah sibuk bekerja.


"Aku sedang sibuk!" bentak Wendy sambil mengibaskan tangan, tangan satunya membawa nampan berisi gelas kosong.


"Wendy, layani tamunya dengan baik!" perintah si manajer tatkala melihat Imel.


"Iya Pak," sahut Wendy dengan menganggukkan kepala.


Setelah si manager pergi, Wendy meletakkan nampan di meja yang ada di sebelahnya, dia mendudukan dengan kasar istrinya.


"Ada apa lagi, Mel? Kamu kehabisan uang lagi untuk belanja, hah!" Wendy tersulut emosi juga melihat kedatangan Imel.


Tanpa menyahut Imel mengeluarkan isi di dalam amplop cokelat.


"Apa maksud semua ini? Kamu selingkuh!" Imel mulai berkaca-kaca.


Wendy mengamati foto dia dan Sherly.


"Ini foto aku dan dia saat berada di cafe," batinnya.


"Kalau benar memangnya kenapa?" ujar Wendy tanpa mempedulikan perasaan Imel.


"Kamu tega, pernikahan kita sudah lima tahun lamanya, dan kamu mengkhianati pernikahan kita dengan selingkuh dengan adik tiriku!"


"Dia adik tiri kamu!" Wendy belum percaya.


"Iya, dan kamu tahu dia itu siapa? Dia wanita yang sudah pernah hamil." terang Imel berharap Wendy bisa melupakan Sherly.


Wendy tampak terdiam.


"Aku nggak peduli dengan masa lalunya, bagiku dia adalah wanita yang luar biasa." ujar Wendy kemudian.


"Plak ...." satu tamparan mendarat di pipinya.


"Sadar Wen, dia perusak rumah tangga kita! Dan sejak kapan kamu bisa mengenal dia?"


Wendy tahu itu salah, tapi dia terlanjur jatuh hati dengan kehebatan Sherly waktu pertama kali melihatnya menjadi interpreter di perusahaan dulu dia bekerja.


"Aku tak peduli dengan semua omonganmu." Wendy hendak berdiri.


"Jadi, selama ini kamu senyum -senyum sendiri karena mengingat dia!"


"Kamu sudah tahu, jadi mau kamu apa? Cerai?" seulas perkataan Wendy menyayat hati.


"Enggak, sampai kapan pun aku tak mau berpisah denganmu!" teriak Imel histeris seraya mengusap kasar pipinya yang telah basah.


Wendy tak mempedulikan lagi Imel, dia segera pergi untuk bekerja.


Imel segera pulang, sesampainya di rumah dia mencari Anita.


"Ma, Sherly sudah keterlaluan. Bisa-bisanya dia merebut Wendy dariku. Selama dia masih hidup, aku tak bisa tenang Ma. Dulu papa yang terlalu perhatian padanya dan setelah papa meninggal, ganti suamiku yang perhatian padanya." terang Imel.


"Sherly, sejak kapan dia berani seperti itu?" Anita tampak geram juga.

__ADS_1


"Aku akan melenyapkan dia Ma." Imel segera ke luar lagi membawa mobil.


Anita meneriaki namanya, namun tak dihiraukan.


__ADS_2