Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Pandawa Kangen Ayah


__ADS_3

Selesai makan siang Sherly ingin rebahan di kamarnya. Baru saja dia akan memejamkan matanya, mendadak ponselnya di atas nakas berdering. Dia segera mengangkat panggilan itu yang ternyata dari pihak kepolisian.


"Sherly, tolong bantu mama, mama tidak mau berada di penjara!" ujar Anita dari seberang sana.


"Mama, bagaimana bisa mama berada dipenjara?" Sherly segera bangkit dan tak percaya mendengar perkataan mamanya.


Anita menjelaskan secara detail bagaimana dia bisa dipenjara.


Miris juga Sherly mendengar keluh kesah ibu tirinya itu.


Setelah panggilan berakhir, dia kembali merebahkan tubuhnya seraya menatap langit - langit kamarnya. Melemparkan ponsel asal saja di atas kasur.


"Itu mungkin balasan yang setimpal untuknya, akhirnya aku mengetahui juga kebusukan hati mama, dia hanya berpura - pura baik padaku. Dan malah memanfaatkan pandawa untuk kepentingan pribadinya. Semoga dengan hukuman yang ia terima dapat merubah sikapnya."


"Lalu, bagaimana dengan bi Kah? Ah, mungkin dia juga berpikiran sama denganku. Merasakan kebebasan yang mutlak."


"Di rumah ini, banyak pembantu. Tidak mungkin juga aku membawa bi Kah tinggal di sini. Dia sudah aku anggap sebagai ibuku, biarlah untuk sementara dia tinggal sendirian di sana."


"Aku harus lebih fokus pada permasalahan kak Kenzi dengan kak Antonio, secepatnya dua makhluk itu harus segera menikah sebelum kandungannya semakin membesar."


"Tapi, bagaimana caranya ya?" Sherly memijat pelipisnya seraya berpikir keras seolah ia sedang mengerjakan materi trigonometri.


"Aha, aku punya ide!" serunya seraya bangkit dan mencari ponselnya yang ia lempar asal tadi.


.


Pukul 16.00


Pandawa sedang berada di kamar, mereka tengah asyik bermain.


"Ibu, aku kangen sama ayah!" rengek Boman kala mengingat mainan yang tengah ia mainkan pemberian ayahnya.


"Aku juga!" seru yang lain.


"Sabar ya Pandawa kecilku, coba kita video call sama ayah, siapa tahu ayah kalian sedang tak sibuk!" ujar Sherly. Pandawa antusias mengangguk senang.


Sherly kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya di atas nakas dan mencari kontak ayah pandawa. Dia kembali ke kamar pandawa dan duduk di antara mereka. Mereka berebut berada di dekat Sherly mencari tempat agar bisa melihat wajah ayahnya.


Panggilan sedang dialihkan, Sherly mencoba berulang kali namun tetap gagal.


"Yah, nomor ayah kalian tak bisa dihubungi!" Sherly menekan tombol merah seraya berdecak.


"Yah," desah para pandawa.


"Mungkin jaringan sinyalnya buruk, kita coba nanti saja ya," Sherly mencoba menghibur pandawa, mereka terlihat cemberut.


"Aku maunya sekarang, Bu!" rengek Boman lagi.


"Mau bagaimana lagi, ibu akan mencobanya nanti, bagaimana kalau kita bikin kue?" Melirik Boman yang masih cemberut.

__ADS_1


"Aku mau!" seru pandawa kecuali Boman, dia terlihat muram seraya bersendekap.


"Siapa yang lebih dulu sampai ke dapur dia yang pertama memakan kuenya!" seru Sherly agar Boman tertarik. Dan benar saja, usaha menghibur Boman berhasil. Boman berlarian mengikuti saudaranya yang lain menuju dapur.


Sebelum menuju ke dapur, Sherly mengirim pesan singkat untuk Alva.


[ Mas Alva, pandawa kecil kita kangen sama kamu, jika ada waktu luang sempatkan ngobrol dengan mereka. Jaga kesehatan dan jangan lupa mimpikan aku malam ini ]


Saat di dapur.


"Ada apa Tuan Pandawa?" tanya bi Tinuk yang sedang mencuci sawi seraya menengok siapa yang datang.


Pandawa berjejer mendongakkan kepala menatap bi Tinuk.


"Duh, ganteng banget kalian! Kalian mau bantu bibi masak?" tukasnya seraya meletakkan sawi di atas telenan, tangan kanannya memegang pisau.


Pandawa kompak menggeleng.


"Terus, kalian ke dapur mau ngapain?" Mulai memotong sawi.


"Mau bikin kue," sahut Abi.


"Kue, tapi bibi masih repot, mau masak dulu buat makan malam nanti,"


"Siapa juga yang mau kue bikinan Bibi?" imbuh Boman.


"Tuh, Tuan muda Dave saja tahu,"


Selesai memotong sawi, bi Tinuk membuka pintu kulkas untuk mengambil telur yang tersedia di baskom. Tiba - tiba saja kakinya keserimpet kain dan jatuh, telur yang ia bawa sontak melayang ke udara. Charles melakukan salto ke depan lalu melompat untuk menangkap sepuluh telur dengan baskom.


"Hati - hati, Bi!" ujar Charles seraya meletakkan telur tersebut di atas meja.


Sherly yang baru datang segera membantu bi Tinuk untuk berdiri.


"Terima kasih Nyonya!" bi Tinuk membenahi kainnya.


"Bibi kenapa sampai jatuh begini, ada yang sakit?" tanya Sherly.


"Enggak kok, cuman tadi bibi kurang hati - hati dan semua telur hampir pecah, untung saja ada tuan muda Charles." Menatap Charles.


"Terima kasih Tuan muda Charles, Tuan muda hebat! Masih kecil sudah bisa salto, coba saja tadi kalau Tuan muda Charles tak segera menangkap semua telur itu. Bibi nggak bakal jadi buat pizza mie nanti." ujar bi Tinuk.


"Sama - sama Bibi," sahut Charles seraya menyunggingkan senyum kecilnya.


"Bibi tadi terjatuh pasti sakit, aku pijit ya?" tawar Ethan.


"Enggak usah Tuan muda Ethan, terima kasih, bibi baik - baik saja kok!" Melambaikan tangan.


"Aku dan anak - anak mau bikin kue putu ayu, ada Bi, bahan - bahannya?" Mengedarkan pandangan.

__ADS_1


"Ada Nyonya, sebentar saya ambilkan!" bi Tinuk hendak pergi.


"Eh, enggak usah, Bi Tinuk tinggal kasih tahu saja dimana menyimpannya, aku akan ambil sendiri!" Sherly menahan langkahnya.


"Enggak apa - apa Nyonya!"


"Sudah, biar aku ambil sendiri!"


"Di sana!" bi Kah menunjukkan jarinya di laci lemari paling atas.


"Bi Tinuk lanjutkan saja memasaknya," Sherly segera mengambil kursi sebagai pijakan karena tempatnya yang agak tinggi.


Bi Tinuk melanjutkan memasak.


Pandawa mengekor ibunya.


"Hati - hati, Ibu!" ujar pandawa kompak seraya mendongak menyaksikan ibunya mencari bahan kue.


Semua bahan yang dicari sudah lengkap, perlahan Sherly turun.


"Argh ... " pekiknya saat kursi yang ia pijak oleng.


"Hap!"


"Kamu enggak apa - apa kan?" Antonio berhasil menangkap tubuh Sherly.


"Enggak Kak, maaf, turunkan aku!" ujar Sherly yang tampak malu saat dia berada dalam gendongan buaya darat.


Perlahan Antonio menurunkan Sherly.


"Kamu sedang apa, naik kursi segala?" tanyanya kepo.


"Ibu akan membuat kue untuk kami," ujar Abi yang tak suka dengan kedatangannya.


"Ooo, jadi kalian berlima menyuruh ibu kalian untuk naik ke atas kursi? Kalau terjadi apa - apa bagaimana tadi ?" ucap Antonio geram.


"Aku sendiri kok yang memutuskan untuk naik, terima kasih Kak dan jangan salahkan mereka !" ujar Sherly sedikit meninggikan suaranya.


"Paman jangan ganggu ibuku!" Charles menyodorkan tinju.


"Hai, siapa yang mengganggu ? Paman sudah menolong ibu kalian, bayangkan saja jika tidak ada paman tadi, ibu kalian ... "


"Sudah - sudah, ayo kita lanjutkan bikin kue nya!" Sherly menghentikan perdebatan mereka.


"Permisi Kak!" Sherly melewati Antonio yang menghalangi jalannya. Antonio menggeser tubuhnya memberikan jalan untuk Sherly.


Saat pandawa melewati Antonio, mereka kompak menjulurkan lidah mengejeknya.


"Mereka sudah berani padaku, ini tidak bisa dibiarkan, aku akan membalas kalian !" omel Antoni seraya mengikuti mereka.

__ADS_1


__ADS_2