
Sang mentari menyapa pagi hari dengan senyumannya yang sangat mengagumkan hati. Burung-burung bertebaran saling bertegur sapa satu sama lain. Sungguh indah didengar.
Keluarga Alvarendra kini tengah sibuk mempersiapkan acara kecil, menyambut hari ulang tahun duo baby yang kini menginjak usia 2 tahun.
Salwa dan Khalwa sudah pintar berjalan semenjak 5 bulan yang lalu. Dan cara bicaranya pun sungguh menggemaskan.
"Atah -Atah, Alwa mau baloon itu!" celoteh Salwa saat Alva menggendongnya. Ujung jari mungilnya menunjuk ke arah balon yang tengah ditiup oleh pandawa.
"Salwa mau balon? Bentar ya, ayah tiup dulu," Salwa mengangguk paham dengan perkataan ayahnya. Alva menurunkan dia dan berjalan mendekati pandawa.
Melirik satu balon yang sudah jadi, ia pikir tak perlu susah payah meniupnya, "Charles, boleh ayah minta satu?" izin nya.
Charles menoleh dan mengangguk, "Silahkan Ayah!" Charles mengulurkan tangan memberikan balon berwarna biru.
Alva menerima, "Terima kasih!"
Belum sampai Alva memegangi balon, Khalwa sudah berada tepat di bawah kakinya dan hampir saja tersandung.
"Khalwa!" pekik Alva dan segera mengangkat tubuh mungil itu.
"Atah, aku mau balun!" rengek Khalwa, kedua tangannya menggapai balon di tangan Alva yang lain.
"Khalwa juga mau balon? Bentar ya, ayah minta kan ke kakak pandawa,"
Alva menoleh ke arah pandawa dan saat itu juga Khalwa merengek minta balon di tangan ayahnya.
"Khalwa sabar dulu ya, ini balon untuk Salwa,"
Mendengar itu, Khalwa langsung menangis. Alva jadi bingung.
Abi datang dan tahu masalah ayahnya, "Ini Ayah, aku kasih satu balon!"
Alva menoleh dan tersenyum, "Terima kasih Abang Abi!" Alva menerima pemberian Abi.
Alva memberikan balon itu ke Salwa, kedua anak kembar itu bermain balon bersama.
Karena sangking gemasnya, Khalwa menekan terlalu kuat balon miliknya yang menyebabkan balon itu meletus. Ia kaget lalu menangis.
Mendengar suara letusan balon, Sherly yang tengah sibuk mempersiapkan kue di dapur segera menghampiri sumber suara.
Melihat Khalwa menangis, ia segera menggendong nya, "Kenapa si cantik menangis? Entar cantik nya hilang loh," Sherly mengusap pipi.
__ADS_1
Khalwa masih sesenggukan dan semakin meninggi tangisannya.
Alva mendekat sambil membawa balon yang lain, "Sudah, jangan nangis! Nih, ayah kasih lagi!"
Seketika itu juga, Khalwa terdiam. Menerima balon dan bermain lagi dengan kembaran nya.
***
Semua balon sudah siap, begitu juga kue ulang tahun untuk duo princess.
Sherly meletakkan kue ulang tahun itu di atas meja dan segera bergabung dengna yang lain.
"Ini topi untuk Ibu!" seru Ethan sembari memberikan topi kerucut.
"Terima kasih!" ujar Sherly seraya mengenakan topi itu.
Tidak ada tamu undangan, kecuali keluarga Kenzy dan Wendy, dan tentu saja tante Ratna yang cantik ikut serta dalam acara itu.
Lagu ulang tahun sudah dinyanyikan dan saatnya untuk meniup lilin. Setelah lilin ditiup oleh duo princess, mendadak malam itu mati lampu disertai hujan yang sangat lebat.
"Yah mati!" seru pandawa kecewa.
"Tenang, oma ada lampu senter di hp!" ujar Ratna menghibur. Sejak tadi Ratna memegang hp untuk mem video cucunya.
Betapa kagetnya seluruh orang yang berkumpul di sana.
"Khalwa! Salwa !"
Semua orang menyebut nama mereka.
Kemudian semua orang tertawa dengan ulah duo princess. Mereka ternyata sangat lapar hingga tak bisa menahan rasa lapar itu. Bagaimana tidak, kue yang sangat lembut dan susah payah di buat itu menjadi tidak karuan, duo princess telah memakan nya sebagian dengan dua tangan mungil mereka. Wajah mereka sedikit belepotan namun tetap lucu.
"Ya Tuhan, kuenya!" Charles tak terima jika ia makan kue bekas dari gigitan adik-adiknya.
"Enyyak ...!" seru Khalwa dan Salwa kompak sambil menjilati sisa kue di tangan mungil mereka.
Sherly menegur dengan lembut, "Yah kuenya sudah rusak dan tidak bisa di potong lagi! Kalian berdua sangat menyukai kue buatan ibu ya, tapi kasihan yang lainnya tidak bisa menikmati kue ini,"
Dave memajukan langkahnya dan berkata, "Tidak apa kok Bu, aku mau sisa dari adik,"
Begitu pula dengan pandawa yang lain berujar demikian. Begitu pula dengan Charles yang terpaksa mau juga.
__ADS_1
Alva melirik Wendy, "Gimana Wen, kamu mau sisa dari mereka?"
Wendy tersenyum, "Tak masalah, bagaimana pun bentuknya sudah tak seperti kue, yang pentingkan rasanya."
Wendy melirik dan mengusap bahu Kenzy, "Bagaimana denganmu Sayang?"
Kenzy menurunkan Kanza dari gendongan agar bergabung dengan duo princess, "Aku nggak masalah, lagi pula sisa anak bayi kan nggak begitu menjijikkan. Aku juga udah terbiasa menghabiskan makanan Kanza.
Alva berdehem, lalu meninggikan suaranya. "Baiklah, untuk semua saja yang hadir. Karena kuenya tidak bisa dipotong, kita mau tidak mau akan menikmati kue ini dengan apa adanya. Salwa dan Khalwa telah memakan kue itu terlebih dahulu. Maka dari itu, mari kita makan!"
Sherly juga angkat bicara, "Sepertinya, kuenya tidak terlalu rusak kok, dan masih bisa di potong di bagian ini!" Sherly menunjuk dan memperlihatkan pada semua orang.
"Ya, tidak apa-apa, potong saja sekarang, aku sudah lama tidak menikmati kue ulang tahun sejak 7 tahun terakhir ini!" ujar Ratna.
Sherly pun memotong kue itu dan membagikan ke semua orang.
Andreas berjalan perlahan sambil membawa kue di tangan, dia mendekati Ratna, "Sungguh, kue ini sangat lembut!"
Ratna menoleh, dan memuji Sherly. "Iya, aku merasakan juga begitu. Sherly memang pandai membuat kue."
"Bagaimana kalau dia membuka toko kue, pasti laris." Andreas memberi ide.
"Anda benar, selama aku tinggal di Jakarta belum pernah aku menikmati kue seenak ini."
Melihat kedekatan papanya dan Ratna, Alva berbisik ke arah Sherly. "Sayang, lihatlah para orang tua di sana!" Alva menunjuk mereka di pojok ruangan.
Sherly mengikuti telunjuk suaminya, "Mereka pasangan yang serasi."
"Apa kamu sepemikiran denganku?" Alva menebak apa yang di pikirkan istrinya.
Sherly mengangguk, "Bagaimana kalau kita menjodohkan mereka, apa kamu setuju Mas?"
"Papa sudah lama menduda, tentu saja aku setuju!"
Pandawa selesai menikmati kue yang lumer itu tergerak untuk mendekati ayah dan ibunya, "Ibu, kue buatan Ibu sungguh enak!" Ethan memuji ibunya.
Sherly tersenyum, "Tentu saja, ibu membuatnya dengan kekuatan cinta."
"Ayah, kenapa Ayah senyum -senyum sendiri?" tegur Dave.
Lamunan Alva buyar, dan menoleh ke arah Dave. "Tidak, hanya saja ayah kepikiran masa depan kakek kalian."
__ADS_1
"Masa depan?" pandawa saling pandang.
"Menurut kalian bagaimana, jika kakek kalian dijodohkan dengan oma Ratna?"