
Tak terasa kini usia kandungan Sherly menginjak 6 bulan, perutnya semakin membuncit dan berjalan pun agak susah. Setiap hari Alva tak pernah lepas dari pengawasannya perihal apa pun yang dilakukan Sherly.
Pagi itu saat Alva bersiap ke kantor.
"Sherly, apa yang kamu lakukan! Aku kira kamu sudah bersiap, hari ini jadwal kamu periksa ke dokter kan?" pekiknya saat memergoki istrinya tengah menyirami tanaman.
"Bentar Mas, nanggung nih," Sherly mengabaikannya dan masih terus menyirami bunga mawar yang beberapa hari lalu ia beli.
Karena tak kunjung beranjak meski Alva sudah mengingatkan, Alva dengan terpaksa mengangkat tubuh istrinya yang dua kali lebih berat dari tubuhnya.
"Kyaa ...! Malu Mas, turunkan aku!" teriaknya seraya menggerakkan kedua kakinya, Alva segera menurunkan karena hampir kehilangan keseimbangan.
"Makanya cepat, aku keburu ke kantor nih!" dengus Alva rada kesal.
"Kalau begitu Mas Alva ke kantor saja dulu, nanti aku bisa pergi sendiri ke dokter," ujar Sherly menyepelekan keseriusannya.
Alva melihat jam di pergelangan tangan. Lalu merogoh ponselnya.
"Hallo, Thomas, batalkan rapat pagi ini, aku ada kepentingan yang tak bisa ditunda!" ujar Alva setelah sambungan teleponnya terhubung dari arah seberang.
Mendengar itu Sherly langsung melotot.
"Jangan Mas Alva, kasihan klien Mas nanti, sudah jauh - jauh datang, malah batal rapatnya!" ujarnya seraya melambaikan tangan.
"Sherly, urusan mengantar kamu periksa itu lebih penting dari apa pun, dan sekarang aku akan menunggu kamu seperempat jam dari sekarang!"
"Seperempat jam? Jalanku saja kaya siput begini mana cukup waktunya," protes Sherly. Tanpa babibubebo lagi Alva dengan sigap mengangkat tubuh Sherly memasuki rumah dan menuju tangga. Meski Sherly meronta - ronta ingin lepas dari gendongan Alva, ia tetap menggendongnya.
Pandawa cekikikan melihat aksi ayahnya, mereka tengah turun dari lantai atas.
"Ayah tak sabaran juga," oceh Abigail.
"Aku juga mau dong digendong," goda Boman.
Alva hanya menampakkan deretan giginya yang putih dan segera berlalu dari pandawa. Pandawa segera berangkat sekolah diantar sopir.
Selesai mengganti baju Sherly segera menuruni tangga, sementara Alva setia menanti seraya berdiri menyilangkan tangan.
"Benar - benar seperti siput," rancaunya.
"Mas, aku pakai ini cocok ndak?" Sherly memperlihatkan penampilannya.
"Sudah, apa pun penampilan kamu pasti tetap cantik." ujar Alva tanpa melihat ke sumber suara.
Saat Alva membalikkan badan, "Sayang, pakaian apa yang kamu kenakan ini?" protes Alva saat melihat penampilannya.
"Semua bajuku tak ada yang muat, hanya ini satu - satunya yang berukuran pas di badan." terang Sherly seraya memegang ujung bahunya.
"Masa pergi ke rumah sakit pakai daster?"
"Hal wajar lah Mas, semua wanita hamil itu ya seperti ini pakaiannya. Malah dulu waktu hamil pandawa aku memakai daster jumbo, ukurannya pun tiga kali lebih besar dari yang aku kenakan ini."
Mendengar tuturan itu, Alva hanya menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Hehehe, begitu ya, tapi kok norak banget ya,"
"Bukannya norak Mas, tapi udah begini tampilannya,"
"Ya sudah, ayo kita berangkat!" ajak Alva seraya menggandeng tangannya.
"Tunggu Mas !"
"Apa lagi ...."
"Mereka bergerak!"
"Benarkah, aku ingin merasakan juga!" Alva segera mengambil alih ujung perut istri nya. Dia meraba dengan telaten.
"Mana, kamu bohong!" tuduh Alva karna tak merasakan apa - apa.
"Ngapain juga aku bohong, itu artinya mereka emang lagi nggak mood Mas,"
"Ada ya ?"
"Iya, selera mereka tergantung ibunya juga," tukas Sherly terlihat yakin.
Alva mengerutkan dahi.
"Maksud kamu, kamu lagi nggak mood juga?" selidik Alva.
Sherly hanya menampilkan deretan giginya dengan manis.
"Alasan, jangan bilang kalau kamu enggan kontrol. Ayo, kita berangkat sekarang!"
Alva tak lepas pandangannya pada sebuah monitor. Sherly tengah USG untuk melihat perkembangan bayinya.
"Sayang, lihatlah, mereka bergerak!" pekik Alva dengan girangnya.
Dokter yang sedang melakukan pengecekan hanya senyum - senyum sendiri melihat tingkah Alva.
"Ih, Mas Alva jangan norak, malu tahu!" bisik Sherly.
"Lucu banget ya, aku sudah tak sabar menunggu mereka lahir ke dunia."
Dokter menerangkan posisi ari - ari, posisi janin dan keadaan air ketuban serta lainnya yang menyangkut janin.
"Tuan Alva, apa Anda ingin tahu jenis kelamin mereka?"
"Iya Dok, aku sungguh penasaran. Haciu! " Alva serius mendengarkan keterangan dokter. Karena dokter kandungan di tempat Sherly kontrol adalah seorang wanita, Alva tak henti - hentinya bersin.
"Jangan katakan!" elak Sherly.
"Kenapa sayang?"
"Aku hanya ingin ini menjadi kejutan untuk kita saat mereka lahir nanti."
"Tapi sayang, itu masih lama, sekarang saja ya, biar kita tahu juga peralatan bayi yang cocok buat si kembar nanti. Bayangkan kalau kita beli kasur bayinya motif cowok, sedang pas lahir an ternyata cewek. Nggak asyik lah kalau dilihat." ceriwis Alva.
__ADS_1
"Apaan sih Mas Alva, mereka kan masih bayi. Belum tahu betul tentang fashion. Sudahlah Mas, buat kejutan kita saja ya," ujar Sherly menyakinkan.
"Baiklah kalau itu kemauan kamu," Alva terdengar pasrah.
Selesai kontrol Sherly pamit ke toilet sebentar. Dengan seiringnya waktu dan perutnya yang kian membesar, membuat Sherly sering ke toilet.
"Ini kesempatan, mumpung dia tak ada," Gumam Alva yang segera menghampiri si dokter.
"Dok, tadi kan istri saya menolak untuk mengetahui ... haciu jenis kelamin anak saya, nah mumpung istri saya ... lagi tak ada, saya mau tanya jenis kelamin mereka, haciu ..."
"Tuan Alva sungguh penasaran?"
"Iya Dok, cepat katakan! Haciu ..." desak Alva tak sabaran.
"Jenis kelamin bayi Anda adalah ...."
"Mas Alva!" teriak Sherly dari dalam kamar mandi.
Mendengar teriakan istrinya, Alva panik jika terjadi sesuatu dengan bayinya. Dia segera berdiri dan sedikit berlari menuju toilet.
"Ada apa Sherly?" Alva menggedor pintu.
Sherly membuka pintu," Lihatlah Mas!" Sherly menaikkan tangannya yang sebelah.
Alva menahan tawanya sambil cekikikan.
"Kok malah diketawain," Sherly menurunkan dengan cepat tangannya seraya melipat kedua tandan di dada.
"Iya ya, maaf, setelah dari rumah sakit kita belanja beli baju baru buat kamu," Alva menghentikan tawanya seraya menggandeng Sherly.
"Ada apa Nyonya Sherly?" tanya dokter.
"Tidak ada apa - apa Dok, maaf bikin panik." Sherly melambaikan tangan menahan malu.
Setelah berpamitan mereka berdua keluar dari rumah sakit menuju toko baju.
Sherly tengah memperhatikan bagian ketiak pada baju nya.
"Sudah, jangan dilihat in lagi. Bolong sedikit biar nggak gerah ketiak kamu," celetuk Alva.
"Is Mas Alva sukanya meledek terus," Sherly cemberut seraya mengusap perutnya.
"Dedek sayang, jangan ikutan sifat ayah kalian yang suka meledek ibu,"
"Mas mereka bergerak lagi, seperti menendang gitu!" pekiknya kegirangan bisa membalas ledakan Alva.
"Sungguh," Alva tampak berbinar, "Pasti giliran aku pegang nanti, mereka diam." Alva melihat Sherly lalu kembali fokus mengemudi.
Sherly cekikikan sendiri sambil menahan tawa.
"Leganya bisa membalas mas Alva," batin nya.
Hallo jumpa lagi teman - teman, sudah terobati rasa kangennya dengan Pandawa Kecilku?
__ADS_1
Nah, teman - teman semua jangan lupa mampir ke karyaku berikutnya yang berjudul Tajir Melintir, siapa tahu suka.
Terima kasih sudah setia dengan author kalian ini. 😘😘😘😘😘