Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Hasil Rapat


__ADS_3

Mereka semua yang ada di ruangan rapat, tatapannya tertuju pada pria yang kini tengah berdiri seorang diri.


Sherly penuh kekhawatiran menatap pria itu.


Berbagai cemoohan dan makian mereka lontarkan pada Alva. Berupa ujaran kebencian seperti, tidak cocok menjadi pemimpin lah, hanya modal tampang lah, dan umpatan lain yang tak patut didengarkan.


Alva dengan sabar mendengarkan keluh mereka, selama Alva menjabat menjadi pimpinan tertinggi, baru ini kali pertama dia mendengar sendiri keluhan mereka. Sengaja Alva tak memberi tahu kan masalah ini pada papanya. Ia khawatir kesehatan papanya akan terganggu.


Di sisi lain, Antonio dengan semburat senyum yang tersungging di bibirnya. Dia merasa kemenangan berada di genggamannya sekarang. Apa pun yang menjadi milik Alva, harus menjadi milik dia juga. Usahanya membuat Alva bangkrut telah berhasil. Selain itu, dia juga telah meminta pada pemilik bank setanah air untuk tidak memberikan pinjaman modal padanya. Dia sangat membenci adiknya itu. Mengingat kematian ibundanya, Marta. Dia menyalahkan Alva sepenuhnya yang menyebabkan Marta meninggal.


Sementara Sherly sejak tadi bingung sendiri. Dia tengah berperang melawan hati dan nafsunya.


"Seharusnya aku merasa senang, dia mengalami keterpurukan seperti yang aku rasakan 6 tahun lalu, tapi tidak untuk saat ini. Aku merasa kasihan padanya. Kecelakaan itu, juga sepenuhnya bukan salah dia. Apa yang harus aku lakukan?" terbesit dalam ingatannya hadiah lomba renang waktu itu, dia ingin menolong Alva dengan menggunakan emas batang nya.


Terdengar hembusan nafasnya yang kasar. Alva mulai dengan aksinya.


Alva mengambil suara, sehingga suasana tampak hening. Semua mata tertuju padanya.


"Aku bukan pria pengecut yang akan lari dari tanggung jawab. Aku sudah berusaha untuk melunasi dana yang tidak sama sekali aku gunakan. Dan menanggung resiko yang tak pernah aku lakukan. Harga saham merosot drastis, membuat aku tak bisa menutupi kekurangannya. Sesuai kesepakatan, aku akan konsisten dengan janjiku. Aku dengan suka rela dan tanpa paksaan, akan meng ...." kalimatnya terpotong oleh suara lantang dari seorang wanita yang sejak tadi berada di sampingnya.


"Aku yang akan menggantikan dia membayar kerugian atas insiden kemarin!" ujar Sherly tegas. Semua mata beralih menatap dia. Bahkan mereka saling berbisik menanyakan siapa dia?


"Sherly," seru Alva dan Antonio bersamaan. Mereka heran dengan tindakan Sherly yang begitup berani mengambil keputusan sendiri.


"Aku memiliki batang emas yang cukup untuk digantikan menjadi uang. Tapi, aku butuh waktu."


"Nona, siapa kamu dan lancang sekali berbicara tanpa dipersilahkan!" teriak salah satu dari mereka yang sangat membenci kepemimpinan Alva.


"Aku tidak setuju!" teriak yang lain.


"Dengarkan aku, aku Sherly seorang interpreter yang akan menjamin uang kalian kembali. Tapi tidak untuk saat ini. Bayangkan saja, jika Tuan-Tuan semua yang ada di sini menolak tawaranku. Kalian akan pulang dengan tangan kosong. Beda jika kalian setuju, aku akan segera menjual batang emasku. Membawa kembali dalam bentuk uang." Sherly memberikan tawaran yang fantastis.


Tampak dari mereka saling melempar pandang, berbisik dan hanya manggut-manggut saja.


"Sherly, aku ingin bicara empat mata denganmu!" Alva menarik lengannya cepat menuju ke luar ruangan.


"Kamu gila atau bagaimana?" Alva terlihat sangat emosi.


"Aku waras," sahut Sherly dengan polosnya.


"Dana untuk mengembalikan pada mereka cukup besar. Bahkan kalau ditumpuk bisa sebesar kapal." Alva penuh penekanan.


"Presdir, posisimu kini di ujung tanduk, apa kamu akan diam saja dan menyerah dengan mudah. Pandawa kecilku tak akan senang mendengar hal ini. Dia memiliki seorang ayah yang pengecut." ujar Sherly yang berhasil menampar pikiran Alva yang tumpul.


"Aku bukan seorang pengecut!" seru Alva tak terima dengan tuduhan itu.


"Jadi?" Sherly menunggu kelanjutan dari kalimat yang akan keluar dari mulut Alvarendra. Berharap dia mau menerima kebaikan Sherly.


"Aku tak akan menyerah sampai di sini!"


"Bagus Presdir, kamu yakin kan pada mereka semua untuk setuju dengan usulan ku tadi. Aku akan menghubungi Boman. Dan segera kembali ke sini!" Sherly hendak pergi namun tertahan oleh tangan Alva.


Dia menatap tangan Alva yang mencekal lengannya.


"Apa?" Sherly menaikkan dagunya.


"Aku berhutang kebaikan padamu."


"Memang dasarnya aku orang baik." sahut Sherly asal.


"Maksudku, aku semakin yakin untuk segera mendapatkan pandawa kecil beserta ibunya." terang Alva membuat hati Sherly berdesir hebat. Dia menirukan Sherly dengan mengubah panggilan bocah kecil kembar lima menjadi pandawa.


"Kita lihat saja nanti saat pertandingan, siapa yang akan menang!" Sherly segera menarik lengannya agar tak terbawa suasana.

__ADS_1


Alva kembali menuju ruangan rapat, "Ada benarnya juga yang dikatakan Sherly tadi. Aku kini seorang ayah, aku akan membuktikan pada mereka, kalau ayah mereka bukan pria yang lemah, apalagi pengecut."


Alva sebisa mungkin menyakinkan mereka sesuai dengan apa yang Sherly ungkapkan tadi.


Antonio tampak berfikir, siapa Sherly sebenarnya dan ada hubungan apa dia dengan adiknya sehingga terlihat sangat berpengaruh pada Alva.


Peserta rapat sepenuhnya menyetujui saran Sherly tadi, tapi dengan syarat tidak lebih dari pukul 12.00.


Alva menghubungi Sherly dan mengatakan kalau mereka setuju dengan usulnya, tapi dengan batasan waktu tengah hari. Selebihnya Alva harus segera lengser dari posisinya.


.


"Boman, ibu bisa minta tolong, Nak!"


"Kamu bisa pulang ke rumah untuk membuka pintu brankas yang ada di kamar ibu? Bagus, cepat ya, jika sudah sampai segera kabari ibu!" Sherly menutup sambungan teleponnya.


Boman masih berada di kampus, dia meminta izin pada dosennya agar memperbolehkan dia pulang.


Dosennya memberikan izin, tapi sebelum Boman pulang, dosen pria itu memberikan sebuah pertanyaan yang sangat sulit padanya.


Awalnya Boman tak mengindahkan pertanyaan dosennya lalu karena teringat dengan pesan ibunya, agar tidak sombong, dia menyanggupinya.


"Baiklah, saya akan menjawabnya," seru Boman.


Selesai dosennya memberikan pertanyaan seputar microcontroller, Boman dengan santainya menjawab pertanyaan itu.


"Microcontroller adalah sistem mikroprosesor lengkap yang terkandung di dalam sebuah chip. Microcontroller berbeda dengan mikroprosesor serba guna yang digunakan dalam sebuah PC, karena


adalah sistem mikroprosesor lengkap yang terkandung di dalam sebuah mikrokontroler umumya juga telah berisi komponen pendukung sistem minimal mikroprosesor, yakni memori dan antarmuka I/O, sedangkan di dalam mikroprosesor umumnya hanya berisi CPU saja." terang Boman membuat dosennya kagum. Teman -temannya pun memberikan acungan jempol padanya. Boman pun segera pulang.


Sesampainya di rumah, Boman segera menuju kamar ibunya dan mengabarinya.


"Hallo, Ibu, aku baru tiba," panggil Boman dari arah seberang.


"Untuk apa semua ini Bu?"


"Ibu akan mengubahnya menjadi uang, ibu akan segera pulang dan mengambilnya!" Sherly segera menutup telepon dan menuju parkiran.


Kini dia membawa mobil sendiri. Menuju rumahnya dan mengambil emas batang beserta sertifikatnya. Sherly segera melajukan mobilnya menuju ORORI, ORORI merupakan reseller resmi ANTAM. Jadi, dia menjual emas di sana karena jaminan aman dan terpercaya.


Sesekali Sherly menatap Arloji seraya komat -kamit mulutnya berdoa agar sampai di kantor tepat waktu.


.


Alva sedang tersudut, mereka mendesak Alva agar segera turun dari jabatan.


"Tuan Alva, waktu mu sudah habis. Mana uang yang kamu janjikan tadi!"


Alva melihat Arlojinya, "Tunggu 5 menit lagi!" ujar Alva.


Kini dia benar -benar mengharapkan kedatangan Sherly. Hatinya semakin gusar jika dia tak segera sampai.


"Aku tak mau terlihat seperti pria yang lari dari tanggung jawab," gumamnya, dia sedang gusar. Antonio melihatnya dengan kecut. Dia berpura -pura saja khawatir padanya.


"Alva, semoga saja Sherly datang tepat waktu. Kamu tahu sendiri kan, mereka seakan rakus jika sudah melihat uang."


"Iya, Kak, aku berharap Sherly datang tepat waktu. Aku juga heran, mereka seperti agresif sekali padaku. Padahal aku memiliki data yang kuat untuk membuktikan kalau aku tak melakukan korupsi."


"Sudahlah, ini sudah terlanjur terjadi. Kamu tinggal pasrah saja."


"Awalnya aku tadi juga hampir putus asa Kak, tapi Sherly telah membuatku sadar. Aku tak mau terlihat seperti pengecut di depan dia."


"Istimewa sekali dia bagimu?" selidik Antonio yang merasa iri dengan kedekatan mereka.

__ADS_1


"Ya, dia wanita yang tak membuatku alergi selama bekerja di sini. Aku cukup nyaman dengan adanya dia di dekat ku."


Antonio semakin tertantang untuk merebut wanita yang dimaksud adiknya itu.


"Kamu menyukai dia?" Antonio menduga itu, dan bila jawabannya iya, maka dia dengan seribu cara akan menaklukkan siapa pun yang akan menjadi pasangan hidupnya.


"Sangat, sangat sekali. Bahkan melebihi nyawaku sendiri." jujur Alva.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Kenzi?"


"Aku sudah putus dengannya,"


"Pantas saja waktu malam itu, dia pulang dengan kondisi mabuk. Ternyata Alva memutuskan hubungan dengannya." batin Antonio geram, pasalnya dia juga menyukai Kenzi. Karena Kenzi sejak kuliah dulu jatuh hati pada Alva, jadi Antonio mengalah.


"Kamu putus dengannya!" bentak Antonio tak terima dengan keputusan Alva, dia menarik kuat kerah kemejanya.


"Kak, apa urusannya denganmu? Mengapa malah kamu yang emosi?" Alva mencekal lengan Antonio.


"Dasar cowok plin plan, bukannya kamu sangat menyukai Kenzi?" Antonio melepaskan kasar.


Alva membenahi kerah kemejanya.


"Dia dulu yang memulai, bayangkan 5 bulan sudah dia sulit dihubungi. Selama kami pacaran jarak jauh, baik -baik saja selama kuliah dulu. Dan saat memulai karirnya di Bali, dia berubah. Aku curiga dia menghianati ku." ujar Alva yang membuat Antonio semakin membencinya.


"Kamu sungguh tega, Alva. Dia kan seorang model iklan. Tentu saja dia sangat sibuk, mengapa kamu tak berfikir ke arah situ, hah!" bentak Antonio.


"Kalau Kakak mau, ambil saja dia!" tukas Alva, Antonio tak bisa menahan emosinya dia mengepalkan tinju dan bersiap untuk memukulnya.


"Kamu keterlaluan Alva!"


"Presdir," seru Sherly dengan tergopoh -gopoh. Antonio menyembunyikan amarahnya.


"Sherly, syukurlah kamu datang di waktu yang tepat." semburat senyum menghiasi bibirnya.


.


.


.


Hasil rapat, memutuskan untuk tidak menurunkan Alva dari jabatannya sebagai presdir. Hal ini membuat rencana Antonio gagal. Dia akan mencoba menjatuhkan Alva dikemudian hari.


"Sherly, aku tak tahu lagi harus berkata apa, tapi jujur aku merasa di atas angin sekarang. Dan ini semua karena mu." Alva menarik Sherly ke dalam pelukannya dengan sangat erat.


"Lepaskan Presdir!" Sherly kesulitan bernafas dia memukul dadanya yang bidang bak atletis itu.


"Aku sangat senang, " Alva melepaskan pelukannya.


"Jangan seenaknya memelukku, ingat kita sedang bersaing sekarang!"


"Iya ya, aku juga tahu itu. Aku tak kan menyerah begitu saja. Lihat aku nanti, aku yang akan menjadi pemenangnya dan mendapatkan pandawa." ujar Alva menggebu -gebu.


Sherly hanya mengerucutkan mulutnya.


"Pletak,"


"Aw, sakit Presdir!" Sherly mengusap dahinya sambil meringis.


"Jangan membuatku semakin bernafsu padamu!" lalu Alva pergi dengan seulas senyum, beda dengan Sherly yang masih mengumpat Alva.


"Dasar tukang pemaksa dan tukang menyentil," gerutu Sherly seraya mengepalkan tinju.


"Tadi dia bilang apa ya ..."

__ADS_1


__ADS_2