
Minggu pagi Sherly sudah selesai dengan kegiatannya di dapur. Menu kali ini adalah tumis kangkung tempe. Menu yang sangat simpel. Para pandawa pun juga sudah rapi, mereka sudah siap untuk menyantap sarapan di meja makan. Tak lupa pula, ibu dari 5 anak itu sudah menyiapkan bekal untuk mereka.
"A, B, C, D dan E, ayo sarapan!" teriak Sherly dengan memanggil mereka dengan huruf depan saja.
Para pandawa kecil berhamburan menuju meja makan.
"Kok masih pagi makan pakai sayur, Bu?" protes Ethan.
"Mana mie gorengnya, Bu?" Dave ikut protes.
"Adik -adik, sayuran juga bagus untuk kalian. Ibu sudah susah payah membuatkan sarapan untuk kalian, sebaiknya kalian makan saja apa yang sudah ada di atas meja." Abigail menasehati kedua adiknya.
"Wow, Kak Abigail keren, sudah kayak emak -emak bicaranya!" celoteh Charles sambil menunjukkan dua jempolnya, membuat Abigail melotot padanya. Charles cekikikan sendiri melihat ekspresinya
"Padahal sayur itu enak lo .... " terang Boman.
"Masa, setahu ku Kak Boman hanya suka capjai," tukas Ethan.
Sherly yang sedari tadi memperhatikan pandawa kecil mulai angkat bicara dengan ciri khasnya untuk meluruhkan hati mereka.
"Anak-anak dengarkan ibu baik-baik, mulai hari Sabtu dan Minggu menu kita adalah tahu dan tempe, sengaja ibu menambahkan sayuran agar kalian mengenal berbagai sayuran yang ada di Indonesia ini. Ingat anak-anak, kita harus apa?" Sherly menatap satu per satu wajah para pandawa.
"Kita harus hemat, Bu .... " sahut mereka kompak.
"Bagus, cepat habiskan sarapan kalian! Kita akan pergi jalan-jalan nanti!"
"Kita akan jalan-jalan, ke mana Bu?" tanya Abigail dengan wajah yang terlihat dua kali lipat berserinya.
"Kita belanja ke mall saja, Bu!" tukas Boman bersemangat 45.
"Atau kita pergi ke wahana permainan saja, sejak pindah ke Indonesia aku belum pernah pergi ke wahana permainan," imbuh Charles.
"Aku lebih suka di rumah, bagiku hari Minggu atau tidak tetap sama saja." Dave menopang dagunya.
"Bagaimana kalau kita berenang, sejak Ibu menang lomba, kita sudah tak diajak berenang lagi." ucap Ethan.
"Selesai sarapan segera siapkan perlengkapan kalian secukupnya, ibu akan mengajak kalian piknik ke pantai!" terang Sherly seraya mengambil tumisan kangkung untuknya. Sudah lama sekali dia tak menikmati menu ini, dia teringat dengan bik Kah yang selalu membuatkan tumisan kangkung saat berangkat kuliah dulu.
"Ke pantai!" seru mereka kompak, mereka turun dari kursi, bergandengan tangan membentuk lingkaran.
"Hore, kita ke pantai!" seru mereka lagi dengan kompak. Mereka terlihat sangat senang. Padahal selama tinggal di luar negeri satu bulan sekali Sherly membawa mereka ke pantai, mereka tak pernah bosan, ya di sana juga Sherly akan melepas kelelahan dan kegelisahannya.
Selesai sarapan mereka bergegas mengemasi peralatan masing -masing, mulai dari baju ganti, mainan, kacamata dan lain-lain.
Kini pandawa telah siap, Sherly sedang memanasi mesin mobil. Tak lupa juga dia menyiapkan tikar untuk alas saat makan siang nantinya.
Tepat pukul 07.00 mobil Sherly sudah ke luar dari garasi. Dia melajukan mobilnya menuju pantai Anyer. Salah satu pantai ternama yang ada di sekitar Jakarta, tepatnya di Propinsi Banten.
Selama perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar dua jam, para pandawa lebih memilih untuk tidur kecuali Boman. Dia tengah asyik membuat sebuah jam tangan, jam rakitan ini sengaja ia desain untuk menjaga ibunya kalau saja ada pria hidung belang yang menganggu ibunya. Cara kerja nya dari luar terlihat seperti jam tangan biasa, tapi saat tutup kacanya terbuka ada sebuah jarum sangat kecil yang mampu membidik lawan. Seketika lawan akan tumbang tak sadarkan diri.
"Anak-anak kita sudah sampai!" Sherly membangunkan keempat putranya.
"Ibu, aku punya sesuatu untuk Ibu," Boman meraih tangan ibunya, Boman memakai kan langsung jam itu di pergelangan tangan kirinya.
"Sebuah jam?" Sherly mengernyitkan dahi seraya mengamati jam mungil itu.
"Ini bukan jam sembarangan Bu," Boman menerangkan cara kerja dari jam itu.
"Wow keren, terima kasih, ibu akan selalu menggunakan jam ini." Sherly mencium dahinya.
"Tolong bantu ibu membangunkan saudara mu yang lain! Ibu akan membayar tiket masuk dulu." Sherly meraih tas kecilnya dan menuju tempat pembelian tiket.
Sherly hanya perlu merogoh uang sebesar Rp 25.000 untuk membayar tiket masuk per orang.
Pemandangan di pantai Anyer bukan sekedar pasir dan air laut. Di sana, pengunjung bisa melihat panorama Gunung Rakata yang menjulang di balik laut dan juga mercusuar peninggalan Belanda.
Selain memiliki pemandangan yang indah, pantai ini juga memiliki fasilitas lengkap, seperti peralatan snorkeling, speedboat, hingga jetski.
.
Pagi ini Alvarendra menerima pesan dari Thomas, pesan itu berisi alamat Sherly. Tanpa berpikir panjang Alva segera tancap gas menuju rumahnya. Dia mengendarai sendiri mobil tanpa sopir dan pengawal pribadinya. Dia rasa hal seperti ini patut nya diselesaikan berdua saja tanpa ada orang ketiga.
"Bocil limaku, tunggu kedatangan ayah," batin Alva. Dia sangat berharap bisa bertemu dengan mereka secara nyata, tak hanya itu saja, terlebih lagi bisa membawa pulang pandawa tentu beserta ibunya pula. Sebagai obat rindu dan kesedihan papanya terhadap Marta.
Kini Alvarendra sudah sampai di halaman rumah milik Sherly, rumah itu cukup besar tanpa pintu gerbang sehingga memudahkan kendaraan untuk keluar masuk.
__ADS_1
Alva mematikan mesin mobil lalu segera turun.
"Tok tok tok !"
Alva mengetuk pintu namun tak mendapat sahutan dari dalam. Mengetuk lagi berulang kali, dan hasilnya pun sama, tak ada sahutan dari dalam. Dia menghubungi nomor Sherly, namun sedang tak aktif.
"Sial, kemana Sherly pergi! Jangan -jangan dia sudah tahu rencanaku, ini tak bisa dibiarkan! Aku harus mendapatkan lima bocil itu. Demi kebahagian papa, akan aku lakukan seribu cara apa pun itu!" Alva mengepalkan tinju dan bergegas pulang. Emosi nya mulai naik. Dia mengencangkan kemudinya.
Alva menghentikan mobilnya di tepi jalan, entah apa yang sedang dia pikirkan. Tanpa sadar dia meraih jas nya yang semalam lupa tak ia serahkan pada bik Tinuk untuk dicuci.
"Ya Tuhan, jorok sekali, aku sampai lupa tak menyerahkan pada bik Tinuk." Alva mengambil jasnya seraya memencet hidung dengan tangan sebelahnya. Dia memasukkan jas yang kotor itu pada paper bag kosong, kebetulan ada di situ. Alva segera menyemprotkan handsanitize pada kedua telapak tangannya.
Benda hitam kecil jatuh dari saku jasnya dan tak sengaja terinjak kakinya.
"Apa ini?" Dia mengambil benda itu dengan dua jarinya, mengamati dari lekat.
"Ini ... anting -anting Sherly!" serunya kaget.
"Ya Tuhan, aku telah merusaknya, tapi tunggu, setelah aku amati dari dekat ini terlihat seperti mikrofon berukuran kecil. Dari mana dan untuk apa dia menggunakan ini?" Alva menjadi curiga pada sosok Sherly yang terlihat lugu itu.
Alva segera pulang, ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
Sesampainya di rumah, Alva menyerahkan paper bag pada bik Tinuk.
"Haciu, Bik, tolong cuci jasku!" ucapnya sambil berlalu melewati bik Tinuk yang sedang mengepel lantai.
"Iya Tuan," sahutnya singkat lalu segera pergi ke belakang.
Alva menuju ruang kerjanya, dia meletakkan anting Sherly yang sudah tak karuan bentuknya di atas meja. Menarik laci dan mengeluarkan kotak berisi alat-alat elektronik.
Rasa penasaran pada benda hitam kecil kini membuat dia melupakan emosinya yang hampir meledak.
Hampir satu jam dia berkutat dengan berbagai alat elektronik untuk mengetahui lebih dalam lagi, benda apa itu sebenarnya?
"Ini bukan anting-anting biasa, sebuah desain yang luar biasa dan bahkan belum pernah aku lihat." seru Alva sembari merapikan kembali peralatannya. Tak lupa juga dia menyemprotkan anti bakteri pada kedua tangannya.
"Kalau tidak salah, benda ini menghubungkan dia dengan seseorang yang berada jauh darinya. Untuk berkomunikasi dan ... " Alva menghentikan kalimatnya dan segera mendeteksi tanda merah pada layar laptopnya yang sudah menyala sejak tadi.
"Pantai Anyer? Tanda merah itu berhenti di sana. Aku sungguh salut dengan benda ini, siapa perancangnya?" Alva tersenyum sendiri.
Merapikan kembali meja kerjanya seperti semula, itulah dia si tuan bersih.
Alva mengabari pengawal pribadinya untuk segera menyusul Sherly ke pantai Anyer.
"Akhirnya aku menemukan mu." batin Alva bangga. Dia bergegas mengendarai mobilnya. Sementara para pengawalnya menyusul di tengah perjalanan.
Dua jam kemudian, Alva telah mendaratkan kakinya di pantai Anyer.
Dia meminta para pengawal untuk menyebar ke segala arah.
"Temukan mereka sekarang juga!" perintah Alva antusias setelah memperlihatkan foto pandawa.
Karena cuaca cukup panas, Alva memutuskan untuk membeli minuman dingin di sebuah kedai yang ada di sana.
"Haciu ... satu botol minuman kemasan yang dingin!" pinta Alva pada penjual yang kebetulan wanita.
"Sedang flu kok malah beli yang dingin -dingin." gerutu pemilik kedai sembari reflek menutup hidungnya, takut tertular virus corona.
Alva yang memiliki pendengaran yang tajam segera mengeluarkan uang pas pada penjual yang sok resek itu agar bisa segera pergi dari sana.
Rasa dahaganya kini sudah berangsur pergi. Para pengawal datang dengan ekspresi takut.
"Bagaimana?" tanya Alva seraya menatap 6 pengawal yang berdiri berjajar di hadapannya.
"Maaf Tuan Alvarendra, kami tak menemukan apa yang Anda cari." terang salah satu pengawal.
"Tidak becus! Begitu saja kalian tak bisa mencari mereka! Gaji kalian aku potong 50 persen! " bentak Alva sambil berlalu memunggungi mereka.
"Ini pantai Tuan, lokasinya sangat luas," imbuh pengawal yang lain.
"Aku tak peduli, jangan kembali jika kalian belum menemukan mereka!" Alva membalikkan badan seraya membentak mereka, membuat mereka semua takut dan langsung membubarkan diri.
Alva mengusap kasar wajahnya, tanpa ia sadari sebuah bola menggelinding ke arahnya. Bola berhenti tepat di kakinya. Matanya sejurus mengarah pada bocah kecil yang kini tengah berdiri menatapnya.
"Ayah," gumam bocah kecil itu, namun terdengar jelas di telinga Alva.
__ADS_1
Senangnya bukan main, Alvarendra langsung memeluk anak itu.
"Hai Nak, apakah kita sudah pernah bertemu?" bisik Alva, takutnya dia salah lagi menyebut namanya.
Bocah kecil itu tetap terdiam, Alva melepaskan pelukan dan meraih kedua pundaknya.
"Siapa namamu?" tanya Alva seraya menamatkan dengan lekat wajah yang sangat mirip dengannya di waktu kecil itu.
"Abigail," sahut bocah kecil itu dengan tetap memandang pria berkaos biru dengan bawahan jean.
"Entah mengapa aku sangat senang bertemu denganmu, mungkin ini karena kita sekarang berstatus menjadi ayah dan anak, apa kau setuju dengan ucapanku?" Alva menorehkan senyumannya. Dan sekali lagi dia memeluk Abigail dengan pelukan hangat.
Abigail mengangguk cepat, inilah yang ia tunggu. Bertemu secara langsung dengan pria yang sangat mirip dengannya. Mungkin rasa bahagianya kini tak dapat dituliskan dengan kata-kata. Air matanya pun berlinang, meski tanpa suara itu sudah jelas kalau dia menangis.
"Hai, kenapa kamu menangis?" Alva melepas pelukannya dan mengusap pipinya yang gembul itu.
Abigail mengucek kedua matanya dan akhirnya keluar sudah suara khas tangisan anak kecil.
Beberapa orang yang melihat mereka saling berbisik.
"Cepat pergi kalian, aku tak melakukan apa-apa dengan putraku!" usir Alva pada orang yang menatapnya curiga. Mereka segera pergi, takut dengan suara Alva yang menggelegar.
"Sudah diam ya, anak baik." Alva mencoba menenangkan Abigail, namun tak kunjung diam juga. Dia teringat bik Tinuk saat menenangkan Dave.
Alva menggendong Abigail, seketika itu juga dia berhenti menangis.
"Nah begitu, kenapa kamu menangis?" tanya Alva penasaran.
"Sudah 5 tahun aku tak pernah bertemu dengan ayahku." terang Abigail dengan menunjukkan 5 jari kanannya yang mungil.
"Ibumu tak pernah bilang kemana ayahmu pergi?" tanya Alva penuh selidik.
"Ibu melarang kami untuk menanyakan kepergian ayah." Abigail masih sesenggukan.
"Sungguh keterlaluan sekali ibumu itu," gerutu Alva.
Alva secara sadar mencium kedua pipinya berulang kali hingga membuat Abigail geli dan kini tertawa sudah.
"Kamu gemes banget, katakan pada Ayah, di mana ibumu sekarang?" Alva menurunkan Abigail seraya mengedarkan pandangan di sekelilingnya.
"Ibu sedang beristirahat di sana." Abigail menunjuk ke arah wanita yang sedang duduk berjemur. Pantas saja para pengawal tak menemukan pandawa, karena mereka sedang bermain pasir. Menutupi semua tubuh dan hanya kepalanya yang terlihat. Ibu dan anak terlihat kompak memakai kacamata hitam.
Alva tersenyum haru, pikirannya yang buruk tentang Sherly segera ia buang jauh -jauh.
"Ternyata kamu mengajak bocil 5 ke sini, aku senang melihatnya." gumam Alva.
"Abigail, bersediakah kamu dan saudara mu untuk tinggal bersamaku?" tanya Alva padanya, dia hanya diam saja tampak sedang berfikir.
"Apakah Anda, maksudku Ayah, yakin dengan keputusan itu?"
"Seribu yakin." sahut Alva mantap.
"Bolehkah aku memanggil Anda dengan sebutan Ayah?" Abigail tampak ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Itu sudah pasti, Nak. Apakah ayah boleh tahu mengapa namamu Abigail?" tanya Alvarendra sekedar bercanda.
"Karena aku seorang abang," serunya sambil menepuk dadanya.
"Abang kecil? Jadi kamu anak sulung?"
Abigail menganggukkan kepala, tanpa ditanya dia secara terang-terangan menyebutkan nama saudaranya yang lain.
"Hm, ayah sudah pernah bertemu dengan mereka, kecuali yang bernama Boman."
"Aku tahu, mereka juga pernah menceritakan kalau bertemu dengan pria yang sangat mirip wajahnya dengan kami. Ayah ternyata tak bisa berenang ya," tukas Abigail membuat Alva merasa minder.
"He he he, kalau yang satu itu ayah akui memang betul." Alva menunjukkan jempolnya.
"Ayo Ayah, aku antar bertemu dengan ibu, ibu pasti sangat merindukan Ayah." Abigail menggandeng paksa Alvarendra.
Bersambung...
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Teman-teman reader, tetap dukung karya ku yang satu ini ya, Author hanya pemula tak kan berhasil tanpa semangat dan dukungan dari kalian.
__ADS_1
Terima kasih untuk semuanya, semoga terhibur...😘😘😘