Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Hamil


__ADS_3

"Apa hamil?" pekik Antonio seraya melihat sekelilingnya kalau saja ada yang mendengar pembicaraannya di telepon.


"Kamu hamil?" tanyanya lirih seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Baik kita ketemuan sekarang di tempat biasa!" Antonio segera mematikan ponsel dan bergegas meninggalkan area pemakaman. Dia mempercepat laju mobilnya.


Tiga puluh menit kemudian. Antonio sampai di sebuah cafe. Dia segera memarkir mobilnya dan mempercepat langkahnya untuk memasuki cafe. Tampak seorang wanita yang ia cari tengah menikmati minuman dingin.


"Kenzi Adefa!" panggil Antonio dengan nada dingin.


"Antonio!" wanita itu segera menoleh ke sumber suara.


Antonio segera duduk dihadapannya.


"Aku tak bisa menanggung ini sendirian." Kenzi menarik tangan Antonio dan mengusapkan pada perutnya yang masih rata. Antonio tampak diam tanpa ekspresi bukannya senang dia malah tak suka dengan hadirnya janin itu.


"Kenzi, dengar kan aku! Aku tak bisa bersama kamu lagi." ujar Antonio seraya menarik tangannya cepat.


"Antonio, bukankah kamu sudah berjanji akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padaku? Dan ini hasilnya, aku hamil anakmu!" Kenzi geram seraya memukul meja.


"Gugurkan segera kehamilan kamu!"


"Tidak, aku tidak bisa! Seenaknya saja kamu mengambil keputusan, kamu tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Manusia macam apa kamu, tega sekali menyuruh aku untuk menggugurkan janin yang tidak berdosa ini." Kenzi merasa sangat marah atas sikap Antonio.


"Kenzi! Kalau kamu masih bersikukuh untuk mempertahankan janin itu, terserah. Yang jelas aku sudah katakan padamu di awal, kita sudah tak bisa bersama lagi."


"Nikahi aku sekarang juga!" desak Kenzi dengan sorotan mata tajam.


"Maaf, aku tidak bisa menikahi kamu."


"Kenapa, bukankah kita melakukannya dengan dasar cinta?"


"Aku dulu hanya memanfaatkan kamu, karena kamu dekat dengan Alvarendra. Aku hanya ingin membuat dia patah hati." terang Antonio membuat Kenzi merasa sesak di dada.


"Jadi, kamu tak mencintai aku? Kamu jahat Antonio! Apa kamu hanya menganggap aku sebuah barang yang apabila sudah rusak lalu dengan mudahnya kamu buang?" Kenzi mulai sesenggukan.


"Aku sudah punya pilihan lain." ujar Antonio seraya beranjak pergi meninggalkan Kenzi, meski Kenzi meneriaki namanya dia tak bergeming sedikit pun.


"Kamu jahat Antonio, tunggu pembalasan dariku. Aku takkan membunuh anakku yang tak berdosa ini."


Kenzi segera pergi dari cafe. Dengan langkah gontai dia mencari taksi. Sudah lama dia menunggu, namun satu taksi pun tak kunjung lewat. Dia berjalan dengan hati berkecamuk. Apa yang akan ia katakan pada papanya nanti. Karirnya yang membumbung tinggi pasti akan hancur. Tapi ia tak tega membunuh janinnya.


.


Pandawa kini berada di rumah Anita. Sherly menyuruh sopir untuk mengantar mereka ke rumah omanya sepulang sekolah tadi.

__ADS_1


Anita tengah menyandarkan kepalanya, seraya berpikir untuk mendapatkan uang dari Sherly.


Anita terjerat hutang akibat kalah main judi satu bulan yang lalu. Harta almarhum suaminya sudah habis untuk bermain judi.


Pandawa tengah bermain kejar -kejaran dan tanpa sengaja menyenggol guci.


"Prangg!"


"Bunyi apa itu?" Anita bangkit dan dengan cepat menuju sumber suara.


"Itu guci kesayangan oma!" Anita meneriaki pandawa, dan mereka semua saling pandang.


"Maaf Oma, Ethan tak sengaja!" Ethan menundukkan kepala tak berani melihat wajah Anita.


"Kalian tahu, ini barang mahal. Dan sekarang sudah tidak produksi lagi model yang seperti ini!"


"Kami akan menggantinya." ujar Abi menawarkan solusi.


"Dasar bocah, mau ganti pakai apa kalian, hah!" Anita tak henti-hentinya meneriaki pandawa.


"Aku akan minta ganti rugi pada ayah kalian. Dan tentu saja dengan nominal jauh lebih mahal dari harga sebelumnya." tuturnya membuat para pandawa menggelengkan kepala cepat.


"Jangan Oma!" larang Charles seraya mengangkat kedua tangannya.


"Kenapa, kalian takut jika ulah kalian oma adukan pada orang tua kalian?" bentak Anita.


"Adik -adik, ini gawat. Ayah dan ibu tidak boleh tahu urusan kita. Mereka akan disuruh untuk mengganti dengan harga yang tidak sepadan. Kita akan menggantinya dengan cara kita. Untuk sementara kita bermain dulu dengan oma, sepertinya dia memiliki watak yang kurang baik." bisik Abi. Saudaranya yang lain mengiyakan perkataan si abang.


"Oma, aku bisa mencarikan uang sekarang juga untuk menggantikan guci kesayangan oma itu." ujar Dave setelah berdiskusi.


"Caranya?" tanya Anita datar seolah tak menanggapi serius perkataan Dave.


"Aku bisa melukis dan menjual lukisan itu, uang nya silahkan Oma ambil sebagai ganti rugi kami." tawar Dave terang -terangan.


Anita tampak berpikir dan karena tergoda dengan iming -iming uang akhirnya dia setuju saja.


Dave mengeluarkan alat melukis dan meminta Anita untuk menyediakan kain kanvas.


Tidak cukup satu jam lukisan Dave sudah selesai. Dia melukis pemandangan di sore hari. Boman dengan segera mengambil gambar lukisan itu dengan kamera ponselnya. Setelah itu dia mempromosikan lukisan adiknya di media sosial.


Tak butuh waktu lama, lukisan Dave laku. Pembeli pertama menawarkan harga dua ratus juta rupiah. Tanpa berpikir panjang Anita menyetujui harga itu.


Transaksi akhirnya telah terjadi. Lukisan itu berpindah tangan kepada pembeli dan Anita menerima uang tunai 200 juta.


Dia sedang sibuk menghitung uangnya.

__ADS_1


"Mereka sungguh hebat. Ini tak bisa berhenti sampai di sini. Aku bisa memanfaatkan kemampuan bocah lima itu. Meski aku belum hafal nama-namanya, aku tak boleh terlihat buruk di depan mereka," batin Anita seraya memasukkan uang merah itu je dalam koper.


Sebagai rasa senangnya untuk hari ini, Anita menyuruh bi Kah untuk membelikan mereka es krim yang beraneka macam rasanya.


"Oma, janji ya, jangan beritahukan hal ini pada ayah dan ibu!" pinta Abi.


Anita hanya mengangguk seraya memikirkan cara lain untuk memanfaatkan pandawa.


Pandawa sendiri juga memiliki rencana lain untuk mengerjai omanya yang mata duitan itu.


Pukul 16.00


Sherly dan Alva datang untuk menjemput pandawa.


"Apa kalian betah di sini?" tanya Sherly.


"Betah Bu," sahut pandawa kompak.


"Apa kalian nakal? Haciu !" tanya Alva seraya bersin tatkala berada dekat dengan Anita.


"Enggak Ayah, kami baik kok. Malah tadi kita dibelikan es krim sama oma." ucap Ethan seraya melirik Anita.


"Pandawa sangat menggemaskan, aku bahkan tak henti -hentinya mentowel pipi mereka." ujar Anita ramah.


"Sukurlah, aku kira pandawa akan merepotkan Mama." Sherly segera mengajak pandawa pulang.


Setelah berpamitan dengan Anita, keluarga Alvarendra segera pergi dari kediaman si nenek lampir itu.


Abi sebenarnya ingin bercerita tentang sikap omanya, tapi tak jadi takut terjadi sesuatu nanti dengan ibunya. Secara, Sherly terlihat bahagia setelah bertemu dengan Anita.


Hari mulai gelap.


Di tengah perjalanan, Alva menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Ada apa Mas Alva?" tanya Sherly heran seraya menatap Alva.


"Sepertinya aku melindas sesuatu." ujar Alva yang tampak khawatir.


"Jangan-jangan Ayah melindas kucing!" tukas Boman.


"Masa kucing? Charles rasa, Ayah melindas orang?" ujar Charles.


"Orang? Apa dia sudah mati?" imbuh Dave seraya merangkul Ethan yang duduk di sebelahnya.


"Ethan takut ..." Ethan juga ikut memeluk kakaknya.

__ADS_1


"Kita tidak tahu kalau belum melihatnya. Ayah akan turun dan melihatnya." Alva mematikan mesin mobil dan segera melihat apa yang ia lindas barusan.


"Tidak ...!" pekik Alva membuat seisi mobil segera turun.


__ADS_2