
Bulan berganti bulan hingga tak terasa kandungan Sherly semakin besar. Sama dengan kehamilannya yang pertama saat mengandung pandawa, Sherly kesulitan untuk bergerak bahkan tidur pun tak nyenyak. Miring kanan, miring kiri bahkan terlentang pun tetap tak nyaman. Dengan menahan rasa kantuk yang berat, Sherly pun membuka matanya.
"Mas Alva, geser dikit dong!" rengek Sherly seraya menepuk lengan suaminya. Meski hamil tua, Alva belum sadar kalau wanita akan mengalami gerah tingkat tinggi meski suasana sedingin salju.
AC kamar mati membuat Sherly gerah dan susah tidur.
Alva tak bergeming sedikit pun, bahkan terdengar dengkuran halus. Seharian bekerja keras di kantor membuat dirinya lebih cepat tidur dan memperpanjang jam tidur.
"Ih, mas Alva kok nggak bangun -bangun sih, aku gerah nih!" gerutu Sherly, tangan kanannya mencoba menggapai remot kipas yang ada di samping tempat tidurnya. Setelah benda yang ia cari berhasil ditemukan, ia segera menekan tombol on dan wuuss ....
"Adem, nah gini kan jadi enak tidurnya," ungkapnya senang seraya melirik jam masih pukul 12.00 malam.
"Masih malam, merem lagi ah!" sambungnya dan segera memejamkan mata cepat. Sherly yang awalnya susah tidur pun kini sudah menyambangi mimpinya yang terputus tadi. Memang hamil tua ada saja ulahnya yang bikin si suami harus mengalah.
Angin malam ditambah hembusan kipas angin membuat kulit Alva terkikis. Pria yang tidur di samping Sherly terpaksa membuka mata sambil menahan kantuk yang menggelora.
"Dingin banget," Alva menarik selimut seraya melirik jam, dan mencoba untuk tidur lagi.
Lima menit, sepuluh menit, Alva tak kunjung tidur juga dan terpaksa dia bangkit dari kasur.
"Malam dingin banget, ngapain sih menyalakan kipas!" omel Alva seraya meraih remot dan menekan tombol off.
"Nah, mati, masih malam, tidur lagi ah," ujarnya seraya merebahkan diri lagi. Tak lupa memakai selimut untuk dirinya dan juga Sherly. Kini ia cepat tidur dan sudah berada di alam mimpi.
Sherly sendiri merasa terusik tidur nya, gerah dan tak nyaman membuka matanya, dia menyingkap selimut. Bangkit dan mengecek keadaan sekitar.
"Gerah gini malah diselimuti!" rutuknya dalam hati.
"Loh, kipas nya kok mati sih!" gerutunya setelah sadar dengan keadaan sekitar seraya mencari remot yang sudah berpindah tempat.
"Pasti mas Alva nih yang mati in kipasnya. Dasar suami belum berpengalaman!" Sherly memencet tombol on dan merebahkan tubuhnya lagi, dengan posisi miring menghadap suaminya.
"Ah, adem, bobok lagi ah!" serunya seraya memejamkan mata.
Merasa hawa dingin menyergap, Alva cepat membuka mata.
"Sayang, malam dingin banget kok pakai kipas?" tanyanya penasaran. Yang ditanya pun segera membuka mata.
"Mas Alva Sayang, aku gerah banget, aku nggak bisa tidur sejak tadi, AC mati, kipas juga tadi kamu yang mati in kan?" keluhnya seraya mengusap pipi suaminya.
"Hehehe, aku nggak tahu kalau kehamilan kamu berdampak seperti ini, besok aku suruh orang buat benahi AC, sekarang kita bubuk lagi yuk!" ajaknya seraya memeluk Sherly.
"Aku gerah Mas!" tolaknya seraya menurunkan tangan Alva dari pinggangnya.
"Ya udah kalau nggak mau dipeluk, kamu peluk aku dong!" goda Alva di tengah malam.
"Ini udah malam banget Mas, aku ngantuk!"
"Aku dingin banget nih, butuh suasana kehangatan tubuhmu!" ujar Alva melas.
Karena kasihan melihat suaminya meringkuk kedinginan, Sherly mematikan kipasnya.
"Loh, kok dimatikan kipasnya Sayang, tadi katanya gerah," protes Alva.
__ADS_1
"Aku nggak tega lihat Mas Alva nggak bisa tidur, besok pagi kan Mas Alva harus kerja buat cari nafkah untuk aku dan anak-anak. Biar deh aku nggak apa-apa begini, sini tangan Mas, peluk aku!" ujar Sherly jujur, wanita ini memang cepat sekali meleleh dan gampang terharu.
"Nggak apa-apa Sayang, kamu pakai kipas saja, kasihan kalau dedek bayinya ikut nggak bisa tidur, aku ada selimut kok yang bisa menghangatkan tubuh, ya meski tak sehangat tubuhmu." tukas Alva yang tak rela juga melihat istri nya nggak bisa tidur.
Tanpa pikir panjang, Sherly melepas daster dan hanya memakai bra serta kain segitiga saja untuk mengurangi rasa gerahnya. Dia menarik suaminya dalam pelukan.
"Ayo kita tidur, sudah larut, besok aku mau shopping beli baju bayi!" ujarnya seraya memejamkan mata tak kuasa menahan kantuk.
"Benarkah, aku ikut ya, aku juga mau pilih baju buat dedeknya!" senyum mengembang menggambarkan kalau pria itu sangat bahagia untuk menyambut putri kecilnya. Maklum saja, ini momen terindah yang tak ingin pria itu lewat kan. Setelah tahu pandawa besar, Alva merasa bersalah karena tak bisa menemani hari -hari waktu Sherly dulu hamil dan saat pandawa lahir. Alva ingin menebus kesalahan pertamanya dengan memperhatikan Sherly.
"Antusias sekali mas Alva kalau di ajak shopping ," batin Sherly yang tak menyahut ucapan suaminya.
Keesokan paginya.
"Ayah, Ibu!" teriak pandawa kompak sambil mengetuk pintu berulang kali.
Alva dan Sherly menggeliat dan keduanya kompak menatap jam menunjuk pukul 07.00
"Aku telat!" sontak Alva melompat dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Sementara Sherly segera mengenakan daster dan turun perlahan membuka pintu.
"Ibu, kenapa baru bangun, apa Ibu sakit?" tanya Abigail cemas.
"Enggak Sayang, semalam ibu nggak bisa tidur gara-gara AC mati, akhir -akhir ini ibu mulai merasa gerah level tinggi." terang Sherly seraya menguncir rambutnya yang berantakan.
"Serahkan padaku Ibu, aku akan menanganinya kurang dari lima menit!" ujar Boman dengan antusias.
"Bagus, tapi sekarang kalian berangkat sekolah dulu ya, apa pandawa kecil ibu sudah sarapan?"
"Sudah Ibu," sahut pandawa kompak.
Selesai membersihkan diri, Sherly dan Alva berpapasan di meja makan.
"Sayang, aku langsung berangkat ke kantor ya!" ucap Alva seraya mencium kening sang istri.
"Loh, Mas Alva enggak sarapan dulu?" Sherly yang masih duduk cepat berdiri meski sedikit kesusahan.
"Aku sarapan di kantor saja, nih udah telat banget!" sahut Alva seraya menunjuk jam di pergelangan tangan kirinya.
"Maaf Mas, gara-gara aku, kamu jadi bangun kesiangan." ucap Sherly dengan penuh penyesalan.
"Enggak Sayang, kamu nggak salah kok! Akunya saja yang nggak mendengar bunyi jam weker. Udah ya, aku berangkat dulu." Alva setelah mengusap dan mencium perut buncitnya Sherly segera pergi dan tancap gas.
Di kantor Alva tengah ditunggu beberapa rekan kerja yang akan melaksanakan rapat. Wendy yang baru masuk kerja pun langsung disambut hangat oleh atasannya, setelah satu minggu cuti untuk menikah.
Kedua pria dewasa itu sudah berteman akrab lagi setelah berselisih paham. Wendy sendiri sudah lama bercerai dengan kakak tiri Sherly, yang bernama Imel. Imel dan ibunya kini menjalani kehidupan sebagai orang biasa setelah keluar dari penjara.
"Mari, kita mulai kerja sama ini dari awal lagi!" ujar Alva seraya menjabat tangan Wendy.
"Baik, aku akan berusaha bekerja lebih giat lagi." sahut Wendy dengan gigih.
Sementara Sherly di rumah tengah mencatat apa saja yang akan ia beli dan ia butuhkan saat persalinan nanti. Mulai dari bak mandi, baju bayi, kasur bayi dan sebagainya.
"Apa lagi ya yang kurang?" Gumamnya seraya meneliti catatan kecilnya siapa tahu ada yang terlewat. Sangking sibuk nya dia tak menyadari kalau pandawa sudah pulang.
__ADS_1
"Ibu!" seru pandawa kompak seraya menghambur kepelukannya.
"Pandawa kecilku, kapan kalian pulang, kok ibu nggak denger suara kalian, nih udah ganti baju semua," ujar Sherly seraya memperhatikan penampilan pandawa satu persatu.
"Iya Ibu, tadi bu guru di sekolah ada rapat jadi kita pulang lebih awal," terang Abigail.
"Ibu sedang apa?" tanya Boman memperhatikan kertas yang dibawa ibunya.
"Oh, ini ibu lagi mempersiapkan keperluan ibu saat akan persalinan nanti,"
"Wah, aku tak sabar lihat dedek bayi lahir!" seru Charles sambil mendongakkan kepala menatap langit-langit membayangkan adiknya lahir.
"Adik kita cewek apa cowok bu?" tanya Dave, padahal saat USG bulan lalu sudah diberitahu jenis kelaminnya.
"Cewek sayang,"
"Hore, adikku sebentar lagi lahir!" sorak Ethan kegirangan.
"Ibu, suruh paman Aden untuk menurunkan AC, biar aku benahi!" pinta Boman yang sudah siap dengan peralatannya.
"Oh iya, ibu sampai lupa, tolong panggil paman Aden ke sini!" perintah Sherly, Aden adalah tukang kebun yang sudah lama bekerja di rumah itu.
"Siap, Ibu!" Boman menggerakkan tangannya laksana hormat pada bendera, balik kanan dan keluar kamar.
"Ibu, mau belanja sekarang?" selidik Ethan yang sejak tadi memperhatikan Sherly.
"Nunggu ayah kalian pulang."
"Aku boleh ikut, Bu?" Dave yang sejak tadi mengelus perut ibunya mendongakkan kepala.
"Aku juga mau ikut!" Ethan mengangkat jari telunjuknya.
"Adik, ibu kan mau belanja kebutuhan dedek bayi, sebaiknya kita di rumah saja!" nasehat sang abang Abigail.
"Bener tuh yang dikatakan abang Abi," Charles menimpali.
"Tapi kan, aku mau ikut, mau pilih-pilih baju buat dedek bayi juga," Ethan cemberut seraya menundukkan kepalanya.
"Kan lebih seru jika kita pergi bersama, iya 'kan 'kan!" imbuh Dave yang tak kalah semangatnya pingin ikut juga.
"Ibu, nih paman Aden sudah datang!" Boman datang bersama Aden.
Setelah mendengar perintah nyonya rumah, Aden segera melaksanakan. Dan benar saja belum sampai lima menit, Boman dengan kegeniusannya membenahi AC dengan cepat. Aden memasang kembali ke tempat semula lalu pergi.
Pandawa masih berdebat dengan acara Sherly dan Alva yang akan pergi belanja kebutuhan bayi.
Untuk menengahi perdebatan mereka, Sherly ambil suara.
"Sudah, jangan ribut, kalian ikut semua nanti !"
"Hore, kita ikut!" seru pandawa kompak seraya bergandengan tangan membentuk lingkaran.
Pukul 15.00 Alva pulang dan segera membersihkan diri. Setelah rapi, Alva menuju ke bawah menemui pandawa dan Sherly. Sesuai janji, Sherly akhirnya mengajak pandawa. Alva segera tancap gas menuju plaza mall.
__ADS_1
"Serbu ...!" teriak pandawa di tengah -tengah peralatan bayi.