Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Hampir


__ADS_3

"Bukannya Kak Antonio pagi ini ada meeting ya, kok bisa ada di sini ?" Sherly heran juga.


"A- aku, tadi kebetulan lewat saja," sahut Antonio gelagapan menjawab pertanyaan Boman dan Sherly.


"Ini mencurigakan," bisik Boman pada si abang Abi.


"Kita akan tahu itu setelah pihak dari kepolisian datang." sahut Abi dengan berbisik. Sedikit senyum terukir di mulutnya yang mungil.


Dan benar saja, satu unit mobil polisi dan ambulan datang secara bersamaan.


Antonio kagetnya bukan main, dari mana pihak berwajib itu tahu kalau sedang ada tindakan kriminal di sini?


"Selamat siang!" sapa pak polisi kala turun dari mobil dan berjalan ke arah mereka.


"Si-siang Pak!" sahut Antonio, rahangnya tampak bergetar dan keringatnya mulai mengucur. Jantungnya lebih cepat berdetak dan aliran darahnya semakin cepat mengalir.


"Selamat siang!" sahut pandawa dan Sherly kompak.


Pihak polisi meminta keterangan atas kejadian itu. Sherly menceritakan bagaimana dia bisa dihentikan oleh mereka. Kerumunan warga pun kian meningkat, untuk menghindari kemacetan jalan, pihak polisi meminta Sherly, serta yang lainnya untuk dimintai keterangan di kantor polisi saja.


Sementara para preman yang pingsan segera mendapat pertolongan medis, mereka segera dilarikan ke rumah sakit dan tiga preman yang pura - pura pingsan itu perlahan bangkit dan kepergok akan kabur, namun polisi sudah dulu mengamankan mereka bertiga.


"Mati aku, bagaimana jika mereka mengadu kalau ini semua adalah atas perintahku. Ini tak bisa dibiarkan, aku harus apa? Antonio cepat bertindak sebelum kedok kamu terbongkar?" batinnya gusar. Dia terlihat celingukan mencari akal, namun pandawa terutama Charles dengan cepat dapat merespon pergerakan pamannya itu.


"Ampun Pak polisi, jangan tangkap saya!" rengek tiga preman itu secara bergantian. Sesekali diantara mereka melirik Antonio. Dengan cepat Antonio memberi isyarat padanya untuk tetap diam.


"Sudah, cepat masuk! Kalian jelaskan di kantor polisi sekarang!" perintah pak polisi tanpa mendengar rengekan mereka.


"Tapi, Pak, kami hanya disuruh saja!"


"Diam, dan simpan omongan kalian di sana!" tegas pak polisi.


Tiga preman itu diborgol tangannya agar tak bisa kabur lagi. Mereka segera masuk ke dalam mobil polisi.


Melihat hal itu, Sherly menjadi tenang. Pikirannya melayang, siapa yang berani ingin menculik pandawa?


"Paman, ayo kita ke kantor polisi juga!" ajak Charles.


Antonio pucat pasi muka nya, "I-itu perkara mudah, kalian duluan saja ke sana!" sambungnya asal.


"Kita bersama - sama saja, Paman!" ujar Dave terdengar memaksa.


"Ayo!" Ethan langsung menggandeng tangannya.


"Tunggu, paman kalian ini masih ada urusan mendadak. Paman akan menyusul kalian ke kantor polisi nanti." sahutnya dengan segera menepis tangan Ethan, dia segera menghindari kerumunan itu menuju parkiran motornya.


Dengan cepat Charles menghadang Antonio, "Aku mencium bau kecurangan."


"Curang, apa maksud kamu dengan kecurangan. Paman tidak mengerti apa yang kamu katakan." sahut Antonio seraya menatap tajam ke arah Charles.


Charles menunjukkan kekuatannya yang tiada tara. Dia berhenti tepat di depan ban motornya. Hanya butuh beberapa detik saja dia mampu membuat ban motor miliknya kempes.


"Charles, kamu membuat ban motor ku kempes! Aku tak bisa pergi!" bentaknya kasar, namun tak membuat Charles gentar.


Antonio sangat murka, terlihat dari sorotan matanya yang tampak merah. Tangannya bergetar sambil mengepal.


"Paman tak bisa kabur sekarang, aku tahu ini adalah akal - akalan Paman saja. Bagaimana sikap ayah yang nantinya akan tahu perbuatan Paman?"

__ADS_1


"Kamu bicara apa Charles? Aku tak paham dengan arah pembicaraan kamu." tukas Antonio yang dengan segera menyembunyikan kemarahannya.


Melihat Charles dan Antonio sibuk berdebat Sherly mendatangi mereka.


"Kak, sudah siang, mari kita ke kantor polisi bersama! Dan sepertinya ban motor Kakak lagi kempes. Bagaimana kalau Kakak yang membawa mobilku?" Sherly mengarahkan pandangannya ke ban depan motor milik Antonio, tanpa mendengar sahutan Antonio, Sherly segera menyerahkan kunci mobilnya.


Antonio semakin gusar, hatinya tak karuan. Dia menatap kunci yang Sherly serahkan. "Tak ada pilihan lain," batinnya, terpaksa dia menerimanya.


"Baik," sahut Antonio terdengar pasrah.


Antonio menyusul Sherly dan yang lainnya menuju mobil. Dia segera masuk dan menyalakan mesin. Dengan hati yang masih gusar dia menjalankan mobil itu.


"Aku harus mencari cara agar bisa kabur dari sini."


Selama perjalanan menuju kantor polisi, Antonio lebih memilih diam seraya memikirkan sesuatu. Namun, yang ia pikirkan tak kunjung ketemu hingga tiba lah mobil yang ia kemudikan berhenti di depan kantor polisi.


"Kak, sudah sampai, ayo turun!" ucapan Sherly membuyarkan lamunan Antonio.


"I - iya," sahutnya gugup.


Pandawa cekikikan melihat sikap pamannya.


"Kak Abi, Kakak tahu tidak, mengapa ketiga preman yang berkelahi dengan paman Antonio tak ada bekas luka setelah berkelahi?" tanya Charles.


"Tentu saja, kakak tahu, karena paman Antonio memukulnya dengan hati, jadi tak terasa sakit."


"Karena mereka berkelahi dengan pura - pura," tukas Boman.


"Aku menyadari saat polisi datang tadi, ketiga preman itu langsung bangkit. Aku menaruh curiga pada paman Antonio." imbuh Dave.


"Tangannya pun tak terlihat seperti habis memukul seseorang." sambung Ethan yang secara diam - diam telah mengamati tangan Antonio.


Sherly pun sejauh ini belum tahu kalau ini adalah ulah kakak iparnya.


Mereka semua kini berada di kantor polisi. Antonio yang terlebih dahulu dimintai keterangan. Dia memberikan alibi palsunya.


.


Sementara di rumah sakit, beberapa polisi sudah berhasil menemui preman yang tadinya pingsan dengan sejumlah luka seperti patah tulang, tulang retak, bahkan lumpuh.


"Jelaskan padaku, siapa yang melakukan ini semua pada kalian ?" tanya pak polisi saat menginterogasi ketujuh preman itu.


"Seorang anak kecil, Pak !" sahut mereka kompak.


"Anak kecil?" sahut pak polisi tak percaya begitu saja dengan sahutan ketujuh preman itu.


"Aku tanya sekali lagi, siapa yang membuat tangan kamu patah ?" tanyanya pada salah satu preman yang tangannya berbalut perban.


"Seorang anak kecil, Pak!" sahut preman itu. Polisi mengerutkan dahi seraya berpikir.


"Anak kecil? Kalian jangan bermain - main, aku sedang bertanya serius!" bentaknya yang mengira para preman itu sedang menjahilinya.


"Sungguh Pak, aku berkata benar!"


"Lebih baik Pak Polisi memasukkan aku ke penjara saja, dari pada harus bertemu dia kembali."


"Ya benar itu, Pak!" sahut yang lain.

__ADS_1


Polisi yang sedang membawa catatan itu masih berpikir dengan apa yang harus ia tulis, dia benar - benar bingung dengan keterangan yang ia peroleh.


"Anak kecil mana yang kalian maksudkan, kalian jangan bercanda, tidak mungkin seorang anak kecil melakukan ini semua. Mematahkan tangan dan kaki kalian yang memiliki badan seperti gajah ini." ujar polisi.


"Benar Pak, anak kecil yang memakai seragam dengan jaket levisnya."


Polisi tampak berpikir ulang dan segera menghubungi pihak kantor untuk menanyakan perihal itu.


Tanpa berpikir panjang lagi, polisi tadi segera ke kantor polisi untuk menemui anak kecil yang dimaksud ketujuh preman itu.


Tak butuh waktu lama, polisi itu tiba dan segera mencari anak berseragam dengan jaket levisnya.


Polisi itu tampak terkejut dengan kelima anak dengan wajah yang sama. Matanya tertuju pada Charles.


"Apa benar kamu yang telah membuat preman - preman itu cidera?" tanya polisi saat dirinya mensejajarkan tubuhnya agar setara dengan Charles.


Charles hanya mengangguk.


"Itu tidak mungkin,"


.


Sementara di tempat Alva bekerja.


"Aku sudah menyelesaikan semua urusanku di sini, dan saatnya aku pulang." ujarnya setelah menutup tumpukan map yang baru saja ia tanda tangani.


Alva segera memesan tiket untuk kepulangannya ke Jakarta.


Alva kini tengah membereskan semua perlengkapannya. Setelah menyerahkan map itu ke kepala devisi pembangunan, dia akan segera berangkat.


Tiga puluh menit dia sudah meninggalkan hotel dan membawa kopernya.


Alva menyerahkan setumpuk map kepada kepala divisi di area pembangunan.


"Tuan, putriku sakit dan terus memanggil nama Tuan!" ujar seorang wanita yang berhasil membuat Alva berhenti saat akan masuk ke dalam mobilnya. Satu jam lagi pesawat yang akan ia tumpangi akan lepas landas.


Alva bersin - bersin terhadap kedatangan wanita itu.


"Maaf, aku harus segera pulang!" ujar Alva yang segera masuk ke dalam mobil.


Wanita itu menggedor pintu mobil dengan keras.


"Tapi Tuan, putriku sakit!"


Alva membuka pintu kaca.


"Bawalah dia ke rumah sakit!" ujar Alva yang masih bersin - bersin.


"Aku tak punya banyak uang, Tuan!" rengek wanita itu mengiba.


Alva terdengar menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Tuan, putriku sangat membutuhkan Tuan! Dia sudah menganggap Tuan adalah ayahnya." ujar wanita itu. Dia berharap bisa meluluhkan Alva dengan alasan putrinya.


"Maaf, aku sudah memiliki istri dan lima anak kembar." terang Alva membuat wanita muda itu menganga tak percaya. Dia sudah salah mengira kalau Alva adalah pria single yang sudah jatuh hati padanya.


Tanpa banyak bicara lagi Alva segera mengeluarkan cek dari koper dan pulpen dari sakunya. Dengan cepat dia menulis pada selembar kertas itu.

__ADS_1


"Ini," Alva menyerahkan cek dengan nominal angka lima puluh juta.


Wanita itu menerimanya dengan tetap tak percaya kalau dia baru saja kehilangan calon ayah untuk putrinya, padahal hampir saja statusnya berubah.


__ADS_2