Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Menyelesaikan Kasus


__ADS_3

"Cepat katakan!" bentak Alva yang mulai emosi, dia menarik lebih kuat kerah leher Wendy sehingga membuat dia kesulitan bernafas.


"A-aku melakukan ini semuanya sandiri, tak ada yang membantuku." sahut Wendy yang kemudian dia batuk-batuk saat Alva melepaskan kerah bajunya.


"Apa kamu mau menipu ku lagi? Hah!Kamu kemana kan semua dana tiga bulan terakhir ini?" tanya Alva dengan tatapan murka.


"A-aku sudah menggunakan dana itu untuk keperluan pribadi, dan sisanya sudah aku wujudkan berupa tanah dan rumah." terang Wendy dengan perasaan bersalah. Dia memang sengaja mengambil kepercayaan yang telah Alva berikan untuk mengelola keuangan perusahaan. Selain itu, Wendy juga kerap menggunakan fasilitas pribadi Alva tanpa sepengetahuannya. Terlebih saat Alva mengunjungi cabang hotel miliknya di Luar Jawa.


"Apa? Secepat itu? Wendy, jumlah uang itu tak sedikit dan kamu bisa menghabiskan dalam sekejap saja!" Alva menggaruk kasar kepalanya yang hampir pecah rasanya.


Wendy terdiam dan menundukkan kepala lesu.


"Mulai detik ini juga, tinggalkan ruangan ini! Aku putuskan untuk memecat kamu!" teriak Alva, kedua matanya tampak bersinar merah, nafasnya pun terdengar naik turun.


"Alva, kita bisa bicarakan kesalah pahaman ini baik-baik. Aku mohon jangan pecat aku!" Wendy menyusuri lantai memohon di depan kaki Alva. Alva mundur sedikit.


"Cih, tak bisa dipercaya. Sekali seseorang itu membuat kesalahan padaku, takkan ku beri ampun padanya. Terlebih lagi ini mengenai uang rakyat. Kamu bisa seenaknya menggunakan dana itu untuk kepentingan pribadimu. Sungguh rakus kamu!." tegas Alva lalu membalikkan badan meninggalkan ruangan Wendy.


Terlihat Wendy mengacak-acak rambutnya frustasi.


Alva mempercepat langkahnya menuju ruangannya, beberapa bukti dan berkas lain ada di sana. Dia ingin segera menyelesaikan kasus yang telah Wendy perbuat.


"Sherly, ayo ikut aku!" perintah Alva yang terdengar memaksa. Sherly yang tengah mengepel menoleh ke arah sumber suara, mulutnya manyun menanggapi ajakan Alva.


"Ada apa dengan mulutmu? Jangan seperti itu jika di depan atasanmu!" lagi, Alva mulai ketagihan menyentil dahinya.


"Pletak..."


"Aduh, sakit tahu! Seenaknya saja, menyentil dahi orang sembarangan. Ini dahi bukan kelereng!" omel Sherly.


Alva tersenyum tipis melihat reaksi Sherly yang terlihat semakin manis.


"Rasanya jantungku mau copot saja, perasaan apa ini? Semakin dia marah semakin aku tertarik padanya." batin Alva, dia segera menyiapkan berkas untuk menemui rekan bisnisnya yang mengalami kerugian masalah dana yang sudah masuk dalam anggaran perusahaan. Berkas yang ada di meja ia masukkan ke dalam tas hitam.


Sherly melangkahkan kaki sambil membawa alat pel, bermaksud mengembalikan pada OB.


"Mau ke mana kamu?" tanya Alva yang sudah siap dengan berkas di tangan.


"Mengembalikan ini!" Sherly menunjukkan alat pel itu.


"Sudah, biarkan di situ! Aku sudah menghubungi OB untuk menyelesaikan ini. Lihat pekerjaan mu, malah memperburuk ruanganku!" Alva berjalan melewati Sherly. Sherly menganga dibuatnya.

__ADS_1


"Apa dia bilang? Pekerjaan ku malah memperburuk? Lihat saja nanti, akan aku tunjukkan kekuatanku yang sebenarnya. Aku Sherly ibu dari 5 anak tak mudah menyerah melakukan hal sepele seperti ini!" gerutunya sambil mengepalkan tinju seolah tinju itu ia arahkan pada seseorang yang membuatnya emosi.


Sherly segera menekan tombol on pada anting-antingnya, berjaga -jaga kalau dalam diskusi nanti jasanya dipergunakan.


Hampir dua jam Alvarendra berdiri di ruang rapat itu. Tegak, berkarisma dan sangat disegani. Dia bertanggung jawab penuh atas kasus yang menimpanya. Kewibawaan dan reputasinya hampir jatuh, beberapa dewan tak setuju jika Alva yang menjadi pemimpin. Namun dengan kepintarannya dalam IT, Alvarendra berhasil mengembalikan keadaan seperti semula. Dia menunjukkan bukti asli bahwa dia tak pernah menggunakan dana itu. Kasus korupsi yang menjeratnya ternyata ulah dari sahabatnya sendiri.


Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Alva memberikan janji untuk mengembalikan dana yang hilang itu.


"Bagaimana Presdir akan membayarnya?" salah satu dewan rapat meragukan janji Alva.


"Aku akan menjual beberapa saham yang aku punya." sahut Alva tanpa gentar sedikit pun.


"Saham? Bahkan harga saham kini lebih rendah dari pada harga emas." sahut anggota rapat yang lain.


"Ya betul itu," ujar yang lain.


Suasana rapat menjadi hiruk pikuk dengan lontaran berbagai pendapat dari para peserta rapat.


"Diam semuanya!" teriak Alva mengheningkan semua orang yang ada di ruangan itu.


"Beri aku kesempatan, jika selama satu pekan aku tak mampu mengembalikan dana itu, aku Alvarendra Rizki bersedia lengser dari kedudukanku sebagai pemimpin perusahaan Bank Core ini!" terang Alva membuat semua yang hadir saling pandang dan menganggukkan kepala.


Keputusan Alva akhirnya mendapatkan persetujuan dari semua orang.


Selama rapat Sherly sibuk mencatat hal-hal yang dianggap penting, selain itu juga dia menerjemahkan beberapa anggota rapat yang bertanya dengan menggunakan bahasa Jepang dan Belanda.


.


"Percuma jika pelakunya berada di dalam penjara." gerutu Alva saat jam istirahat, dia tengah duduk berjejer dengan Sherly di depan perusahaan. Di sana mereka berdua tengah mendinginkan kepala dengan menikmati es krim yang baru saja Sherly beli di supermarket terdekat.


"Lantas apa rencana Presdir sekarang?" tanya Sherly sambil menjilati es krim rasa cokelat itu.


"Hm, mengembalikan dana secepatnya." sahut Alva yang tak kalah asyik menikmati es krim rasa vanila.


Mendadak Alva teringat dengan nasi goreng buatan Sherly yang membekas di wajahnya pagi tadi.


"Mana nasi gorengmu?"


"Ada di tas." sahut Sherly menunjuk dengan dagunya. Karena kedua tangannya sibuk dengan es krimnya. Punya Alva sudah ludes masuk ke perut.


Alva menarik tas yang tergeletak di samping Sherly.

__ADS_1


"Eits, mau ngapain Presdir?" Sherly menggapai tasnya namun tak sampai.


Dengan cepat Alva mengeluarkan kotak bekal milik Sherly dari dalam tas, dan membuka isinya. Alva melongo dengan isi kotak tersebut.


"Tinggal ini?"


"Memangnya Presdir mau apa dengan sisa nasi goreng itu?" Alva tak menyahut dan menyerahkan tas yang kotak bekalnya sudah ia kembalikan pada semula.


Alva mendengus kesal, segera ia menyemprotkan antiseptik pada kedua telapak tangannya.


"Cepat habiskan es krimmu dan ikut aku!" perintahnya yang terdengar memaksa. Alva berdiri dan meninggalkan Sherly sendiri.


"Tunggu Presdir!" Sherly segera melahap contong es krim yang tinggal satu gigitan itu. Sambil mengelap dengan tisu yang ada di dalam sakunya, dia setengah berlari mengejar Alva.


.


"Thomas, kita berhenti dulu!" perintah Alva ketika melihat karangan bunga di tepi jalan. Dia keluar setelah mobil itu berhenti. Membeli buket bunga setelah itu dia masuk mobil lagi. Perjalanan dilanjut menuju sebuah pemakaman umum. Alva turun menuju pemakaman almarhumah ibundanya. Meletakkan buket itu di bawah nisan.


Pandangan matanya tampak kosong. Kalimat terakhir yang almarhumah ibundanya, bernama Marta selalu terngiang-ngiang dalam benaknya. Dia masih ingat betul pesannya agar bisa menjaga keutuhan keluarga setelah Marta pergi. Hal mustahil yang bisa terjadi, melihat sikap sang kakak yang sulit sekali di ajak berdamai.


Selesai berdoa dia beranjak pergi.


"Kita akan ke mana lagi Tuan?" tanya Thomas ketika menyalakan mesin mobil.


"Antarkan aku pulang saja! Aku ingin istirahat, menikmati kasurku yang empuk. Sehari saja tinggal di tahanan bagai rasa setahun." sahut Alva sambil memejamkan mata, kepala nya ia sandarkan karena terasa berat untuk menopangnya.


Beberapa peristiwa hari ini membuat kepalanya sedikit pusing. Kejadian pagi tadi saat berada di rumah sakit, di ruang kerjanya bersama Sherly dan terakhir harus terpaksa memusuhi sahabatnya sendiri.


Betapa tidak, sahabat bak saudara sendiri telah menikungnya dari belakang. Sulit dipercaya namun itu adanya. Alva benar -benar bingung untuk memutuskan sendiri. Selama bekerja padahal Alva selalu bersikap bijak pada semua rekan bisnisnya, termasuk kepada Wendy.


Pernyataan Wendy saat di ruangannya tadi benar-benar membuat dia shock. Wendy malah menguras habis uang yang bukan miliknya.


"Baik Tuan." Thomas mempercepat laju mobilnya.


Hampir setengah perjalanan Alva tidur, ia teringat handsanitize punya nya tinggal separuh. Dia membuka matanya.


"Berhenti!" perintah Alva. Seketika Thomas menepikan mobilnya.


"Ada apa Tuan mendadak menyuruh saya berhenti? Apa ada sesuatu yang tertinggal di kantor? Atau mungkin Tuan merasa lapar?" tanya Thomas beruntun.


"Kamu bisa cerewet juga seperti dia."

__ADS_1


"Dia? Siapa yang Tuan maksud dengan 'dia' itu?" Thomas penasaran sambil mengerutkan dahi.


"Dia adalah..."


__ADS_2