
"Awas ... !" pekik Sherly saat dia hendak menyeberang jalan setelah membeli air mineral di mini market.
Sherly menarik kaos pria yang terlihat seperti turis, pria itu hampir tertabrak mobil andai saja Sherly tak menariknya.
"Hah ... !" pria itu baru tersadar, ternyata dia sedang melamun dan tak memperhatikan arah. Padahal Sherly sudah meneriaki agar segera menepi karena dari arah berlawanan ada mobil melaju sangat cepat ke arahnya.
"Hati-hati Bang, masih sayang kan dengan nyawa Abang?" seru Sherly setelah mereka berdua berhasil menepi.
Pria itu masih shock dengan apa yang baru saja terjadi.
"O-iya, terima kasih Mbak!" balas pria itu sembari membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot.
"Jangan panggil aku mbak, sejak kapan aku menikah dengan kakakmu!" omel Sherly yang tak suka mendapatkan panggilan itu.
"Maaf aku nggak punya kakak." ujar pria itu.
"He he he, maaf Mbak, eh, aku harus panggil apa nih?" gurau pria itu menggaruk kepalanya membuat Sherly cekikikan sendiri.
"Terserah," sahut Sherly asal sambil berlalu meninggalkan pria itu.
"Tunggu, terserah!" panggil pria itu, terdengar aneh Sherly pun menoleh.
"Apa barusan kamu memanggilku?" Sherly mendekatkan kupingnya.
Pria itu tersenyum sehingga tampak lesung di pipinya.
"Ditanya malah senyum-senyum sendiri, eits, dasar cowok aneh!" Sherly hendak membalikkan badannya namun tangannya berhasil diraih oleh pria itu.
"Lepaskan!" Sherly menarik tangannya.
"Ho ho, maaf," pria itu mengangkat kedua tangannya setinggi bahu, "Perkenalkan namaku Toni!" pria bernama Toni itu mengulurkan tangannya.
Sherly yang merasa tak enak untuk menolak tawaran dia untuk berkenalan akhirnya mau juga menjabat tangannya.
"Sherly," sahutnya singkat.
"Aku udah telat nih," gumamnya seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kalau begitu bareng aku saja!" tawar Toni.
"Aku bareng sama sopir." terang Sherly seraya menunjuk mobil kantornya yang berhenti karena macet.
"Kelamaan, sudah bareng sama aku saja, itung-itung balas budi atas kebaikan kamu tadi." desak Toni yang mengetahui kecemasan di wajah Sherly.
"Emang dasarnya aku orang baik kok." tukas Sherly seraya melihat kembali arlojinya.
"Bagaimana ini, aku hampir telat. Semoga saja pagi ini presdir Alva tidak ada jadwal, aku belum sempat tanya ke Lia juga?" batinnya terlihat cemas.
"Ayo," tiba-tiba tanpa Sherly sadari Toni sudah berada di atas motor ninja nya.
__ADS_1
"A-aku, gimana ya?" tampak keraguan dari wajahnya ingin menolak atau menerima.
"Nih," Toni menyodorkan langsung helm nya pada Sherly. Sherly masih termenung antara menerima atau tidak.
"Semakin siang kendaraan akan macet. Belum tentu kamu akan sampai di tempat kerja tepat waktu. Sudahlah terima ini!" desak Toni.
"Baiklah," Sherly menerima helm itu karena waktu sudah memaksanya untuk segera pergi. Sherly segera mengenakan di kepalanya. Toni segera memakai helm punya nya juga.
Sherly masih mematung.
"Kenapa diam, cepat naik!"
"A-aku tak tahu caranya."
"Oh my good, kamu manusia dari mana sih, begitu saja tak tahu." Toni menepuk bahunya agar Sherly bisa berpegangan padanya.
Sherly berhasil naik.
"Pegangan yang erat!" teriak Toni terdengar suaranya tak jelas.
Sherly bingung karena tak tahu caranya. Dia asal berpegangan pada pundak Toni.
"Dimana tempat kamu bekerja?" tanya Toni ketika motornya sudah melaju jauh meninggalkan tempat bertemu tadi.
"Bank Core," sahut Sherly singkat dan datar.
"Aku tahu tempat itu."
Tak terasa mereka sudah sampai. Tadi Sherly sudah memberi kabar pada sopirnya kalau dia ke kantor naik motor.
"Terima kasih," Sherly melepas helm nya dan memberikan pada Toni.
"Sama-sama, boleh aku minta nomor ponsel mu?" Ujar Toni seraya melepas helmnya.
"Untuk apa?" Sherly mengernyitkan dahi.
"Ya, untuk memperbanyak teman saja, boleh ya?" pintanya sedikit memaksa.
"Ya deh!" seru Sherly dan segera mengeluarkan ponsel dari tas kerja nya, mereka bertukar nomor. Toni melemparkan senyum, dia memakai kembali helm lalu segera menghilang dari sana.
Sherly mempercepat langkahnya menuju ruangan Alva.
"Maaf kan aku Presdir, aku datang sedikit terlambat." ujar Sherly seraya membungkuk hormat.
"Bukan sedikit, tapi sudah banyak waktu ku yang terbuang untuk menunggumu!" sahut Alva yang sudah tak sabar ingin menanyakan perihal keadaan Sherly 6 tahun lalu. Melihat Sherly datang terlambat membuat dia kecewa dan mengurungkan niatnya.
"Sekali lagi maafkan aku Presdir!" Sherly mengulangi lagi perkataannya.
"Kamu aku hukum!"
__ADS_1
"Walah, baru telat 10 detik saja sudah dapat hukuman, bagaimana kalau telat satu jam?" gerutunya dalam hati.
"Ta-tapi Presdir, aku hanya telat 10 detik saja," Sherly penuh penekanan pada kata detik.
"10 detik saja kamu bisa remehkan, padahal 10 detik itu sangat berharga jika kamu berada di posisi sebagai penjinak bom. Hitungan waktu itu sangat berharga Sherly? Aku harap kamu bisa ingat itu! Aku tak mau punya karyawan yang mengabaikan waktu." Alva penuh dengan tatapan serius.
"Baik Presdir," sahut Sherly datar dan tak berani membantah lagi.
"Gara-gara bertemu pria tadi aku jadi telat." batinnya.
"Sebagai hukumannya temani aku makan malam nanti!" tegas Alva, tampaknya Alva merencanakan sesuatu agar bisa ngobrol berdua saja dengannya.
"Hah?" Sherly sedikit terperanjat dengan ajakan Alvarendra yang secara terang-terangan ini.
Sherly tahu betul sifat Alva seperti apa jika sedang marah, jadi untuk menghindari kemarahannya dia terpaksa menerima ajakannya.
"Ba-baik Presdir." Sherly menganggukkan kepala.
Tampak terpampang wajah bahagia, senyumnya merekah membuat jantung Sherly berdebar hebat.
"Ya Tuhan, tampan sekali cowok di depanku, terlebih senyumannya bak arjuna itu bikin tubuhku meleleh." Sherly melamun dengan tatapan kosong, hingga tak sadar Alva memanggilnya berulang kali.
"Sherly!" panggilan Alva yang kesekian kali akhirnya berhasil membuyarkan lamunannya.
"I-iya Presdir," Sherly menjadi salah tingkah jika terlalu lama di dekatnya.
"Pletak..." dahi Sherly akhirnya jadi tempat sasaran.
"Aw, sakit!" keluhnya.
"Jangan melamun saat atasanmu berada di depanmu!"
"I-iya Presdir," Sherly masih mengusap dahinya sambil meringis.
"Ayo, perusahaan X sebentar lagi datang, kita sebaiknya ke ruangan meeting sekarang!" ajak Alva yang terlebih dulu berjalan.
"Kenapa denganku, bagaimana bisa aku menyukainya. Seharusnya aku lebih tepatnya membencinya. Ya, secara tak sadar cowok itu telah merebut kesucian ku 6 tahun lalu. Entah itu benar atau tidak, aku teringat bik Kah bercerita kalau kak Imel menyuruh tamu nya yang sedang sakit untuk istirahat di kamar tamu. Tapi, bagaimana bisa aku salah masuk kamar tamu?" Sherly mengingat masa lalunya lagi, dia merutuki nasibnya.
"Ah, lebih baik aku fokus bekerja dulu, untuk masalah ini akan aku tanyakan langsung padanya, entah dia ingat atau tidak, suatu saat nanti dia harus menerima akibat dari perbuatannya." Sherly segera menuju ruang meeting.
Mereka berdua kini berada di ruangan meeting.
"Apa kamu sudah punya pacar?" mendadak pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa Alva timbang dulu, pantas atau tidaknya pertanyaan itu diucapkan. Alva tak sadar kalau yang di ajak bicara tengah sibuk dengan ponselnya.
"Hah, apa Presdir, aku tak dengar, maaf aku sedang membalas pesan dari temanku." Sherly mendapat pesan singkat dari Toni.
"Ah, lupakan!" Alva tak jadi meneruskan kalimatnya.
Pipinya terlihat sangat merah menahan malu.
__ADS_1
"Ayo lah Presdir, ulangi perkataanmu tadi!" Sherly merengek.
"Aku tak berkata apa-apa." Alva cuek dengan pesona Sherly yang dibuat-buat sedemikian rupa.