Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Takkan Tergantikan


__ADS_3

"Ayah, Ibu, aku pamit sebentar ke toilet," ujar Abi sambil berdiri.


"Iya, jangan lama-lama." sahut Sherly.


"Apa perlu ayah antar?" tanya Alva seraya meletakkan garpunya.


Abi mengangkat tangan, "Tidak perlu Ayah, aku berani sendiri." sahut Abi dan bergegas meninggalkan mereka yang ada di sana.


"Mas Alva jangan meremehkan si abang, dia pandai menjaga diri meski usianya masih balita." tutur Sherly.


"Iya mas tahu, tapi paling tidak aku menunjukkan rasa kekhawatiran ku padanya." sahut Alva seraya menaikkan alisnya.


"Sudahlah, ayo dilanjutkan makannya!" ajak Sherly yang segera memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Suasana jalan nampak ramai, kebetulan malam ini malam minggu. Jadi banyak pemuda yang berhamburan keluar rumah.


Abi mengamati kondisi sekitar, di rasa dirinya aman dan setelah toleh kanan toleh kiri serta tak ada yang mengikuti, dia mempercepat langkahnya dengan sedikit berlari menyeberangi jalan.


Sampailah dia di pintu restoran magic. Abi mengamati keadaan sekitar. Restoran itu penuh dengan jendela kaca. Banyak lampu gantung menghiasi di atasnya, cahayanya yang temaram membuat pengunjung semakin tertarik.


Terlihat kasir sedang merinci total pembayaran dari pelanggannya.


"Semuanya menjadi 650 ribu rupiah." ucap Abi sontak membuat kasir menoleh. Awalnya si kasir hanya cuek saja dengan apa yang Abi ucapkan, tapi setelah mengecek sendiri nominal di layar komputernya, hasilnya sama dengan yang Abi sebutkan.


"Benar," si kasir mengulang perhitungannya, "Kamu hebat, masih kecil sudah pandai berhitung!" dia menatap dalam wajah Abi.


Pelanggan pun sempat dibuatnya takjub. Beberapa pelanggan yang melihat kejadian itu ingin mengetes sendiri kepintaran Abi dalam berhitung. Mereka tak segan memberikan penjumlahan dengan nominal angka yang besar. Dalam sekejap saja Abi mampu menjawabnya.


"Anak siapa ini gemes banget, sudah pintar tampan pula, pingin aku bawa pulang saja!" ujar salah satu pelanggan.


"Dia mirip sekali dengan presdir Alvarendra." sahut yang lain.


Abi hanya diam dengan wajah polosnya seraya mendongak menatap mereka.


Kerumunan membuat sang meneger restoran magic datang menghampiri Abi.


"Anak siapa ini, malam-malam keluyuran!" tegur pak manager.


"Maafkan atas sikapku Pak!" sahut Abi seraya mengamati penampilan pria besar di hadapannya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya si manager.


"Aku ingin memesan makanan dan tolong antarkan ke alamat xxx." ujar Abi seraya menunjuk menu yang tertera di atas meja sampingnya dimana ia berdiri.


Manager tampak terdiam memikirkan sesuatu.


"Tenang saja Pak, aku akan membayarnya." Abi mengeluarkan uang dari saku celananya dan menjejernya di atas meja. Sebagai tanda bukti kalau dia tak bohong.


"Aku tak peduli dia dapat uang itu dari mana, yang penting bagiku adalah uang, uang dan uang. Karena uang adalah segalanya." batin si manager itu.


"Baiklah, apa yang perlu aku masukkan?" tanya si manager kemudian seraya tangannya melambai ke arah pelayan.


Abi memesan makanan hampir mirip yang Antonio pesan. Beda nya ini ayam panggang langsung berisi 2 butir telur ayam. Setelah selesai memesan ayam panggang dan membayarnya Abi segera menuju tempat ayah dan ibunya.

__ADS_1


"Abi, kamu nggak apa-apa kan Nak?" tanya Sherly tampak cemas lantaran Abi begitu lama pergi ke kamar mandi.


"Ayah baru saja akan menyusulmu," Alva kembali duduk.


"Abi tadi masih mengantre jadi agak lama. Maaf telah membuat Ayah dan Ibu khawatir." tutur Abi.


"Ya sudah, kalian sudah kenyang kan?" tanya Alva sembari merogoh dompet di saku celananya.


"Sudah Ayah!" sahut pandawa kompak.


"Kalau begitu ayo kita pergi!" ajak Alva, ia berdiri diikuti yang lain.


Sherly menggiring pandawa keluar restoran, sementara Alva masih mengurusi pembayaran. Mereka kembali menuju ke rumah sakit.


"Ayah, giliran aku yang digendong," Boman tampak mengulurkan tangan.


"Sini ibu gendong ya!" Sherly merentangkan tangan.


"Enggak mau, kan giliran Boman Bu!" rengeknya.


"Kan ayah capek," Sherly mencoba memberi pengertian pada Boman seraya melirik Alva.


"Sudah, biarkan, ayah tidak terlalu capek kok. Ayo sini naik ke punggung ayah!" Alva duduk berjongkok seraya menepuk bahunya.


Dengan langkah riang Boman segera naik ke punggung ayahnya.


"Mas beneran nggak capek?" tanya Sherly.


"Baiklah Mas, kalau itu maumu." Sherly pasrah.


"Ayah tahu, apa yang ada di pikiranku sekarang?" Boman meminta ayahnya menebak.


"Apa ya, nyerah deh ayah!"


"Aku merasa menjadi anak yang paling ... bahagia sedunia."


"Benarkah, coba cerita sama ayah apa yang membuat putra ayah yang satu ini bahagia!"


"Karena aku menjadi putramu, Ayah."


"Sungguh, ayah menjadi terharu dengan jawabanmu." Alva tampak berkaca -kaca matanya.


Andai dia tak bertemu Sherly secepatnya, entah sampai kapan pandawa merasa kehausan akan kasih sayang dari seorang ayah.


"Abi, sini ayah gendong!" Alva menurunkan Boman dan meminta Abi untuk mendekat.


"Tidak Ayah. Terima kasih. Aku bisa berjalan sendiri." sahut Abi yang berlalu melewati Alva yang sejak tadi berjongkok.


Tanpa berpikir panjang Alva langsung mengikuti Abi dan meraih tubuhnya.


"Aw, Ayah!" pekik Abi lantaran kini sudah berada dalam gendongan Alva.


"Aku sangat menyanyangimu, Ayah."

__ADS_1


"Aku juga, sangat menyanyangimu." Alva mencium kedua pipinya yang gembul.


Sesampainya di rumah sakit,' tepat saat dokter keluar dari ruangan operasi.


Sherly menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan Wendy.


"Operasi berjalan lancar, benar apa yang dikatakan anak kecil tadi, usus pasien telah robek akibat tusukan pisau. Kini kondisi pasien sedang tertidur." terang dokter, Sherly manggut -manggut mengerti. Dokter itu segera pergi untuk melakukan operasi diruangan lain.


Alva mendekati Sherly, "Sayang apa kata dokter tadi?" tanyanya.


"Operasi kak Wendy berjalan lancar,"


"Syukurlah kalau begitu." tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia segera merogoh dari saku celananya.


"Iya, hallo dengan saya sendiri, ada apa?"


"Baik, saya akan segera kesana!" Alva kemudian memasukkan lagi ponselnya.


"Dari siapa Mas?" Sherly tampak khawatir. Alva sendiri segera


"Pihak polisi sudah menyelidiki kasus ini, dan penjahatnya sudah mengaku siapa yang menyuruh mereka."


"Aku akan ke sana sekarang."


"Aku ikut Mas, aku ingin tahu sendiri siapa dalang dibalik ini semua."


Pada awalnya Alva hanya ingin pergi sendiri, tapi karena Sherly tetap memaksa. Akhirnya dia mengajak Sherli pergi ke rumah sakit.


Alva menghubungi anak buahnya untuk menjaga pandawa selama dia tak ada di sana.


Pengawal berjumlah 5 orang itu telah datang. Alva dan Sherly segera menuju parkiran mobil setelah memberikan arahan pada para pengawal.


Alva ingin membahas masalah sore tadi. Namun, lidahnya terasa kelu.


"Sherly, ada yang ingin aku sampaikan padamu." pinta Alva seraya menyetir.


"Iya Mas, ada apa?" Sherly mulai menyimak.


"Kamu dan Wendy sebenarnya ada hubungan apa?" Alva takut jika istrinya tersinggung, tapi lebih takut lagi jika ia tak segera bertanya. Agar hatinya terang, tak menaruh curiga lagi.


"Mas, aku sebenarnya sama kak Wendy adalah masih ada hubungan kerabat. Istrinya adalah kakak tiri aku. Tapi, benar kok, aku dan dia tidak ada hubungan yang serius seperti yang Mas Alva duga." terang Sherly.


Alva tersenyum, "Jadi Imel itu kakak tiri kamu?" Alva tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.


"Sempat terbesit dalam benakku, kalau kamu mau nyelingkuhi aku." tukas Alva seraya menoleh pada penumpang di sebelahnya kemudian berfokus lagi menyetir.


"Tidak akan Mas dan tidak akan pernah. Kamu adalah cinta pertama aku. Sampai kapan pun cinta aku ke kamu takkan tergantikan." terang Sherly seraya menarik tangan Alva yang sebelah, membawa dalam dekapannya. Alva menepikan Ferrari nya.


"Aku cinta kamu, istriku."


"Aku juga cinta kamu, suamiku."


Mereka berdua larut dalam ciuman hangat di bawah temaram nya cahaya bulan.

__ADS_1


__ADS_2