Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Bertemu Charles


__ADS_3

"Dia adalah...sudahlah, jangan mempertanyakan itu lagi. Aku turun sebentar, kamu tunggu saja di sini!" Alva segera ke luar dari mobil.


Pandangannya ia edarkan mencari supermarket, dia melihat supermarket di seberang jalan kurang lebih 100 meter jaraknya.


Di supermarket itu dia membeli banyak sekali produk-produk antiseptik maupun anti bakteri.


Selesai membayar dia segera menuju mobil. Saat akan menyeberangi jalan, mendadak tubuhnya tersenggol pria berjaket hitam.


"Maaf!" seru pria berjaket hitam.


"Kalau jalan hati-hati dong, orang segede gini masak nggak lihat!" omel Alva seraya refleks merogoh sakunya yang terasa ringan.


"Dompet ku!" teriak Alva seraya menunjuk arah pria berjaket yang terlihat sudah lari kencang.


Bukan Alva namanya kalau tak sanggup mengejar pria itu.


Alva berlari kencang sambil menenteng tas keresek putih, berbagai orang berlalu lalang sempat menghalangi. Alva melompat jajaran pagar yang terbuat dari tanaman hias. Berlari lagi mengejar pria berjaket hitam.


Sampailah dia di suatu lapangan yang luas nan sepi. Seharusnya tempat itu ramai kala di sore seperti ini.


Alva kehilangan jejak pria itu, sambil menata nafasnya yang terengah-engah setelah berlari ribuan meter.


"Sial, ke mana perginya pencopet itu!" gerutu Alva yang tanpa sadar dia sudah di kepung oleh sekelompok geng.


Alva membenarkan posisi berdirinya setelah beristirahat sejenak.


"Mau apa kalian!" tegur Alva dengan matanya menatap satu per satu wajah sekelompok geng yang berjumlah 5 orang itu.


"Kamu mencariku?" sahut pria berjaket hitam sambil memperlihatkan dompet hasil copetannya tadi.


"Kamu yang mencopet ku!" ucap Alva menunjukkan jarinya ke arah pria berjaket hitam.


"Alvarendra Rizki, presdir kaya yang baru saja naik daun. Terkenal sangat menjaga kebersihan." kata pria berjaket hitam.


"Bagus kalau kamu sudah tahu, aku tak perlu repot-repot menjelaskan padamu siapa aku." terang Alva datar dan tak terlihat panik untuk menghadapi mereka semua sewaktu-waktu bisa saja terjadi perkelahian. Alva menjatuhkan tas keresek putih yang sejak tadi ia genggam.


"Cih, sombong sekali. Pantas banyak orang tak menyukai pribadimu. Cepat, hajar dia!" perintah pria berjaket hitam pada anak buahnya.


Alva tak mudah diremehkan, keahlian karate sudah ia sandang sejak di bangku SMP, bahkan dia pernah mendapatkan kejuaraan tingkat Nasional dalam mewakili sekolahannya.

__ADS_1


Dia mulai memasang kuda-kuda dan siap beradu tanding kapan pun musuh menyerang.


"Hiya...!" musuh mulai menyerang, bukan satu lawan satu tapi mereka kompak mengepung Alva dan siap melayangkan pukulan.


Alva menangkis pukulan demi pukulan, salto ke kanan dan ke kiri. Serangan musuh tak satu pun melukai dirinya. Giliran dia yang melakukan penyerangan. Alva memberikan pukulan tepat mengenai perut, tangan dan kaki mereka.


Musuh tumbang, lalu bangkit lagi. Salah satu dari mereka, yakni pria berjaket hitam yang tadi entah kemana kini terlihat membawa ember.


Alva sendiri sedang sibuk memberikan pukulan pada musuhnya. Diam-diam secara perlahan namun pasti, pria berjaket hitam itu mengguyur tubuh Alvarendra dengan air comberan.


Alva tersadar saat kulitnya terasa basah dan lengket. Dia mengendus bau di tubuhnya dan menatap kedua tangannya yang telah kotor bekas terkena air comberan. Pakaiannya pun basah dan tampak butiran-butiran air menetes di tanah.


Seketika itu Alva merasa jijik pada pakaiannya bahkan tubuhnya sendiri. Mengibaskan kedua tangannya dengan ekspresi yang sulit digambarkan.


"Ih, menjijikkan." desah Alva, terasa semua kulit yang membungkus tubuhnya mulai gatal, ia merasakan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Semuanya terasa gatal, ingin sekali dia menggaruk tubuhnya.


Rasa gatal semakin berubah panas, ia tak tahan lagi. Mulai melonggarkan dasinya dengan paksa dan tangannya pun sudah berhasil menggaruk tengkuknya.


Peluang yang bagus itu dipergunakan musuh untuk menyerang Alva. Alva yang terlihat sibuk dengan tubuhnya yang berbalut air comberan itu tak menyadari kalau musuhnya sudah berada sangat dekat jaraknya.


"Hiya ...!" mereka melakukan serangan brutal. Menendang, memukul bahkan sampai mengenai bagian area sensitifnya.


"Ahk ... ," rintihan Alva terdengar miris. Dia tak sanggup untuk berdiri. Bukannya karena pukulan bertubi-tubi yang ia dapatkan, melainkan karena mysophobia yang ia derita. Dia sangat alergi dengan tempat kotor, ini malah tubuhnya yang kotor.


"Hahaha, rasakan itu! Emang enak bau comberan?" ledek pria berjaket hitam.


"Sialan, bagaimana mereka bisa tahu kelemahan ku. Aku terlihat sangat lemah di mata mereka. Ini tak bisa dibiarkan." Alva dengan tekadnya yang kuat mencoba berdiri melawan phobia nya. Ah, namun tak bisa. Kaki yang sangat kuat sebagai tumpuan itu tak mampu berdiri. Sedang tubuhnya yang kekar itu tak mampu juga untuk tegap. Alva terasa lembek.


"Bagaimana Bos, kita habisi saja nyawanya sekarang?" tanya salah satu dari mereka.


"Tunggu, aku masih ingin bersenang-senang!" sahut pria berjaket hitam itu seraya berjalan mendekat ke arah Alva.


Dia menjambak rambut Alva dengan sangat kuat, membuat Alva mendongak. Alva tak sanggup untuk melawan, dia hanya mampu menatap wajah musuhnya.


Pukulan di wajah berhasil membuat bibir dan hidung Alva berdarah.


"Rasakan itu!" Pria berjaket hitam lalu melepaskan tangannya dari rambut Alva. Dan hendak mencari bagian tubuh lain sebagai sasaran pukulannya.


"Hentikan!" teriak seorang anak kecil yang berdiri tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Hai, bocah! Sana pergi, ini bukan tempat bermain!" Pria berjaket menoleh.


"Lepaskan orang itu dulu, baru aku akan pergi! Atau tidak, kalian semua akan aku kirim ke rumah sakit! " tawar bocah itu.


"Cuih, sombong sekali bocah tengil ini! Dia belum tahu siapa kita." tawa mereka terdengar seperti ejekan.


"Hajar saja bos, paling sekali tendang langsung keok bocah itu."


"Kecil-kecil sudah sok jadi pahlawan, sini kuping kamu, aku kasih jewer!" pria berjaket menghampiri si bocah.


"Jangan panggil aku bocah Paman, panggil namaku Charles!" Ternyata bocah itu Charles yang tengah melewati jalan itu untuk menuju angkutan umum.


Charles langsung mendekati sumber keributan saat melintasi jalan itu. Dan dia langsung saja melihat mereka yang ternyata sedang menindas seseorang.


"Akh, banyak ngomong kamu!" pria berjaket mulai mengarahkan tangannya untuk menjewer telinga Charles.


Spontan Charles memelintir tangan pria itu sampai di belakang punggungnya.


"Aw, sakit ... !" pekik pria itu.


"Hai Bocah, berani sekali kamu menyakiti bos kami!"


"Minta di hajar juga dia!"


"Sudah ku bilang tadi, jangan panggil aku bocah." Charles menendang pantat pria berjaket hingga terpental jauh.


Sungguh luar biasa kemampuannya. Satu per satu akhirnya musuh dibuatnya tumbang dan lari tunggang langgang.


Charles mendekati pria yang sedang meringkuk, mencoba untuk bertanya.


"Paman, mari aku tolong Paman untuk membersihkan diri. Aku tahu tempat umum di sini." ajak Charles yang disahut dengan anggukan kepala saja. Alva sendiri tak begitu jelas melihat wajah bocah yang baru saja menolongnya, karena rambutnya yang mengurai menutupi pandangannya.


Charles membantu Alva berdiri. Sungguh di luar nalar, kemampuannya yang besar meski berada dalam tubuh kecil mampu membantu Alva berdiri.


Selesai Alva mengguyur tubuhnya di dalam toilet umum, keadaan yang mengharuskan dia menggunakan air itu. Alva menahan dinginnya air umum. Baru pertama kali dia mengalami hal seperti ini.


"Terima kasih," ucap Alva langsung setelah dia keluar dari toilet,, Alva membelalakkan matanya menatap bocah cilik itu.


"Kamu, Dokter Cilik?" Alva salah mengira.

__ADS_1


__ADS_2