
Antonio semakin gusar, dia tak menemukan ide lagi. Terlihat dia mondar - mandir seraya berpikir.
Sherly sejak tadi sibuk dengan pandawa. Mereka merengek karena jenuh dan haus di ruangan yang tak seluas rumahnya itu.
Sesekali si bungsu menangis karena kepanasan.
Pak polisi yang menginterogasi mereka sudah memiliki banyak catatan sebagai bahan wacananya. Tinggal ketiga preman yang masih berada di ruang tahanan.
Antonio terbesit dalam benaknya untuk mengkambing hitamkan seseorang sebagai dalam semua kejadian ini. Dia meminta izin untuk menemui ketiga preman.
"Tuan Antonio, keluarkan kami bertiga dari sini !" ujar bos preman seraya tangannya memegang jeruji besi.
"Tenang, aku pasti akan mengeluarkan kalian. Aku butuh waktu. Dan dengan satu syarat!" Antonio menunjukkan telunjuknya diujung bibir.
"Katakan Tuan!"
"Jangan katakan pada polisi kalau aku yang menyuruh kalian untuk melakukan ini!"
"Lantas, apa yang harus kami katakan?"
"Jelaskan pada polisi itu kalau Kenzi Adefa yang menyuruh kalian. Katakan juga kalau Kenzi sangat membenci Sherly." terang Antonio. Seraya memberikan janji palsunya.
Ketiga preman itu setuju dengan tawaran Antonio, entah mengapa mereka dengan mudahnya diperalat. Padahal kan tubuh mereka kekar dan kuat, tentu pemikiran mereka pastinya lebih tajam juga. Tapi tidak dengan ketiga preman ini, mereka dengan mudahnya mengiyakan semua permintaan Antonio.
.
Pukul 15.00
Sherly dan semuanya kini sudah diperbolehkan pulang.
Pandawa yang tadinya rewel serta cemberut kini sudah ceria lagi. Mereka tengah beristirahat di kamarnya.
Antonio menghubungi seseorang untuk mengambil sepeda motornya yang ada di TKP, dia meminta agar membawanya ke bengkel terdekat sebelum mengantarnya ke rumah.
Di kamar, dia berpikir tentang keahlian karate yang Charles miliki.
"Itu bisa menghalangi aku untuk menjatuhkan Alva, aku harus menyingkirkan dia lebih dulu. Dia dapat dari mana kemampuan karate? Tidak mungkin anak sekecil itu bisa mengalahkan preman - preman yang aku sewa. Gara - gara dia, rencanaku berantakan!" ujar Antonio dengan geramnya.
"Setidaknya aku masih bisa lolos. Biar wanita itu yang merasakan dampaknya. Dia telah berani menentangku."
.
Menjelang malam di rumah sakit saat Kenzi dan pak Tomi bersiap untuk pulang. Sejumlah polisi menghalangi jalan mereka.
"Tunggu, apa benar Anda Kenzi Adefa?" tanya seorang polisi.
"Benar, ini adalah putriku. Ada apa Bapak polisi mencari putriku?" tanya pak Tomi penuh selidik.
"Kami harus menahan putri Bapak!"
Kenzi yang terlihat masih lemas tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Wajahnya pucat, dan bibirnya bergetar.
"Apa salahnya? Dia baru saja bangun dari komanya !" ujar pak Tomi meletup - letup.
"Saudari Kenzi Adefa, tertuduh telah melakukan tindakan kriminal, perencanaan perampokan dan penculikan terhadap lima anak kembar." terang polisi itu seraya menunjukkan surat penangkapan terhadap Kenzi.
"Itu tidak benar!" teriak Kenzi yang mulai emosi. Dia melepaskan dirinya dari pegangan pak Tomi seraya merebut surat penangkapannya.
"Sherly," gumamnya setelah membaca isi surat itu.
__ADS_1
"Ini pasti akal - akalan Sherly. Papa menyesal membiarkan dia menemui kamu kemarin. Dia wanita yang jahat!" umpat pak Tomi, dia merasa sangat terpukul dengan tuduhan atas putrinya.
"Aku tak pernah melakukan ini! Pa, tolong aku, aku tidak mau masuk penjara!" rengek Kenzi seraya menangis.
Polisi memaksa dia agar ikut ke kantor polisi malam ini juga.
"Tenang Sayang, papa akan menyewa pengacara terhebat sekarang juga untuk membebaskan kamu dari tuduhan palsu ini!" ujar pak Tomi yang dengan terpaksa merelakan putri tunggalnya di bawa polisi.
Kenzi merengek agar polisi melepaskannya. Namun, usahanya tetap tak membuahkan hasil. Polisi tetap membawanya.
Pak Tomi segera mengambil ponselnya. Untungnya dia sudah punya nomor Sherly saat dirinya bertemu kemarin.
"Hallo, Sherly!"
"Iya, maaf dengan siapa ini?" sahut Sherly sopan dari arah seberang.
"Kamu wanita jahat, apa salah Kenzi padamu, sehingga kamu menuduh dia yang melakukan tindakan kriminal padamu!" ujar pak Tomi bersungut - sungut.
"Om Tomi? Maaf Om, Sherly nggak ngerti maksud Om Tomi apa?" Terdengar panik.
"Polisi baru saja menahan Kenzi, dengan tuduhan menyewa preman untuk mencelakai kamu dan anak - anakmu!" pak Tomi masih terlihat emosi.
"Astaghfirullah, itu tidak mungkin! Aku rasa seseorang itu bukan kak Kenzi yang melakukannya. Dia di fitnah." Sherly semakin panik.
"Akhh! Aku tak mau dengar alasan apa pun dari mulut kamu! Aku akan membebaskan putriku sendiri. Dan ingat, jika terjadi apa - apa dengan Kenzi, aku akan menuntut balik kamu!" Pak Tomi menutup ponselnya.
"Hallo, Om, Om Tomi ...."
Sherly bingung atas kejadian yang datang menimpa nya. Padahal dia baru saja menemukan ide untuk membuat Antonio dan Kenzi bisa bersatu. Dengan munculnya masalah baru, Sherly harus menunda rencananya. Dia segera keluar dari kamar menuju kamar pandawa. Semua pelayan sudah pulang. Dilihat putra kembar lima nya tengah bermain.
"Ibu mau kemana, kok bawa kunci mobil?" selidik Abi.
"Teman ibu? Siapa?" tanya Boman penasaran.
"Teman ibu bernama Kenzi, sebenarnya kami baru saja berteman." sambung Sherly.
"Itu kan wanita yang pernah datang kemari?" tukas Charles.
"Benar, aku ingat namanya, kakek menyebut nama wanita itu," imbuh Dave.
"Aku nggak suka sama tante itu. Dia jahat, dia mau merebut ayah dari kami." celetuk Ethan.
Sherly melongo mendengar tuturan para pandawa,
"Sudah lupakan itu, ibu janji ayah kalian akan tetap bersama dengan kita."
"Ibu bilang tadi, ibu khawatir dengan calon saudara kita? Apa maksudnya Ibu?" Abi yang pemikirannya lebih tajam ingin mengetahui maksud perkataan ibunya.
"E, itu, bagaimana menjelaskannya ya?" Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tante itu hamil, siapa suaminya?" Boman juga tak mau kalah.
"Dia belum menikah, sudah lupakan itu! Keburu malam, ibu akan berangkat sekarang. Jaga diri kalian!" Sherly sebelum berpamitan, mencium satu per satu kening pandawa.
Setelah ibu pandawa menghilang dari pandangan mereka, pandawa saling menatap.
"Tante itu belum menikah? Jadi, calon saudara kita anak haram dong?" tukas Ethan.
"Hus, Adik, jangan bicara sembarangan! Di dunia ini tidak ada anak haram, semua anak yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci. Yang ada hanya perbuatan orang tuanya yang haram." ceramah si abang.
__ADS_1
"Wah, Abang Abi pintar berceramah sekarang!" tukas Charles seraya menyikut Abi.
Semua pandawa tertawa bersama.
.
Sherly hendak menyalakan mesin mobilnya. Dia tertangkap pandang oleh Antonio.
"Sudah malam, Sherly mau pergi ke mana? Apa perlu aku ikuti? Aha, mumpung Sherly lagi keluar, lebih baik aku kasih pelajaran sama si Charles, semua rencanaku berantakan gara - gara tikus itu!" gumamnya seraya menutup gorden kamarnya.
Antonio perlahan berjalan dengan berjinjit menaiki tangga menuju kamar pandawa.
Membuka pintu dengan sangat hati - hati.
"Pintu nya nggak dikunci," gumamnya dalam hati.
Antonio mengedarkan pandangan, melihat pandawa sedang asyik mengobrol. Antonio mengendap mencari sakelar dan mematikan kamar pandawa.
Pandawa berteriak histeris.
"Ibu, mati lampu!" teriak pandawa kompak.
"Hap!"
"Kena kamu!" Antonio menutup tubuh salah satu pandawa. Meski remang - remang, Antonio berhasil melakukannya.
Dia mengira yang dia incar adalah Charles.
"Lepaskan aku, lepaskan!" teriakan suara terdengar samar dari dalam karung.
Pandawa masih tetap menjerit.
Antonio segera keluar dengan cepat. Mengunci pintu kamar mereka dan membawa karung itu menuju gudang.
"Lepaskan aku!"
"Diam tikus kecil!" Membuka tali dan menarik karung.
"Paman Antonio!" pekik Abi.
"Abigail!" Antonio salah menangkap mangsa.
.
"Cepat ambil hp masing - masing!" perintah Boman.
Dengan segera mereka mengambil hp yang terlihat berkedip. Mereka menyalakan senter.
"Arahkan senter kalian pada sakelar!" perintah Boman, dia yang memegang kuasa setelah Abi.
Setelah sakelar ketemu, Boman menyalakannya.
"Kak Abi hilang!" pekik Ethan yang mulai ketakutan.
"Aku mendengar suara seseorang masuk ke kamar kita." ujar Dave.
"Orang itu membawa kak Abi," Ethan mulai merengek.
"Ayo, kita cari kak Abi!" ajak Boman yang lebih dulu menuju ke arah pintu.
__ADS_1
"Kyaa! Pintu nya terkunci!" pekik Boman.