Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Alvarendra vs Antonio


__ADS_3

Telur puyuh kini telah hancur karena ulah Abi. Dia menemukan benda aneh yang cukup berbahaya, jarum. Untuk apa jarum itu? Untuk mencelakai seseorang kah?


"Ini jarum!" selidik Alva, dengan cepat dia memungut benda itu dan membuangnya ke rak sampah.


"Ada bahaya di sini," tukas Charles yang dengan sigap memasang kuda-kuda.


"Tenangkan dirimu, Charles. Ayah rasa pamanmu tahu soal ini. Tapi, jangan memperlihatkan kejanggalan, bersikaplah yang wajar." perintah Alva.


"Ya Tuhan, untung Mas Alva belum menelannya! Aku tak bisa membayangkan benda itu masuk dalam tubuh Mas Alva." Sherly terlihat panik.


"Apa maksud semua ini?" muncul tanda tanya besar di benak Alva.


"Apakah paman Antonio orang jahat, Ayah?" tukas Dave.


"Kamu jangan asal menuduh Dave, tidak baik! Kita bersikap wajar saja padanya, untuk sementara kalian rahasia kan dulu kejadian ini, bisa?" Alva meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


"Bisa!" sahut para pandawa dan Sherly kompak.


Antonio berjalan menghampiri mereka.


"Bagaimana hadiah dariku?" tanya Antonio dengan sikapnya yang wajar.


"Ini kejutan yang sangat menakjubkan, bagaimana Kakak bisa melakukan ini? Di dalam perut angsa ada ayam, di dalam perut ayam ada burung dara, di dalam burung dara ada telur ayam, di dalam telur ayam ada telur puyuh dan ...." Alva tak melanjutkan kalimatnya.


"Paman Antonio, maafkan aku. Telur puyuh milik ayah tadi menggelinding tepat di kakiku. Dan terinjak deh," ujar Charles membuat alibi palsu.


"Aku juga suka kok Paman dengan telur puyuh, padahal tadi Dave yang ingin memakannya." ujar Dave menahan geram.


"Sial," batin Antonio, "Bagaimana bisa rencana ku gagal berantakan, ini semua gara -gara ulah pandawa!" gerutu Antonio di dalam hati. Tangannya mengepal erat.


"Jangan khawatir, lain kali paman akan membawakan telur puyuh yang lebih banyak juga untuk kalian." ujar Antonio kemudian, dia memasang wajah ramah.


"Aku memang sengaja memesan menu unggas, kebetulan ada sebuah restoran magic yang sangat menarik hati, dan aku mencoba memesan di sana." terang Alva.


"Restoran magic, sepertinya aku baru pertama kali mendengar nama restoran itu," batin Alva.


"Enak," ujar Ethan membuat semua yang ada melihat ke arahnya. Dia tengah memakan daging ayam panggang, tampak mulut nya belepotan. Dia duduk seorang diri sambil menggigit paha ayam yang terdapat pada tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang sayap.


"Kamu lucu sekali Dik," seru Boman yang segera bergabung dengan Ethan.


Pandawa yang lain ikut bergabung.


"Ethan, letakkan sayap ayam yang ada di tangan kirimu!" Sherly menegur Ethan.


"Jangan membiasakan makan dengan tangan kiri, kalian paham!" tuturnya lagi pada pandawa.


"Paham Bu," sahut pandawa cepat.


Boman yang tadinya ingin menarik paha ayam dengan tangan kirinya dengan cepat dia mengganti dengan tangan kanan, seraya melirik ke arah ibunya yang sejak tadi sudah menyilangkan tangan di depan dada.


"Iya, Ibu," sahut Boman kemudian.


Sementara Antonio dengan senyum kecut ikut menyantap hidangan yang ia bawa tadi.


"Jarang -jarang lo kita bisa makan menu unggas bersama-sama seperti ini." ujar Alva seraya menaruh curiga pada kakaknya.

__ADS_1


"Lalu untuk apa dia menaruh jarum di dalam telur puyuh, untuk mencelakaiku kah? Tapi itu tidak mungkin, pasti ada orang lain yang berbuat jahat padaku. Aku harus lebih berhati -hati lagi." batin Alva waspada.


"Kemana papa, kok nggak ikut bergabung?" Alva mencari celingukan sosok Andreas.


"Biar aku saja yang memanggilnya!" Antonio hendak berdiri.


"Tidak usah Kak, biar aku saja yang mengajak papa untuk bergabung bersama kita." Alva beranjak dari kursi dan melangkah menuju kamar Andreas.


Tak lama kemudian, Alva kembali bersama Andreas.


Kini keluarga besar Andreas tengah menikmati makan malam bersama.


Di tengah -tengah menikmati makananya, mendadak Sherly tersedak.


"Minum ini!" hampir bersamaan Alva dan Antonio menyodorkan minuman ke arah Sherly.


Sherly dibuatnya bingung, suasana mendadak canggung. Andreas tampak memperhatikan kedua putranya.


"Aku ambil punyaku saja." Sherly dengan cepat mengambil gelas miliknya sendiri.


Alva dan Antonio menarik kembali gelasnya.


"Kenapa kakak begitu perhatian pada Sherly, ah mungkin itu bukti sikapnya yang mulai berubah. Aku tak boleh berpikiran buruk padanya." batin Alva menasehati.


"Sherly, aku akan berusaha merebut hatimu." batin Antonio menggebu -gebu.


"Ayah aku haus," ujar Abi.


"Ini, buat Abi saja!" Antonio memberikan gelas miliknya.


"Terima kasih Paman," Abi menerima gelas dan segera meneguknya.


"Santai saja Sherly, kamu nggak perlu merasa sungkan padaku." ujar Antonio seraya menampilkan senyum.


Mereka melanjutkan makan, sampai semua menu yang ada di meja habis.


"Antonio, Alva, Sherly dan cucu-cucu kakek," ujar Andreas mengabsen keluarganya.


"Iya," sahut semua nya.


"Aku akan kembali ke kamarku. Kalian lanjutkan saja berbincangnya!" Andreas beranjak dari kursi dan segera berlalu.


Selesai makan Sherly membantu bi Tinuk membereskan peralatan makan. Dengan gerakan cepat Antonio meminta piring yang dibawa Sherly.


"Sudah, biarkan aku yang mengangkat semua piring kotor ini!" ujar Antonio.


Alva mengerutkan dahi melihat sikap kakaknya.


"Em, biar pelayan yang membereskan semua ini, Kak Antonio tak perlu melakukan itu!" cegah Alva, seraya mengomando pelayan untuk segera merapikan meja makan.


Antonio tampak salah tingkah juga, "Baiklah," ujarnya kemudian.


"Terima kasih, Kak Toni, aku bisa sendiri melakukannya." Sherly hendak menuju ke dapur.


"Kamu juga Sayang, letakkan kembali semua piring itu!" perintah Alva.

__ADS_1


"Tapi Mas, aku pingin membantu mereka!" ujar Sherly seraya mengembalikan tumpukan piring yang ada di tangannya ke atas meja.


"Mas, aku jadi iri mendapatkan sebutan seperti itu dari bibirmu yang manis." batin Antonio.


"Pandawa, sepertinya ibu kalian capek. Antar ibu kalian ke kamar!" perintah Alva seraya mengedipkan mata memberi isyarat pada pandawa.


"Baik Ayah," sahut pandawa kompak, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.


"Tapi Mas, ini masih sore. Aku belum terlalu capek beneran." elak Sherly.


"Ibu, aku pingin dibacakan buku dongeng!" rengek Ethan.


"Aku juga mau, Bu!" tukas Dave.


"Oh, iya, Charles punya kejutan untuk Ibu, ayo kita ke atas!" Charles menarik ujung jari ibunya.


"Aku juga mau lihat, Kak, boleh?" celetuk Boman.


"Adik-adik, besok kita kan masuk sekolah, mengapa kita tak meminta ibu saja untuk membantu kita menyiapkan peralatan untuk besok?" usul Abi.


"Wah, benar juga apa yang dikatakan Kak Abi, sana ajak ibu kalian ke atas!" desak Alva agar Sherly menjauh dari pandangan kakaknya.


Akhirnya Sherly berhasil diungsikan ke lantai atas.


Antonio tampak berpikir sejenak, "Oh, iya Alva, tadi pagi aku lupa untuk meminta stempel perusahaan. Ada berkas yang harus aku urus." tiba-tiba Antonio membuka pembicaraan menyangkut perusahaan.


"Kalau boleh tahu, soal apa Kak?"


"Aku sedang melanjutkan rencana pembuatan rumah makan yang kamu usulkan dulu, sebelum Wendy kamu pecat."


"Oh, itu rupanya. Padahal aku sudah akan menghapus rencana itu. Tapi, Kakak sudah mengambil alih, ya sudah tidak apa-apa. Siapa tahu kalau Kakak yang mengurusnya malah lebih baik. Aku setuju saja."


"Baguslah Alva, terima kasih kamu sudah mempercayakan posisi yang Wendy tempati dulu."


"Iya Kak, sebentar aku ambilkan di kamar." Alva dengan santainya menuju kamar.


Antonio mengeluarkan ponselnya.


"Rencana gagal semuanya. Aku tak mau tahu, kamu siapkan rencana selanjutnya atau uang aku kembali!" bentak Antonio pada seseorang di arah seberang sana. Antonio membalikkan badan seraya mengantongi kembali ponselnya.


"Rencana selanjutnya, apa Paman?" tanya Charles yang ternyata masih tertinggal di sana.


Antonio mengarahkan pandangannya tepat di bawahnya.


"Se-sejak kapan anak ini ada ada di sini?" Antonio gelagapan dibuatnya.


"Bukan rencana penting, paman hanya sedang merencanakan bisnis paman, ya, rencana untuk bisnis." sahut Antonio mencari alasan.


Charles tampak berpikir, "Paman, boleh aku mengatakan sesuatu pada Paman?"


"Katakan saja, Charles !" Antonio mulai menata nafasnya.


"Apa yang akan dilakukan lebah jika kita melempar ke arah rumah mereka sebuah batu?" tanya Charles kemudian.


"Tentu saja lebah itu akan marah dan berbalik menyerang kita yang melemparinya." sahut Antonio lekas.

__ADS_1


" Setuju dengan jawaban Paman, itu yang akan aku lakukan jika aku menjadi lebah. Aku tak kan tinggal diam jika kawananku terancam. Bahkan aku akan mengejar mereka yang mengusik sarang aku dan berbalik menyengat mereka." terang Charles antusias. Tentu saja tuturan Charles menampar pikirannya.


"Anak ini ... sepertinya bukan anak sembarangan, aku harus lebih hati-hati dan segera menyingkirkan penghalang rencanaku.


__ADS_2