Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Tante Ratna Pulang ke Indonesia


__ADS_3

Sherly sedang berada di teras depan sekarang. Dia bersama dua baby sister tengah menjemur Salwa dan Khalwa.


Selesai berjemur sekitar sepuluh menit, Sherly hendak berdiri dan tiba-tiba saja ponselnya berdering. Sherly menyerahkan Salwa yang tadi berada dalam pangkuannya pada baby sister.


Ia merogoh ponsel di sakunya dan melihat siapa pemanggil itu.


Saat melihat di layar ponselnya, betapa kagetnya dia dan segera mengangkat panggilan itu, "Hallo, Tante Ratna! Bagaimana kabarmu sekarang, kamu tahu, aku begitu merindukan kamu!" Sherly terlihat sangat senang.


Ratna adalah adik dari almarhum ayahnya, Sherly sudah menganggap ia adalah ibunya. Wanita 45 tahun itu seorang bidan dan belum menikah. Ia adalah wanita berjasa yang membantu Sherly merawat dan membesarkan pandawa ketika berada di luar negeri dulu. Semua biaya adalah Ratna yang menanggungnya.


"Tante baik Sayang, bagaimana dengan kabar kamu?"


"Sherly baik Tante. Oh iya, Sherly juga kepikiran mau mengabari Tante tadi, tapi masih repot dengan si kembar jadi tertunda deh,"


"Si kembar? Siapa mereka?"


"Aku melahirkan satu minggu yang lalu, bayiku kembar Tante,"


"Syukurlah, selamat ya Sayang, tante senang mendengarnya!"


"Terima kasih Tante! "


"Sayang, aku sudah tidak sabar ingin melihat cucu kembarku dan pandawa. Oh iya, bagaimana kabar mereka?"


"Pandawa sehat Tante. Andai lokasi kita dekat, aku akan mengunjungi Tante setiap hari."


"Kamu tidak usah susah payah seperti itu. Tante sekarang sedang berada di bandara Soekarno."


Mendengar itu Sherly langsung terbelalak dan menganga sangking terkejutnya. "Sungguh, jadi Tante sekarang berada di Indonesia?"


"Iya, sekarang aku lagi pesan hotel. Nanti kamu kirim alamat kamu ya!"


"Untuk apa pesan hotel? Tante bisa menempati rumah papa. Sekarang tidak ada siapa-siapa di sana, kecuali bik Kah."


"Oh begitu, baiklah. Tolong kamu kirim alamatnya ya!"


"Biar seseorang suruhanku yang akan menjemput Tante. Lokasi kami tidak jauh dari bandara."


"Baiklah! Tapi aku tidak mau merepotkan."


"Tidak. Tidak merepotkan sama sekali kok, Tante tunggu ya!"


Kemudian Sherly menutup ponselnya, dia berjingkrak riang sampai lupa kalau dia baru melahirkan.


"Hati-hati, Nyonya!" tegur baby sister.


Sherly segera mengkondisikan tubuhnya dan berjalan perlahan memasuki rumah.


Pandawa baru pulang sekolah dan bergegas mengganti seragam. Mereka berlima sudah tidak sabar ingin melihat adik kembar.


"Ayo, kita ajak main adik bayinya!" ajak Ethan yang memberi komando saudara-saudaranya.

__ADS_1


"Pasti adik bayi senang." imbuh Dave.


"Ayo!" sahut yang lain dan mereka menuju kamar Sherly.


"Ibu!" seru pandawa kompak.


Sherly meletakkan ujung jari di bibir, memberi isyarat agar tidak berisik. "Adik kembar baru saja tidur."


Pandawa mengeluh, "Yah, padahal kami mau mengajak nya bermain." ujar Abi.


Sherly tersenyum dan mengusap kepala Abi. "Meski kalian tidak bisa mengajaknya bermain sekarang, kalian bisa menjaga adik bayi tidur."


"Baik Ibu!" sahut mereka patuh.


"Nah, sementara kalian tunggu adik kembar bangun, ibu ke bawah dulu ya,"


"Baik Ibu!" jawab pandawa kompak.


Pandawa secara bergiliran melihat box bayi, sesekali Salwa tersenyum meski terpejam.


"Adik Salwa tersenyum!" seru Boman.


Dan Khalwa tiba-tiba menangis, Charles dengan sigap menggoyang box bayi hingga Khalwa merasa tenang dan tidur kembali.


Meski pandawa ingin mengajak bermain sekarang, tapi mereka tak tega jika adik kembar terbangun.


Sherly menghubungi Alva dan menceritakan tentang tante Ratna yang pulang ke Indonesia.


Setelah hampir dua jam lamanya, anak buah Alvarendra berhasil membawa Ratna pulang. Sherly meminta pada suruhan suaminya agar mengantar Ratna ke rumah Alva.


Sherly masih sibuk menyusui Salwa. Jadi tidak tahu kalau Ratna sudah ada di depan.


Sementara pandawa sedang tidur siang. Hanya ada Andreas yang sedang memberi makan ikan di kolam kecilnya.


Andreas menoleh setelah suara seorang wanita cantik memanggil menantunya. Andreas bertanya, "Maaf, Anda siapa?"


Ratna menoleh dan mencari sosok yang memanggilnya, ternyata seorang pria sedang berada di tepi kolam. Ratna berjalan ke arahnya, " Saya Ratna Silvia. Apa benar ini rumah nya Sherly Salma?" Ratna tahu tapi sekedar memastikan saja.


Andreas segera bangkit dari duduk dan berjalan melewati tepi kolam. "Iya benar, saya tidak pernah melihat Anda sebelumnya?"


Setelah Andreas menaiki teras mempersilahkan Ratna untuk duduk. "Saya baru tiba dari bandara. Saya masih ada hubungan kerabat dengan Sherly."


Andreas tertegun karena perawakan wanita di depannya seperti turis. "Oh, masih saudara, apa Sherly tahu hal ini?"


Ratna menjawab setiap pertanyaan pria di depannya dengan santun, "Sudah, bahkan seseorang suruhan Sherly yang menjemput saya di bandara tadi."


Karena mobil yang mengantarnya tadi langsung putar balik jadi, tidak ada yang tahu.


Andreas bersenandung, "Oh, sebelumnya Anda tinggal di mana?"


"Saya susah lama tinggal di Hawai."

__ADS_1


"Hawai?" Andreas tercengang mendengarnya.


Mereka berdua terlihat ngobrol sangat santai dan panjang.


Sherly yang terbangun segera melihat pesan di ponselnya, ada pesan setengah jam yang lalu dari tantenya. Sherly membenahi diri dan turun ke lantai bawah untuk menyambut tantenya.


"Tante!"


Ratna yang terlihat obrolan serius dengan Andreas menoleh, "Sherly!"


Keduanya saling berpelukan melepas rindu.


"Bagaimana perjalanan Tante Ratna tadi?"


"Sangat mengasyikan! Sudah lama tak menghirup udara Indonesia, banyak perubahan yang terjadi di sini."


Sherly melirik mertuanya, "Papa, ini tanteku, tante Ratna namanya." Sherly memperkenalkan dia.


Andreas mengangguk. "Iya, kita sudah berkenalan tadi."


Sherly tertegun, "Maaf ya Tante, aku tadi masih sibuk dengan si kembar. Tante pasti capek banget. Ayo, kita masuk! " Sherly berpamitan pada mertuanya, "Pa, kami masuk dulu.".


Andreas tersenyum, "Iya,"


"Mari ...." Ratna membungkuk.


"Silahkan ...."


Sherly dan Ratna masuk ke dalam.


"Mertua kamu asyik juga, cocok buat di ajak ngobrol."


"Ya begitu lah, papa memang cepat akrab dengan siapa pun dan selalu ramah pada siapa pun juga."


"Beruntung banget kamu punya mertua baik seperti dia."


"Ya syukurlah!"


Setelah sampai di kamar Sherly, Ratna segera mencuci tangan dengan sabun. Mengeringkan tangan dengan lap.


"Anak perempuan kamu sangat manis, senang banget bisa memiliki keduanya!" Ratna mencoba menggendong Salwa terlebih dahulu.


Karena dia seorang bidan jadi dengan mudahnya menggendong tanpa membuat Salwa menangis. Selesai menggendong Salwa, gantian menggendong Khalwa.


Mereka berdua saling bertukar cerita hingga tak terasa waktu sudah sore dan saatnya dua bayi cantik untuk mandi. Dua baby sister sudah mempersiapkan peralatan untuk mandi.


Pandawa dan Alva masuk bersamaan, mereka berenam ingin melihat adik bayi mandi.


"Oma Ratna!" pekik pandawa yang segera menghambur untuk memeluk Ratna.


"Pandawa kecilku, kalian sudah besar sekarang!" Ratna memeluk mereka bersamaan.

__ADS_1


Alva tersenyum bahagia melihat pemandangan ini. Seketika itu juga ia bersin-bersin. Bagaimana tidak, di kamar itu ada tiga wanita asing yang tidak cocok dengan tubuhnya.


__ADS_2