Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Alva Mengundurkan Diri


__ADS_3

"Dengan kamu jujur tentang kegeniusan mereka, membuat aku semakin bersemangat untuk mendapatkan mereka beserta ibunya." ujar Alva yang kini tengah berdiri tepat di depannya.


Sherly mendongakkan kepalanya menatap Alva, seraya mengusap matanya yang sudah berair itu.


"Presdir, kamu ingatkan kalau kita sedang taruhan, jadi jangan coba -coba untuk mempengaruhiku!" ujar Sherly menegaskan.


"Kamu jangan khawatir, Sherly, aku Alvarendra Rizki, seorang pria yang tak mudah menyerah begitu saja, aku akan memperjuangkan mereka. Apapun nanti resikonya akan aku tanggung sendiri, aku akan mencari seorang pelatih renang yang handal, agar aku bisa menang!" ucap Alva penuh semangat melebihi semangat 45.


Mendengar tuturan Alva, Sherly menjadi ciut nyalinya, tapi sebisa mungkin dia menepis kekhawatirannya.


"Aku salut dengan keseriusanmu, Presdir."


Alva melihat Arlojinya, "Sudah pukul 11.00, ayo kita berangkat!" ajak Alva.


"Ta-tapi, anting mix ku sedang tak berfungsi!"


"Sudah, ikut saja!" desak Alva, akhirnya Sherly menurut tanpa bisa mengelak.


Sesampai di Hotel Raya, Alva dan Sherly dikerumuni oleh para pengusaha sukses yang akan mensponsori acara tersebut.


Saat acara dimulai, salah satu dari mereka melontarkan sebuah pertanyaan yang menggunakan bahasa Inggris, Alva dengan lincah menyahut dengan bahasa yang sama. Tentu membuat Sherly melongo. Dia heran, ternyata selama ini Alva bisa menggunakan bahasa asing dengan sangat lancar.


Selesai acara, Sherly menghentikan langkah Alva yang hendak pergi.


"Presdir, ternyata kamu pandai juga berbahasa Inggris?" tanya Sherly mencoba meminta keterangan darinya.


"Hanya satu bahasa saja yang mampu aku kuasai, selebihnya hanya mendengarkan dari mu." terang Alva membuat Sherly yakin sekarang , kalau keberadaannya sebagai interpreter sangat dibutuhkan.


"Boleh aku menjenguk mereka?" izin Alva, yang langsung mendapatkan respon tak menyenangkan dari ibu pandawa.


"Aku tak pernah menerima tamu laki -laki sebelumnya, jadi harap Presdir memakluminya." sahut Sherly menjaga image nya.


"Hai, aku bukan seorang tamu , ingat aku ini ayah mereka!" ucap Alva sedikit tersinggung.


"Pandawa kecilku hanya membutuhkan sosok ibu, mereka sudah terbiasa begitu."


"Kamu jangan egois Sherly, aku dengar sendiri dari mereka, kalau kamu memang melarang mereka untuk menanyakan keberadaan ku kan?"


"Kalau itu benar memangnya kenapa?"


"Mereka juga membutuhkan sosok ayah! Aku akan membahagiakan mereka, memberikan kasih sayang dan kehidupan yang layak. Memang seharusnya begitu kan? Andai aku tahu kalau kamu hamil setelah kita melakukan itu, aku seketika pasti bertanggung jawab." tutur Alva.


"Bohong, aku tak mudah percaya dengan omongan pria seperti Presdir!"


"Aku akan membuktikannya padamu!"


"Kita lihat saja nanti, seberapa besar usaha Presdir untuk mendapatkan mereka. Aku juga belum yakin, kalau Presdir pandai mengurus anak."


"Ok, kita lihat saja nanti. Jadi, apa aku boleh menemui mereka?"


"Tidak boleh, sampai pertandingan kita usai." ucap Sherly serambi pergi meninggalkan Alva yang sedang menggerutu kesal.


.


Sepulang dari acara pertemuan di Hotel Raya, Alva menghubungi Thomas, agar dia mencarikan seorang perenang yang profesional.


Thomas memperkenalkan seorang pelatih pria bernama Sony. Sony mulai melatih Alva berenang, mulai pukul 15.30 hingga pukul 17.00.


Kini Alva sedang berlatih berenang di kediamannya. Ayahnya sedikit heran dengan perubahan Alva, ingin beliau bertanya tapi ia urungkan dulu.


Alva sudah berada di kolam sekarang, dia memakai baju renang dan tak lupa pula mengenakan kacamata renang. Sony dengan kesabarannya melatih Alva berenang. Alva menggunakan pelampung untuk mengurangi resiko tenggelam.


Berbagai macam kendala yang ia dapatkan saat awal latihan. Seperti kram otot, karena pemanasan yang ia lakukan kurang. Idealnya pemanasan itu sekitar 15-30 menit. Karena Alva bersikukuh untuk segera latihan, jadi pemanasan ototnya kurang sekali.


Pemanasan otot yang dilakukan sebelum renang seperti : peregangan otot leher, otot -otot lengan, otot-otot pinggang, otot-otot perut dan punggung, dan otot-otot pada kaki.

__ADS_1


Awal dia mulai berenang tadi sudah bersin-bersin, sehingga membuat Sony merasa kasihan.


"Tuan, apa sebaiknya kita istirahat dulu, besok kita lanjut lagi?"


"Tidak, sudah tidak ada waktu lagi, aku harus segera bisa berenang!" sahut Alva antusias.


"Tapi, kondisi Tuan sangat lelah,"


"Sudah aku katakan padamu, kita latihan lagi!" bentak Alva dengan suara yang menggelegar, membuat Sony takut dan akhirnya dia tak berani lagi untuk menolak.


Hampir menjelang magrib, Sony baru keluar dari kolam.


Alva menggigil kedinginan, dia segera menuju kamar mandi. Seperti biasa, keramas dan berendam air hangat dalam bathtub. 3 botol sabun cair antibakteri dia tuangkan ke dalamnya. Selesai berendam, dia mengguyur tubuhnya lagi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak hanya sekali, bahkan berkali -kali sampai dia merasa yakin, kuman yang menempel benar -benar lenyap dari kulitnya.


Selesai makan malam, Andreas menghentikan Alva yang hendak beranjak dari kursi.


"Sudah lama papa tak melihatmu berenang, kenapa tiba-tiba kamu ingin berenang?"


"Aku hanya ingin bisa saja, Pa!" sahut Alva, takutnya nanti papanya turun tangan sendiri jadi dia tak berterus terang.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari papa?"


"Enggak, Pa, enggak ada." sahut Alva seraya beranjak dari kursinya.


Andreas masih menikmati buah apel sebagai penutup makan malamnya.


"Oh, iya Pa," Alva berbalik menghadap Andreas.


"Kak Antonio sudah pulang." terang Alva. Andreas pura -pura tak mendengar, dia sibuk mengupas apel.


Merasa tak mendapatkan respon, Alva segera berbalik menuju kamarnya. Alva yakin, kalau suaranya tadi cukup jelas, dia tak ingin membahas masalah itu dulu.


"Sudah pulang rupanya, cih, anak itu tidak punya sopan santun pada orang tua. Kenapa dia tak mengunjungiku? Sebesar itukah dia membenciku, sampai tak ingin melihatku." Gumam Andreas.


Alva berlatih renang lagi.


"Kita lakukan pemanasan lagi, Tuan!" perintah Sony.


" Untuk apa, membuang waktu saja. Aku ini orang sibuk, jadi aku harus memanfaatkan waktuku sebaik mungkin! Ayo cepat!" bentak Alva.


Sony pun terdiam, dia tak banyak bicara dan langsung saja melatih si Alva tukang pemaksa.


Di tengah-tengah latihan, Alva kembali mengalami cidera. Padahal Sony susah memperingatkan tadi untuk melakukan pemanasan dulu.


"Aw, kakiku sakit!" pekik Alva, Sony segera membantu Alva naik ke daratan.


"Tuan mengalami kram otot, akibat tidak melakukan pemanasan tadi." ucap Sony perlahan agar tak mendapat bentakan lagi.


Alva diam saja saat Sony mulai memijat lembut daerah yang kram.


"Pemanasan dilakukan bertujuan untuk meningkatkan laju metabolisme, mempersiapkan paru-paru dan jantung, mempersiapkan otot-otot, sendi, merangsang pernapasan di dalam, meningkatkan suplai O2 dan saraf tubuh." terang Sony, Alva masih terdiam.


"Baiklah Tuan, jika Anda memaksakan diri untuk latihan berenang, setidaknya patuhilah prosedur saat berenang. Kalau begini terus kapan Anda akan berhasil? Tahap awal saja Anda sudah gagal. Lebih baik Anda mencari pelatih lain saja." Sony meraih tasnya dan hendak berdiri.


"Jangan! Aku sudah tidak punya waktu lagi." Alva menahan Sony.


"Apa Anda akan mengikuti semua perkataanku ?" tanya Sony serius.


"I-iya, aku akan melakukan pemanasan sebelum berenang." ujar Alva seraya berdiri. Karena kakinya terasa sakit, kakinya tak kuat untuk menopang tubuhnya. Sony membantu dia berdiri dan mengantarnya masuk ke dalam rumah.


"Cukup, aku bisa sendiri!" Alva mengisyaratkan agar Sony melepas pegangannya.


Alva mencoba berjalan sendiri, layaknya orang pincang. Kaki kanannya yang mengalami cidera. Dirasa tugasnya selesai, Sony bergegas pulang.


.

__ADS_1


Alva menuju ruangannya.


"Presdir, ada apa dengan kaki Anda?" tanya Lia saat berpapasan dengan atasannya.


"Haciu, haciu, aku baik -baik saja. Apa Thomas sudah datang?"


"Sudah Presdir, dia ada di ruangan Anda." sahut Lia.


Alva dengan kaki terseok-seok menuju ruangannya.


"Ada apa dengan kaki Tuan?" Thomas memperhatikan jalan Alva saat menuju kursi kebesarannya.


"Kaki ku kram pagi tadi, saat sedang latihan renang." terang Alva singkat.


"Apa perlu saya antar ke rumah sakit?" tawar Thomas yang tampak lebih khawatir ketimbang si sakit.


"Tidak perlu, aku bukan pria yang cengeng, sebentar -sebentar ke rumah sakit. Nanti juga akan sembuh sendiri." tolaknya.


"Lalu untuk apa Tuan bersusah payah ingin bisa berenang?" tanya Thomas penasaran.


"Nanti kamu akan tahu sendiri." Alva duduk di kursi kebesarannya, "Ada apa?" tanya Alva memperhatikan Thomas membawa sebuah map.


"Tuan Alva, kurang satu jam lagi kita akan berhadapan dengan mereka yang menagih janji untuk pengembalian dana." terang Thomas seraya membuka dokumen dan memperlihatkan padanya.


"Aku tahu, jumlah uangku masih belum cukup. Penjualan saham menurun drastis dan aku mengalami kerugian yang sangat besar." Alva mengusap kasar rambutnya seraya menatap langit-langit.


"Lalu, bagaimana selanjutnya Tuan?"


"Aku harus menepati janjiku."


"Tu-tuan akan mengundurkan diri. Jangan Tuan, kita cari cara lain! Bagaimana kalau kita meminjam saja?" usul Thomas yang disahut dengan gelengan kepala dari Alva.


"Kenapa Tuan, bukankah kita bisa menggantinya di lain waktu?"


"Aku sudah mencobanya, semua bank menolakku."


"Tapi, perusahaan ini sangat pantas mendapatkan pimpinan seperti Anda."


"Aku sudah memikirkan semua ini. Kumpulkan para petinggi perusahaan sekarang di ruang rapat. Aku akan menyusul ke sana!" perintah Alva, Thomas segera pergi.


Sherly yang baru datang menangkap kecemasan di wajah atasannya.


"Baguslah kamu sudah datang. Segera persiapkan dirimu, kita akan sidang di ruang rapat!" Alva berdiri dan mencoba berjalan.


"Kenapa mendadak sekali Presdir?"


"Bukannya mendadak, memang ini sudah waktunya jatuh tempo aku melunasi hutangku."


Alva mulai berjalan dengan kakinya yang masih terasa sakit.


"Aw," pekik Alvarendra seraya memegangi lututnya.


"Awas!!" secara reflek Sherly menopang bahu Alva.


Kedua mata bertemu, dan jarak mereka begitu dekat.


"Ya Tuhan, cantik sekali manusia ini, bersyukur aku pernah tidur seranjang dengannya." batin Alva.


"Wah, Presdir ini meski terkadang suka memaksa tapi tatapan matanya bikin jantungku deg deg ser." batin Sherly.


"Aku tidak apa-apa," ujar Alva seraya menepis tangan Sherly, dia mengkondisikan dirinya untuk menjaga image nya di depan ibu dari pandawa.


Alva berjalan mendahului Sherly, tetap dengan langkah pincang.


Sherly memandang punggung Alva dengan rasa iba, dalam batinnya ingin sekali dia menolong ayah pandawa, tapi bisa apa dia?

__ADS_1


__ADS_2