
"Alva, kamu sudah menikah! Sejak kapan, dan sepertinya aku baru tahu wanita ini?" Sonia perasaannya benar-benar hancur.
"Maaf aku tak mengundangmu, hanya acara sederhana saja." terang Alva seraya memasukkan kembali kertas ke dalam map.
"Sherly, Ethan, ayo kita pergi!" ajaknya tanpa menatap Sonia. Terdapat kekecewaan yang mendalam padanya.
"Tapi, Ayah, tes DNA itu ...?" Ethan masih sesenggukan.
"Aku tak percaya akan hasil tes DNA itu dan aku menilainya itu palsu." ujar Alva tak menggoyahkan keyakinannya kalau Ethan memang benar darah dagingnya.
"Ethan itu memang anak aku dengan Mas Alva sendiri. Aku yakin itu. Dan buktinya, Mas Alva masih senang sama Ethan, sebaliknya Ethan juga sayang banget sama Mas Alva." ujar Sherly seraya berdiri dan menggandeng tangan Ethan.
"Jadi, Ethan anak dari hubungan gelap kalian, anak haram dong! Atau, bisa jadi itu anak orang lain?" Sonia mengompori.
"Jaga ucapanmu Dokter Sonia, ada anak kecil di sini!" Alva menunjukkan jarinya tepat di depan wajah Sonia dengan geram.
"Aku bukan anak haram!" teriak Ethan yang mulai nangis lagi.
Sherly langsung menggendongnya.
"Anda seorang Dokter, tak sepantasnya berbicara seperti itu di depan anak kecil." ujar Sherly sambil menenangkan Ethan yang terus menangis.
"Sejujurnya, aku juga tak menyukai dia saat awal masuk ke rumah sakit ini untuk melakukan risetnya yang hanya main-main itu." Sonia tersenyum sinis.
"Aku tidak main-main, dokter Sonia. Aku memang bisa, hanya butuh waktu untuk menyelesaikannya." terang Ethan sambil sesenggukan.
"Dokter Sonia, mengapa sikap kamu sangat berubah begini? Dulu saat awal kita bertemu, kamu sangat sopan dan ramah. Ini bukan sifat mu yang sebenarnya. Ada apa?" Alva mulai curiga dengan perubahan Sonia.
Belum selesai berdebat, dokter Bima datang.
"Alva," sapa Bima lalu mengarahkan pandangannya pada Ethan. "Hai kamu anak kecil, kamu pasti anaknya Alva, wajah kamu sangat mirip dengannya." terang Bima sambil mencubit pipi Ethan dengan gemas.
"Dokter Bima," seru Alva.
"Kamu sedang apa, siapa yang sakit?" tanya Bima penuh selidik, seraya menatap sekilas wanita yang menggendong Ethan.
"Tidak ada yang sakit, aku ke sini untuk melihat tes DNA antara aku dan putraku." terang Alva datar.
"Jadi, benar anak ini anak kamu?" tanya Bima merasa senang, "Dia yang waktu itu terjebur di kolam mu kan?" Bima mengingat waktu memeriksa keadaan Dave.
"Bukan, Dokter, itu saudara kembarku!" sanggah Ethan yang sudah mulai reda tangisannya.
"Oo, maaf, jadi Alva punya dua anak kembar?"
"Kami kembar lima," Ethan dengan raut muka yang sudah tak sedih lagi menunjukkan lima jarinya.
"Kembar lima, wow keren. Ibu dan ayahmu sangat hebat bisa mencetak kembar lima sekaligus." ujar Bima membuat Sherly malu.
"Alva, apa dia calon istrimu?" tanyanya sedikit berbisik, namun cukup terdengar jelas di telinga semua orang.
"Aku sudah menikah."
"Aku kira masih lama, kamu kemarin minta surat kesehatan untuk nikah ternyata secepat ini. Kenapa tak mengundang ku?" Pertanyakan Bima membuat Sonia semakin panas telinganya.
"Maaf, tidak ada acara resepsi. Permisi, Dokter Bima, aku tidak bisa lama-lama di sini." Alva melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ayah, apa Ayah akan tetap menganggapku sebagai anak Ayah?" pertanyan Ethan terlontar begitu saja.
"Tentu, Nak. Selamanya dan sampai kapan pun kamu dan saudaramu yang lain adalah anak ayah." Alva mengusap lembut kepalanya.
"Memangnya ada apa Alva?" Bima sedikit bingung mendengar ucapan Alva.
"Hasil tes DNA kami tidak cocok."
"Yang benar kamu Alva, Dokter Sonia apa kamu yakin dan sudah melakukan dengan teliti?" Bima ganti menatap Sonia. Dia hanya mengangguk ragu.
"Dokter Sonia, terima kasih atas usahamu. Tapi maaf, aku tetap tidak percaya dengan hasilnya." Alva pergi diikuti Sherly yang tengah menggendong Ethan.
Bima menatap punggungnya hingga tak terlihat.
__ADS_1
Sonia terduduk lemas sambil menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
"Hiks, hiks, hiks," suara tangisannya.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu malah menangis?" Bima menyentuh pundaknya.
Sonia membuka tangannya.
"Aku telah gagal mendapatkan Alvarendra." terangnya jujur membuat Bima iri hatinya, ternyata wanita di depannya yang amat sangat ia sukai memiliki rasa dengan Alvarendra.
"Kamu menyukai Alva, su-sudah lama kah?"
"Sejak ibunya sakit," sahut Sonia cepat.
"Berarti 7 tahun lamanya kamu menyukai dia?" Sonia hanya mengangguk.
"Sonia," Bima menarik tangannya dalam dekapannya.
"Biarkanlah Alva menjalani kebahagiaannya, mengapa kita tak mencoba saja menjalani kehidupan yang lebih serius?" ujar Bima membuat Sonia terhenyak kagetnya bukan main, ternyata ada sosok pria yang menyukainya.
"Ka-kamu ...?" Sonia masih keget.
"Kita pacaran yuk!" ajak Bima tanpa bertele-tele.
"Ka-kamu ..." Sonia masih tak percaya.
"Iya, kita pacaran terus menikah deh!" lanjut Bima dengan keseriusannya.
Akhirnya Sonia mengakui kesalahannya kepada Bima, dan akan segera mungkin untuk menyampaikan kebenaran ini pada Alva. Bima menyadari kesalahan yang Sonia lakukan, sebatas kecemburuan saja terhadap Alva.
.
"Apa ayah akan melakukan tes DNA ulang?" pertanyan Ethan masih sama sejak mereka memasuki mobil menuju kediaman Alva.
"Sudah Ethan, tidak ada tes DNA lagi, kamu yakin kan dengan hasilnya tadi adalah palsu? Bisa saja dokter Sonia menukar hasilnya." ujar Alva menenangkan Ethan sambil menyetir.
"Aku takut akan kehilangan ayah." ujar Ethan dengan suara lirih.
"Ethan, kemari Nak!" Ethan yang berada di jok belakang, merangkak menuju kemudi.
Alva memeluknya erat dan menciumnya berulang kali.
"Ayah sangat mencintaimu melebihi nyawa ayah. Jadi, ayah mohon, kamu jangan berpikiran lagi seperti itu. Ayah sakit mendengarnya. Ayah berjanji padamu dan pada saudaramu yang lain, akan membuat kalian bahagia, selamanya." tutur Alva panjang lebar. Sherly terharu dengan sikap Alva yang semakin dewasa menghadapi anak-anak. Ethan mengangguk mengerti dan memeluk erat ayahnya.
"Ayo, ayah antar pulang!" Alva mengarahkan agar Ethan kembali pada tempatnya.
"Baik Ayah," Ethan kini tak bersedih lagi.
"Oh iya Mas, rencananya Mas Alva mau mendaftarkan pandawa di sekolah mana?" tanya Sherly mencairkan suasana yang terasa bawang itu.
"Aku akan memasukkan mereka di sekolahan aku saat kecil dulu."
Di rumah Andreas.
"Pagi Om," sapa wanita cantik bak model itu seraya menarik tangan Andreas untuk menyalaminya. Andreas yang sedang menikmati koran di teras depan itu menyodorkan tangan kanannya.
"Pagi," sahut Andreas tenang dan sudah mempersiapkan diri untuk meladeni yang satu ini. Dia meletakkan koran yang baru saja ia terima dari penjual koran.
"Nih Om, aku bawakan oleh-oleh, apel merah!" Wanita itu menyodorkan bingkisan seraya duduk di samping Andreas.
"Kamu tidak usah repot -repot membawa kan om buah." sahut Andreas datar lagi.
"Nggak papa kok Om, oh iya Om, bagaimana kabar Alva? Ponselnya sulit sekali aku hubungi."
"Dia cukup baik sekarang dan malah terlihat bahagia sekali."
"Benarkah Om, aku turut senang mendengarnya."
Abi berlari berkejaran dengan adik-adiknya.
__ADS_1
"Itu anak siapa Om, kok mereka memiliki wajah yang mirip dengan Alva?"
"A, B, C dan D, kemarilah!" teriak Andreas menghentikan mereka bermain.
Mereka mendekati Andreas.
"Iya Kakek," seru mereka serentak.
"Ayo salim dengan tante ini!" perintah Andreas.
Mereka berhamburan menyodorkan tangan untuk salim.
"Si-siapa mereka?"
"Mereka semua adalah anak-anak Alvarendra." terang Andreas membuat wanita di depannya menganga tak percaya.
"Anak Alva!" teriaknya histeris tak percaya. Kenzi tak mau terlihat kalah, dia menata nafas dan hatinya.
"Tante siapa?" tanya Dave polos, dia teringat saat Ello menceritakan kalau ada wanita yang akan Alva nikahi dulu sebelum bertemu Sherly.
"Tante, Kenzi Adefa, calon istri ayah kamu!" Kenzi menerima uluran tangan dari para pandawa. Ia tak terlalu percaya dengan ucapan Andreas.
"Ayahku sudah memiliki istri, jadi Tante jangan berbohong!" Abi tak terima dengan ucapan Kenzi yang memanas -manasi mereka.
"Kalau kamu tak percaya tanya saja nanti pada ayah kamu!" Kenzi dengan santainya mengatakan itu. Sekuat mungkin dia melawan kenyataan kalau Alva sudah memiliki anak.
"Kenzi, cukup!" bentak Andreas.
"Om, jangan percaya dengan mereka, ini pasti akal -akalan ibu mereka untuk menguasai harta Om!"
"Kenzi, Om percaya mereka adalah anak-anak Alvarendra. Jadi, stop kamu jangan lagi mengusik kehidupan Alva lagi. Alva sudah menikah, biarkan dia menjalani kehidupannya."
"Om Andreas cepat sekali berubah. Bukankah Om sudah merestui hubungan kami?"
"Iya, sebelum aku tahu kalau Alva memiliki anak."
"Aku tak terima ini, Om. Aku akan melaporkan perlakuan Om terhadapku pada papa. Aku yang seharusnya menjadi istri Alva, bukan ibu dari anak-anak yang menyebalkan ini!"
"Kamu ..." Andreas hampir kewalahan meladeni sikap Kenzi yang ngotot itu.
"Sebaiknya Tante pulang saja ke rumah Tante," usir Charles.
"Hai anak kecil, kamu berani sekali mengusirku!"
"Jangan panggil aku anak kecil, Tante. Namaku Charles!"
"Tante jahat, pulang sana!" Boman tak tinggal diam.
"Dasar anak-anak tak tahu sopan santun, apa semua ini ibu kalian yang mengajarinya, hah!" Kenzi merasa geram, dia berdiri dan ingin sekali menjewer kuping mereka.
Mereka berlari sambil mengejeknya. Kenzi mengejar mereka.
"Brukk ...!"
"Aw, sakit!" rintih Kenzi seraya mengusap pantatnya yang sakit. Dia terpeleset oleh air yang ternyata ulah pandawa. Entah sejak kapan mereka menaruh air di atas lantai yang menyebabkan Kenzi jatuh terjerembab.
Pandawa tertawa terpingkal -pingkal menyaksikan targetnya jatuh. Andreas pun ikut berdiri dan tertawa juga.
"Awas kalian semua, tunggu pembalasanku!" Kenzi berdiri dengan paksa, dia menuju mobil sambil menahan sakit.
"Berhasil!" seru pandawa.
Bersambung....
Maafkan saya sebagai author, jika isi dari novel ini kurang menarik dan tidak bisa memuaskan para reader semuanya. Tapi author sudah semaksimal mungkin menyajikannya dengan baik.
Tetap dukung selalu Pandawa Kecilku dengan memberi like, vote dan jangan lupa komennya.
Author takkan bisa sampai di titik ini kalau bukan dari dukungan para reader semuanya. Terima kasih.
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘