
Aine menatap pantulan wajahnya di cermin. Cantik sekali. Ini wajah yang berbeda dengan Aine sebelumnya. Jauh beda malah.
Rambut ikalnya kini telah berubah menjadi rambut hitam panjang yang lurus. Wajahnya yang gemuk kini telah berubah tirus. Kacamata tebal yang selalu menghalangi mata indahnya tidak bertengger diwajahnya lagi. Dan kulitnya mengalami ekdisis hingga setara dengan kulit-kulit para aktris.
Rahasianya terletak diperawatan yang ia terima. Spa tiga kali seminggu, produk kecantikan yang terpilih, hingga perawatan lain yang ia terima membuatnya berubah menjadi seorang bidadari. Tentu saja semua itu tidak terlepas dari tuntunan Iraz. Pria itu yang mendukungnya hingga bisa seperti sekarang.
Sejak dia menekuni dunia kecantikan, dia semakin mengerti kenapa cantik itu penting. Karena kecantikan bisa digunakan untuk segala hal. Pantas banyak wanita yang mengorbankan segalanya hanya untuk terlihat elok. Aine baru menyadarinya saat ia melihat betapa padatnya spa yang dia datangi. Bahkan ada beberapa orang yang datang setiap harinya.
Aine tersenyum melihat wujud barunya. Ternyata menjadi cantik tidak sesulit yang dia pikirkan. Semua menjadi mudah dengan adanya uang. Tapi meski semua mudah, ia tetap saja merasa bersalah pada Iraz. Bagaimanapun juga pria itu juga yang dia habiskan. Makanya, kadang dia menawarkan diri untuk berhenti mengikuti kelas kelas itu, tapi Iraz mengatakan ia akan marah kalo Aine berhenti.
Gadis itu keluar dari kamar. Ia menghampiri Iraz yang sedang sibuk di depan laptop. Kebetulan Iraz memilih kerja dari rumah hari ini. Katanya sih agak nggak enak badan. Aine tau pria itu berbohong, buktinya ia terlihat baik-baik saja sekarang.
"Raz!" panggil Aine duduk di hadapan Iraz.
"Hmm?" jawab pria itu tanpa menoleh.
"Aku cantik nggak?" tanyanya iseng.
"Nggak." jawab Iraz cuek.
"Yah! Aku kira udah cantik," bibir Aine keburu manyun.
Iraz hanya terkekeh kecil. Ia tetap sibuk dengan keyboard laptop di hadapannya.
"Raz," panggil Aine setelah beberapa saat lagi.
"Hmm?" jawabannya lagi-lagi.
"Aku jelek, nggak?" tanyanya membalikkan pernyataan yang tadi.
"Jelek. Tapi nggak jelek-jelek amat," jawab pria itu bercanda.
"Aaaaaa, Iraz!" Aine kembali manyun sekali lagi. "Puji aku cantik dong, Raz, aku pengen banget mendengarnya darimu,"
Iraz menatap Aine. "Pujian bukan untuk sembarang orang, Ai. Tapi karena kamu bukan orang sembarangan, maka baiklah." pria itu menghentikan jarinya mengetik.
"Kamu cantik sekali, Ai." ucap Iraz.
"Makasih, Raz. Meski tidak tulus, aku senang. Dipuji olehmu itu membuatku lebih percaya diri seakan-akan aku memang cantik."
Iraz mengalihkan pandangannya ke laptop. Ia kembali disibukkan dengan dunia kerja.
__ADS_1
"Kamu memang cantik, Ai. Aku serius mengatakannya," kata pria itu ditengah-tengah kesibukannya.
Wajah Aine langsung berseri. "Kebiasaan membuat orang naik kuping!"
Iraz menggeleng. "Terserah kamu deh!"
Suasana kembali hening. Aine ataupun Iraz tidak bersuara lagi. Sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aine main hape, sedangkan pria itu bekerja.
Sejenak Aine mengehentikan aktifitasnya. Ia menatap wajah Iraz yang sedang fokus bekerja. Mata tajam itu teralih pada layar laptop dan kesepuluh jarinya mengetik tanpa perlu melihat keyboard. Dia pasti sudah pro tentang dunia komputer. Buktinya dia nggak butuh waktu lama untuk mengetikkan sesuatu.
"Raz?" panggil Aine lagi.
Tidak ada jawaban. Sekedar lirikan juga tidak.
"Raz?" panggil Aine lagi-lagi. Ia agak kesal dengan tingkah pria itu yang agak cuek.
"Raaaaaaaaaaaaz, kamu budek, ya!" kesal Aine.
Iraz menoleh sejenak. "Iya, ada apa?"
"Kamu kok jadi cuek?"
"Emang kau mau dipanggil apa?"
"Sayang, honey, beby, atau apa kek! Biar romantis gitu!"
Gadis itu jadi malu sendiri. Sudah pasti Iraz sengaja mengatakan itu agar Aine salah tingkah. Dan hasilnya memuaskan karena gadis itu benar-benar memerah seperti kepiting rebus.
"Apaan sih, Raz!"
"Hehehe. Lagian kamu sih, masih bilang Raz! Kalo ada yang ingin kamu sampaikan, katakan saja, tidak perlu sebut nama dulu, boros waktu sama suara, Ai!" Iraz menatap Aine sejenak, kemudian balik lagi ke pekerjaan.
"Hehehe, maaf, Raz. Aku tuh udah kecanduan sama namamu,"
Pria itu tidak melanjut lagi.
Mengetahui tidak ada topik lagi, Aine berdiri. "Mau secangkir kopi atau sepiring buah?" tanyanya pada pria itu.
"Buah aja, Ai! Kayaknya siang-siang gini enaknya makan buah deh," jawab Iraz.
"Okey, tunggu lima menit!" ucap gadis itu seraya berlalu dari hadapan Iraz.
__ADS_1
Lima menit kemudian....
"Jeng..jeng..jeng... potongan buah khusus untuk tuan Stefan Joubert ala Aine Fourie. Dipotong dengan penuh hati dan dihiasi dengan penuh cinta. Selamat makan, Tuan..." Aine meletakkan piring berisi potongan apel, stroberi dan kiwi yang disusun dengan rapi.
Iraz kagum melihat potongan Aine. Sama besar dan tersusun dengan rapi. Persis kayak potongan buah pas acara makan buah di istana.
"Tanganmu berbakat sekali, Ai. Makasih banget loh,"
"Makasih kembali." kata Aine riang. "Aku keluar ngambil udara segar dulu, yah... bye Iraz." gadis itu buru-buru meninggalkan pria itu sendirian. Ia tau, Iraz nggak akan memakan buah itu jika dia masih disana. Orang pria itu takut menunjukkan wajahnya.
Seharusnya itu kesempatan yang sangat bagus untuk Aine melihat wajah asli dari Iraz. Ia bisa saja mengintip dari jendela saat pria itu membuka maskernya untuk makan. Tapi Aine tahu diri. Iraz sudah banyak membantunya. Ia tidak mau mengecewakan pria itu. Setidaknya kalo dia tidak bisa membuat Iraz senang, minimal dia tidak menganggu privasi pria itu.
Aine duduk di teras sambil menikmati semilir angin. Rasanya damai hidup berdua seperti ini. Tidak ada Melanie yang menyuruhnya setiap saat, tidak ada Mama yang mengomel hanya padanya, tidak ada Papa yang selalu membandingkannya dan tidak ada Vanya yang menjulitinya. Yang ada hanya Iraz yang selalu membuatnya merasa aman. Pria yang memberikan hidup baru padanya. Meski hidupnya sekarang bukan kepastian.
"Ai?" terdengar suara Iraz dari dalam.
"Iya?" jawab Aine masuk ke dalam rumah. Menghampiri Iraz yang sedang duduk. "Ada apa, Raz?"
"Tuh, bantu aku ngehabisin buahnya," kata Iraz menggeser piring yang hanya tinggal separuh isinya mendekati Aine.
"Oke," jawabnya langsung memulai makan.
"Raz, aku pengen pulang ke rumah orangtuaku." ucap Aine tiba-tiba.
Tentu Iraz terkejut. "Kau mau ninggalin aku?" mata pria itu terlihat sedih.
"Nggak, Raz. Aku mau menunjukkan pada mereka bahwa aku masih hidup dan sudah berubah."
"Jangan gegabah, Ai!" ujar Iraz memperingatkan.
"Maksudmu?"
Pria itu memperbaiki posisi duduknya, menautkan tangannya, menatap Aine tajam. "Timbang terlebih dahulu, Ai. Kalo kamu memutuskan untuk balas dendam sekarang, kurasa itu akan gagal. Kau hanya berubah Ai, apa itu cukup membuat mereka menyesal? Menurutku sih tidak akan ada yang berubah, kau hanya akan kembali diperbudak seperti sebelum-sebelumnya. Malah mungkin akan lebih parah karena kamu sempat kabur." Iraz memberikan pernyataan yang masuk akal.
Ekspresi Aine cemberut. "Jadi bagaimana caraku membalaskan dendamku?"
"Kau harus jadi penguasa. Jika kamu berkenan maka ijinkan aku membantumu untuk misi ini. Aku sudah menyusunnya dari awal." Iraz.
" Benaran? Bagaimana caranya?"
"Aku akan menjadikanmu penguasa, Ai!"
__ADS_1