
Aine menatap lukisan di depannya. Hampir selesai. Hanya perlu menambahkan beberapa polesan agar sempurna.
Aine melukis seorang pria di bawah senja yang memeluk lututnya di bawah sinar jingga. Ekspresi pria itu jelas menunjukkan bahwa dia sedang menanti seseorang.
Entah apa yang Aine pikirkan. Tapi ia kurang yakin lukisan ini akan berhasil. Tapi sudahlah, ia sudah mengerjakan itu hampir dua Minggu lamanya. Kalo pun gagal yang penting dia sudah berusaha.
"Iraz bakal marah nggak ya kalo tau wajahnya yang kujadikan objek lukisanku?" Aine bergumam seraya mencampurkan warna baru. "Kalo dia marah, aku tinggal tidak finalisasi saja. Mudahkan,"
Aine kembali melanjutkan pekerjaannya. Memeratakan warna yang kurang tepat baginya. Dan hasilnya, well.
Aine tersenyum melihat lukisan berukuran 40×40 di depannya. Itu Iraz, ketika mereka sedang berkunjung untuk melihat senja di bukit beberapa bulan yang lalu. Sejak saat itu, dia memang bermimpi mengabadikan momen itu dengan hasil karya tangannya sendiri. Makanya jika nantinya ia tidak menang, baginya tidak apa-apa. Karena lukisan itu akan dikembalikan padanya.
Tapi kenapa Aine merasa sedih dengan lukisan itu? Kenapa dia merasa aneh? Jujur saja, selama proses pengerjaan, ia banyak menangis. Entah kenapa dia merasa akan ada perpisahan. Seolah-olah salah satu dari mereka akan menghilang.
Tapi semoga hanya feeling saja.
Tok..tok..tok...
Seseorang mengetuk pintu kamar Aine yang tertutup rapat.
"Siapa?" tanya Aine buru-buru mengumpatkan kanvas itu ke kolong tempat tidur.
"Calon suamimu!" sahut orang di balik pintu.
"Iraz ya?" sebenarnya dari tadi Aine tau kalo itu Iraz, cuman dia butuh waktu untuk menyembunyikan kanvas itu.
"Nggak, Stevan." sahutnya lagi.
"Oh, tunggu sebentar." langsung mengganti dengan kanvas yang lebih kecil.
"Eh, Iraz?" membukakan pintu lebar. "Tumben pulang cepat? Masih jam dua belas loh,"
"Emang kalo jam dua belas nggak bisa pulang, gitu?" masuk ke dalam dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang Aine.
"Bisa sih, hehehe," Aine kembali duduk di depan kanvas setengah kerja yang ada di sudut ruangan.
Iraz menatap punggung Aine dengan posisi terlentang. "Itu lukisan yang ingin diikutkan lomba?"
"Hmm, iya, Raz." jawabnya berbohong.
"Kamu mengangkat tema mimpi?"
"Yah, benar. Aku suka lukisan yang berhubungan dengan alam bawah sadar." jawabnya santai.
"Berwarna sekali. Mirip dengan lukisan The Starry Night."
"Kusengaja, Raz! Biar kayak bercerita gitu..."
"Berarti kamu sealiran dengan Vincent Van Gogh. Dia salah satu pelukis dunia yang terkenal beraliran impresionisme."
"Aku tau. Dia pelukis favoritku setelah Michelangelo."
"Michelangelo? Wah, kita berbeda, Ai. Aku tidak suka dia karena lukisannya lebih banyak terbuka. Meski sebenarnya aku suka alirannya. Aku lebih suka Salvador Dali. Dia idolaku banget."
"Dia aliran surialisme, kan?"
"Yah. Alam mimpi."
"Aku juga suka. Tapi lebih suka karya Karl Schmidt Rottluf and Claude Monet. Pokoknya semua pelukis aku sukai, kecuali Pablo Picasso. Soalnya aliran kubisme nya tidak dapat kumengerti. Lagian, lukisannya tidak masuk akal dan tidak menarik juga. Tapi dia punya bejibun fans. Kayaknya cuman aku aja yang kurang sreg padanya."
"Gilak sih kalo sampai tidak menyukai seniman sehebat Pablo. Tapi nggak apa-apa, karena itu hakmu. Popularitasnya juga tidak akan berkurang hanya karena tidak disukai oleh Aine. Tapi aku yakin, dia akan merasa gagal kalo tau cewek secantik kamu tidak mendukungnya. Memang tidak berpengaruh pada popularitasnya, tapi berdampak pada semangatnya... hahahaha..."
"Aaaaa Iraz!! Kamu ngeselin!"
"Btw, ini hari yang indah. Kamu mau bernyanyi nggak?" Iraz bangkit, memastikan jawaban Aine.
__ADS_1
"Suaraku nggak bagus, Raz.." Aine menolak secara halus.
"Nggak apa-apa. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan gitar." dia langsung beranjak dan masuk ke kamar sebelah.
Tak sampai semenit, Iraz kembali dengan gitar berwarna hitam. Langsung naik ke atas tempat tidur Aine dan mulai memetik alat musik itu.
"Kamu mau nyanyi lagu apa, Ai?"
"Aku nggak bisa nyanyi, Raz,"
"Aku sampai bawain gitar, loh! Pokoknya kamu harus nyanyi!" paksa Iraz.
"Aku malu..."
"Nggak apa-apa kok. Aku bantu deh. Jadi mau nyanyi lagu apa?"
Aine yang merasa terpaksa akhirnya menjawab, "The One That Got Away. Aku ingin menyanyikannya sejak lama,"
"Lagunya Katy Perry?"
"Hmm, iya."
"Okay... langsung!" Iraz melipat kakinya di atas ranjang---tentu saja setelah membuka sepatu. Memeluk alat musik itu lalu mulai memetik kembali.
In another life
I would be your girl
We'd keep all our promises
Be us against the world
In another life
I would make you stay
So I don't have to say you were
The one that got away
The one that got away
Aku akan menjadi kekasihmu
Kita akan menepati semua janji kita
Bersama menghadapi dunia ini
Aku akan membuatmu tetap tinggal di sini
Jadi aku tidak perlu berkata kau adalah satu-satunya untukku yang hilang.
Satu-satunya untukku yang hilang.
Aine bernyanyi di tempat dia melukis. Rasanya sakit menyanyikan lagu ini karena seolah mengekspresikan perasaannya saat ini. Tidak bisa dipungkiri dia memang takut kehilangan Iraz.
"The one that got away..." Iraz menyanyikan sekali lagi sebelum mengakhiri petikannya.
"Lagunya bagus, maknanya dalam." kata Iraz mulai berkomentar. "Tapi saran ku, kau nggak usah bercita cita jadi penyanyi, Ai, suaramu pas-pasan banget..."
Aine manyun. "Emang siapa yang mau jadi penyanyi? Aku juga sadar diri kok."
"Hahahaha, jangan marah, Ai... aku becanda doang..."
"Serius juga nggak apa-apa, karena aku tau itu fakta."
__ADS_1
"Hahahaha, baperan banget! Kucium kembali nggak, sih?"
"Nggak!" balas Aine kecut.
"Bhhahah, jadi gemes banget!"
***
Hari sudah sore, Iraz duduk di meja kerjanya. Ada beberapa tugas yang belum ia tuntaskan di kantor. Yah, dia pulang cepat karena merasa takut meninggalkan Aine sendirian setelah mengetahui Alvan datang ke rumah itu beberapa hari terakhir ini. Ia khawatir kalau-kalau pria itu berniat jahat pada Aine.
Tapi Iraz tidak mengatakannya pada Aine. Bahkan gadis itu pasti tidak tau kalo dia mengetahui perihal kunjungan Alvan. Iraz memang aneh, dia mengetahui segalanya melampaui batas logika. Dan itulah yang membuat dia unik.
"Kamu mau cemilan apa buah?" tanya Aine dari dapur.
"Buah."
"Dasar pencinta buah!"
Tidak lima menit, Aine sudah datang membawakan piring.
"Nah... buah kesukaanmu!" menyodorkan potongan apel.
"Suapin...."
Aine memasang wajah kesalnya. Tapi anehnya dia menuruti permintaan pria itu.
Jadilah tangannya bekerja plus mulutnya mengunyah. Bisa makan tanpa menunda pekerjaan. Enak banget jadi dia.
"Ai...." ucapnya selesai makan buah.
"Hmmm,"
"Love you forever🎶🎶" ternyata dia bernyanyi.
"Aku sedang nyanyi loh, Ai... nggak manggil kamu," goda Iraz.
"Kirain manggil aku!"
"Ai... love you forever... and forever..." nyanyi lagi.
"Ai..." kini ia memanggil gadis yang duduk di dekatnya. Tidak ada sahutan, Aine malah sibuk mengunyah buah.
"Ai!" panggilnya lagi. Yang dipanggil tidak peduli. Mungkin mengira Iraz sedang bernyanyi kayak tadi.
"AI! AKU MANGGIL KAMU!"
Aine menoleh, menatap wajah Iraz. "Oh, kirain nyanyi."
"Kan nggak pake nada, Ai!"
"Oh. Apa?"
"Love you!" ujarnya kesal.
"Apa itu nyanyian?"
"Nggak! Pantun!" sahut Iraz monyong.
"Hahahaha. Pendek amat!"
"Ihhh, aku serius. Love you full. So full. Amiamoci, Ai. Voglio stare sempre con te. Ho paura di lasciarti." kata Iraz mencampur bahasanya.
"Kamu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti!"
__ADS_1
"Aku bilang, menikahlah denganku!" ajar Iraz.
"Hahahaha, candaanmu tidak lucu!"