Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Aine Menyerah


__ADS_3

Iraz bangun pukul 05.00, sama seperti biasanya. Meski ia tidur jam 02.00 kebiasaan bangunnya tidak akan berubah, ia sudah mengaturnya dari awal.


Pria itu bangkit dan meregangkan otot-ototnya. Segera keluar untuk memulai aktivitasnya.


Biasanya pria itu akan joging selama tiga puluh menit, lalu mandi, sarapan, baca buku, main hape, lalu berangkat kerja. Kalo ada waktu ia akan menyempatkan diri untuk mengajari Aine berbahasa Inggris.


Selesai joging, Iraz berniat untuk mandi. Ia mendapati ruangan masih kosong, artinya Aine masih tidur. Biasanya gadis itu sudah bangun jam segini, tapi kenapa hari ini enggak, ya? Apa semalam dia terlalu lelah?


Iraz membuka pintu kamar Aine sedikit. Mengintip gadis itu. Ternyata benar masih tidur.


Pria itu kembali menutup pintu. Ia akan membiarkan Aine bangun lebih siang hari ini.


Sudah hampir jam delapan, Aine belum bangun juga. Padahal Iraz sudah menunggunya sejak satu jam yang lalu.


"Dia kenapa sih? Sakit atau gimana?" gumam Iraz bangkit dari kebosanannya. Ia sudah mengenakan jas hitam bergaris, lengkap dengan dasi coklat dan sepatu senada. Iraz memutuskan untuk membangunkan Aine saja.


"Ai," Iraz duduk di tepi ranjang gadis itu.


Tidak ada sahutan. Gadis itu tetap terlelap.


"Ai, bangun dong," kali ini Iraz menepuk bahu gadis itu.


"Ai,"


"Hmmm," balas Aine singkat.


"Bangun dong. Ini udah jam delapan loh. Kamu ada kelas fitness hari ini." pria itu memberitahu.


"Malas." sahut Aine singkat.


"Jadi kamu nggak usah diantar?" tanya Iraz menebak.


"Aku absen hari ini!"


"Kenapa?"


"Malas!"


"Ya udah, deh, kalo begitu aku pamit ke kantor, ya. Baik-baik di rumah!" Iraz bangkit dari duduknya.


"Hmmm,"


"Jangan lupa makan, Ai," kata pria itu sebelum akhirnya melangkahkan kakinya.


***


Hari ini Iraz sarapan di luar. Aine tidak memasak untuknya. Agak kesal sih, soalnya dia hanya menyukai masakan Aine. Tapi udahlah, mungkin gadis itu tidak mood hari ini.


Sepulang dari kantor Iraz menyempatkan diri untuk membeli selada dan beberapa sayuran lainnya. Memang udah kebiasaannya belanja sebelum pulang.


Sampai di rumah, ia mendapati Aine sedang makan. Gadis itu membeli junk food via online. Yang paling parahnya lagi, gadis itu membeli dalam jumlah yang banyak.


Melihat itu Iraz terkejut. Ia tau Aine dilarang makan junk food. Karena itu bisa menggagalkan dietnya. Selain itu Iraz tau kalo gadis itu alergi pada makanan cepat saji seperti yang dia kunyah sekarang.


"Ai, kenapa kamu..."


"Aku lagi pengen, Raz!" jawabnya bahkan sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


"Tapi bahaya loh, Ai..."


"Biarin aja!" ketus gadis itu.


Iraz meletakkan tas dan sayuran yang dia bawa. Segera menyeret sajian Aine dari atas meja. "Udah Ai, kayaknya udah cukup."


"Sini, Raz! Aku masih mau!" gadis itu tampak kesal.


"Tapi kamu..."


"Nggak apa-apa! Aku lagi pengen banget!!" gadis itu menyeret plastik yang berisi makanan itu ke hadapannya lagi.


Iraz tidak bisa melakukan apapun selain diam dan menerka apa yang terjadi pada gadis ini.


***


Dua hari berlalu, dan Aine masih saja dengan tingkahnya. Bangun siang, tidak mengikuti kelas, makanan-makanan yang tidak sehat serta menjadi dingin. Gadis itu seperti kerasukan setan.


Iraz tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah mencoba membujuknya tapi tetap tidak ada yang berubah. Malah gadis itu semakin hancai saja.


Sore ini sepulang dari kantor, Iraz berdoa agar Aine sudah kembali seperti semula. Ia ingin gadis itu selalu tersenyum seperti sebelumnya. Tapi jangankan itu, saat pulang saja ia tidak disambut lagi.


"Ai," panggil Iraz saat mendapati Aine tidak ada di rumah. Ia memeriksa ke kamar, dapur sampai kamar mandi, tetap juga batang hidung gadis itu tidak kelihatan.


"Dimana dia?" tanya Iraz berkeliling ruangan. Tidak ada, gadis itu sudah menghilang.


"Ai, kamu dimana?" Iraz setengah berteriak.


Tiba-tiba gadis yang dicari muncul dari pintu belakang. Dia lesu sekali.


"Ai, kamu dari mana?" tanya Iraz memeluk gadis itu.


Tiba-tiba Iraz mencekal lengan Aine. "Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa akhir-akhir ini kamu berubah? Kalo punya masalah, bilang samaku! Aku akan membantumu, Ai!" ekspresi pria itu begitu khawatir.


Aine mengangkat wajahnya yang pucat. Beberapa jerawat bertimbulan di keningnya. Mungkin efek karena sering melewatkan cuci muka akhir-akhir ini.


Gadis itu membisu.


"Ai, aku itu khawatir!"


Aine menatap Iraz tanpa berniat menyahut.


"Kalo kamu terus begini, bagaimana kita bisa balas dendam. Kau harus tetap semangat, Ai, tidak boleh lengah!"


"Ini semua gara-gara kamu, Raz!" potong gadis itu.


Iraz mengerutkan keningnya. "Aku? Emang, apa yang kulakukan?"


"Kau berbohong padaku!"


Iraz semakin heran saja. Berbohong? Apa yang dia bohongi? Seingatnya semua yang dia katakan pada gadis ini adalah kebenaran. Lantas kenapa dia mengatakan demikian?


"Aku berbohong soal apa, Ai?"


Aine hampir menangis. Entah kenapa dia menjadi gadis cengeng akhir-akhir ini. Apalagi jika menyangkut tentang Iraz, wahh, dia sensitif sekali.


"Wanita. Kamu bilang padaku kalo kamu tidak punya wanita. Ternyata kau punya!"

__ADS_1


"Hah? Maksudnya apa? Aku ngga ngerti, Ai," bukan karena otak yang dimiliki Iraz sedang ngelag , tapi karena perkataan Aine yang tidak masuk akal baginya.


"Malam itu aku mendengar mu bicara dengan seorang wanita. Kalian dekat banget sampai ngobrol tengah malam. Aku mendengar sebagian pembicaraan kalian," Aine menunduk, ia tak kuasa menahan sedih jika mengingat itu.


Iraz mengerti maksud Aine. Pasti telepon dari Vey yang kemarin. Tiba-tiba senyumannya terkembang.


"Oh, jadi kamu tidak tidur malam itu?"


Aine menggeleng meski menunduk. "Aku dengar namanya Vey. Kadang kau memanggilnya Zizi."


Pria itu membingkai wajah Aine dengan tangannya. Membuat mata gadis itu refleks menatap matanya. Ia tersenyum gemas. "Sejauh mana kau mendengar percakapan kami?"


Aine manyun. "Hanya sebagian, itupun di akhir akhirnya." jawab Aine.


"Jadi kamu kira Vey itu pacar aku?"


"Hmm, iya." jawab gadis itu lirih.


"Vey itu kakak aku. Memang, kemarin aku lupa menceritakan satu bagian penting dari hidupku. Tentang saudariku." Iraz menjeda sejenak. "Vey itu saudariku satu-satunya. Dia memang bukan anak kandung, tapi kami sudah menganggapnya sebagai keluarga kandung. Papaku mengadopsinya sejak dia berusia tujuh tahun, kala itu aku belum lahir."


"Usia kami terpaut delapan tahun, makanya dia sudah menikah dan memiliki dua anak. Zizi dan Prince. Anaknya yang paling gede namanya Zizi, aku dekat banget sama anak ini. Kalo Prince masih kecil, belum bisa diajak berkompromi. Vey memang satu-satunya wanita yang dekat denganku. Dia menggantikan Mama yang meninggal ketika aku masih berumur lima tahun. Dia tuh ngelengkapi hidup ku, makanya aku sesayang itu padanya." tutur Iraz panjang lebar.


"Apa? Jadi dia saudarimu?" Aine menahan malu. Ia bertingkah merepotkan akhir-akhir ini gara-gara alasan yang tidak jelas.


"Iya, Ai."


Aine merasa bersalah. Dia sudah menjadi beban untuk Iraz selama ini dan dia masih berani bertingkah. Harusnya hal seperti ini tidak boleh terjadi.


"Maaf, Raz... aku udah menjadi manusia tidak tahu diri. Menjadi beban bagimu, selalu merepotkan, dan tidak berguna. Maaf, maaf banget Raz..." gadis itu mewek.


Iraz tersenyum. Ia kembali membingkai wajah itu setelah tadi melepaskannya.


"Kamu bukan beban, Ai, kau penyemangat..."


"Bahkan setelah aku melakukan semua ini, kamu masih membuatku merasa berharga. Makasih, Raz..." Aine benaran meneteskan air mata.


Iraz terkekeh. Ia menghapus air mata gadis itu dengan kedua jempolnya.


"Sudahlah. Sekarang kau harus bangkit lagi. Ayo bayar semua yang tinggalkan beberapa hari ini."


Aine mengangguk. "Oke, oke, Raz...aku janji akan mengambil kelas spa and fitness full Minggu ini. Aku bakalan diet ketat untuk membayar apa yang sudah ku tumpuk. Dan akan lebih baik kedepannya,"


Iraz tersenyum lebar. "Ini baru Aine-ku." diikuti usapan di kepala gadis itu.


" Satu hal yang harus kau hindari kedepannya, jangan menilai sebelum tahu kebenarannya. Itu tidak baik, Ai..."


"Baik, Raz. Aku mengerti. Yang penting ternyata kau tidak memiliki wanita..."


Iraz tersenyum aneh. "Kamu cemburu, ya, Ai?"


"Nggak, kok." jawabnya berusaha memalingkan wajah.


"Nggak cemburu kok sampai segitunya,"


"Hehehehe, nggak, Raz..."


"Iya juga nggak apa-apa kok, Ai. Aku malahan senang. Senang banget."

__ADS_1


"Apaan sih, Raz!"


__ADS_2