
Langit telah berubah gelap setelah seharian memancarkan sinar yang dahsyat. Seorang pria yang dibalut jas hitam menutup laptopnya. Ia iseng melihat jam dan ternyata sudah larut. Sudah waktunya pulang ke rumah. Menikmati segelas susu hangat, mandi lalu tidur. Besok pagi-pagi dia harus kembali bekerja lagi.
Sampai di rumah ekspektasinya hancur karena seseorang telah memicu emosinya. Bagaimana tidak kalo kamar yang biasanya ia gunakan untuk tidur kini dihiasi dengan ribuan bunga mawar putih. Bukannya dia tidak suka dengan bunga, tapi kondisinya saat ini menolak untuk menikmati hal-hal yang romantis.
"Siapa yang mengotori kamarku??" tanyanya dengan suara lantang. Ia menatap empat orang yang duduk di sofa ruang teve. Mereka adalah Axel, Vey, Zizi, dan Erin.
Ke empatnya terdiam. Mungkin sengaja.
"Aku tau, ulah mu kan??" menatap Erin tajam. Yang ditatap langsung ciut.
"Bersihkan sekarang juga!" bentaknya kasar.
"Ste.. Stevan... ini kan hari spesial kamu. Jadi tidak apa-apa dong kalo aku berlaku romantis..." sahut Erin gemetaran. Sudah jelas dia takut dengan bentakan pria itu.
"Jika kamu masih ingin melihat indahnya dunia ini, bersihkan kamar ku sekarang juga!" setelah mengatakan itu, pria yang ternyata Iraz itu pergi meninggalkan ke empatnya. Entah kemana ia pergi. Yang pasti ke luar dari rumah.
"Aku sudah memperingatkan ini sebelumnya!" komentar Axel setelah Iraz lenyap dari pandangan mereka.
"Aku bingung kenapa dia jadi seperti itu..." lanjut Vey sayu.
"Aku malah tidak yakin kalo dia adalah Stevan. Karena Stevan bukan orang yang kasar sebelumnya." kini giliran Erin berkata. Ia kelihatan sedih dan kecewa. Agaknya perbuatan Iraz cukup melukai hatinya.
"Kiking sudah berubah menjadi jahat."
***
Iraz kembali setelah jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Ia menikmati waktunya di bar seorang diri. Sepertinya itu lebih menghibur daripada harus tidur diantara ribuan bunga. Hari yang spesial ini terasa hampa karena banyaknya cobaan yang menghampiri. Andai saja dia bisa mengendalikan takdir, ia akan mengubah hidupnya baik-baik saja sepanjang waktu.
Jam tiga ia masuk ke dalam rumah. Ia menjumpai kamarnya sudah bersih kembali. Bunga mawar itu dibersihkan tanpa tertinggal satu kelopak pun. Memang harus begitu agar darah tinggi Iraz tidak memuncak lagi.
__ADS_1
"Dari mana, Stevan?" tanya Vey khawatir.
"Kenapa? Apa aku harus melapor setiap aku bepergian?"
"Bukan begitu... tapi kan kamu tidak terbiasa dengan dunia malam. Jadinya aku kuatir..."
"Terlalu dramatis!" komentar Iraz melewati wanita itu.
"Van... tolong jangan siksa dirimu seperti ini ... katakan saja masalahmu padaku, aku akan berusaha membantu selagi aku masih mampu."
Iraz menghentikan langkahnya di dasar tangga. Membalikkan badannya hingga matanya bersitatap sejenak dengan Vey. Sudah jelas dia akan merasa jijik dengan perkataan wanita.
"Aku baik-baik saja. Aku tidak menyiksa diriku. Aku hidup dengan kebahagiaan yang tinggi. Jangan menatapku seolah kamu kasihan padaku. Aku kuat dan aku bisa." jawab Iraz tersenyum sinis.
"Jadi berhentilah menggangguku . Aku ingin hidup tenang."
Vey tidak suka putus asa. Makanya dia tetap nekad mengikuti Iraz dari belakang meski dia sudah dibentak. Tentu saja dia harus tau hidup adiknya yang semakin hari semakin aneh aja.
"Stevan, kamu tau kan kalo Papa akan sangat sedih melihatmu seperti ini? Dia tidak pernah menginginkan Stevan yang kasar dan berantakan seperti ini." satu-satunya cara yang dimiliki oleh Vey adalah membawa-bawa nama Papa mereka. Sebab Stevan sangat sayang pada Papa dan akan melakukan apapun untuk pria itu.
Ekspresi Stevan langsung berubah. Ada raut kesedihan di sana. Sudah jelas dia memikirkan perkataan Vey.
"Kamu ingat kan bahwa Papa sangat ingin melihatmu berada di puncak dunia. Dia ingin Stevan, anak laki-laki penerus keluarga akan menjadi penguasa tertinggi di dunia bisnis. Dia berusaha mendidik mu sampai dia rela mengirimkan mu pergi jauh, supaya jiwa sosialmu tumbuh. Lalu tiba-tiba kamu kembali. Kamu kembali dengan keadaan yang lebih buruk. Dia pasti akan sangat kecewa dengan semua ini." akhirnya Vey berhasil menyentuh wajah Stevan. Dari kemarin dia sama sekali tidak mau bersentuhan dengan siapapun.
"Stevan adikku, kamu harus tau bahwa keinginan Papa adalah tujuan hidup mu. Jadi kuharap kamu bisa merubah sifat mu lebih baik lagi. Aku takut ayah kenapa-napa kalo tau kamu jadi begini."
Mata Iraz mulai basah oleh air mata. "Tapi tidakkah dia cukup egois memakai ku sebagai bahan untuk mencapai impiannya?"
Vey menghapus air mata adiknya yang berhasil menetes dari pelupuk. Dia tersenyum kecil. "Menurutmu seperti itu?"
__ADS_1
Steven mengangguk kecil. "Dia bahkan memaksaku untuk menerima seseorang yang tak kuinginkan. Mungkin, maksud dia baik tapi kenapa dia tidak pernah bertanya lebih dulu? Kenapa dia menyimpulkan sesuatu tanpa bertanya pada orang yang bersangkutan?" di sini Iraz mulai tidak tenang lagi. Sepertinya ini terjadi karena bantuan sedikit alkohol. Dia menghabiskan beberapa sloki tadi.
"Adikku yang manis, sepertinya kamu butuh istirahat. Tidurlah..." Vey menuntunnya ke atas tempat tidur. Memang membawa nama Papa adalah alat paling jitu untuk melunakkan Iraz. Lihatlah dia sekarang sudah seperti anak kecil yang diselimuti oleh ibunya.
"Aku akan mematikan lampunya. Selamat tidur." Vey mematikan lampu dan menutup pintu kamar Iraz. Dia merenggangkan otot-ototnya sambil menguap lebar.
"Sepertinya kamu berhasil bicara dengannya." suara berat milik Axel berhasil membuat wanita itu kaget. Vey langsung menoleh ke samping dan melihat suaminya bersandar di tembok dekat kamar Iraz.
"Yah, ditambah sedikit kebohongan lagi." lanjut Vey.
"Tidak apa-apa lah, setidaknya kita harus berusaha membuat dia menerima keadaan."
"Kamu benar sekali sayang. Masa depan keluarga ada ditangannya."
"Daripada itu, mau makan semangkok mie?" Axel menawarkan dengan senyuman hangat.
"Hmm?" Vey tersenyum. "Kedengarannya asik makan mie jam segini. Boleh deh,"
"Okeii sebentar ayo kita ke dapur untuk membuatkan mie."
"Ayoooo," seru Vey.
"Jangan keras-keras sayang, nanti Steven nya kebangun."
"Eh iya, maaf." Vey langsung menutup mulutnya dan berjalan di belakang suaminya. Mereka masuk ke dalam lift dan turun ke lantai letak dapur berada.
Ada satu hal yang mereka tidak tau, tentang betapa terlukanya hati Iraz saat ini. Pria itu boleh kelihatan tenang dalam tidurnya tapi dalam kenyataan yang sebenarnya dia tidak tidur. Dia duduk di atas ranjangnya, memeluk lututnya sambil menghembuskan nafas panjang. Ia merasakan sesuatu yang sangat sakit di dalam hatinya.
"Salahkan aku bila tidak mau menurutimu sekali ini?"
__ADS_1