Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Balas Dendam Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Aine menatap Iraz lembut, ia meyakinkan pria itu agar tidak terlalu khawatir padanya. Ia akan baik-baik saja.


"Pergilah, Raz, aku nggak mungkin nyusahin kerjaan kantor kamu lagi," bisik gadis itu.


"Nggak bisa, Ai... aku nggak mau terjadi sesuatu padamu. Minimal hari ini aku harus ngawasin. Bila tahap satu lolos dengan baik, maka kedepannya aku akan ngebiarin kamu." Iraz menolak pergi.


"Tapi aku udah ngerepotin kamu. Sudah banyak waktumu yang terbuang sia-sia gegara aku. Masa sekarang kau ngorbanin waktu kerjamu juga," sesungguhnya Aine juga ragu ditinggal sendirian, tapi mau bagaimanapun dia harus berperasaan pada pria itu.


"Emangnya pekerjaan itu lebih penting dari kamu?" sempat-sempatnya dia menggombal.


"Astaga..." protes Aine.


"Kamu lebih berharga, Ai. Nggak apa-apa pekerjaan ditinggal sehari, entar aku nyempetin untuk kerja dari rumah. Yang penting sekarang, posisimu aman." keduanya berbicara tanpa mempedulikan ketiga manusia di dekat mereka. Dunia tuh kayak milik berdua saja.


"Yasudah, terserah kamu aja. Aku sih senang dengan semua keputusanmu." ujar Aine tersenyum.


"Ya udah, lanjutin lah...."


Aine mengangguk. Ia kembali menatap tiga wanita di depannya.


"Baiklah, karena sekarang aku ratunya, maka ucapan ku adalah titah untuk kalian. Minta maaflah padaku," ujar Aine.


"Sambil berlutut! Kalo bisa sambil cium kakinya!" Iraz menambah.


Ketiganya tidak bergerak sama sekali. Mungkin mereka merasa Aine hanya bercanda.


"Oh, jadi kalian mau nambah hukuman? Baiklah, kalian akan selamanya menjadi budak. Mau?" Aine berkata demikian karena susahnya ketiga manusia itu bergerak.


"Ti... tidak Aine..."


"Sudah kubilang, jangan memanggilnya demikian! Panggil dia Nona Aine!" Iraz emosi. "Ini menjadi peringatan yang terakhir!"


"Baik, Tuan..." jawab Vanya gagap.


"Minta maaflah dengan benar!" desak Iraz lagi.


Karena takut, Andari melakukan perintah pria itu. Dia berlutut dan meminta maaf pada Aine. Dilanjut oleh Vanya dan Melanie. Mereka terlihat menyesal.


"Aku memaafkan kalian. Bangkitlah!" kata Aine. Yang disuruh berdiri.

__ADS_1


"Kalian hanya akan melayaniku selama tiga bulan ke depan. Tidak ada yang akan dirugikan di sini." gadis itu mundur, mensejajarkan diri dengan Iraz. "Ini hanya pelajaran kecil untuk kalian. Supaya kedepannya, kalian tidak melakukan hal seperti yang terjadi padaku sebelum-sebelumnya. Iya kan, Raz?"


Iraz mengangguk.


"Sekarang, kita akan membagi tugas. Dengarkan pembagiannya!"


"Kalian bertiga akan bekerja full tanpa jeda. Karena Vanya sekolah, jadi aku akan tetap membiarkan dia melanjutkan pendidikannya. Dan karena Melanie bekerja, aku juga tidak akan melarangnya. Jadi setiap pagi, kalian harus sudah bangun jam empat. Lakukan pekerjaan seperti yang dilakukan pembantu sebelumnya. Pel lantai, membersihkan kaca, ngelap, ngebun, dan lainnya. Bidang memasak adalah bagian Mama, terserah mau dibantuin siapa. Bidang mencuci, menggosok dan pekerjaan yang bersangkutan dengan pakaian adalah bagian Melanie, dan tidak boleh dibantu oleh siapapun. Dan bagian lantai adalah pekerja Vanya."


"Kalian bertiga harus bergantian melayaniku. Aku punya banyak kegiatan dan kebutuhan. Pelayanan terbaik akan semakin memperkecil masa hukuman kalian. Kalian paham?" tanya Aine setelah berbicara panjang lebar.


"Paham, Nona..." jawab mereka bersama walau dalam hati meronta tidak mau.


Iraz menyadari ketidaktulusan ketiga wanita itu. Ia jadi geram plus kesal. "Jangan berani macam-macam dengan Ai. Karena aku nggak bakalan membiarkan kalian hidup dengan tenang. Sebagai informasi kecil, hidup Isman berada di tanganku. Jika kalian ingin pria itu tetap berada di pihak kalian, maka jagalah sikap pada Aine. Jangan pernah berfikir bahwa dia gadis perusuh , dia penguasa!"


Andari menelan ludah. Ia gemetar ketika mendengar nama suaminya diseret.


"Ma..maksud Anda?"


"Iya, Isman aku tempatkan di desa yang penuh dengan janda. Aku menyuruhnya untuk menikahi salah satu janda di sana, tapi dia menolak karena alasan yang jelas. Tapi aku bisa saja memaksanya mematuhi perintahku, tergantung sikap kalian." Iraz menatap mereka bergantian.


"Jangan, jangan, Tuan..." Andari langsung berlutut dan meraih tangan Iraz. "Kami akan baik pada Nona Aine, semua perintahnya, perkataannya akan kami turuti. Pelayanan terbaik seperti yang dia minta akan terkabulkan. Tapi kumohon, jangan lakukan itu, Tuan..."


"Aku tunggu realisasinya!" ujarnya mundur ke belakang.


Andari mengangguk. Bagaimanapun juga menjadi budak tiga bulan akan lebih baik daripada kehilangan suami tercinta untuk selamanya.


"Tapi Anda juga harus berjanji bahwa dia tidak akan jatuh ke tangan orang lain!" wanita setengah baya itu menatap Iraz penuh harap. Pria berkuasa sepertinya memang sangat menyebalkan.


"Aku tidak mau berjanji! Bagaimanapun juga dia laki-laki, perintahku tidak lebih kuat dari birahinya." balas Iraz enteng.


"Tapi..."


"Sudahlah, jangan memaksanya!" potong Aine. "Sekarang kalian bertiga bersihkan kamar di belakang, bekas kamarku yang sudah dijadikan gudang, ruangan itu akan menjadi tempat tidur kalian bertiga sampai masa kekuasaan ku berakhir. Kalian harus merasakan betapa perihnya tinggal di kamar kecil seperti itu!"


"Tapi Nona Aine, di rumah ini ada banyak kamar, kenapa kami harus bersempit sempitan tidur di sana padahal banyak kamar kosong?" Melanie sebenarnya geram, tapi terpaksa bicara dengan nada halus karena berada dalam fase terancam.


"Kalian hanya perlu mengikuti perintah ku, ga usah banyak bacot!" balas Aine. "Hukumanmu bertambah satu hari karena sudah berani membangkang,"


Membangkang? Sejak kapan bertanya disamakan dengan membangkang? Benar-benar aneh!

__ADS_1


"Cepat laksanakan!"


"Baik, Nona." ketiganya berduyun meninggalkan Iraz dan Aine.


***


"Aku gak mau, Ma! Siapa juga yang mau tidur bertiga di ruangan kecil seperti ini! Di lantai pula, udah gitu bekas gudang lagi!" Vanya bersungut sedari tadi. Ia tidak membantu kedua wanita itu membersihkan gudang yang hendak mereka tinggali.


Andari dan putri sulungnya tidak menanggapi. Mereka tetap bekerja memindahkan barang rongsokan yang saling tindih menindih memenuhi ruangan itu.


"Ini kan rumah kita, kenapa kita harus berubah status! Kan yang korupsi Papa, bukan kita!" sungut gadis itu sekali lagi.


"Anya! Kamu itu bisa diam nggak sih! Kalo nggak niat bantuin minimal nggak ngerepotin!" kini Andari mulai kesal dengan putri bungsunya.


"Tapikan apa yang ku omongin benar!"


"Diam, Anya! Kalo mereka mendengar, hukumanmu bisa diperberat!"


Gadis cantik itu manyun. Ia memperhatikan kakaknya yang tidak komplain sama sekali. Malah terlihat tabah mengerjakan sesuatu yang belum pernah dilakukan gadis itu sebelumnya.


"Ma, aku kan alergi sama debu, gimana dong? Masa aku tidur di kamar berdebu seperti ini!" lagi-lagi Anya membuat percakapan yang membuat darah tinggi keduanya naik.


"Kalo begitu kamu tidur di teras aja!" Melanie mulai buka suara.


"Udah, Anya... hanya sementara waktu kok," Andari masih sabar menjawab.


"Ah, aku gak mau! Entar kulitku rusak lagi!" balas gadis itu.


"Ya udah, kamu maunya tidur dimana? Di atas seng? Di kolong meja?" Melanie menyahut sambil memindahkan barang terakhir. Kamar itu sudah longgar kembali.


"Kak Mel apa-apaan sih! Nggak ngedukung banget!" sungut gadis cantik itu.


"Ini lebih baik, daripada kita diusir?" kata Andari pelan.


"Dari awal aku memang sudah curiga pada mereka, apalagi saat kunjungan mereka seminggu yang lalu. Rasanya dia tuh nggak asing, ternyata inilah kebenarannya. Bodoh sekali kita dihina habis-habisan waktu itu," Melanie bersungut sebentar. Kemudian kembali membersihkan ruangan itu.


"Tapi bagaimana bisa dia berubah seperti itu? Dia cantik banget, njirr! Jauh lebih cantik dari kak Mel," Vanya berkata seraya menatap wajah kakaknya. Emang sih, Aine lebih cantik sekarang.


Tidak ada yang berniat menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


__ADS_2