Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Kita Pulang


__ADS_3

Iraz membantu Aine untuk membereskan barang-barangnya. Balas dendam sudah berakhir, sudah waktunya kembali.


"Sudah beres, Raz," lapor Aine.


"Cek dulu, Ai, siapa tau ada yang ketinggalan." Iraz memeringatkan.


Gadis itu mengancing kopernya. "Udah oke semua, kok."


"Baiklah. Saatnya meninggalkan rumah neraka ini." Iraz berdiri. "Yuk,"


Gadis itu mengangguk.


"Sini aku yang bawain kopermu. Lelet banget," Iraz langsung menarik pegangan koper yang sudah digenggam Aine.


"Eh, nggak Iraz..."


"Kamu mau dibawain juga? Naik ke punggung cepat!"


"Hehehe, nggak usah, ganteng. Aku punya kaki untuk jalan kok," jawab Aine tersenyum.


Keduanya berjalan menuruni anak tangga sambil mengobrolkan hal-hal yang tidak perlu. Contohnya saja tentang sepatu bekas.


Sementara itu, di ruang bawah, Andari dan kedua putrinya sudah duduk menunggu. Ini hari yang spesial, karena parasit yang menguasai mereka akan angkat kaki. Mereka akan mengadakan syukuran besar-besaran untuk merayakan kepergian wanita itu.


"Hukuman kalian telah usai. Silahkan mengambil kembali hak atas semua aset yang ada. Aku tidak membutuhkannya!" Iraz melemparkan surat kontrak yang mereka tanda tangani kira-kira tiga bulan lalu.


"Terimakasih, Tuan." Andari memungut kertas itu dan merobeknya menjadi bagian yang kecil-kecil.


"Ada yang mau katakan pada mereka, Ai?" tanya Iraz.


"Sedikit. Aku hanya mau bilang, untuk kedepannya, kalian bertiga harus menjaga sikap. Berubalah menjadi orang baik, agar yang baik juga menghampiri kalian. Mulai sekarang, jangan sungkan padaku, mari kita tetap menjadi keluarga," Aine tersenyum pada ketiga wanita yang menunduk padanya. "Dan teruntuk kamu Vanya, belajarlah dengan benar, agar masa depan kamu juga benar. Untuk Kak Mel, semoga langgeng sama Alvan. Dan untuk Mama, hindari mengonsumsi barang yang tidak perlu. Kurasa hanya itu aja, sih."


Iraz mengangguk. "Itu pesan yang cukup menyentuh. Kalian harus mendengarkan perkataan, Ai!"


"Baik, Tuan." ucap mereka.


"Ya udah, karena semuanya sudah selesai, maka kami pamit." Iraz merangkul Aine.


"Eh, tunggu, Tuan... bagaimana dengan suami saya?" Andari mencegah dengan kata-kata.

__ADS_1


"Dia akan kembali setelah jabatannya ku kosongkan. Tenang aja, hanya butuh waktu sekitar tiga sampai empat bulan."


"Apa? Tiga sampai empat bulan?" ulang Andari. Ia tidak bisa mempercayai permainan Iraz.


"Maksudku, tiga sampai empat hari. Hehehe," setelah mengucapkan itu, Iraz melanjutkan langkahnya.


Balas dendam berhasil.


***


"Senangnya bisa kembali bebas..." Vanya berinjak riang. "Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa menggunakan skincare lagi. Woahhh..."


Melanie tidak berubah ekspresi, dia tetap biasa aja. Berwajah datar.


"Akhirnya Mama bisa berbaring di atas kasur lagi...udah bosan tidur di lantai. Nggak sabar tiduran berlama-lama seperti sedia kala." Andari ikut bahagia.


"Mama juga bisa buka salon lagi, sekarang kan udah bisa kerja full," saran Vanya.


"Iya, benar, Anya, Mama bakalan memulai bisnis lagi. Termasuk membentuk arisan baru. Yey, akhirnya...." wanita itu melebarkan tangan, memeluk gadis yang berdiri di dekatnya.


Melanie menggeleng melihat tingkah kedua manusia itu. Ia tidak senang, entalah kenapa. Padahal seharusnya ini hari yang bahagia untuknya, karena tidak ada lagi yang akan menyuruhnya mulai sekarang. Ia bebas, sama seperti sedia kala.


Tapi, ada sesuatu yang dia sembunyikan selama ini. Tentunya tentang Iraz. Ternyata selama ini, selama dia berada di bawah perintah Aine, dia melakukan sesuatu yang tak terduga. Diam-diam dia menguping pembicaraan kedua manusia itu ketika malam hari. Membuat dia mengetahui sedikit demi sedikit informasi kebenaran tentang siapa sebenarnya Iraz itu.


Vanya dan Andari saling bertatapan, agaknya heran dengan tingkah gadis itu. Harusnya dia yang paling senang, karena akhirnya dia bebas keluar kapan pun dia mau.


"Aku mendapatkan banyak informasi tentangnya. Dan belum selesai aku mengetahui semuanya, dia malah pergi! Kesal banget!"


"Apa? Maksud Kan Mel?"


"Setelah ceritamu malam itu, aku jadi tertarik untuk melihat wajahnya. Jadi setiap malam aku mengintip, plus dapat informasi juga.


"Wah, benarkah? Kamu cukup gila!" Andari ikut heran.


"Yah, aku memang sudah gila." Melanie tersenyum kecil. "Tapi sangat berguna sekali untuk mendapat informasi."


"Sepertinya Tuan Inui bukan orang biasa. Maksudku, dia memiliki kehidupan lain. Soalnya setiap malam dia selalu berkata, dulu ketika aku memimpin....dirunahku...dan sebagainya. Pokoknya aku yakin dia menyembunyikan semua."


Vanya mengangguk. "Kalo itu aku tau."

__ADS_1


"Makanya aku tidak akan bisa tidur nyenyak sebelum memecahkan misteri ini. Semoga aku masih bisa menguras informasi meski tidak serumah lagi."


***


"Wah, tidak ada yang berubah...." Aine menatap ke sekeliling ruangan yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai sekarang.


"Iyalah, emangnya kau berharap berubah, ya?"


"Hahahaha, enggak sih. Cuman kangen aja gitu, jadi ngomong gaje deh," balas Aine memasuki kamarnya.


Gadis itu terkejut mendapati kamarnya sudah berubah. Di cat ulang menjadi nuansa pink, kasurnya diganti, serta pernak-pernik di dalamnya juga diperbarui.


"Kok bisa?" ucapannya keluar dari ruangan itu. Menghampiri Iraz yang merebahkan tubuh di atas kursi.


"Bisa apa?"


"Kamarku berubah!"


"Oh. Aku yang ngubah itu. Kupikir kau akan sedikit merasa kurang nyaman karena sudah tinggal di rumah mewah lalu kembali lagi ke rumah sederhana. Jadi aku ngelakuin itu agar jiwamu tidak terlalu kaget," jawab Iraz tersenyum penuh.


Aine jadi mewek. "Makasih, Raz, kau memang manusia terbaik. Tapi aku merasa jadi beban untukmu."


"Nggak, Ai. Kau adalah semangat hidupku. Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu. Aku serius ."


"Jangan mulai lagi deh!" Aine memanyunkan bibirnya. "Aku pergi ah, daripada digombalin mulu sama kamu!"


Gadis itu masuk kembali ke kamarnya. Tersenyum lebar ketika menjumpai ada peralatan lukis yang complete di sudut ruangan.


"Dia kenapa masih sekali, sih!" gumamnya menyentuh kanvas besar yang masih putih bersih. "Pasti dia ngeluarin biaya yang mahal buat beli semua ini."


Tangan Aine bergantian menyentuh kuas yang berjejer dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Hatinya semakin berbunga bunga mengetahui bahwa ada palet baru berkualitas tinggi juga. Semuanya baru, seolah itu adalah paket hadiah.


"Razzzzzzz, aku cinta mati sama kamu!" gumamnya pelan. Ia berjongkok di demi membuka lemari kecil yang ada di dekat tempat lukis. Ternyata isinya full cat lukis dengan berbagai merek. Bagaimana dia akan berterimakasih sekarang? Mampukah dia membayar semua yang telah ia dapatkan?


Setelah puas memandangi alat-alat kukis, Aine berpikiran membuka lemari baju. Jangan-jangan Iraz juga mengisinya.


Eh, ternyata benar. Lemari itu sudah penuh dengan baju yang terlipat rapi. Aine sampai heran melihat isinya. Kok bisa sebanyak itu?


"Selamat datang kembali, Ai," ternyata Iraz menuliskan kata itu di cermin lemari. Ia baru menyadarinya ketika berniat untuk bercermin.

__ADS_1


"Irazzzz...." dia benaran menangis. "Kenapa sih ada pria seromantis, sebaik, seperfec dia... Ya Tuhan, lindungi dia selalu... jangan biarkan dia mendapat cobaan."


"The best Iraz. Love you so much, good people..."


__ADS_2