Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Identitas Iraz


__ADS_3

"Ada apa, Ai? Kenapa memegang hapeku?" entah sudah berapa lama Aine menatap hape di tangannya hingga Iraz usai mandi.


Aine mendadak meletakkan hape itu. "Eh, nggak kok, Raz." ucapnya menggaruk kepala yang tidak gatal.


Tanpa melanjutkan lagi Iraz meraih hapenya, membawanya ke dalam kamar.


Aine terus berdiri di tempatnya. Orangnya emang tukang bengong. Betah banget disatu tempat tanpa berpindah. Itupun tanpa bergerak.


Lima menit kemudian Iraz keluar dengan pakaian biasa. Tidak ada jas atau dasi yang tersemat di kerah bajunya. Maskernya juga agak berbeda hari ini. Bukan hitam atau putih, melainkan purple.


"Ai, kita keluar yuk!" ajak pria itu.


Jelas Aine bingung. Tak biasanya pria itu punya waktu.


"Apa hari ini libur, Raz?" tanya Aine.


"Nggak kok." jawab Iraz singkat.


"Terus kenapa nggak ngantor?"


"Suka-suka ku dong, kan aku rajanya," jawabannya bercanda.


"Ih, aku serius, Raz!"


"Hehehehe. Sebenarnya Sabtu kemarin aku daftarin kamu untuk ikut kelas spa. Hari ini mulainya. Jadi aku libur dulu buat ngatarin kamu," ucap Iraz seraya mengancing jaketnya.


"Aku? Kelas spa?" kening Aine berkerut, tidak percaya tentunya.


"Iya. Sorry nggak kasih tau kamu."


Aine mengangkat wajahnya, menatap wajah Iraz lamat-lamat. "Aku bukannya keberatan, Raz. Tapi apa ini tidak berlebihan?"


"Berlebihan kenapa Ai?" kini Iraz yang bingung.


"Kau sudah memberikan banyak bantuan untukku. Kini kau juga berusaha merubahku dengan bantuan uang. Sebenarnya siapa kamu? Apa hubunganmu denganku hingga kau sebaik ini?" kali ini Aine benar-benar berani menanyakannya.


Tatapan Iraz menajam. "Kamu tidak suka?"


"Bukan begitu, Raz, tapi aku penasaran banget denganmu. Siapa kamu, apa yang kau lakukan, bagaimana duniamu dan sebagainya. Kau tidak bisa membuatku tidur nyenyak, Raz!" akhirnya semua yang menyesak bisa keluar juga.


"Siapa aku?" salah satu alis pria itu terangkat. "Kau yakin mau tau itu?"


"Ya, sangat yakin,"


"Baiklah. Karena aku sudah menganggapmu teman, maka kau berhak mengetahuinya. Tapi kau harus berjanji, identitas ini tidak boleh bocor. Oke?" pria itu menatap Aine serius.


Aine mengangguk cepat. "Aku janji, Raz."

__ADS_1


"Ya udah, kita duduk dulu," pria itu menarik tangan Aine agar duduk di sofa ruang tamu.


Aine mengikut saja. Ia duduk di samping Iraz.


"Kau mau aku memulai dari mana?"


"Dari mana aja, yang penting tentang kamu."


"Baiklah. Sebenarnya nama asliku Stefan Joubert, anak dari Alex Joubert." Dia terdiam sejenak. "Dari namaku, apa kau sudah mengenalku?"


Aine menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Nggak."


"Kurasa kau tidak begitu tau dengan dunia bisnis. Bagaimana dengan YZ group? Apa kamu pernah mendengarnya?"


Aine mengangguk cepat. Tentu ia tau, YZ group adalah perusahaan besar yang memproduksi barang-barang elektronik. Bahkan hape yang dia gunakan diproduksi oleh perusahaan itu.


"Nah, aku berasal dari sana."


Aine jadi bingung. "Apa maksudmu kau diproduksi dari perusahaan itu?"


Iraz tertawa renyah. "Bukan, Ai! Tapi akulah yang memimpin perusahaan itu."


Bola mata Aine langsung melebar. "Apa? Kamu serius?"


"Iya. Tapi kamu nggak boleh bilang sama siapa-siapa, karena itu sangat berbahaya."


"Hehehehe, nggak sampai seperti mereka kok. Perusahaanku tidak bergerak di bidang yang sama dengan mereka. Aku akan lebih setuju jika disamakan dengan Tim Cook."


"Gilak sih, Raz. Ternyata kamu bukan orang biasa. Tidak nyangka aku bisa berteman dengan seseorang yang berpengaruh sepertimu."


Iraz tidak bereaksi. Tidak tau dia tersenyum atau gimana di balik maskernya itu.


"Tapi aku penasaran tentang tujuanmu deh. Kenapa orang sepertimu merangkak ke kota kecil seperti sekarang ini," Aine lebih banyak bertanya. Mumpung ada kesempatan, hehehe.


"Kurasa kau akan tertawa mendengar alasannya," pria itu meremas tangannya sendiri.


"Emang kenapa?"


"Aku tidak memilih datang ke sini. Papaku yang mengirimkan ku dengan maksud mencari rasa. Dia sengaja membuatku mengolah anak perusahaan agar aku tau bagaimana rasanya hidup sendirian. Tapi ada satu hal yang tidak dia tau tentangku,"


"Apa?"


"Aku suka hidup sendirian. Tenang, tanpa ada gangguan. Makanya saat pertama kali dia menyuruhku pergi, aku bahagia, akhirnya aku punya waktu sendirian. Tidak apa jabatan ku dicabut, yang penting suatu saat aku tetap akan menjadi pemiliknya."


Aine mendengar dengan seksama.


"Tapi kenapa beliau mengirimkan mu ke sini? Apa karena kerjamu tidak becus?"

__ADS_1


Iraz terkekeh di balik maskernya. "Aku bahkan menaikkan saham dalam hitungan bulan. Tidak mungkin kerjaku tidak becus, Ai!"


"Jadi kenapa dong?"


"Karena aku tidak mau nikah." jawabnya enteng.


Aine terkejut mendengarnya. "Benarkah?"


"Iya, Ai! Papaku memaksaku untuk segera menikah. Tentu saja ku tolak mentah mentah. Siapa juga yang mau menikah, nggak penting! Tapi gara-gara tolakan ku itu, gini lah, aku dipekerjakan di tempat kecil."


Gadis itu tersenyum masam. "Pasti kau sudah menyesalinya, kan?"


"Tidak. Aku malah senang. Coba kalo aku tidak dikirimkan ke sini, mungkin aku tidak akan pernah bertemu denganmu, Ai!" Iraz menatap Aine serius.


"Emang ada gunanya ya bertemu denganku?"


"Tentu saja. Aku senang banget bisa mengenalmu. Rasanya tuh kayak ketemu sama bidadari,"


"Cih, kamu senang banget mengejekku!" wajah Aine berubah cemberut.


"Aku serius, Ai! Sebelumnya aku tak pernah dekat dengan wanita lain manapun. Hidupku jauh-jauh dari kata pacaran dan rasa suka. Tapi semua berubah Ai, sejak ketemu denganmu. Kamu tuh ngajarin aku banyak hal, dan kurasa hidupku sudah mulai berwarna. Pikiran tentang tidak berguna itu mulai terkikis sekarang."


Aine tersenyum kikuk. "Jangan membuatku naik kuping dong, Raz!" ia mencoba mengontrol hatinya.


"Aku serius, Ai. Dari awal aku juga bingung dengan diriku sendiri. Kok bisa aku santai pada seorang gadis? Ternyata jawabannya sederhana. Karena kamu berbeda dengan semua cewek pada umumnya,"


Aine menatap alis tebal milik Iraz. "Meski itu adalah kebohongan, aku sangat senang mendengarnya. Setelah sekian lama, akhirnya ada seseorang yang senang bertemu denganku,"


Pria itu menyipit, artinya dia tersenyum sekarang. "Kalo ada manusia yang tidak senang bertemu denganmu maka aku menganggapnya bodoh. Kau istimewa, Ai,"


"Udah, cukup, Raz. Kau udah terlalu banyak memujiku dari tadi." Aine menyenggol lengan pria itu dengan tangannya. "Yang terpenting sekarang, aku tau siapa kamu yang sebenarnya. Jadi apa kamu mau dipanggil Stefan sekarang?"


Iraz menggeleng. "Tidak! Aku suka nama pemberianmu. Dipanggil Raz olehmu sangat menyenangkan. Tetaplah memanggilku demikian walau kau tamu nama asliku. Oke, Ai?"


Gadis itu senyum. "Oke, Stefan. Eh, maksudku, Raz."


"Hihihi, jadi kau tidak penasaran lagi, kan?" tanya Iraz serius.


"Tidak. Meski hanya sedikit yang kau beritahu, kupikir itu sudah cukup. Setidaknya aku tau bahwa kamu bukan orang yang bisa diremehkan."


"Hehehe. Ya udah, Ai, kita keluar, yuk! Kelasmu sudah pasti dimulai." Iraz berdiri, menarik tangan Aine. Mereka berjalan menuju pintu keluar.


"Kurasa kita perlu sedikit bersenang-senang," kata Iraz menuntun gadis itu masuk ke dalam mobil. "Tapi bersenang-senangnya setelah keluar dari salon. Oke, Ai?"


Gadis itu hanya mengangguk setuju. Tidak peduli tentang perkataan pria itu, intinya dia senang kemanapun asal bersama pria itu.


__ADS_1


__ADS_2