Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Mencuri Sesuatu


__ADS_3

Tak akan ada niat jika tidak ada kesempatan. Saat itu Alvan kesal banget sama Aine. Gadis itu gemar banget menaikkan emosinya. Udah gitu Aine kayaknya nggak pernah ngehargain dia. Sudah capek-capek ngelakuin banyak hal agar dia kembali sayang padanya, eh bukannya sayang malah seringan marah. Jadi Alvan sudah membulatkan tekad untuk melakukan sesuatu hal yang akan membuat Aine merasa kehilangan satu-satunya hal yang dia miliki.


Ini semua ia lakukan demi mendapatkan gadis itu kembali.


Malam hari, Alvan datang ke rumah Aine.


"Ai, aku nginap di sini, ya..." kata Alvan lembut.


"Nggak. Kamu mendingan pulang deh,"


"Tapi aku ingin menjaga mu malam ini."


"Nggak usah. Aku baik-baik saja kok. Tidak perlu dijaga jaga." tolak Aine.


"Okay, intinya aku nginap! Titik!" tanpa mendengar jawaban Aine, pria itu langsung beranjak ke kamar yang dulunya di tempati oleh Iraz.


Aine tidak bisa mengatakan apapun selain geleng-geleng kepala. Gimana caranya mengusir pria itu sedangkan dia sudah merebahkan diri di atas ranjang Iraz. Sudahlah, toh dia sudah sering menginap. Apa salahnya membiarkan dia tidur sebagai teman malam ini. Aku tau dia orang baik. Tidak akan ada hal yang buruk. Batin Aine.


Gadis itu ikut beranjak juga. Ia menutup pintu lalu merebah. Tapi sebelum terlelap dia membuka rekaman suara seseorang. Mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh seorang pria yang memainkan gitar. Aine tersenyum, memejamkan mata lalu berkata, "Selamat tidur, Raz."

__ADS_1


Sementara itu, Alvan bangun dari tidurnya. Ia perlahan-lahan keluar lalu masuk ke kamar Aine. Berjinjit jinjit agar gadis itu tidak terbangun.


Cowok itu sampai di dekat tubuh Aine. Sejenak mengangumi bentuk tubuh gadis itu. Dia tidur sembarangan tanpa selimut. Tentu saja tubuh itu sangat-sangat menarik. Semua pria normal akan mengatakannya. Termasuk Alvan.


"Tahan, tahan," kata Alvan pada dirinya. "Tidak perlu buru-buru."


In another life


I would be your girl


We'd keep all our promises


In another life


I would make you stay


So I don't have to say you were


The one that got away

__ADS_1


The one that got away


Tiba-tiba hape yang ada di genggaman Aine bersuara. Tentu saja Alvan kaget setengah mati.


Tapi setelah dia tenang dia menyadari sesuatu. Dia tau suara siapa yang sedang terputar di hape itu.


"Raz, nyanyi lebih keras!" kata Aine tiba-tiba. Hampir saja Alvan melompat ketakutan. Kok bisa-bisanya cewek itu bicara saat tidur. Angker benar. Apa lagi itu Samapi ke bawa ke mimpinya hingga dia berkata demikian? Kalo ya, betapa spesial pria itu hingga suaranya pun terbawa sampai mimpi.


Iya sih, suara pria yang ada di rekaman itu bagus. Udah gitu dia pintar main gitar. Sudah tentu setiap cewek suka padanya. Termasuk Aine.


Alvan menghembuskan nafas kasar. Ia mematikan hape gadis itu lalu meletakkannya do atas meja. Ia segera mendekati tubuh Aine.


Sebenarnya posisi Alvan saat ini cukup menguntungkan. Dia berada di dalam sebuah kamar yang kedap suara. Jika dia menguncinya, Aine tidak bakalan bisa kabur ke mana-mana. Dia bebas melakukan apapun yang dia mau. Lagipula, rumah itu agak jauh dari keramaian. Jadi jika seandainya Aine berteriak tidak akan seorang pun yang mendengar.


Alvan berniat buruk pada Aine. Ia ingin merenggut kesucian Aine agar gadis itu terikat padanya. Jika seandainya dia sudah kotor, setidaknya dia tidak akan berharap lagi pada Iraz. Iraz pun tidak akan menerimanya jika keadaannya sudah demikian.


Satu hal lagi, Aine hanya anak yang sebatang kara. Jika ia mengapa apaakan Aine, tidak akan ada yang protes. Karena gadis itu sendirian dalam hidup ini.


Tapi sial! Setiap melihat wajah Aine, jati Alvan mendadak sakit. Ia jadi nggak tega. Jadilah dia menyelimuti gadis itu dan mencium keningnya sekali.

__ADS_1


"Tidurlah Ain."


__ADS_2