
Tiga bulan telah berlalu dan Aine berhasil melakukan dietnya. Tentu saja karena adanya Iraz. Pria itu yang mendukungnya sampai ia sukses membakar lemak kurang lebih 25 kg dalam kurun waktu yang terbilang singkat.
Sebelumnya bobot Aine mencapai delapan puluh, tapi kini sudah berada dikisaran limapuluh lima. Aine terlihat cantik kalo kurus.
Pagi ini dia bangun agak siang soalnya kemarin Iraz membawanya ke perpustakaan di pusat kota. Mereka mencari beberapa buku yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan makanan.
Aine sebenarnya tidak suka membaca, tapi karena ajakan Iraz, dia tidak bisa menolak. Baginya apapun yang dilakukan bersama Iraz adalah hal yang menyenangkan bahkan jika itu kegiatan yang paling dibencinya sekalipun. Entahlah kenapa, Iraz seolah punya sesuatu yang unik yang membuat Aine menempel. Ntalah itu apa.,
Aine bangun dengan kondisi yang berantakan. Rambut ikalnya heboh seperti baru disambar petir. Wajahnya kelihatan lelah. Matanya terlihat indah saat tidak mengenakan kacamata meskipun agak-agak menyipit saat melihat sesuatu.
Ia keluar kamar dan mendapati seorang pria tengah mengikat tali sepatu.
"Raz? Kamu dah bangun?" tanya Aine agak menyipit. Meski tidak jelas melihat wajahnya, tapi Aine yakin dia Iraz. Soalnya ia hapal mati dengan postur pria itu.
"Pertanyaanmu memperjelas bahwa kamu masih mengantuk. Tidur lagi gih," kata Iraz menegak. Dia terlihat tampan saat mengenakan jas hitam yang berpadu dengan dasi berwarna merah. Ganteng, meski wajahnya tidak terlihat.
Aine menguap. "Aku mau joging, Raz."
"Hari ini nggak usah, Ai. Istirahat aja dulu, besok kita joging bersama lagi. Oke?"
Gadis itu menggaruk kepalanya. Menguap sekali lagi. "Hmmm," jawabnya singkat.
"Ya udah, aku pergi, ya. Apa ada titipan?" tanya pria itu mendekat ke arah Aine.
Gadis itu berfikir. "Oh iya, aku butuh kuas 2 inch sama chat akrilik."
"Hanya itu?"
"Ya. Kalo bisa plus es krim coklat."
"Okkeh. Aku pulang jam lima. Jangan keluar-keluar sebelum aku pulang. Bahaya," Iraz berlagak seperti seorang ayah yang menasehati putri kecilnya.
"Oke, Raz."
Pria itu berjalan menuju pintu, diikuti Aine dari belakang. Pria itu masuk ke mobil, melambaikan tangan pada Aine dan melaju. Aine hanya tersenyum sambil berteriak, "Semangat, Raz. Semoga harimu indah,"
Setelah Iraz berlalu, Aine masuk kembali. Hari-harinya terasa membosankan jika ditinggal pria itu. Dia tau Iraz harus bekerja. Pria itu menjadi pimpinan di salah satu perusahaan yang lumayan besar.
Yap, dia berkedudukan tinggi. Pantas dia bisa membiayai hidup Aine yang terbilang cukup menghabiskan.
Kebutuhan Aine bukanlah kebutuhan murah. Makanan seimbang, kelas yang dia ikuti, sampai perlengkapan yang dia butuhkan segalanya memerlukan biaya besar. Tapi tak perlu risau karena ternyata Iraz orang kaya.
Awalnya Aine tidak tau kalo pria itu seorang pimpinan, tapi pria itu secara tidak sengaja memberitahunya. Membuat identitasnya sedikit terkuak. Tapi kayaknya informasi semacam itu tidak terlalu membantu untuk mencari tahu identitas asli pria itu.
Ya, Aine harus bersabar untuk menemukan kepingan informasi.
Selama tiga bulan terakhir ini, Aine lebih sering menghabiskan waktu di tempat gym. Dia mengambil kelas gym 5 kali satu Minggu. Itu sangat membantu untuk mengusir kebosanannya. Biasanya kelasnya akan berakhir bersamaan dengan pulangnya Iraz. Jadi setelah dia selesai latihan, dia bisa bersenang-senang bersama pria itu.
Hari ini tidak ada kegiatan. Jadi yang akan dia lakukan sekarang adalah menuangkan bakatnya. Melukis. Hanya itu yang ia bisa.
Aine duduk di kursi lukis. Dihadapannya terdapat kanvas yang sudah setengah kerja. Figur di lukisan itu sudah jelas manusia.
__ADS_1
Tangan gadis itu mulai melanjutkan karyanya. Sebuah lukisan wajah pria. Matanya mirip banget dengan Iraz. Atau jangan-jangan itu Iraz? Tapi objek di lukisan itu tidak mengenakan masker. Kalo itu Iraz, berarti dia sudah pernah dong melihat wajah asli Iraz?
Ternyata tidak. Hanya matanya yang mirip. Pemilik asli wajah itu adalah Alvan, mantan pacarnya. Kebetulan saja mata mereka mirip.
"Vann, aku kangen sama kamu. Kenapa sih kamu nggak menghubungiku? Apa semudah itu melupakanku?" matanya langsung mengembun. "Aku yakin suatu hari kau akan mencari keberadaanku. Iyakan? Akan kutunggu sampai saat itu tiba."
***
"Sore, Ai," Iraz masuk kedalam rumah dengan kantong plastik tersemat di jari-jarinya.
"Iraz?" gadis itu langsung kegirangan.
Pria itu mengangkat plastik yang dia tenteng. "Nah, cat akrilik sama kuas yang kau pesan tadi," menyodorkan pada Aine.
Dengan gercepnya Aine menerima plastik itu. Sedikit membukanya untuk menilik isi. Ah, sesuai apa yang dia inginkan. Iraz selalu saja tepat meski tidak dijelaskan secara mendetail.
"Es krimnya mana?" tanya Aine setelah melihat tidak ada es krim disana.
"Waduh, lupa, Ai! Sorry," Iraz juga baru mengingatnya.
"Yahhh, padahal udah mimpi banget makan es krim. Udah tiga bulan aku merindukan itu," bibir gadis itu langsung manyun.
"Ya maaf, Ai. Lagian kau tidak diperkenankan untuk memakan es krim. Kalorinya tinggi. Nanti diet kamu gagal," kata Iraz sambil membuka sepatunya.
"Kemarin aku udah minta izin. Katanya bisa kok asal jangan banyak," lanjut Aine tetap manyun.
Pria itu menatap Aine sejenak. "Ya udah, kita keluar untuk membelinya. Tapi ingat, nggak boleh banyak-banyak. Oke?"
"Duh, kok kayak bocil, sih!" komentarnya saat melihat wajah Aine.
"Biarin, yang penting bisa makan es krim,"
"Emang kau punya duit?" tanya Iraz dengan jahilnya.
"Iiih, duluin dong, Raz," ujarnya merengek.
"Hahahaha, iya-iya," balas pria itu merangkul Aine. "Kamu tuh bikin gemas tau!"
Aine hanya terkekeh di bawah rangkulan pria itu. Bahagia rasanya punya teman sebaik Iraz. Love banyak-banyak untuk Iraz deh.
Sebelum mereka pergi, Aine dan Iraz mengganti pakaiannya. Ya kali membeli es krim kayak mau ke kantor. Kayak orang sinting dong. Hehehe.
Akhirnya keduanya masuk ke pusat kota. Ada banyak toko es krim di sana. Intinya bebas kalo punya banyak duit. Emang harus kembali ke situ sih.
Aine memilih untuk menutup diri seperti Iraz. Memakai hoodie putih yang dipasangkan dengan masker hitam. Rambut ikalnya digulung lalu ditutup dengan topi.
Sebenarnya bukan karena apa-apa, dia hanya senang coupelan sama Iraz. Rasanya tuh kayak punya pacar.
Iraz memarkirkan mobilnya di depan bangunan kecil. Sebuah toko sederhana. Yap, Aine tidak menginginkan toko mewah atau bergengsi, intinya dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Keduanya keluar dari mobil. Tapi baru saja hendak melangkah, seseorang menabrak Aine. Hampir saja dia terjatuh, untung ditahan oleh Iraz.
__ADS_1
"Hati-hati dong kalo jalan!" protes Iraz pada penabrak.
"Ma-maaf, saya buru-buru," kata orang itu. Ternyata seorang pria yang memegang dua cup es krim.
Aine mengusap bahunya, menatap pria yang menabraknya.
Deg! Dia terkejut setengah mati menyadari siapa yang telah menabraknya.
"Sorry, ya, aku tidak sengaja," ucap orang itu sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya.
"Alvan?" Aine bergumam sembari mengikuti pria itu dengan sorot matanya. Ia menyaksikan penabrak itu menghampiri seorang cewek di depan salon. Mungkin ceweknya bosan nunggu di salon hingga menyuruh pria itu untuk membelikan es krim.
"Hei, ada apa?" tanya Iraz pada Aine. "Apa sesakit itu hingga kau terus menatapnya?"
Aine tidak langsung menjawab. Dia menitikkan air mata terlebih dahulu. "Aku merindukannya, Raz," menunjuk pria yang sedang duduk bersama seorang cewek.
"Hah? Kau kenal dia?"
"Yah. Dia Alvan. Dan gadis yang disampingnya itu adalah Melanie, kakakku." jawab Aine sedih.
Iraz menatap kedua manusia itu lekat lekat. Terlihat mesra. Saling bertukar suapan. Mereka hampir tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya.
"Oh, jadi dia pria bodoh itu?"
Aine tidak menjawab.
"Kau masih menyukainya?" tanya Iraz.
"Tentu saja, Raz." gadis itu terus terpaku.
"Cowok kek gitu kok disukain sih! Cintamu miskin banget," komentar Iraz.
Mata gadis itu mengembun, kalo maskernya dibuka pasti ekspresinya cemberut. Iraz yakin banget soalnya dia udah hapal dengan ekspresi Aine.
"Dia pria yang baik, Raz." ucap Aine lemah.
"Baik apanya sih, Ai! Dia itu sudah mencampakkan mu, selingkuh dengan kakak kandungmu loh! Pria sebrebgsek itu pantasnya dimusnahkan. Dan kau masih mengatakan dia baik?"
"Kau nggak ngerti, Raz!"
Pria itu menggeleng. "Saranku kan, jangan terlalu miskin tentang cinta deh, Ai. Pria kek gitu mudah kok didapat. Mending cari yang lain aja. Just saran," Iraz ikut mempelototi sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu.
"Nggak bisa, Raz. Susah mendapat pria seperti dia,"
"Astaga, apa sih yang kau lihat darinya? Pria brengsek, tak punya otak, jahat dan tidak bisa jadi panutan. Kalo aku jadi kamu, aku bakalan membencinya. Nggak berguna banget,"
Aine menoleh ke arah Iraz. "Tapi kita beda, Raz."
Pria itu langsung mencekal lengan Aine. "Dengarkan aku, Ai! Dia itu nggak pantas buat kamu! Kamu berhak mendapat yang lebih baik darinya. Move on, Ai! Sadarkan dirimu!"
"Yang lebih baik darinya? Siapa?"
__ADS_1
"Aku misalnya."